
Bella yang sejak semalam menunggu kedatangan Veon pun merasa sangat kesal, karena pria itu mengingkari janjinya untuk menemuinya di rumah itu malam itu. Wanita itu lalu beranjak dari ranjang dan mengambil ponselnya dari atas meja, dia lalu menghubungi Veon.
Kania yang sudah terbangun sejak pagi, menatap wajah polos Veon yang saat ini masih terlelap sambil memeluknya. Perdebatan semalam berakhir dengan pergulatan panas, tapi saat ini Veon melakukannya dengan sangat lembut.
Kania tidak bisa menolak keinginan pria itu, selain karena itu adalah kewajibannya sebagai seorang istri, itu juga karena rasa cintanya kepada pria itu. Kania akan tetap mencintai Veon, meskipun hatinya akan kembali terluka nantinya. Keputusan itu dia ambil karena dia teringat akan kutipan pada sebuah buku yang pernah dia baca. Cinta tidak harus memiliki, dan cinta juga tidak harus mengharapkan balasan, jika cinta kita tulus, maka dengan sendirinya orang itu akan menyadarinya, meskipun sudah terlambat nantinya.
Kania mendengar ponsel Veon berdering, dia lalu mengambil ponsel itu dari atas meja. Dengan perlahan tapi pasti akhirnya wanita itu berhasil mengambil ponsel pria itu. Kedua mata wanita itu membulat dengan sempurna saat melihat nama siapa yang tertera benda pipih itu, My Love, itu adalah nama yang Veon tulis di ponselnya untuk nomor Bella.
‘My Love, jadi dia benar-benar sangat mencintai wanita itu?’ gumamnya dalam hati.
Ponsel itu sudah tidak lagi menyala, Kania yang merasa penasaran dengan nama apa yang ditulis Veon untuk nomor ponselnya. Wanita itu lalu menekan tombol kontak dan mencari nomor ponselnya sendiri, dia lalu mengernyitkan dahinya saat melihat tulisan yang tertera untuk nomor ponselnya. Gadis kecil, itu lah yang Veon tulis untuk nomor kontak Kania.
‘Jadi selama ini dia hanya menganggap aku sebagai gadis kecil?’
Benda pipih yang masih berada di tangan Kania kembali berbunyi, dan panggilan itu lagi-lagi dari My Love, nama yang tertera di layar ponsel itu. Ingin sekali Kania mengangkat panggilan itu, tapi dia mengurungkan niatnya saat tiba-tiba kedua mata Veon terbuka dan menatapnya.
“K—kamu sudah bangun?” Kania nampak begitu terkejut, apalagi kedua mata pria itu mengarah pada benda pipih yang dia pegang.
“Kenapa ponsel aku ada padamu?” sorot mata itu sama sekali tidak bisa Kania artikan.
“Em...tadi ada panggilan masuk, aku ingin sekali membangunkan kamu, tapi tidur kamu sangat nyenyak, aku tidak tega membangunkan kamu,” ucap Kania berbohong.
Veon mengambil ponselnya dari tangan Kania, dia lalu mengecek panggilan tidak terjawab. Kedua mata pria itu membulat dengan sempurna, ‘apa tadi Kania sudah melihatnya? Kenapa aku tidak mengecek saat Bella menuliskan nomornya di ponselku? Apa yang akan dipikirkan Kania sekarang?’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
“Lebih baik kamu telpon dia balik, siapa tau itu penting.” Kania lalu beranjak dari ranjang dan memakai pakaiannya kembali, “aku tidak tau siapa itu My Love, dan aku juga tidak ingin tau siapa dia, karena aku tau akan batasan aku. aku sama sekali tidak berhak untuk bertanya sesuatu yang menyangkut urusan pribadi kamu, aku juga tidak berhak mencampuri urusan pribadi kamu. Bukankah itu yang tertulis di surat perjanjian sebelum kita menikah dulu?” meskipun hatinya terasa sangat sakit, tapi dia tetap menunjukkan kalau dirinya tetap baik-baik saja.
‘Kenapa dia seperti itu? Apa dia benar-benar tidak ingin tau nomor siapa itu? Apa dia sama sekali tidak cemburu ada nama itu di ponsel aku?’ gumam Veon dalam hati. Pria itu hanya diam membisu, dia tidak tahu harus berkata apa, kenapa hatinya merasa tidak nyaman saat wanita itu mengatakan tentang apa yang tertera di surat perjanjian yang dulu pernah dia berikan kepada Kania sebelum dirinya menikah dengannya.
Setelah memastikan Kania masuk ke dalam kamar mandi, Veon lalu menghubungi nomor itu, “kenapa kamu menelpon ku?” tanyanya saat panggilan itu mulai tersambung.
“Kenapa semalam kamu tidak datang? aku menunggumu semalaman tapi kamu tidak datang untuk menemui aku. aku sangat kesepian disini, apa kamu bisa datang kesini sekarang?”
Veon menghela nafas panjang, “aku tidak bisa datang ke sana sekarang, karena pagi ini aku ada meeting penting. Aku akan menemui mu nanti di jam makan siang, tapi jangan pernah kamu datang ke kantor aku lagi.” Veon lalu mengakhiri panggilan itu.
Kania yang sudah selesai mandi pun membuka pintu kamar mandi itu. Tapi kali ini dia tidak menutup tubuhnya dengan handuk, melainkan jubah mandi yang bisa menutup seluruh tubuhnya. Wanita itu lalu berjalan menuju ranjang sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya, “lebih baik sekarang kamu mandi, aku sudah menyiapkan air panas untuk kamu,” ucapnya.
Veon beranjak turun dari ranjang, pria itu ingin mengecup kening wanita itu, tapi Kania langsung mengambil langkah mundur, “lebih baik kamu mandi sekarang, aku tidak ingin kamu terlambat ke kantor,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian.
Veon tidak ingin berdebat dengan Kania, karena hari ini dia ada meeting penting yang sama sekali tidak bisa dia abaikan begitu saja. Pria itu pun akhirnya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, itu pun tanpa menatap Kania yang masih betah berlama-lama berdiri di depan lemari pakaian.
Kania mengusap lembut kedua sudut matanya yang sudah di penuhi air mata, ‘Kania, kenapa kamu terus menangis? Bukankah kamu sudah bertekad untuk terus bertahan meskipun hatimu akan kembali terluka? Bukankah kamu tidak mengharapkan dia untuk membalas perasaan yang kamu rasakan?’ wanita itu berbicara kepada dirinya sendiri.
Setelah selesai berpakaian, dia lalu mengambilkan pakaian kerja untuk Veon. Ini adalah kali ke tiga dirinya menyiapkan pakaian kerja untuk pria yang sudah menjadi suaminya kurang lebih 6 bulan itu. Setelah itu dia melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
“Pagi, Ma,” sapa Kania saat berjalan masuk menuju dapur. Di ruangan itu sudah ada mama mertuanya dan juga asisten rumah tangga Dion yang bertugas memasak di rumah itu.
“Pagi sayang.” Vera saat ini tengah menata makanan di atas meja, tapi tentu bukan dia yang memasaknya. Apalagi setelah kehadiran Kania, dia sekarang sudah jarang memasak, karena menu makan malam selalu Kania yang memasak. Makan siang juga, karena sekalian wanita itu ingin membuatkan bekal untuk Veon.
__ADS_1
“Suami kamu mana sayang?” imbuhnya lalu meletakkan hidangan terakhir di meja makan itu.
“Sebentar lagi pasti turun, Ma.” Kania lalu menarik salah satu kursi untuk dia duduki, “Papa kok tidak ikut sarapan, Ma?” tanyanya kemudian.
“Papa sedang tidak enak badan, biar nanti Mama akan membawakan sarapannya ke kamar.”
Veon yang sudah selesai bersiap-siap pun bergegas keluar dari kamar dan berjalan menuju meja makan, “Veon tidak ikut sarapan, Ma. Veon sudah terlambat,” ucapnya.
“Baiklah, nanti biar istri kamu membawakan bekal makan siang untuk kamu,” ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.
“Tidak usah, Ma. Siang nanti Veon akan makan siang bersama dengan client.” Veon lalu melangkahkan kakinya mendekati mamanya lalu mencium punggung tangan mamanya, “Veon berangkat dulu,” pamitnya.
“Apa kamu tidak ingin berpamitan dengan istri kamu?” tanya Vera saat melihat Veon hanya melewati Kania.
Kania tidak ingin terlalu lama berada dalam kecanggungan itu, dia pun beranjak dari duduknya dan melangkah mendekati Veon. Wanita itu lalu mencium tangan Veon, “hati-hati,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.
Veon terdiam, dia lalu menganggukkan kepalanya sebelum melangkahkan kakinya pergi dari ruangan itu. Kania hanya menghela nafas panjang, ‘padahal aku ingin kamu mencium keningku tadi,’ gumamnya dalam hati.
Vera lalu menyuruh Kania untuk melanjutkan sarapannya, dan wanita itu pun menganggukkan kepalanya dan kembali mendudukkan tubuhnya. Dia pun memulai sarapannya, tapi entah kenapa pikirannya sama sekali tidak bisa fokus saat ini. Kania kembali teringat akan panggilan masuk tadi pagi, ‘My Love, apa itu panggilan Veon untuk Bella?’ gumamnya dalam hati.
~oOo~
__ADS_1