
Sudah satu minggu Alex dan Chelsea berada di Bali untuk berbulan madu, kini sudah waktunya mereka untuk kembali ke Jakarta. Alex dan Chelsea sudah bersiap-siap untuk check out dari hotel itu. Alex maupun Chelsea terlihat sangat bahagia, akhirnya mereka bisa menghabiskan waktu berdua di Bali.
Mereka saat ini sudah berada di bandara, tetapi mereka tidak menyangka jika Vika juga berada di bandara itu, dia juga ingin kembali ke Jakarta.
“Aku kira kamu tidak akan kembali ke Jakarta,” sindir Chelsea dengan senyuman di wajahnya.
“Aku harus kembali, aku disini hanya ingin mendinginkan pikiran aku.”
“Apa sekarang kamu sudah mengambil keputusan kamu?”
Vika menggelengkan kepalanya, “tapi aku akan memikirkannya,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
“Apalagi yang kamu pikirkan? Apa perjuangan Betrand selama ini masih kurang jelas buat kamu?” tanya Alex.
“Bukan seperti itu, tapi aku juga tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Aku ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri, bagaimana perjuangan Betrand untuk bisa membuktikan jika dia memang menyesal dan tidak akan mengulangi kembali kesalahannya.”
Chelsea menepuk bahu Vika, "apapun keputusan kamu, aku akan selalu mendukungmu, karena keputusan yang akan kamu ambil akan menjadi jalan hidup kamu di masa depan."
"Sayang, kenapa kamu berkata seperti itu, bukankah kamu sudah berjanji akan membantu Betrand?" tanya Alex terkejut.
"Aku memang berjanji akan membantu Betrand, tapi keputusan tetap ada di tangan Vika. Aku juga sudah berusaha membujuk Vika, tapi apapun keputusan Vika, aku tahu itu yang terbaik untuknya."
**
Setelah sampai di Jakarta, Chelsea meminta Alex untuk mengantarkannya ke rumah utama, karena dia sangat merindukan keponakannya. Setelah mengantarkan Chelsea, Alex langsung pergi ke rumah Betrand, karena sahabatnya itu menghubunginya dan ingin segera bertemu dengannya.
Chelsea membagikan oleh-oleh yang dia beli untuk seluruh keluarganya, “dan ini untuk keponakan aku yang paling tampan,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kotak persegi dan membukanya, “ini pasti akan sangat indah, kalau Noel yang memakainya,” ucapnya lalu memakaikan cincin itu di jari tengah Noel.
“Chel, Noel kan cowok, masa dia pakai cincin?”
“Ya tidak apa-apa, aku saat melihat cincin ini jadi teringat sama Noel, jadi aku membelinya.”
Kania melihat cincin yang melingkar di jari tengah Noel, “cincin itu pasti sangat mahal, dari bentuknya saja sudah terlihat.”
__ADS_1
Chelsea mengambil Noel dari atas ranjang, lalu digendongnya, “untuk Noel, apapun akan aku berikan, Alex juga tidak peduli dengan harganya, asal aku suka,” ucapnya sambil mencium kening Noel.
Kania tersenyum, “jangan terlalu memanjakan Noel, aku ingin dia menjadi anak yang mandiri.”
“Aku tahu, lagipula aku juga tidak sering memanjakannya.” Chelsea kembali mengecup kedua pipi gembul Noel, “apa Kak Veon tidak pulang untuk makan siang?” tanyanya.
Kania menggelengkan kepalanya, “akhir-akhir ini dia sibuk dengan pekerjaannya, apalagi Zaki mengambil cuti dan kembali ke kota asalnya.”
Chelsea mengernyitkan dahinya, “tumben Zaki mengambil cuti, selama dia bekerja dengan Kak Veon, dia jarang mengambil cuti.”
“Katanya ada sesuatu yang harus dia urus, dia mengambil cuti selama satu minggu.”
“Tapi Zaki sudah tidak mempunyai orang tua, jadi untuk apa dia kembali ke kota asalnya?”
“Aku juga tidak tahu, selain itu ada kabar lagi yang harus kamu tahu.”
“Apa itu?”
“Eca meminta aku untuk menyampaikan ini sama kamu, dia meminta maaf, karena tidak bisa menepati janjinya. Dia menyerah untuk mendapatkan hati Zaki, karena menurut dia, sampai kapanpun hati Zaki hanya untuk kamu. Eca juga memutuskan untuk kembali ke kotanya, dia tidak bisa tinggal disini. Jika dia masih tetap bertahan di rumah ini, dia tidak akan bisa melupakan Zaki.”
“Aku tahu kenapa Zaki seperti itu, karena cintanya itu tulus. Dia tidak peduli jika dia harus menahan rasa sakit, tapi dia tetap mempertahankan perasaannya.”
“Kalau seperti itu berarti Zaki bodoh! Dia itu tampan, baik, pasti banyak cewek yang tertarik padanya, tapi kenapa dia harus mencintai wanita jahat seperti aku, kenapa?”
Kania mengambil Noel dari gendongan Chelsea dan meletakkannya ke dalam box bayi, “sebaiknya kita bicara di luar, biarkan Noel tidur.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. Semenjak Noel lahir, Kania dan Veon sudah pindah ke kamar bawah. Awalnya mereka ingin tinggal di rumah mereka sendiri, tapi Vera dan Dion melarang mereka, apalagi Chelsea sudah tidak tinggal di rumah itu lagi.
**
“Kenapa kamu menyuruhku untuk datang kesini? apa ada masalah dengan pengajuan cerai kamu?”
Betrand menganggukkan kepalanya, “kedua mertuaku tahu tentang gugatan cerai yang aku ajukan, mereka menekan kedua orang tuaku dan mengancam mereka akan mencabut semua investasi mereka di perusahaan Papa, jika itu terjadi, perusahaan Papa aku akan dalam masalah besar.”
__ADS_1
“Aku tahu itu adalah pilihan yang sangat sulit untuk kamu, tapi aku ingin kamu mengambil keputusan yang tepat. Aku juga ingin memberitahu kamu, kalau Vika sudah mengetahui semuanya.”
Betrand mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa?”
“Vika sudah tahu kalau selama ini kamu belum pernah sekalipun menyentuh wanita itu, aku juga mengatakan kepada Vika kalau kamu tidak akan pernah menyerah, meskipun dia menolakmu berkali-kali.”
“Lex, apa yang kamu lakukan?”
“Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, sudah seharusnya Vika tahu semuanya, dengan begitu dia akan berpikir ulang untuk menolakmu lagi.”
“Aku tahu, kamu melakukan itu untuk membantuku, tapi apa kamu yakin Vika akan mau menerimaku kembali?”
Alex mengedikkan bahunya, “itu semua tergantung usaha kamu untuk mendapatkan Vika kembali, apalagi setelah kamu tahu ada masalah seperti ini, aku harap kamu tidak akan pernah mundur.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan tega melihat keluargaku hancur?”
“Kamu masih bisa membantu Papa kamu untuk bisa membangkitkan kembali perusahaannya, itu pun jika Papa kamu masih mau menerima kamu. Tapi Vika, ini adalah kesempatan terakhir untuk kamu bisa mendapatkan dia lagi.”
Betrand meraup wajah kasar, “kenapa masalah menjadi semakin rumit? Apa aku memang tidak pantas untuk bahagia?”
Alex menepuk bahu Betrand, “jangan pernah menyerah, bukankah itu yang kamu katakan padaku dulu, saat aku sudah mulai menyerah untuk bisa meluluhkan hati Chelsea lagi. Sekarang aku ingin kamu bisa melakukan apa yang dulu aku lakukan, kamu harus bisa mendapatkan Vika kembali.”
“Tapi...kalau Vika masih menolakku bagaimana?”
“Kejar terus sampai dapat. Aku melihat sepertinya Vika juga masih sangat mencintai kamu. Mungkin dia hanya belum siap untuk menerima semua ini.”
Betrand menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak dari duduknya, “kalau begitu akan ke rumahnya sekarang juga, aku sudah tidak ingin menunggu lagi,” ucapnya.
“Aku mendukungmu.”
Betrand pun melangkahkan kakinya meninggalkan Alex di restoran itu, dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Vika. Mungkin keputusannya saat ini akan berdampak buruk untuk keluarganya, tapi kali ini dia tidak akan mengalah dan akan memperjuangkan apa yang seharusnya dia perjuangkan dari dulu.
Betrand saat ini berdiri di rumah Vika, dia ragu untuk mengetuk pintu itu. Pria itu taku, Vika akan menolak dan mengusirnya seperti sebelum-sebelumnya. Saat Betrand sudah memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu, tiba-tiba pintu terbuka. Pria itu pun membulatkan kedua matanya...
__ADS_1
~oOo~