Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Karena aku suaminya...


__ADS_3

Veon membuka kedua matanya, dia menatap wajah Kania yang saat ini masih terlelap di sampingnya dengan menghadap ke arahnya. Pria itu menatap lekat wajah wanita yang sudah lima bulan ini menjadi istrinya, ‘kenapa aku sama sekali tidak bisa menahan diriku saat melihatnya? Aku bahkan tidak tega melihatnya terluka, apa aku benar-benar sudah mulai mencintainya seperti yang Zaki katakan?’ gumamnya dalam hati.


Veon menggelengkan kepalanya, “itu tidak mungkin, wajar saja kalau aku menginginkannya, aku juga pria normal yang juga butuh semua itu,” ucapnya pelan.


Veon dengan perlahan memindahkan tangan Kania yang berada di atas tubuhnya, dia takut membangunnya. Pria itu bermaksud untuk turun meninggalkan tempat tidur, namun pelukan Kania semakin dipererat, seakan takut jika pria itu pergi meninggalkannya.


“Jangan tinggalkan aku.” Racauan itu lolos dengan samar dari bibir tipis Kania. Tapi Veon tetap mencoba merenggangkan pelukan Kania dari tubuhnya, hingga dia akhirnya berhasil menyingkirkan tangan wanita itu dari tubuhnya.


Veon dengan perlahan turun dari ranjang, dia lalu menatap Kania yang masih terlelap, “apa tadi dia sedang bermimpi? Siapa yang berada di dalam mimpinya yang membuatnya begitu takut jika orang itu pergi meninggalkan dia. Apa jangan-jangan Kania sebelumnya mempunyai kekasih?”


“Aku tidak peduli, mau dia mempunyai kekasih atau tidak, tapi sekarang dia adalah istriku, milikku!” Veon lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Hari ini ada hal yang lebih penting ketimbang memikirkan hal yang belum tentu benar.


Setelah selesai mandi dan berpakain, Veon melangkahkan kakinya menuju ranjang, dia lalu membenarkan selimut yang menutupi tubuh polos Kania. Ya...semalam pergulatan panas itu kembali terulang, bahkan Veon tidak memberikan waktu untuk Kania beristirahat. Entah kenapa tubuh wanita itu begitu memabukkan untuknya.


“Dia pasti sangat kelelahan, mendingan aku biarkan dia untuk tetap tidur, nanti aku akan bilang sama Mama untuk mengantarkan sarapan dia ke kamar.” Veon lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.


***


 


“Zak, bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?” Veon menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kerjanya.


Zaki memberikan sebuah berkas kepada Veon, “itu adalah salinan dokumen laporan keuangan perusahaan Fernando, Tuan,” ucapnya.


Veon membuka dan mengecek dengan teliti hasil laporan itu, pria itu lalu menyungingkan senyumannya, “ternyata dia tidak sepintar yang aku kira,” ucapnya setelah selesai mengamati hasil laporan keuangan perusahaan yang sudah dia berikan kepada Alex.


“Lalu sekarang apa yang akan kita lakukan, Tuan? Apa kita akan mengambil alih kembali perusahaan itu?”


Veon menggelengkan kepalanya, “aku sudah tidak tertarik dengan perusahaan itu lagi. Biarkan perusahaan itu hancur, karena aku ingin melihat si brengsek itu lebih menderita lagi,” ucapnya sambil menyunggingkan senyumannya.


Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, Tuan,” ucapnya.


“Lalu soal Chelsea, apa kamu kembali mendengar kabar tentang dia? Aku heran sama Chelsea, kenapa dia lebih memilih untuk menghubungi kamu ketimbang aku, kakaknya sendiri?” tanya Veon heran.


‘Bagaimana dia akan menghubungi anda, Tuan. Jika yang dia bicarakan saat menghubungi saya hanya tentang anda dan juga Kania,’ gumam Zaki dalam hati.


“Nona Chelsea, meminta anda untuk mengunjunginya ke Amerika, dia bilang sekalian untuk anda berbulan madu.”


Veon tertawa, “untuk apa berbulan madu, bukankah pergi berbulan madu itu hanya untuk pasangan suami istri yang saling mencintai dan ingin menghabiskan waktu bersama?” tanyanya.


“Apa sampai sekarang anda belum mempunyai perasaan apapun dengan Nona Kania?” Zaki memberanikan diri untuk bertanya seperti itu, karena sekarang Kania sudah mempunyai perasaan untuk pria itu.


Veon menghela nafas panjang, “kamu tau kan Zak, aku sudah tidak percaya dengan yang namanya cinta, tapi kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah menyakiti dia lagi, dan memperlakukannya dengan baik,” ucapnya.

__ADS_1


“Lalu soal permintaan kedua orang tua anda yang ingin segera mempunyai cucu itu...”


Veon menatap tajam ke arah Zaki, hingga membuat pria itu menundukkan wajahnya, “maafkan saya, Tuan,” ucapnya.


“Itu urusan aku, Zak. Jangan pernah kamu mencampuri urusan pribadi aku, aku tau kamu yang mengusulkan aku untuk menikah dengan Kania, tapi itu bukan berarti kamu berhak ikut campur dalam urusan pribadi aku!”


“Maafkan saya, Tuan.”


“Sekarang lebih baik kamu fokus kepada Alex, kamu pantau dia terus, jangan sampai kamu melewatkan satu informasi, apapun itu!”


Zaki mengangguk mengerti, pria itu jadi teringat dengan apa yang dilihatnya saat dirinya memantau rumah Alex, “tuan, seperti yang Nona Chelsea katakan waktu itu. Alex memang pria brengsek, setiap hari dia selalu membawa pulang wanita yang berbeda-beda,” ucapnya.


“Untung aku tidak jadi menikahkan Chelsea dengannya, jika saat itu Chelsea setuju untuk menikah dengan dia, aku tidak tahu apa yang akan dialami Chelsea di rumah itu,” ucap Veon dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.


Terdengar suara ketukan di pintu, “masuk,” sahut Veon dari dalam ruangan itu.


Pintu itu mulai terbuka dengan perlahan, Kania muncul dari balik pintu itu.


Zaki tersenyum melihat tingkah Veon yang sedikit gugup itu, ‘apa sekarang Tuan merasa malu saat Kania datang menemuinya?’ gumamnya dalam hati.


“Aku hanya ingin mengantarkan bekal makan siang, Mama yang menyuruhku,” ucap Kania sambil meletakkan bekal makan siang itu ke atas meja.


“Bekal makan siang itu kamu buat untuk aku atau untuk Tuan Veon?” Zaki sengaja bertanya seperti itu hanya untuk memancing Veon.


Kania belum sempat menyelesaikan ucapannya, Veon menyela ucapan itu, “buat apa dia membawakan bekal makan siang untuk kamu? Sudah pasti bekal makan siang untukku, karena aku suaminya!” ucapnya penuh penekanan.


Zaki mengulas senyum, begitu pun dengan Kania. Ini pertama kalinya Veon mengatakan jika dia adalah suami Kania di depan Zaki, bahkan dengan suara yang sangat mantap dan jelas.


“Saya kira Tuan akan menolak makanan itu lagi,” sindir Zaki.


Kania tersenyum mendengar ledekan yang Zaki layangkan untuk suaminya itu, “Zak, lain kali aku juga akan membawakan bekal makan siang untuk kamu,” ucapnya.


“Awas saja kalau kamu berani membawakan bekal makan siang untuknya, karena yang boleh memakan masakan kamu hanya aku, ingat itu!” Veon berkata dengan sangat keras, tapi ancaman itu malah membuat Zaki dan Kania tersenyum puas.


‘Apa sekarang Tuan sudah merasa cemburu, hanya gara-gara bekal makan siang? Sungguh lucu, tapi aku senang, sedikit demi sedikit, tuan akan menyadari perasaan tuan itu,’ gumam Zaki dalam hati.


Veon meminta Zaki untuk keluar dari ruangannya, dan dengan senang hati Zaki akan membiarkan majikannya itu berduaan dengan istrinya. Tapi justru Kania yang saat ini terlihat sangat gugup saat hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.


Veon beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Kania, “sekarang kamu suapin aku makan,” pintanya lalu mendudukkan tubuhnya di sofa.


Kania membulatkan kedua matanya, “aku sudah membuatkan makanan ini untuk kamu, dan sekarang aku juga harus menyuapimu? Sungguh menyebalkan,” ucapnya kesal.


Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Kania membuat Veon memberikan tatapan yang begitu tajam dan dingin ke arah Kania, hingga membuat nyali wanita itu menciut seketika.

__ADS_1


“Iya...iya, aku akan menyuapimu, dasar bayi!”


Kania dengan wajah yang cemberut, akhirnya duduk di samping Veon. Wanita itu lalu mengeluarkan bekal makan siang itu dari dalam paper bag, dan mulai membuka kotak makan itu, “apa kamu suka pedas, karena aku membuat makanan ini sedikit pedas?” tanyanya.


“Apapun akan aku makan, aku bukan orang yang suka pilih-pilih makanan.”


Kania berdecih, ‘apa kamu mau membohongiku? Apa kamu kira aku tidak tau kalau kamu itu tipe orang yang suka pilih-pilih makanan?’ gumamnya dalam hati.


“Kenapa kamu diam saja, apa kamu akan terus memegang sendok dan bekal makan siang itu? Harus berapa lama lagi aku harus menunggu kamu untuk menyuapiku!” bentak Veon.


Kania menggertakkan gigi-giginya, “dasar bawel, sabar sedikit kenapa sih?” ucapnya kesal.


“Saat perut merasa lapar, tidak akan ada kata sabar!”


“Iya-iya, bawel!” Kania pun mulai menyendok satu sendok penuh makanan lalu dia sodorkan di depan mulut Veon, “buka mulut kamu,” pintanya.


Veon mengernyitkan dahinya saat melihat sendok itu penuh dengan makanan, “apa kamu ingin membunuhku? Kenapa kamu mengambil makanan sebanyak itu?” ucapnya kesal.


“Apa karena satu sendok makanan kamu akan mati, tidak kan! Tinggal buka mulut kamu saja, bawel!”


Veon tetap tidak membuka mulutnya hingga membuat Kania merasa sangat kesal, “kamu itu mau makan atau mau berdebat denganku sih!” serunya kesal.


“Kamu makan dulu itu makanan, aku baru mau memakannya.” Veon berucap sambil melipat kedua lengannya di dada.


“Apa kamu mengira makanan ini ada racunnya?”


“Ya siapa tau kamu menaruh racun di dalamnya, bukankah kamu sangat membenciku?” sindirnya dengan menepiskan senyumannya.


Kania mengepalkan tangannya, ‘susah payah aku membuatkan makanan ini penuh cinta, tapi dia malah berpikir aku ingin meracuninya?’ gumamnya dalam hati.


Kania lalu memasukkan satu sendok penuh makanan itu ke dalam mulutnya, “sekarang kamu puas!” teriaknya dengan mulut yang penuh makanan.


Veon tersenyum, dia lalu menarik tubuh Kania agar lebih mendekat. Kedua mata Kania membulat dengan sempurna saat Veon membenamkan bibirnya ke bibir tipisnya. Pria itu pun mulai merasakan makanan yang berada di mulut Kania.


“Em...makanan ini lebih terasa nikmat saat berada di mulut kamu,” ucapnya sambil tersenyum.


Kedua mata Kania masih membulat dengan sempurna, tapi kini wajah itu mulai merona, dia terlihat sangat malu saat Veon memperlakukannya seperti itu.


“Kamu jadi mau menyuapi aku makan tidak?” Veon mendongakkan wajah Kania yang sempat tertunduk karena malu.


Kania pun kembali mengambil satu sendok makanan, tapi kali ini tidak sebanyak yang pertama. Dia lalu menyodorkan satu sendok makanan itu di depan mulut Veon. Kali ini Veon membuka mulutnya dan menarik tangan Kania dan memakan makanan itu. Kedua mata Veon terus menatap wajah Kania yang saat ini kembali menundukkan wajahnya.


‘Kalau dia sedang tersipu malu seperti itu, wajahnya terlihat sangat imut. Aku jadi ingin merasakan bibir tipis itu lagi,’ gumam Veon dalam hati.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2