Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Dari hal-hal kecil


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, pikiran Chelsea di penuhi oleh kata-kata Betrand. Apa yang dikatakan Betrand sungguh sangat menusuk hatinya, tapi apa yang dikatakannya semuanya benar. Sejak awal dirinya memang tidak sepenuhnya ingin memberikan kesempatan kedua untuk Alex. Tapi dia tidak menyangka akan memperlakukan Alex seperti itu.


Selama dua bulan ini, Chelsea juga tidak merasa bahagia, ada sesuatu yang selalu mengusik hatinya saat Alex selalu menunjukkan perhatiannya padanya. Selalu mengutamakan Chelsea, ketimbang dirinya sendiri.


“Non, kita sudah sampai di tempat tujuan.” Supir taksi itu menoleh ke belakang.


Chelsea yang sejak tadi melamun, tidak menyadari jika dia sudah sampai di rumahnya, “em...iya.” wanita itu lalu mengambil uang beberapa lembar seratus ribuan dan dia berikan kepada supir taksi itu.


Supir taksi itu tidak langsung menerima uang itu, “maaf, Nona, sepertinya uangnya kelebihan.”


Chelsea dengan paksa meletakkan uang itu ke telapak tangan supir taksi itu, “kelebihannya buat bapak saja, anggap saja itu rezeki lebih untuk bapak.”


Supir taksi itu mengucap syukur, “terima kasih, Nona. Saya tidak bisa membalas kebaikan Nona, saya hanya bisa mendoakan semoga Nona selalu dilancarkan rejekinya, dan mendapatkan kasih sayang yang berlimpah.”


Chelsea tersenyum, ‘aku sudah mendapatkan semuanya, tapi aku sama sekali tidak mensyukurinya,’ “terima kasih atas doanya.” Wanita itu lalu membuka pintu taksi dan keluar dari taksi itu.


Chelsea masuk ke dalam gerbang, saat dia ingin berjalan menuju pintu utama, dia melihat mobil Zaki masuk melewati gerbang rumahnya. Zaki menghentikan mobilnya, setelah itu dia keluar dari mobil dan melangkahkan kakinya menghampiri Chelsea.


“Kok kamu pulangnya naik taksi, apa suami kamu tidak mau mengantar kamu pulang?”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku yang menolaknya saat dia menawarkan diri untuk mengantarku pulang, karena aku tadi mampir dulu ke suatu tempat. Kamu sendiri ngapain ke rumah aku, bukankah Kak Veon ada di kantor sekarang?”


“Ada sesuatu yang harus aku ambil.” Zaki melihat Kania yang sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa berkas di tangannya, “itu dia sudah datang,” imbuhnya.


“Chelsea, kamu darimana saja, sejak tadi Mama mencari kamu.” Kania lalu memberikan berkas itu kepada Zaki, “betul ini bukan berkasnya?” tanyanya kemudian.


Zaki mengambil berkas itu dari tangan Kania, dia lalu mulai mengecek berkas itu, “benar, kalau begitu aku pergi dulu.” pria itu menatap Chelsea dan tersenyum kepada wanita itu, setelah itu dia kembali masuk ke dalam mobil.


Chelsea merasa ada yang berbeda dengan sikap Zaki, apalagi saat di kantor Alex tadi. Dia bukan seperti Zaki yang dia kenal. Kania mengajak Chelsea masuk ke dalam rumah, wanita itu terus memberondong berbagai pertanyaan kepada adik iparnya itu.


“Kenapa kamu diam, tadi kamu pergi kemana? Jangan bilang kamu benar-benar mendatangi kantor Alex?” tebaknya.


“Aku memang dari kantor Alex, aku mengantarkan makan siang untuknya.”

__ADS_1


Kania tersenyum, “jadi sekarang kamu sudah mulai peduli sama suami kamu itu?” sindirnya.


Mereka saat ini berjalan menuju teras belakang rumah, mereka mendudukkan tubuh mereka di sofa.


“Aku hanya ingin tahu keadaan dia saja, selama ini Alex selalu peduli dan perhatian sama aku, aku hanya ingin membalas kebaikan dia saja,” sangkalnya.


“Yakin hanya itu?” desaknya.


“Iya, mana mungkin aku jatuh cinta lagi sama pria yang sudah menghancurkan hidup aku, yang sudah menginjak-injak harga diri aku.”


Kania terdiam, mungkin ini belum waktunya untuk Chelsea menyadari akan perasaannya, “aku tahu itu sangat berat untuk kamu lalui, tapi semua orang itu bisa berubah, termasuk Alex. Apa kamu lupa bagaimana perlakuan kakak kamu dulu sama aku? kakak kamu itu selalu bersikap kasar, kata-kata sangat dingin, tapi kamu bisa melihat sekarang, kakak kamu berubah 180 derajat. Seharusnya kamu juga bisa melihat perubahan pada diri Alex, karena kamu tahu setiap detail tentang Alex yang dulu dan sekarang.”


Chelsea menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, dia lalu menghela nafas berat, “aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku akui, selama dua bulan ini Alex memang sudah banyak berubah, dia juga menepati kata-katanya.”


“Kalau begitu apa yang masih kamu ragukan? Aku hanya tidak ingin kamu menyesal nanti.”


Chelsea terdiam, kata-kata yang diucapkan Kania, sama seperti yang Betrand katakan tadi waktu di restoran, dia juga tidak ingin Chelsea menyesal nantinya, semua orang memiliki batas kesabaran.


Kania menepuk bahu Chelsea, “apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Sekarang hubungan kalian itu tidak seperti dulu lagi, tapi sekarang kalian itu sudah menjadi suami istri. Jadi saling peduli dan menunjukkan perhatian dan kasih sayang, itu wajar-wajar saja. Jadi itu tidak akan menjatuhkan harga diri kamu di depan Alex, karena Alex itu suami kamu, bukan pacar kamu.”


“Lalu...apa yang harus aku lakukan? Aku bahkan tidak bisa memasak untuk menyenangkannya.”


“Kalau kamu mau, aku mau mengajarimu memasak. Kalau soal menyenangkan suami, biasanya suami itu pasti senang kalau kita bisa memuaskannya di ranjang.”


Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, mulutnya menganga, “apa? di ranjang?” wanita itu langsung menggelengkan kepalanya, “tidak...tidak...tidak, aku tidak bisa melakukan itu.”


Kania tertawa melihat ekspresi wajah Chelsea, “kamu ini kenapa, bukankah kamu juga pernah melakukan itu, kenapa kamu setakut itu?”


“Waktu itu kan aku terpaksa melakukan itu, karena Alex memaksaku, tapi sekarang, aku harus bisa memuaskannya...tidak...aku tidak bisa melakukannya.”


“Jangan bilang selama kalian menikah, kalian belum pernah...” Chelsea menganggukkan kepalanya sebelum Kania menyelesaikan ucapannya.

__ADS_1


Kania membulatkan kedua matanya, dia sama sekali tidak percaya Alex mampu menahan diri selama itu, “aku salut sama suami kamu, dia bisa menahan diri selama ini. Bukankah kalian tidur satu ranjang?”


Chelsea menganggukkan kepalanya, “terkadang dia tidur sambil memelukku, karena aku tidak bisa tidur. Aku jadi terbiasa tidur dalam pelukan Alex.”


“Bagaimana Alex bisa menahan diri dengan posisi seperti itu? sedangkan kakakmu saja tidak bisa menahan diri sedikitpun, apalagi saat melihat perut buncit aku ini.” Kania mengusap perutnya yang sudah terlihat membesar.


“Aku juga tidak tahu, aku juga tidak mau tahu.”


Kania menghela nafas panjang, “melayani suami itu sudah menjadi kewajiban seorang istri, jika kamu tidak melakukan itu, maka kamu akan berdosa.”


Chelsea mencoba meresapi apa yang dikatakan Kania, apalagi mengingat semua sikap yang dia tunjukkan kepada Alex selama ini, “jadi aku sudah menjadi pendosa, karena telah memperlakukan suami aku secara tidak baik? Bahkan aku belum pernah melakukan kewajiban aku sebagai seorang istri, tapi malah Alex yang melakukan semua tugas-tugasku selama ini.”


“Jika kamu ingin memperbaiki diri, mulailah dari hal-hal kecil. Jika kamu belum siap untuk melakukan hubungan itu, kamu bisa melakukannya jika kamu benar-benar sudah siap, tapi kamu harus ingat, itu adalah kewajiban kamu.” Kania lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa, “dulu aku selalu melakukan kewajiban aku sebagai seorang istri, meskipun waktu itu kakak kamu belum memiliki perasaan apa-apa sama aku. Aku melakukan itu karena itu adalah kewajiban aku sebagai orang istri.”


“Aku tahu semua itu, waktu itu aku selalu menanyakan tentang hubungan kalian, tapi sekarang aku bersyukur, kamu bisa merubah sifat Kak Veon yang dingin itu, kembali menjadi hangat, seperti dulu lagi.”


Kania memiringkan wajahnya menatap Chelsea, “apa aku boleh bertanya sesuatu?”


“Soal apa?”


“Dimana ibu kandung Veon? selama ini aku belum pernah mendengar atau melihatnya.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku juga tidak tahu tentang itu, yang aku tahu hanya Kak Veon sejak masih berusia 6 bulan sudah tidak tinggal bersama dengan Ibu kandungnya. Yang merawat Kak Veon hanya Papa, Nenek dan Kakek. Setelah Kak Veon berusia 2,5 tahun, dia bertemu dengan Mama, dan berkat Kak Veon, Papa bisa bersatu kembali dengan Mama.”


“Apa di rumah ini tidak ada satu foto pun tentang Ibu kandung kakak kamu itu?”


“Dulu Mama punya satu, tapi Kak Veon merobek foto itu. Kakak tidak ingin ada foto wanita itu di rumah ini.” Chelsea mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu menanyakan soal itu? apa kamu tidak takut Kak Veon marah saat Kak Veon mengetahuinya?” tanyanya kemudian.


“Aku hanya penasaran saja, apa sikap dingin kakak kamu itu karena Ibu kandungnya.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “sikap dingin Kak Veon selama ini karena sikap Papa, Papa selalu menyebut Kak Veon sama seperti Ibu kandungnya, semua itu karena Kak Veon selalu membantah apa yang Papa katakan. Papa dulu juga tidak bersikap seperti itu kepada kakak, kakak adalah anak kesayangan Papa yang selalu di banggakan, tapi semenjak Papa sakit, Papa terlalu takut, takut anak-anaknya akan salah jalan, karena Papa sudah tidak bisa membimbing kami lagi.”


Kania tidak menyangka, ternyata kehidupan suaminya tidak seperti yang dia bayangkan selama ini. Terlahir dari keluarga kaya raya, tidak menjamin kita akan hidup bahagia. Begitu banyak penderitaan yang harus dilalui Veon selama ini, hingga dia mempunyai sikap yang dingin, sedingin es. Bahkan kata-katanya yang sangat pedas, mampu membuat lawan bicaranya sakit hati.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2