Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Lupakan saja...


__ADS_3

Sang surya nampak mulai naik ke tempat peraduan, sinarnya membias setiap sudut kamar melalui kaca jendela yang hanya dibalut tirai tipis berwarna putih transparan. Namun silaunya mampu menjamah siapapun yang berada di dalam sana.


Veon dan Kania yang masih terlelap dalam tidurnya merasa sangat terganggu oleh suara gedoran pintu di kamarnya. Kania yang sudah membuka kedua matanya sejak tadi hanya diam, dia tidak berani untuk beranjak dari ranjang itu. Apalagi keadaannya saat ini yang sungguh di luar dugaannya, tubuhnya polos hanya tertutup selimut, itu pun dirinya harus berbagi selimut dengan pria yang saat ini masih terlelap di sampingnya.


Suara gedoran pintu itu kembali terdengar, Veon berdecak sebal, “siapa sih mengganggu saja,” decaknya. Dengan kedua mata yang masih enggan untuk terbuka dengan sepenuhnya, dia bahkan menguap berkali-kali pun akhirnya beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


Kania hanya diam dengan kedua mata yang membulat melihat tingkah bodoh Veon. Pria itu tidak menyadari dengan keadaan dirinya saat ini. Wajah Kania mulai merah merona, melihat tubuh kekar Veon yang bahkan tidak tertutup oleh sehelai kainpun. Wanita itu tidak menyangka jika tubuh itu lah yang telah menyatu dengan tubuhnya semalam.


Veon dengan santainya membuka pintu itu, dia lalu mulai mengerjapkan kedua matanya berkali-kali untuk menatap sosok yang berada di depan pintu, “Mama,” ucapnya setelah kedua mata itu benar-benar terbuka dengan sepenuhnya.


Kedua mata Vera membulat dengan sempurna, dia lalu membalikkan tubuhnya hingga membuat Veon mengernyit bingung, “Mama kenapa?” tanyanya bingung.


“Sayang, apa kamu nggak malu berpenampilan seperti itu di depan Mama? Kamu bukan anak kecil lagi sayang.”


Dari dalam kamar Kania mencoba menahan tawanya, baru kali ini dia bisa melihat tingkah konyol pria yang berhati dingin itu.


“Maksud Mama apa? Veon kan baru bangun tidur, ya sudah sewajarnya Veon ber....” kedua mata Veon membulat dengan sempurna saat melihat keadaannya saat ini, seketika pemuda itu lalu menutup kembali pintu kamarnya, ‘astaga! Apa yang baru saja aku lakukan?’ rutuknya dalam hati.


“Sayang, lanjutkan saja apa yang kalian lakukan...Mama sudah tidak sabar ingin mendengar kabar gembira dari kalian!” teriak Vera lalu melangkah pergi dari depan kamar Veon.


“Ais...sial! apa yang sudah aku lakukan semalam!” pria itu lalu menatap ke arah ranjang, dia melihat Kania yang menutup tubuhnya dengan selimut sepenuhnya.


Veon lalu melangkahkan kakinya untuk mengambil celana pendek yang semalam dia pakai lalu memakainya kembali, ‘apa semalam aku benar-benar sudah melakukan itu? Tapi kenapa aku melakukan itu?’ gumamnya dalam hati.


Veon lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, pria itu merutuki apa yang sudah dia lakukan. Pria itu bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu meskipun Kania adalah istrinya yang SAH. Tapi dia tidak tahu kenapa dirinya sampai melakukan itu pada Kania semalam.


Kania mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, dia pun mulai membuka selimut yang menutup seluruh tubuhnya, “apa dia tadi benar-benar bodoh, kenapa dia tidak menyadari jika dirinya telanjang seperti itu?”


Kania merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya, “aw...kenapa rasanya masih sakit. Semalam dia melakukan itu dengan sangat kasar, apa dia tidak bisa apa melakukan itu dengan lembut?” wanita itu lalu bergegas memakai semua pakaiannya. Dia lalu beranjak dari ranjang dan keluar dari kamar itu, Kania tidak ingin melihat Veon, dirinya belum siap untuk melihat wajah itu setelah pergumulan semalam.


Vera saat ini tengah berbicara dengan Zaki, dia mengatakan kepada Zaki apa yang baru saja di lihatnya. Selama ini Vera sudah menganggap Zaki seperti anaknya sendiri.


Zaki terlihat sangat terkejut saat mendengar apa yang dikatakan Vera, ‘masa Tuan Veon melakukan itu pada Kania, bukankah dia tidak mencintainya, dia bahkan tidak ingin mempunyai anak.’


“Zak, tante sangat senang hari ini. Sebentar lagi akan ada kabar gembira dari Veon. Tante juga tidak menyangka mereka akan secepat itu melakukannya.” Zaki bisa melihat raut wajah Vera yang terlihat begitu bahagia.


“Semoga saja Nyonya, semoga Nona Kania secepatnya hamil,” ucap Zaki dengan senyuman di wajahnya.


Kania yang tidak sengaja mendengar percakapan Vera dan Zaki membulatkan kedua matanya, “tidak! Aku belum siap untuk hamil!” wanita itu kembali ke kamarnya.


“Astaga!” serunya saat membuka pintu kamarnya. Bagaimana tidak terkejut, Kania membuka pintu saat Veon sedang memakai pakaiannya.

__ADS_1


“Bisa ketuk pintu dulu tidak kalau mau masuk kamar!” seru Veon yang juga terkejut karena pintu kamarnya tiba-tiba terbuka.


“M—maaf,” ucap Kania sambil memalingkan wajahnya.


Veon lalu memakai dasinya, “untuk yang semalam lupakan saja, lagian itu juga tidak berarti apa-apa untuk aku,” ucapnya dingin.


Kania menggertakkan giginya, dia mengepalkan kedua tangannya, ‘apa dia bilang, lupakan saja! Setelah mengambil hal yang paling berharga dalam diriku dengan paksa, sekarang dengan entengnya bilang lupakan saja!’


Kania melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar, dia dengan kasar menarik tubuh Veon. Tamparan keras dia layangkan ke wajah pria itu, “brengsek kamu!” teriaknya keras. Air mata mulai keluar dari kedua sudut mata Kania, “setelah dengan paksa kamu merengut hal yang paling berharga dalam hidupku, sekarang dengan semudah itu kamu bilang lupakan saja!” serunya.


Veon menyentuh pipinya, “lalu apa yang kamu mau? Mau minta tanggung jawab aku? tapi aku sudah menikahimu. Atau kamu mau uang...” pria itu lalu mengambil kartu ATM dari dalam dompetnya, “kamu bisa memakai ini sepuas kamu,” ucapnya sambil menyodorkan kartu itu di depan wajah Kania.


Kania menepis tangan Veon hingga kartu ATM itu terjatuh ke lantai, “aku tidak butuh uang kamu!” wanita itu lalu mengacungkan jari telunjuknya di depan wajah pria itu, “apa kamu pikir aku akan tinggal diam saja kamu perlakukan seperti ini? Apa sebegitu rendahnya aku di mata kamu?” Kania berucap dengan suara yang terasa begitu berat, air matanya terus mengalir dari kedua sudut matanya.


Veon menghela nafas kasar, “lakukan apapun agar kamu tidak hamil, karena aku belum siap untuk memiliki anak,” ucapnya dingin.


“Apa kamu pikir aku akan sudi mengandung anak kamu! Aku tidak akan pernah melakukan itu! Tidak akan pernah!” Kania berteriak dengan sangat keras.


Veon mencengkram kedua lengan Kania, “suatu saat jika aku menginginkan anak dari kamu, mau tidak mau kamu harus melakukannya! Apa kamu lupa kalau kamu itu istri aku, jadi sudah semestinya kamu mengandung anakku!” pria itu menatap tajam kedua mata Kania yang sudah memerah karena terus menerus menangis.


“Kenapa kamu melakukan itu sama aku, kenapa? Bukankah kamu tidak mencintaiku? Bukankah pernikahan ini hanya palsu? Apa salah aku sama kamu, apa?” tanya Kania di sela isak tangisnya.


Kania menepis tangan Veon dari lengannya, “aku akan pegang janji kamu itu,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Tapi dengan cepat Veon menarik tangan Kania hingga wanita itu berada dalam dekapan pria itu, “apa yang kamu lakukan?” wanita itu terlihat sangat terkejut.


Veon memeluk Kania dengan sangat erat, hingga membuat wanita itu membulatkan kedua matanya, “maafkan aku, apa semalam aku sudah menyakitimu?”


Kania tidak percaya dengan apa yang baru saja Veon katakan, ‘apa sekarang dia meminta maaf padaku?’ “kenapa kamu peduli, bukankah kamu tidak peduli padaku?” Kania berbicara dengan posisi Veon masih memeluknya.


“Karena aku melihat begitu banyak bercak darah di sprei, pasti itu rasanya sangat sakit. Maaf, semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku.”


Kania mendongakan wajahnya, dia ingin melihat wajah pria yang saat ini sangat peduli dengan dirinya. Wanita itu lalu menyentuh kening Veon, “apa kamu sakit? Kenapa sikap kamu secepat itu berubah?”


Veon melepaskan pelukannya, dia lalu berdehem, “lupakan saja,” ucapnya lalu keluar dari kamar itu.


Kania mengernyitkan dahinya, “aku tidak sedang bermimpi kan? Baru beberapa menit yang lalu dia bersikap sangat kasar padaku, tapi tadi...sikapnya sangat berbeda. Apa dia benar-benar peduli padaku?”


Hanya dengan pelukan hangat dan perhatian Veon yang hanya sebentar itu, berhasil meredakan amarah dan sakit hati Kania. Wajah Kania mulai memerah, jantungnya bahkan berpacu dengan sangat cepat.


“Ada apa denganku? Aku tidak mungkin sudah jatuh cinta dengannya kan?” wanita itu menggelengkan kepalanya berkali-kali, “mana mungkin aku jatuh cinta padanya hanya gara-gara sikap dia tadi padaku. Bisa saja nanti sikapnya dia akan kembali seperti biasanya, yang dingin dan cuek itu.”

__ADS_1


***


 


Veon melangkahkan kakinya menuju meja makan, di sana sudah ada mama dan papanya. Pria itu sangat malu saat mamanya menatapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Pagi sayang,” sapa Vera dengan senyumannya.


“P—pagi, Ma,” sahut Veon sedikit gugup.


Dion yang melihat tingkah putranya berbeda dari biasanya pun merasa sangat penasaran, “Ma, ada apa ini, kenapa Veon terlihat begitu gugup, sedangkan Mama malah senyum-senyum tidak jelas seperti itu?” tanyanya penasaran.


Veon hanya diam, dia pun mulai mengambil makanan, tapi tidak dengan Vera, dia sudah tidak sabar ingin memberitahu suaminya tentang apa yang tadi di lihatnya.


“Papa akan terkejut mendengar apa yang akan Mama katakan,” ucap Vera sambil melirik Veon. Tapi pria itu tetap diam sambil menikmati makanannya.


“Veon, dimana istri kamu? Kenapa dia tidak ikut sarapan?” tanya Dion saat mengetahui Kania yang tidak juga datang ke ruang makan.


“Itu yang ingin Mama katakan Pa, sepertinya sebentar lagi kita akan mendengar kabar gembira dari menantu kita. Keinginan Papa untuk mempunyai cucu akan segera terwujud,” ucap Vera antusias.


Veon yang sedang mengunyah makanan tiba-tiba terbatuk-batuk karena tersedak makanan. Vera dengan cepat memberikan segelas air putih kepada putranya itu.


“Mama tidak bercandakan?” tanya Dion terkejut.


“Mama tidak bercanda, Pa. Sepertinya semalam anak kita sudah melakukan kewajibannya sebagai suami, itu sebabnya sekarang Kania tidak ikut sarapan sama kita, mungkin dia sangat kelelahan,” goda Vera hingga membuat Veon membulatkan kedua matanya, dia juga merutuki kebodohannya tadi pagi.


Veon lalu beranjak dari duduknya, “Veon akan berangkat ke kantor sekarang,” pamitnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.


Vera pun tersenyum, “nanti biar Mama suruh Kania untuk mengantarkan bekal makan siang untuk kamu!” teriaknya.


“Mama serius dengan apa yang tadi Mama katakan? Bukankah Veon tidak ingin mempunyai anak?” Dion masih tidak percaya dengan apa yang istrinya katakan.


“Mama tidak bohong, Pa. Apa Papa tau...”


Vera pun mulai menceritakan apa yang tadi dia lihat saat mengetuk pintu kamar Veon. Dia juga sangat yakin jika putranya itu sudah menggauli istrinya itu. Dion yang mendengarnya pun terlihat sangat bahagia, akhirnya keinginannya untuk memiliki cucu akan segera menjadi kenyataan.


~oOo~



__ADS_1


__ADS_2