
Alex dan Chelsea sedang berjalan mengelilingi komplek. Wajah tampan Alex menarik perhatian ibu-ibu maupun para gadis yang berselisih jalan dengan mereka. Chelsea bahkan sampai jengah mendengar pujian-pujian para ibu-ibu dan juga gadis-gadis yang begitu memuja ketampanan Alex.
Alex tersenyum melihat ekspresi wajah Chelsea yang cemberut, “kamu kenapa? apa kamu cemburu dengan para gadis-gadis itu?”
Chelsea berdecak, “cemburu! Itu tidak akan terjadi!” serunya.
Alex menghentikan langkahnya saat ada dua orang gadis menyapanya, dia membalas sapaan dua gadis itu.
“Kak, boleh kenalan dong.” Gadis yang berbaju biru itu pun mengulurkan tangannya, “kenalkan, nama aku Nia,” ucapnya memperkenal kan diri.
Alex menjabat tangan Nia, “Alex.”
“Kalau aku Sisil,” ucap gadis satunya lagi.
“Kak Alex, boleh tukeran nomor telepon tidak?” tanya Nia sambil menyodorkan ponselnya.
Alex hanya tersenyum, jika dirinya adalah Alex yang dulu, maka akan dengan senang hati dia akan menanggapi kedua gadis muda itu, tapi dia tidak ingin melakukan kesalahan besar, apalagi saat ini Chelsea menatapnya dengan tajam.
Alex menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “em...maaf, ya. Istri aku sudah menunggu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Senyuman di wajah kedua gadis itu mulai memudar secara perlahan saat Alex mengucapkan kata istri. Kedua gadis itu lalu meminta maaf dan pergi meninggalkan Alex. Alex lalu melangkahkan kakinya menghampiri Chelsea yang berada beberapa langkah di depannya.
“Seneng ya habis di godain sama cewek ingusan,” sindir Chelsea sambil melipat kedua lengannya di dada.
Alex tersenyum, “aku haus, bagaimana kalau kita cari minum dulu.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan deh,” ucap Chelsea kesal.
Alex lalu merangkul pundak Chelsea, tapi wanita itu segera menepis tangan Alex, “kenapa? kamu cemburu saat dua gadis itu tadi menggodaku?” sindirnya.
“Sudah aku bilang aku tidak cemburu!” seru Chelsea keras.
“Kalau kamu tidak cemburu, lebih baik sekarang temani aku cari minum, aku benar-benar merasa haus ini.” Alex lalu melangkahkan kakinya mendahului Chelsea, pria itu tersenyum puas, dia bisa melihat ekspresi wajah Chelsea yang tengah cemburu kepadanya.
Chelsea mendengus kesal, dia merasa di abaikan, “sialan, berani-beraninya dia mengabaikan aku, lihat saja nanti, aku akan membuat kamu menyesal karena telah mengabaikan aku!” serunya kesal.
Chelsea lalu mengejar Alex yang sudah jauh di depannya, “Lex, tunggu dong!” serunya.
“Makanya kalau jalan itu jangan kayak semut gitu, lambat.” Alex lalu menghentikan langkahnya, dia menunggu Chelsea yang masih berada beberapa langkah di belakangnya, “mau aku gendong?” tawarnya saat Chelsea sudah berada di depannya.
“Aku mau pulang, aku capek.”
Alex duduk berjongkok sambil membelakangi Chelsea, “aku akan menggendongmu.”
__ADS_1
Chelsea mengernyitkan dahinya, “kamu serius? Yakin kamu kuat menggendongku?” ledeknya.
Alex memiringkan kepalanya, dia tatap wajah Chelsea, “apa mau taruhan? Kalau aku berhasil menggendongmu sampai di rumah, kamu akan melakukan apapun yang aku minta, tapi kalau aku kalah, aku akan mengabulkan satu permintaan kamu.”
Chelsea nampak tengah berfikir, ‘jika aku menang, aku bisa meminta satu permintaan, tapi kalau aku kalah...apa yang akan diminta Alex nanti? Apa dia ingin aku untuk melakukan itu?’
Alex melihat Chelsea yang seperti orang yang sedang melamun, “kenapa, apa kamu takut? Tenang saja, aku tidak akan meminta sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan?”
“Janji, kamu tidak akan meminta hal yang aneh-aneh?” Chelsea menggerakkan jari telunjuknya dan mengarahkannya kepada Alex.
Alex menganggukkan kepalanya, “tapi kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa.” pria itu lalu berniat untuk berdiri, tapi dia mengurungkan niatnya saat Chelsea tiba-tiba menempelkan tubuhnya di punggungnya.
Alex tersenyum, dia lalu mulai menggendong Chelsea. Pria itu membulatkan kedua matanya, dia tidak menyangka jika tubuh Chelsea akan seberat itu.
“Apa kamu akan menyerah?” ledek Chelsea sambil mengeratkan pelukannya.
“Aku tidak akan menyerah, lagipula tubuh kamu tidak begitu berat, aku masih sanggup untuk menggendongmu sampai di rumah.”
Chelsea menyembunyikan wajahnya di bahu Alex, karena saat ini semua orang yang mereka lewati tengah menatapnya mereka sambil menahan senyum. Mereka bukannya meledek Alex maupun Chelsea, tapi mereka kagum dengan kegigihan Alex yang mau menggedong Chelsea, bahkan di depan umum.
“Lex, turunkan aku,” pinta Chelsea dengan nada pelan.
“Kenapa? apa kamu mau menyerah?” ledek Alex sambil terus berjalan.
“Aku tidak peduli, aku juga tidak kenal mereka,” ucap Alex dengan nada cuek.
Sesampainya di rumah, Chelsea dan Alex melihat Zaki yang baru saja keluar dari rumah mereka. Chelsea bergegas turun dari gendongan Alex.
Zaki menatap Chelsea dengan raut wajah kekecewaannya, tapi dia teringat dengan pesan Veon yang memintanya untuk menjauhi Chelsea. Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju mobil, dia bahkan tidak menyapa Alex dan Chelsea.
Alex menyunggingkan senyumannya, dia senang, akhirnya Zaki menyadari akan posisinya. Tapi berbeda dengan Chelsea, dia merasakan sakit saat melihat Zaki yang tiba-tiba bersikap acuh padanya.
Alex menggenggam tangan Chelsea, “sayang, ayo kita masuk, aku lapar.”
Chelsea yang semula menatap Zaki yang sudah masuk ke dalam mobil pun menganggukkan kepalanya. Mereka lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Zaki mengepalkan kedua tangannya, dia memukul stir kemudi dengan sangat keras, “arrgggghhhh!” teriaknya keras.
“Sekarang apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan benar-benar kehilangan Chelsea untuk selama-lamanya?” Zaki meraup wajahnya dengan kasar, “tapi aku juga tidak bisa mendekati Chelsea lagi, apalagi Tuan Veon sendiri yang memintaku untuk menjauhi Chelsea.”
Zaki lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah utama.
***
__ADS_1
Saat ini Alex dan Chelsea tengah berada di dapur, tingkah mereka berdua membuat asisten rumah tangga keluarga Chelsea tidak bisa menahan tawanya lagi.
Chelsea mendengus kesal, “Bibi jangan tertawa, bantuin aku,” ucapnya kesal.
“Maaf, Non. Den Alex melarang Bibi untuk membantu Non Chelsea.”
Alex mengulas senyumnya, “ayo semangat dong sayang, bukankah kamu sudah berjanji akan mengabulkan permintaan aku? aku akan hanya minta dibuatkan sarapan sama kamu, dan itu pun mudah.”
“Apa kamu sengaja ingin mengejekku? Kamu kan tahu aku tidak bisa memasak.”
“Makanya aku ingin kamu belajar mulai dari sekarang, aku ingin sekali merasakan makanan buatan kamu sendiri.” Alex lalu menyuruh wanita paruh baya itu keluar dari dapur. Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dia lalu pamit undur diri.
Alex berjalan mendekati Chelsea, dia lalu memegang kedua tangan Chelsea dari belakang, “sini aku bantu.”
Dengan posisi Alex yang berada di belakang Chelsea, dia mulai mengajari apa saja yang harus Chelsea lakukan untuk membuatkan makanan untuknya. Dengan posisi seperti itu sungguh membuat Alex memanas, karena sesuatu di bawahnya sana ternyata sudah mulai bereaksi.
Chelsea yang merasakan ada sesuatu yang menyentuh bagian belakangnya pun langsung membalikkan tubuhnya hingga membuat Alex terkejut, “em...lebih baik kamu duduk, aku bisa menyelesaikannya sendiri.”
Alex tidak membantah, dirinya sendiri juga merasa tidak nyaman dengan posisinya tadi, “aku mau mandi dulu, nanti tolong bawakan sarapan aku ke kamar saja,” pintanya.
Untuk kali ini Chelsea tidak membantah, dia langsung menganggukkan kepalanya. Alex lalu melangkahkan kakinya keluar dari dapur, dia bergegas menaiki tangga. Dia ingin segera mendinginkan tubuhnya untuk menghilangkan gejolak di dalam dirinya.
Chelsea terduduk lemas di salah satu kursi meja makan, dia bahkan masih bisa merasakan apa yang baru saja dia rasakan. Dia tidak menyangka tubuh Alex akan bereaksi secepat itu, “lalu selama ini apa yang Alex lakukan untuk menahan hasratnya itu? Apa dia benar-benar sudah tidak lagi bermain dengan wanita-wanita panggilan itu?”
Chelsea menggelengkan kepalanya berkali-kali, “tidak...tidak...untuk apa aku mencemaskan itu, justru itu akan sangat membuat ku senang, karena Alex mulai tersiksa dengan menahan diri selama ini.”
Setelah satu jam dan penuh dengan perjuangan, akhirnya Chelsea berhasil menyelesaikan tantangan memasak yang di berikan oleh Alex, “aku tidak tahu, apa makanan ini enak?” wanita itu bahkan tidak mencicipi makanannya, dia takut mengetahui rasa makanan yang tekah dia masak.
Chelsea membuka pintu kamarnya sambil membawa nampan berisi dua piring makanan dan dua gelas air putih. Wanita itu melihat Alex yang baru saja selesai memakai pakaian, ‘apa dia baru selesai mandi? Ini kan sudah satu jam, lalu apa saja yang dilakukan Alex di kamar mandi?’ pikirnya dalam hati.
“Apa sarapan aku sudah siap?” Alex lalu melangkahkan kakinya mendekati Chelsea yang sedang meletakkan nampan ke atas meja, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea, “apa kamu mau menyuapiku? Nanti aku akan menyuapi kamu?”
“Kenapa? apa kamu tidak mempunyai daya untuk makan sendiri?” tanya Chelsea kesal.
Alex hanya menepiskan senyumannya, dia lalu mengambil piring satunya lalu mulai melahabnya. Kedua mata Alex membulat dengan sempurna, dia mencoba untuk tetap menelan makanan yang berada di mulutnya.
Chelsea menatap Alex yang sedang menikmati makanannya, “gimana rasanya, apa enak?”
Alex tidak ingin membuat kecewa Chelsea, pria itu menghargai niat Chelsea yang sudah membuatkan makanan ini untuknya, “enak kok,” ucapnya berbohong, padahal makanan itu rasanya benar-benar tidak karuan.
“Kamu tidak berbohong kan?” Chelsea lalu mengambil piring satunya, dia lalu memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya.” Seketika wanita itu lalu memuntahkan makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya, “kenapa kamu tadi bilang kalau masakan aku enak!”
Alex tersenyum, “bagiku ini adalah makanan yang terlezat yang pernah aku makan, karena yang memasak makanan ini adalah istriku, dia membuatkan makanan ini untukku, jadi aku harus mendukung mu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
~oOo~