
Veon bangun pagi-pagi sekali, dia ingin mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan mengelilingi komplek. Apalagi pagi ini langit terlihat sangat cerah, udara terasa begitu sejuk dan menyegarkan. Veon yang sudah selesai mandi berniat untuk membangunkan Kania, tapi sebelum pria itu sampai di tepi ranjang, wanita itu sudah terlebih dulu membuka kedua matanya.
Veon tersenyum, dia lalu duduk di tepi ranjang, “mau jalan-jalan?” tawarnya.
Kania mengubah posisinya menjadi duduk, dia mengusap kedua matanya yang masih sangat mengantuk, “memangnya kita mau jalan-jalan kemana?”
“Disekitar sini saja.” Veon lalu membantu Kania untuk turun dari ranjang, “sekarang kamu mandi, aku akan menunggu di bawah.”
Kania mengangguk kan kepalanya, dia lalu melakukan apa yang di minta oleh suaminya. Veon melangkah keluar, dia ingin menemui Zaki terlebih dahulu.
“Bagaimana pengamatan kamu tentang Alex? Apa ada kemajuan?” sejak kejadian waktu itu, Veon menyuruh Zaki untuk kembali mengawasi gerak gerik Alex, dia ingin tau apa yang direncanakan pria itu sebenarnya.
“Selama ini tidak ada gerak-gerik yang mencurigakan, Tuan. Alex lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Dan sekarang sudah tidak ada lagi wanita yang keluar masuk dari rumah itu.”
Veon mengernyitkan keningnya, “apa dia akan semudah itu terlepas dari kebiasaan buruknya yang sering bergonta-ganti pasangan?” tanyanya tidak percaya.
“Saya juga tidak tahu, Tuan.”
“Ok, kamu awasi dia terus.” Veon melihat Kania yang sedang berjalan menghampirinya, “aku akan keluar bersama dengan istri aku dulu.”
Zaki menganggukkan kepalanya. Setelah kepergian Kania dan Veon, Zaki melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
“Kak! tunggu!” teriak Eca dari luar rumah.
Zaki menghentikan langkahnya, dia lalu kembali keluar, “ada apa?”
Eca menyengir kuda, “bukan apa-apa, aku hanya ingin mengajak kakak jalan-jalan, mau ya,” pintanya.
“Ca, maaf. Aku tidak bisa, aku ingin beristirahat, semalaman aku tidak tidur, aku hanya punya waktu sebentar untuk beristirahat, jadi aku akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin.” Zaki lalu kembali melangkah masuk.
Beberapa hari ini dia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak, tugasnya untuk mengawasi Alex sungguh membuat waktu istirahatnya berkurang. Tapi demi melindungi Chelsea, dia rela melakukan semua itu.
Saat ingin memasuki kamarnya, dia melihat Chelsea yang tengah duduk termenung sambil menatap langit pagi yang terlihat begitu cerah, “tumben pagi-pagi dia sudah duduk di situ.”
Zaki lalu melangkahkan kakinya menghampiri Chelsea, “mau aku temani?” pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea.
“Belum juga aku jawab, kenapa kamu sudah main duduk saja,” omel Chelsea.
__ADS_1
“Untuk menemani pacar aku, aku tidak butuh persetujuan siapapun, termasuk kamu sendiri.”
“Pacar! Sejak kapan kita pacaran?”
“Sejak aku menyatakan cinta aku malam itu,” ucap Zaki dengan senyuman di wajahnya.
“Aku saja belum memberikan jawaban, bagaimana aku bisa menjadi pacar kamu?” Chelsea mengerucutkan bibirnya, “apa kamu berani bilang begitu di depan Kak Veon?” tantangnya.
“Jika sudah saatnya aku akan bilang sama kakak kamu, aku bahkan akan melamar kamu di depan kedua orang tuamu.”
“Zak! Aku ingin kamu sadar, aku tidak pantas untuk mendapatkan semua itu, kamu pantas mendapatkan yang lebih dari...”
Chelsea membulatkan kedua matanya saat tiba-tiba Zaki mencium bibirnya. Ciuman itu terasa begitu lembut, tubuh Chelsea seketika membeku dibuatnya.
Zaki mengakhiri ciumannya, “aku tidak suka kamu mengatakan itu lagi, jangan lagi kamu merendahkan diri kamu, bagiku kamu adalah yang terbaik untukku.”
Chelsea menyentuh bibirnya yang baru saja di cium oleh Zaki, “Zak, apa yang kamu lakukan?”
“Mencium mu, kenapa? apa kamu mau lagi?” goda Zaki sambil mencolek hidung mancung Chelsea.
Chelsea hanya diam, dia terus menatap wajah Zaki dalam-dalam. Chelsea sama sekali tidak mengerti dengan jalan pikiran Zaki. Kenapa dia masih saja bersikukuh untuk tetap mencintainya, sedangkan Zaki tau, jika hidup Chelsea sudah hancur, dia bukan lagi wanita suci yang pantas mendapatkan perhatian dari Zaki.
“Zak, aku...” Chelsea menundukkan wajahnya, dia merasa begitu malu. Kenapa dia sama sekali tidak bisa menolak ciuman Zaki?
“Jangan mengatakan apapun.” Zaki lalu beranjak dari duduknya, “aku lelah, aku pergi tidur dulu.”
Zaki lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya, dia benar-benar sudah tidak bisa menahan kantuknya lagi.
Chelsea melihat jam di pergelangan tangannya, “jam segini dia baru mau tidur! Lalu apa yang dia lakukan semalaman?”
***
“Sayang, apa kamu sudah capek?” Veon terus berjalan beriringan dengan Kania, tangannya bahkan masih terus menggenggam tangan wanita itu.
Kania menggelengkan kepalanya, “nanti kalau aku merasa capek, aku akan bilang sama kamu.”
__ADS_1
“Baiklah.”
Mereka pun terus melangkahkan kaki mereka, menikmati udara pagi yang terasa begitu menyejukkan. Mereka juga melihat banyak pasangan yang sedang jalan-jalan pagi itu. Veon melihat ada sepasang suami istri, yang istrinya sedang hamil besar. Pria itu membayangkan jika perut Kania sudah sebesar itu, pasti Kania akan terlihat sangat menggemaskan, pikirnya.
Kania mengernyitkan dahinya saat melihat Veon yang sejak tadi senyum-senyum sendiri, “kenapa kamu terlihat begitu senang, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya penasaran.
Veon menunjuk ke arah sepasang suami istri yang tengah duduk di bangku panjang, “istrinya juga sedang hamil, dan perutnya sudah terlihat buncit.”
“Lalu apa yang membuat kamu se-senang itu?”
“Aku hanya membayangkan, saat perut kamu sudah sebesar itu, pasti wajah kamu akan semakin terlihat menggemaskan,” ucap Veon dengan senyuman di wajahnya.
Kania mengusap perutnya yang sudah mulai terlihat kehamilannya, “aku sudah tidak sabar ingin melihatnya lahir.”
Veon berjongkok di depan Kania, dia lalu mencium perut Kania berkali-kali, hingga membuat Kania merasa malu, karena banyak orang yang memperhatikan mereka berdua.
“Sayang, ini Papa sayang. Kamu tidak boleh rewel ya di perut Mama.” Veon mengusap lembut perut Kania, dia lalu mendongakkan wajahnya menatap Kania, “anak kita sepertinya mengerti perkataan aku.” dia lalu beranjak berdiri, “sayang, ayo kita pulang, kamu harus makan yang banyak,” imbuhnya.
Mereka pun memutuskan untuk kembali ke rumah, mereka juga tidak ingin melewatkan sarapan pagi mereka. Sesampainya di rumah, mereka langsung melangkahkan kakinya menuju meja makan. Ternyata semuanya sudah mulai sarapan, kecuali Zaki.
Veon tau jika saat ini Zaki pasti sedang beristirahat, jadi menyuruh Eca untuk mengantarkan makanan ke kamar Zaki. Chelsea sebenarnya ingin melarang Eca untuk mengantarkan makanan ke kamar zaki, tapi dia sama sekali tidak ingin semua orang mencurigai nya.
“Kakak, kok sarapannya tidak dilanjutkan?” tanya Eric penasaran.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “kamu habiskan makanan kamu itu.”
Eca yang sudah selesai makan, dia mengambilkan makanan untuk Zaki. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengantarkan makanan itu ke kamar Zaki. Gadis itu lalu berpamitan untuk mengantarkan makanan ke kamar Zaki.
“Kenapa kakak menyuruh dia untuk mengantarkan sarapan Zaki? Selain itu tadi aku melihat Zaki yang begitu kelelahan, sebenarnya kakak memberi tugas seberat apa kepada zaki?” saat ini Chelsea sedang bersama dengan Veon di ruang tengah.
“Kamu tidak perlu tau, itu bukan urusan kamu.” Veon lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, “kakak pergi dulu, sepertinya kakak ipar kamu sudah begitu merindukan kakak.”
Chelsea berdecih, “bilang saja kakak yang merindukan Kania,” ucapnya kesal.
Veon mengusap puncak kepala Chelsea, “jika kamu sudah menikah nanti, kamu bisa merasakan apa yang sedang kakak rasakan, sekarang kakak pergi dulu.”
Chelsea merasa begitu penasaran dengan apa yang Eca lakukan di kamar Zaki, sudah hampir 10 menit, tapi gadis itu belum juga keluar dari kamar Zaki, “aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu. Jika ternyata Zaki sedang bermesraan dengan Eca, maka aku tidak akan pernah memaafkannya. Baru juga tadi dia bilang akan menungguku, apa dia akan berubah pikiran secepat itu?”
__ADS_1
~oOo~