
“Eca, sekarang kamu ikut aku ya.”
“Kemana?”
“Aku ingin menjenguk Papaku, tadi aku juga sudah bilang sama Veon, kalau aku mau pergi ke rumah Papa, dan dia bilang aku harus mengajak kamu, karena dia takut ada apa-apa denganku nanti di jalan.”
Eca tersenyum, “suami kamu itu sangat perhatian, kamu sungguh beruntung mendapatkan suami seperti Kak Veon. Tampan, kaya, baik hati dan tentu sayang banget sama kamu.”
Kania mengusap perutnya yang semakin terlihat membuncit, “aku juga bersyukur, dia bisa berubah seperti sekarang, dia juga mau menerima kehadiran anak ini,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Ayo, aku akan ikut kamu, bukankah aku ini asisiten pribadi kamu? Tapi kamu sekalipun tidak pernah menyuruh aku untuk melakukan apapun,” ucap Eca sambil mengerucutkan bibirnya.
“Untuk saat ini aku memang belum membutuhkan bantuan kamu, aku masih bisa melakukan apapun sendiri, apalagi Veon selalu ada buat aku.”
Mereka lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah, supir keluarga Veon sudah menunggu mereka di samping mobil.
Pria paruh baya itu lalu membukakan pintu mobil untuk Kania, “silahkan masuk, Nyonya.”
“Terima kasih.” Kania lalu masuk ke dalam mobil, sedangkan Eca masuk dari pintu satunya.
Pria paruh baya itu lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah utama. Dalam perjalanan Kania meminta supirnya untuk berhenti di sebuah supermarket, dia ingin membeli sesuatu yang akan dia gunakan untuk membuat kue yang sudah lama sangat ingin dia buat.
Setelah membeli semua bahan, mereka kembali ke dalam mobil. Eca menggelengkan kepalanya saat melihat Kania juga membeli berbagai macam camilan.
“Bagaimana kamu tidak gemuk, kamu saja makannya sebanyak ini.” Eca melihat Kania yang tengah menikmati snack yang tadi dia beli, tapi tentu saja snack yang dia beli adalah snack yang sehat dan ada gizinya tentunya.
“Perut aku sering kali merasa lapar, kalau aku tidak makan, anak aku nanti tidak mau diem dan terus menendang-nendang perut aku.”
Eca mengernyitkan dahinya, “memangnya anak kamu bisa bermain bola di perut kamu?”
Kania tertawa, “bukan main bola, Ca, tapi dia terus bergerak dan tidak mau berhenti, jadi perut aku rasanya seperti di tendang-tendang gitu.”
“Kania, bagaimana rasanya mengandung? Apa yang kamu rasakan saat kamu tahu anak satu nyawa lagi dalam perut kamu?”
“Em...gimana ya, aku tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata. Yang jelas, ada rasa bahagia, tidak percaya dan haru. Aku bahagia karena Tuhan mempercayakan anak ini padaku, aku tidak percaya sekarang ada nyawa lain yang berada di perut aku dan harus aku jaga dengan mempertaruhkan nyawaku, dan aku merasa terharu, aku akan menjadi seorang ibu, dan aku sekarang sedang mengandung anak Veon, suami yang sangat aku cintai, meskipun awalnya pernikahan ini terjalin karena keterpaksaan.”
Mendengar kata terpaksa yang keluar dari mulut Kania, Eca jadi teringat dengan Chelsea, “Kania, apa kamu sudah mendengar kabar tentang Kak Chelsea?”
__ADS_1
Kania menggelengkan kepalanya, “aku tidak tahu pasti, tapi yang aku dengar dari Veon, Chelsea memang menginginkan pernikahan itu.”
“Kania, apa kamu tahu kalau Kak Zaki dan Kak Chelsea berhubungan?” Kania menganggukkan kepalanya, “lalu kenapa Kak Chelsea tega menyakiti hati Kak Zaki?”
Kania menghela nafas panjang, “kalau soal itu aku juga tidak tahu, karena yang tahu jawabannya hanya Chelsea. Kenapa kamu menanyakan itu? Bukankah itu kesempatan bagus untuk kamu, kamu bisa mendekati Zaki dan mendapatkan cintanya.”
Eca menepiskan senyumannya, “apa yang kamu katakan, sama dengan yang di katakan Kak Chelsea. Kak Chelsea juga menyuruh aku untuk mendekati Zaki, menghiburnya dan mencintainya dengan tulus.”
“Itu bagus dong.”
“Aku sudah berusaha untuk mendekati Kak Zaki, tapi dia selalu menolakku dan mengusirku. Yang dia inginkan Kak Chelsea, bukan aku,” ucap Eca sambil menundukkan wajahnya.
Kania menepuk bahu Eca, “cinta itu butuh perjuangan, kalau kamu memang mencintai Zaki, maka perjuangkanlah, meskipun Zaki terus menolakmu, kamu jangan mudah menyerah. Aku tahu, Chelsea tidak akan pernah tergantikan di hati Zaki, tapi setidaknya masih ada sedikit ruang di hati Zaki yang kosong, dan kamu harus berusaha untuk mengisinya.”
“Tapi apa aku akan berhasil, sedangkan selama ini yang ada di hati dan pikiran Kak Zaki hanya Kak Chelsea, bahkan saat dia pulang dalam keadaan semalam, yang dia cari adalah Kak Chelsea.”
Mereka akhirnya sampai di rumah Kania, mereka lalu keluar dari mobil. Eca membawakan semua bahan-bahan yang tadi mereka beli di supermaket. Kedatangan Kania dan Eca di sambut hangat oleh wanita paruh baya yang bekerja di rumah Kania.
“Apa Papa masih di kantor, Bi?”
“Iya, Non.” Eca lalu memberikan semua kantong kresek yang berisi bahan-bahan untuk membuat kue kepada wanita parauh baya itu, “bibi akan menaruh bahan-bahan ini ke dapur dulu, Non,” pamitnya dan langsung mendapat anggukkan dari Kania.
“Tumben Non Kania ingin membuat kue ini lagi, terakhir kali Non membuat kue ini adalah saat ulang tahun Non yang ke 18 tahun.”
“Kania tiba-tiba sangat ingin memakan kue ini, Bi, tapi harus Kania sendiri yang membuatnya. Mungkin kuenya tidak akan seenak buatan Mama, tapi selama ini Kania sudah berusaha untuk bisa membuat kue seperti yang Mama buat dulu.”
“Apa Non sangat merindukan Nyonya?”
Kania tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “tapi saat Kania teringat dengan Mama, saat itu Kania ingin menjadi seperti Mama.” Wanita itu lalu mengusap perutnya, “apalagi sebentar lagi Kania juga akan menjadi seorang ibu.”
Setelah satu jam akhirnya kue yang di buat Kania akhirnya matang, wanita juga membuat Oreo Truffles, itu adalah kue kusukaan Veon. Eca membantu Kania untuk memasukkan kue-kue yang sudah dingin itu ke dalam toples yang berbentuk hati, tak lupa Kania menyematkan pita di atas toples itu.
Eca mengambil sisa kue yang masih ada di loyang, lalu dia masukkan ke dalam mulutnya. Kedua mata Eca membulat saat menikmati rasa kue buatan Kania. Gadis itu mengacungkan dua ibu jarinya, “kuenya enak banget,” pujinya saat dia sudah menelan kunyahan kue itu.
“Non Kania memang paling hebat dalam membuat apapun,” puji wanita paruh baya itu.
“Semua ini juga berkat bibi, dan juga Mama Vera yang tidak lelah dalam membantu aku belajar memasak.”
__ADS_1
Kania lalu memasukkan sebagian kue yang sudah tertata rapi ke dalam paper bag, dia menyisakan beberapa untuk dia berikan kepada Papanya.
“Bi, Kania mau pergi ke kantor Veon dulu ya, Bi.”
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “Non Kania hati-hati di jalan, apa nanti Non kembali lagi ke rumah ini?”
Kania menganggukkan kepalanya, “Kania akan menginap disini satu malam, Kania kangen sama Papa.”
***
“Sayang, kenapa kamu tidak bilang kalau mau datang kesini? bukannya tadi kamu bilang mau ke rumah Papa kamu?” Veon melingkarkan lengannya di pinggang Kania, “apa yang semalam masih kurang, jadi mau nambah lagi,” godanya.
Kania membulatkan kedua matanya, dia lalu mencubit perut Veon hingga membuat pria itu meringis kesakitan, “kamu ini ya, pikirannya mesum melulu.” Wanita itu lalu mengeluarkan toples dari dalam paper bag, “aku tadi memang ke rumah Papa, dan aku membuat kue ini untuk kamu.”
Veon mengambil toples yang berisi Oreo Truffles, “kok kamu tahu kue kesukaan aku? apa benar kamu membuat semua ini sendiri?”
Kania menganggukkan kepalanya, “tapi tadi Eca sama bibi membantu juga, semoga kamu suka dengan kuenya, maaf kalau rasanya tidak enak.”
Veon membuka toples itu, dia mengambil satu butir Oreo Truffles lalu dia masukkan ke dalam mulutnya, “sayang, ini bahkan lebih enak dari yang biasa aku beli, kamu memang pandai membuat apa saja.” Pria itu lalu mendekatkan wajahnya, “kamu juga pandai dalam memuaskan aku,” bisiknya.
Kania kembali mencubit perut Veon, dan untuk kedua kalinya pria itu meringis menahan sakit, “dasar!” wanita itu lalu melihat ke sekeliling ruangan, “Zaki kemana?” tanyanya kemudian.
“Aku memberinya cuti selama satu minggu untuk menenangkan diri, aku tahu dia sangat terpukul saat mengetahui Chelsea lebih memilih tetap tinggal bersama dengan Alex.” Veon lalu kembali memasukkan satu butir kue kesukaannya itu, “apa kamu kesini sendirian?” tanyanya.
“Aku bersama dengan Eca, dia menunggu di luar, katanya tidak mau mengganggu kita.”
“Aku lihat teman kamu itu suka sama Zaki.” Kania menganggukkan kepalanya, “apa dia berniat untuk mendekati Zaki?”
“Eca selalu berusaha untuk mendekati Zaki, tapi Zaki selalu menolak dan mengusirnya.”
Veon menggenggam tangan Kania, “sayang, aku tidak ingin kamu banyak pikiran, biar itu menjadi urusan Eca sama Zaki, kita tidak boleh ikut campur.”
“Aku tidak akan ikut campur, aku hanya ingin mendukung Eca, jika dia benar-benar tulus mencintai Zaki. Aku tidak tahu kenapa Chelsea mengambil keputusan itu, tapi aku juga tidak bisa menyalahkannya.”
Veon mengecup punggung tangan Kania, “kamu itu memang is the best, kamu sangat peduli dengan orang lain, padahal Eca itu hanya teman sekolah kamu.”
“Eca hidup sebatang kara, dia juga yang membantu aku saat aku kesulitan, aku hanya bisa membalas kebaikannya selama ini dengan mengajaknya tinggal bersama denganku.” Kania lalu menangkup kedua pipi Veon dengan kedua telapak tangannya, dia lalu mengecup kilas bibir suaminya itu, “terima kasih sudah mengizinkan Eca untuk tinggal bersama dengan kita,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
__ADS_1
Veon mengecup kening Kania, “apapun akan aku lakukan untuk bisa membuat kamu bahagia, berkat Eca, kamu dan anak kita baik-baik saja.”
~oOo~