
Chelsea dan Alex sudah memutuskan untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Meskipun sangat berat untuk melepaskan putri mereka satu-satunya, tapi Vera dan Dion tidak mempunyai pilihan lain selain mengizinkan mereka. Apalagi sekarang putri mereka sudah menjadi seorang istri yang harus mengikuti kemanapun suaminya pergi.
Dion memeluk Vera yang terlihat begitu sedih saat melepas kepergian Chelsea dari rumah itu, “Mama, Chelsea akan sering berkunjung ke rumah ini, jadi Mama tidak usah sedih lagi,” ucapnya sambil mengeratkan pelukannya.
Vera melepaskan pelukannya, “tapi Mama merasa Chelsea tidak bahagia, Pa. apa keputusan kita salah dengan menikahkan mereka?”
“Itu tidak mungkin, Ma. Chelsea sendiri yang ingin menikah dengan Alex, dia bahkan mengancam akan kawin lari jika kita tidak merestui mereka.”
“Tapi, Pa...”
“Ma, sudahlah, kita berdoa saja semoga Chelsea akan selalu bahagia, dan Alex orang yang tepat untuk Chelsea.”
Vera menganggukkan kepalanya, mereka lalu masuk ke dalam rumah. Kania, Eca dan Eric juga ikut masuk ke dalam rumah. Meskipun Kania dari tadi diam saja, tapi sebenarnya wanita itu sedang memikirkan sesuatu. Dia terpikirkan oleh apa yang Chelsea katakan kepada Veon, hingga pria itu mengizinkan Chelsea untuk menikah dengan Alex.
Kania masuk ke dalam kamarnya, dia lalu mengambil ponselnya dari atas meja. Wanita itu ingin segera menanyakan kepada suaminya tentang sesuatu yang mengganjal dia hatinya.
“Apa dia masih sibuk, kenapa teleponku tidak diangkat?”
Kania mencoba untuk menelpon Zaki, dan tidak butuh waktu lama panggilan itu mulai tersambung, “halo, Zak.”
“Kania, ada apa kamu menelpon ku? Apa sesuatu yang sedang terjadi? Kamu dan kandungan kamu baik-baik saja kan?”
‘Aku tidak bisa memberitahu Zaki soal Chelsea yang sudah menikah dengan Alex, dia pasti akan sangat hancur saat mendengarnya.’
“Kania, apa kamu masih di situ? Halo, Kania...”
“Apa suamiku ada bersama denganmu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengannya, aku tadi sudah menghubunginya, tapi tidak diangkat.”
“Tuan Veon sedang meeting sekarang, dan aku sedang berada di luar untuk mengecek sesuatu, kalau itu sangat penting, aku akan sampaikan kepada suami kamu.”
“Tidak usah, biar nanti aku menelponnya lagi, kalau tidak suruh dia untuk segera menelpon ku jika meeting nya sudah selesai.” Kania lalu mengakhiri panggilan itu.
Zaki mengernyitkan dahinya, “ada apa dengan Kania, apa sesuatu telah terjadi? Tidak seperti biasanya dia langsung mematikan telepon aku begitu saja.”
Zaki kembali ke restoran, tempat Veon sedang melakukan meeting bersama dengan client nya. Dia lalu memberikan sebuah map yang berisi berkas-berkas yang diminta oleh Veon. veon mengambil map itu dan dia berikan kepada client nya itu.
Setelah meeting berjalan selama lebih dari satu jam, akhirnya Veon dan Zaki berhasil mendapatkan tender besar itu. Veon dan Zaki kembali ke hotel tempat mereka menginap beberapa hari ini.
“Zak, aku tidak menyangka kita benar-benar berhasil mendapatkan tender ini dalam waktu sesingkat ini. Hari ini juga kita bisa kembali ke Jakarta.” Mereka tengah melangkah menuju kamar hotel mereka.
“Tuan tunggu!” Zaki teringat akan telpon dari Kania, “tadi istri anda menelpon, dia ingin anda untuk menelponnya balik.”
Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan menelponnya, tapi aku akan memberinya kejutan, kamu pesan tiket sekarang juga, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Kania.”
__ADS_1
Zaki menganggukkan kepalanya, dia lalu memesan dua tiket pesawat secara online. Setelah itu dia juga harus mengemasi semua barang-barangnya. Setelah selesai bersiap-siap mereka keluar dari hotel itu.
“Zak, kita mampir dulu ke toko perhiasan, aku ingin membelikan kado untuk Chelsea.”
Zaki mengernyitkan dahinya, “memangnya ada acara penting apa, Tuan?”
“Memangnya kamu tidak tahu, kalau kemarin itu Chelsea berulang tahun yang ke 25?”
Zaki membulatkan kedua matanya, “astaga, Tuan, saya benar-benar lupa.”
Veon menggelengkan kepalanya, “Zak, sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan sama kamu, tapi aku menundanya karena kita harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan tender ini. Tapi sekarang aku akan bertanya sama kamu, apa kamu dan Chelsea sedang ada masalah? Kenapa selama kita disini aku tidak pernah melihat kamu menghubungi atau menanyakan kabar Chelsea, bahkan saat kita berangkat hari itu, kamu juga tidak berpamitan pada Chelsea?”
“Tidak ada, Tuan, saya dan Nona Chelsea tidak sedang ada masalah.” Zaki lalu membukakan pintu mobil untuk Veon, “lebih baik kita berangkat sekarang, saya takut kita akan ketinggalan pesawat.”
Veon menganggukkan kepalanya, “tapi sebelum ke bandara, kita pergi membeli kado dulu untuk Chelsea.” Pria itu lalu masuk ke dalam mobil, begitu juga dengan Zaki.
Sebelum ke bandara, Zaki mengantar Veon ke toko perhiasan yang sangat terkenal di kota itu, bahkan toko itu jaraknya tidak terlalu jauh dengan bandara.
Zaki ikut melihat-lihat, ada berbagai macam perhiasan yang terlihat begitu indah dan elegan. Kedua mata Zaki tertuju pada sepasang cincin yang terlihat begitu indah.
"Cincin itu pasti akan cocok bila di pakai oleh Chelsea."
Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan, Zaki melajukan mobilnya menuju bandara.
Sesampainya di rumah, mereka langsung masuk ke dalam rumah. Mereka sangat terkejut saat melihat rumah mereka tampak sepi.
“Bi, semua orang pada kemana? Kenapa rumah begitu sepi?” Veon bertanya kepada asisten rumah tangganya yang sedang membersihkan rumahnya.
“Tuan dan Nyonya besar, ada di kamarnya, sedangkan Nyonya Kania ada di kamarnya, Tuan.”
“Terima kasih, Bi. Bibi bisa kembali bekerja.” Veon lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya, sedangkan Zaki kembali keluar rumah, dia belum siap untuk bertemu dengan Chelsea.
Veon membuka pintu kamarnya secara perlahan, dia melihat Kania sedang terlelap di atas ranjang, “tumben jam segini dia sudah tidur, padahal ini baru pukul 20.00 malam.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar secara perlahan, dia tidak ingin mengganggu tidur Kania.
Veon berjongkok di samping ranjang, dia tatap wajah polos Kania saat tengah tertidur pulas, “kalau sedang tidur, dia persis seperti bayi.” Pria itu lalu mengusap pipi Kania dengan lembut, “sayang, aku sangat merindukan kamu,” ucapnya sambil mengecup kening Kania.
Kania merasa tidurnya mulai terusik, dengan perlahan dia mulai membuka kedua matanya, kedua matanya seketika membulat saat dia melihat wajah yang sangat dirindukannya tengah menatapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Sayang, apa aku sudah mengganggu tidurmu?”
“Kenapa kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya kamu pulang 2 hari lagi?” Kania masih terlihat sangat terkejut, sejak tadi dia menunggu telpon dari Veon, tapi pria itu tidak juga menelponnya, dan sekarang pria itu berada tepat di depan kedua matanya.
Veon mengerucutkan bibirnya, “kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu tidak suka aku pulang lebih cepat?” pria itu lalu melipat kedua lengannya di dada dan memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Kania mencoba untuk bangun, dia lalu menyentuh lengan suaminya, “maaf, bukan maksud aku seperti itu, aku hanya terkejut melihat kamu sudah pulang, kamu bahkan tidak memberitahu aku.”
Veon menggenggam tangan Kania, “karena aku ingin memberimu kejutan.” Pria itu lalu memeluk istrinya, “sayang, aku sangat merindukan kamu dan anak kita,” ucapnya.
Veon melepaskan pelukannya, dia lalu beralih mengusap perut buncit Kania, “halo sayang, sekarang Papa sudah pulang, terima kasih ya sayang, karena kamu sudah membantu Papa untuk menjaga Mama.”
“Lebih baik sekarang kamu mandi, aku akan menyiapkan makan malam untuk kamu.”
Veon menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku ceritakan semuanya kepada Veon ya, aku yakin dia belum tahu kalau Chelsea menikah dengan Alex.” Kania beranjak dari ranjang, dia lalu menyiapkan pakaian yang akan dipakai suaminya, setelah itu dia keluar dari kamar untuk menyiapkan makan malam untuk suaminya.
Veon yang sudah selesai mandi dan berpakaian bergegas keluar dari kamar, dia lalu melangkah kan kakinya menuju meja makan. Kania sudah mengambil kan makan malam untuk Veon dan meletakkan di depan suaminya itu.
Kania menemani Veon makan malam, “dimana Zaki?” tanyanya saat dia sama sekali tidak melihat Zaki.
“Mungkin dia berada di luar.”
‘Lebih baik aku bicarakan nanti saja, aku tidak mau mengganggu makan malamnya.’
Setelah selesai makan malam, mereka kembali ke dalam kamar. Kania mengajak Veon untuk duduk di sofa, dia ingin berbicara serius dengan suaminya itu.
“Sayang, kamu kenapa, kenapa kamu terlihat begitu gelisah, apa terjadi sesuatu selama aku pergi?”
“Apa kamu benar-benar tidak tahu apa yang sudah terjadi di rumah ini? Apa Chelsea benar-benar belum memberitahumu?”
Veon mengernyitkan dahinya, “memangnya apa yang perlu diberitahu oleh Chelsea?”
“Sayang, sekarang jawab aku dengan jujur, apa yang dikatakan Chelsea saat dia menelponmu, dan membuat kamu mengizinkannya dan meminta aku untuk mendampingi Chelsea di hari pentingnya?”
Veon terlihat semakin bingung dengan apa yang Kania katakan, “aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Waktu itu Chelsea meminta izin sama aku untuk mengajak kamu ke pesta ulang tahunnya bersama dengan teman-temannya, kemarin kan hari ulang tahun Chelsea, makanya aku ingin kamu menggantikan aku untuk menemani Chelsea di hari pentingnya itu. Apa telah terjadi sesuatu yang tidak aku tahu?”
Kania membulatkan kedua matanya, dia tidak menyangka Chelsea berani membohonginya dan juga kakaknya. Sekarang apa yang harus dia katakan? Apa reaksi Veon saat dia mengetahui ternyata Chelsea sudah membohonginya, dan menikah dengan Alex, pria yang sangat dia benci?
“Sayang, kenapa kamu diam saja? Katakan padaku, sebenarnya apa yang sudah terjadi di rumah ini? Katakan padaku, jangan hanya diam seperti ini.” Kania hanya diam sambil menundukkan wajahnya, Veon semakin penasaran, karena Kania masih tetap bungkam dan tidak menjawab pertanyaannya.
“Kalau kamu tetap diam, aku akan bertanya sama Mama dan Papa, mereka pasti akan memberitahu aku apa yang sebenarnya terjadi.” Veon beranjak dari duduknya, tapi dengan cepat Kania menarik tangan Veon sebelum pria itu melangkahkan kakinya.
“Aku akan menceritakan semuanya, tapi aku mohon, duduklah dulu.”
Veon mendudukkan kembali tubuhnya, “sekarang ceritakan semuanya, jangan ada yang kamu sembunyikan dari aku.”
~oOo~
__ADS_1