
Atas izin dari Veon, Zaki mengantarkan Chelsea ke bandara. Tapi sebelum menuju bandara, Zaki mengajak Chelsea pergi ke suatu tempat. Sudah lama Zaki ingin mengajak Chelsea ke tempat itu, tapi dia tidak pernah memiliki kesempatan, apalagi dengan adanya masalah yang wanita itu hadapi waktu itu.
Zaki menghentikan mobilnya di sebuah taman, mereka lalu keluar dari mobil dan melangkah menuju taman itu.
“Zak, ini kan...”
Zaki menganggukkan kepalanya, “ini tempat di mana dulu aku mengucapkan janji aku sama kamu. Janji di mana aku tidak akan pernah meninggal kan kamu apapun yang terjadi, tapi ternyata aku..."
“Lalu untuk apa kamu mengajak aku ke sini, apa kamu ingin mengingatkan aku tentang rasa sakit itu lagi?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “aku ingin menepati janji itu,” ucapnya.
Chelsea mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa, Zak? Jangan bercanda deh!”
Zaki menggenggam tangan Chelsea, “aku tidak bercanda, aku serius. Aku sudah memikirkan ini jauh-jauh hari, aku...”
Chelsea menghempaskan tangan Zaki, “sekarang kamu antar aku ke bandara, aku tidak ingin sampai terlambat.” Wanita itu lalu melangkahkan kakinya, tapi dengan cepat Zaki menarik tangan Chelsea, “lepas, Zak!” serunya.
“Chel, kenapa kamu seperti ini? Apa kamu tidak ingin kita kembali seperti dulu lagi?”
Dengan cepat Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau! Kenapa kamu sampai berubah pikiran seperti itu? Apa karena kamu merasa kasihan kepadaku? Apa karena itu, hah!” serunya keras.
“Bukan seperti itu, Chel. Maaf jika selama ini aku sudah menyakiti hati kamu, aku melakukan semua ini karena sebenarnya aku masih sayang sama kamu. Selama ini aku tidak bisa melupakan kamu, aku mencintaimu Chel,” aku Zaki sambil menggenggam tangan Chelsea.
“Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah tidak mencintai kamu lagi, semua itu hanya masa lalu.” Maafkan aku Zak, aku tidak mau kamu menderita nantinya, aku tidak pantas untuk kamu, aku kotor...aku kotor! Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku, pikirnya.
“Tapi aku ingin memulainya dari awal lagi sama kamu, aku yakin kamu masih sayang sama aku.”
Chelsea melepaskan genggaman tangan Zaki, “Zak, aku sudah tidak mencintai kamu lagi, dan kamu itu. Jadi lebih baik kamu lupakan semuanya.” Wanita itu lalu melihat jam di pergelangan tangannya, “kalau kamu tidak ingin mengantarku ke bandara, aku bisa berangkat sendiri,” ucapnya lalu melangkah pergi menuju mobil.
Zaki menghela nafas panjang, “apa aku terlalu terburu-buru? Tapi aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya.”
Zaki lalu berjalan menuju mobil, dia lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya menuju bandara. Dalam perjalanan menuju bandara, Chelsea hanya diam sambil menatap keluar jendela.
“Apa kamu marah sama aku?” Zaki tetap fokus menatap ke depan.
“Kenapa kamu melakukan itu sama aku?” Chelsea berbicara tanpa menatap Zaki.
“Karena aku sayang sama kamu, aku tidak ingin kehilangan kamu lagi.”
“Apa kamu bodoh, Zak? Kenapa kamu masih mencintai wanita kotor seperti aku? kenapa?” Chelsea sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang sejak tadi sudah memenuhi kedua sudut matanya.
“Jika mencintai kamu bisa menjadikan aku menjadi pria bodoh, maka aku akan melakukannya.”
“Apa Kak Veon tau semua ini? Apa dia yang menyuruh kamu melakukan ini?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “tuan Veon tidak tau apa-apa, semua ini adalah keinginan aku sendiri,” ucapnya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya sampai di bandara. Zaki dan Chelsea keluar dari mobil, Zaki mengambilkan koper Chelsea yang ada di bagasi mobil.
“Sekarang kamu bisa pulang, aku bisa masuk sendiri.” Chelsea lalu mengambil koper yang dipegang oleh Zaki.
“Aku akan mengantarmu sampai ke dalam.”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “pergilah, terima kasih sudah mengantar aku ke sini,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Chel, apa kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi?”
“Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku.”
“Tapi aku hanya...”
“Zak, apa aku boleh minta tolong sama kamu?” Zaki menganggukkan kepalanya, “tolong jaga kakak aku, buat dia jatuh cinta dengan Kania. Kania adalah gadis yang sangat baik, jangan biarkan kakak menyia-nyiakan gadis sebaik Kania, kalau tidak, kakakku pasti akan menyesal nantinya,” ucap Chelsea penuh harap.
“Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha untuk mendekatkan mereka.”
Chelsea mengulurkan tangannya, “apa kamu masih mau berteman denganku?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.
Zaki menjabat uluran tangan Chelsea, “aku akan tetap menunggu jawaban dari aku, aku tidak akan pernah menyerah meskipun seribu kali kamu menolakku,” ucapnya.
“Zak, aku kotor, aku tidak pantas untuk kamu tunggu!”
Zaki menggelengkan kepalanya, “kamu salah, justru hanya kamu yang layak untuk aku tunggu. Aku juga tidak peduli, kamu itu kotor atau masih suci, karena hati aku sudah memilih kamu,” ucapnya.
Zaki menatap ke arah Chelsea yang bahkan sudah masuk ke dalam bandara, “aku akan buktikan jika aku kali ini serius, aku akan tetap menunggu kedatangan kamu.” Pria itu lalu kembali masuk ke dalam mobil, Zaki lalu melajukan mobilnya keluar dari bandara.
***
“Sekarang masalah Chelsea sudah selesai, kini tinggal masalah Papa dan Mama yang selalu menuntut aku untuk memberinya cucu. Bagaimana aku bisa memberi mereka cucu, sedangkan aku dan Kania bahkan belum pernah melakukan itu, aku juga tidak akan pernah melakukan itu sama dia!”
Veon menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya, kepalanya terasa sangat pening. Ketukan di pintu seketika membuyarkan lamunannya, “masuk,” sahutnya.
Pintu itu terbuka dengan perlahan, Kania muncul dari balik pintu itu. Baru juga di omongin, sekarang malah nongol di sini, pikirnya.
“Mau apa kamu datang ke kantor aku?” Veon bertanya dengan nada dingin, bahkan ekspresi wajahnya bisa terlihat sangat jelas kalau dirinya tidak suka dengan kedatangan Kania.
Kania meletakkan bekal makan siang di atas meja, “aku hanya ingin mengantarkan makan siang untuk kamu. Sebenarnya aku malas datang ke sini, tapi Mama kamu memaksa aku untuk mengantarkan makanan ini,” ucapnya tak kalah dingin.
Veon berpura-pura sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di atas meja kerjanya, “aku sibuk, tidak ada waktu untuk makan makanan itu. Lebih baik kamu bawa pulang lagi itu makanan kalau tidak mau aku buang makanan itu!”
Kania mengepalkan kedua tangannya, “apa ini sikap yang orangtua kamu ajarkan sama kamu?”
Veon mengertakan giginya, kedua matanya semakin menatap tajam ke arah Kania. Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Kania, “kamu tadi bilang apa? kamu mempertanyakan didikan kedua orangtua ku!” serunya dengan nada yang mulai meninggi.
__ADS_1
Kania merutuki ucapannya sendiri, dia lupa jika pria yang berdiri di depannya ini begitu sensitif jika menyangkut tentang kedua orang tuanya, “a—ku...”
Veon mencengkram kedua lengan Kania, “sekarang kamu sudah berani mempertanyakan didikan kedua orangtua ku! Apa kamu merasa dirimu sekarang sudah menjadi bagian dari keluargaku hingga kamu berani bersikap seperti ini sekarang! Apa karena aku mendiamkan kamu selama ini, hingga membuat kamu merasa bebas melakukan apapun yang kamu mau!”
Kania terlihat sangat takut, pria yang berdiri di depannya ini bahkan siap menerkamnya kapan saja, “m—maafkan aku, aku....”
Veon menghempaskan tubuh Kania hingga wanita itu tersungkur ke lantai, “sekarang kamu keluar dari ruangan aku! bawa juga semua makanan itu!” serunya lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kursi kerjanya.
Kania bergegas berdiri saat terdengar ketukan pintu. Pintu itu mulai terbuka saat terdengar sahutan dari dalam. Zaki masuk ke dalam ruangan Veon, pria itu menatap ke arah Kania yang tengah menundukkan wajahnya.
“Apa kamu sudah mengantar Chelsea ke bandara?” Veon mulai menyalakan laptop di depannya.
“Sudah tuan.” Zaki menatap Kania yang tengah menghapus air matanya, apa dia baru saja menangis? Pikirnya.
“Zak, apa yang kamu lihat?” Veon tau jika sejak tadi Zaki memperhatikan Kania.
“Kenapa Nona Kania ada di sini? Lalu yang di atas meja itu, bukankah itu bekal makan siang?” tanya Zaki.
“Hem...” Veon hanya menjawab dengan deheman.
“Apa tuan tidak ingin memakannya?”
“Hem...”
Zaki lalu melangkahkan kakinya mendekati Kania, “apa bekal makan siang ini boleh aku makan? Kan mubazir kalau di buang,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Kania menatap ke arah Veon yang kini tengah menatapnya dengan sorot mata yang tajam, “tentu saja, dari pada aku buang, lebih baik aku berikan sama kamu. Sebenarnya semua makanan ini aku yang masak, ini pertama kalinya aku memasak. Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu mau mencoba masakan aku,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Veon mengepalkan kedua tangannya, ‘beraninya dia tersenyum seperti itu sama Zaki!’
Zaki menatap ke arah Veon, “tuan yakin tidak ingin memakannya? Ini adalah masakan pertama Nona Kania,” ucapnya. Zaki sengaja menggoda Veon agar dia berubah pikiran dan mau mencicipi masakan Kania.
“Kalau kamu mau, kamu makan saja, aku tidak butuh!” Veon kembali menyibukan diri dengan layar pipih di depannya, tapi sesekali dia melirik ke arah Zaki dan Kania yang tengah duduk di sofa. Pria itu bahkan berkali-kali menelan ludahnya, belum lagi perutnya yang sejak tadi terasa lapar, tapi dia gengsi jika ingin ikut makan bersama dengan Zaki.
“Nona Kania, masakan anda ini sangat lezat, aku beruntung bisa memakan makanan seenak ini,” puji Zaki sambil terus memakan masakan Kania.
“Terima kasih Zak, aku senang ada yang mau menghargai masakan aku ini.” Kania lalu mengambilkan segelas air putih dan dia berikan kepada Zaki, “minumlah, aku tau kamu haus,” ucapnya sambil tersenyum.
Zaki menerima segelas air putih itu, “terima kasih, Nona,” ucapnya lalu meneguk air putih itu sampai habis. Pria itu lalu mengusap perutnya yang terasa kenyang, dia juga mengucapkan terima kasih kepada Kania untuk bekal makan siangnya.
“Zak, jangan panggil aku Nona, panggil aku Kania saja,” pinta Kania.
“Tapi anda kan...”
“Aku tetap Kania yang dulu, walau aku sudah menikah dengan majikan kamu, tapi itu tidak merubah apapun!” Kania menatap ke arah Veon yang sejak tadi menatapnya dengan dingin dan sorot mata yang tajam, “aku hanya ingin mempunyai teman, apa kamu mau menjadi teman ku?” tanyanya kemudian.
~oOo~
__ADS_1