
Kania dan putranya sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Di hari pertama kehadiran Noel di rumah keluarga Sanjaya, Veon meminta Zaki untuk mengurus semua pekerjaannya. Veon mengambil cuti selama satu minggu, dia ingin menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga kecilnya.
Selain itu Chelsea dan Alex juga sering datang ke rumah itu, terkadang mereka juga menginap di rumah utama. Semenjak kegagalan malam itu, sampai sekarang Chelsea maupun Alex belum melakukan hubungan itu lagi, itu dikarenakan Chelsea yang tiba-tiba kedatangan tamu bulanannya, sehingga Alex dengan terpaksa harus menunggu satu minggu lagi.
Chelsea sebenarnya merasa kasihan melihat Alex yang harus menahan diri lagi, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, dia juga tidak ingin seperti itu, tapi saat itu memang sudah waktunya tamu bulanannya datang.
Saat ini Chelsea sedang berada di kamar kakaknya bersama dengan Kania. Sejak tadi Chelsea terus menggendong Noel sambil terus mengecup pipi gembul bayi mungil itu.
“Chel, sudah dong, jangan kamu cium terus pipi Noel, bisa-bisa jadi tirus nanti itu pipi,” canda Kania.
“Habisnya aku gemes banget sama keponakan aku ini, aku jadi tidak sabar ingin segera memiliki bayi.”
“Apa kamu dan Alex sudah mulai menerima satu sama lain?”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “aku dan Alex sudah berbaikan, kita sudah sepakat untuk memulainya dari awal lagi. Benar kata kamu waktu itu, semua orang bisa berubah, termasuk Alex. Aku bisa melihat dia sudah bukan Alex yang dulu lagi, sekarang dia penuh dengan kasih sayang, rasa sayangnya bahkan melampaui batas, aku sampai merasa tidak enak di perlakukan seperti itu, sedangkan aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk Alex. Bahkan sampai sekarang aku belum menjalankan kewajiban aku sebagai istri.”
“Jangan bilang sampai sekarang kamu belum juga...”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “ya mau bagaimana lagi, tamu bulanan aku datang di saat yang tidak tepat,” keluhnya.
Noel yang berada di pangkuan Chelsea tiba-tiba menangis, “sepertinya Noel haus,” ucapnya lalu memberikan Noel kepada Kania.
Kania mengambil Noel dari gendongan Chelsea, dia lalu memangku Noel dan mulai menyusuinya.
Chelsea melihat Noel yang begitu rakusnya meminum ASI Kania, “apa rasanya sakit, saat Noel mulai menghisap ASI kamu?” tanyanya penasaran.
Kania menggelengkan kepalanya, “rasanya gimana ya, aku juga bingung mau mengatakannya, yang pasti rasanya begitu nyaman, apalagi melihat Noel tertidur sehabis menyusu,” ucapnya sambil mengusap pipi gembul Noel.
“Noel pasti akan menjadi anak yang lebih baik dari kakak, karena dia mendapatkan perhatian penuh dari kedua orang tuanya sejak bayi.”
“Sebenarnya kakak kamu juga mendapatkan perhatian penuh dari keluarga kamu kan, hanya saja cara Papa mendidiknya yang salah.” Kania lalu menatap wajah tampan Noel, “aku tidak akan membiarkan kakak kamu untuk menuntut dia agar cepat menikah, Noel berhak memilih jalan hidupnya sendiri, yang terpenting dia tidak berada di jalan yang salah.”
“Saat aku mempunyai anak nanti, aku juga akan melakukan seperti yang kamu lakukan. Aku akan mencurahkan semua perhatian dan kasih sayang aku, aku tidak akan pernah membiarkan anak aku sampai kekurangan perhatian dan kasih sayang sedikitpun.”
Noel sudah tertidur dalam pangkuan Kania, dia pun menidurkan Noel ke dalam box bayi yang terletak di sebelah ranjang. Setelah itu Kania dan Chelsea keluar dari kamar itu, mereka melangkahkan kakinya menuruni tangga.
__ADS_1
Kania dan Chelsea melangkahkan kakinya menghampiri Veon dan Alex yang sedang berbicara di ruang tengah. Chelsea dan Kania mendaratkan tubuhnya di samping suami mereka masing-masing.
“Apa Noel sudah tidur?” Kania menganggukkan kepalanya, “kamu pasti capek menjaga Noel sendirian.” Pria itu lalu mengecup kening istrinya.
“Kamu tenang saja, aku sama sekali tidak merasa capek, justru aku sangat menikmati saat-saat seperti ini. Aku ingin mengikuti perkembangan Noel, aku tidak ingin melewatkan satupun kesempatan itu.”
“Kak aku salut sama Kania, di usianya yang masih sangat muda, dia bisa menjalankan perannya sebagai seorang istri dan juga Ibu,” puji Chelsea.
Alex menggenggam tangan Chelsea, “kamu juga bisa menjadi seperti Kania, menjalankan peran sebagai seorang Ibu itu sudah mengikuti naluri keibuan, asal kita menyayangi anak kita, maka naluri itu akan muncul begitu saja.”
“Betul yang dikatakan Alex, aku juga Cuma mengikuti naluri keibuan aku,” ucap Kania.
Alex melihat jam di pergelangan tangannya, “sayang, aku masih ada janji dengan Betrand, kamu masih ingin tetap disini atau ikut denganku?”
“Aku ikut sama kamu saja,” sahut Chelsea.
“Kenapa kalian begitu terburu-buru?” tanya Kania. Chelsea dan Alex baru 3 jam berada di rumah itu.
“Maafkan aku Kania, aku ada janji penting dengan sahabat aku, jadi aku tidak bisa membatalkannya, tapi jika Chelsea masih ingin disini aku juga tidak keberatan.”
Alex dan Chelsea pun lalu beranjak dari duduknya, setelah berpamitan dengan Veon dan Kania, mereka lalu melangkahkan kakinya menuju kamar kedua orang tua mereka. Chelsea mengetuk pintu kamar itu, setelah mendapat sahutan dari dalam, Chelsea membuka pintu itu dengan perlahan.
“Ada apa sayang?” tanya Vera setelah meletakkan gelas diatas meja.
Alex dan Chelsea masuk ke dalam kamar itu, “kami ingin pamit pulang, Ma. Alex ada janji dengan sahabatnya.”
“Kenapa kalian tidak menginap saja di rumah ini malam ini, Mama dan Papa masih kangen sama kamu sayang?”
Chelsea duduk berjongkok di depan Mamanya, “Chelsea janji, lain kali Chelsea akan menginap di rumah ini bersama dengan Alex, tapi tidak untuk malam ini, Ma.”
“Pulanglah, jika kalian ada waktu, sempatkan untuk datang ke rumah ini,” ucap Dion.
Chelsea dan Alex menganggukkan kepalanya. Chelsea lalu beranjak berdiri, “kalau begitu kami pulang dulu, Ma, Pa,” ucapnya sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
Dion dan Vera menganggukkan kepalanya. Alex pun juga mencium tangan kedua mertuanya, setelah itu mereka melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
__ADS_1
***
“Lex, apa yang ingin Betrand bicarakan sama kamu? Aku lihat akhir-akhir ini kalian sering kali bertemu?” mereka saat ini sedang berada di dalam mobil, mereka dalam perjalanan menuju restoran, tempat Alex dan Betrand membuat janji.
“Betrand ingin bercerai dengan istrinya, keputusannya sudah bulat. Dia meminta bantuan aku, dia ingin bekerja di kantor aku, mungkin setelah kedua orang tuanya tahu soal rencana dia untuk menceraikan istrinya, mungkin dia akan langsung dicoret dari daftar keluarga.”
“Tapi bukannya Betrand itu anak tunggal? Kalau dia dicoret dari daftar keluarga, bukannya itu berarti mereka sudah tidak mempunyai pewaris lagi.”
Alex mengusap puncak kepala Chelsea, “pintar kamu. Betrand sudah memperhitungkan itu juga, dia yakin kedua orang tuanya akan memintanya kembali lagi ke rumahnya, karena hanya dia anak mereka satu-satunya. Tapi Betrand mempunyai rencana, dia tidak akan mau kembali ke rumah itu kalau kedua orang tuanya tidak mau menerima kehadiran Vika di rumah itu menjadi istrinya.”
Chelsea tertawa, “Betrand itu jadi orang kok PD banget sih, memangnya dia yakin Vika mau kembali lagi sama dia?”
“Sayang, kamu adalah sahabat terdekat Vika, kamu pasti tahu apa yang sangat diinginkan Vika. Vika juga tidak mungkin semudah itu bisa melupakan Betrand, mereka sudah berpacaran selama empat tahun, bahkan mereka sudah melakukan hubungan itu. Apa kamu sama sekali tidak ingin membuat Vika bisa menerima Betrand lagi? Betrand ingin bertanggung jawab dengan apa yang sudah dia lakukan kepada Vika, dan hanya Vika yang Betrand cintai selama ini.”
“Aku bukannya tidak ingin melihat Vika bahagia, tapi aku tahu sesakit apa yang Vika rasakan saat ini, dan tidak mudah juga untuk bisa memaafkan Betrand. Aku tahu alasan Betrand melakukan itu untuk melindungi Vika dari kedua orang tuanya, tapi...jika Betrand memang mencintai Vika, maka dia akan selalu berada di sisi Vika dan mendukungnya, membantunya untuk menghadapi semua masalah yang mungkin akan dia alami. Sesulit apapun masalah itu, jika ada orang yang kita sayangi mendampingi kita, maka masalah itu akan terasa lebih mudah.”
Chelsea menghela nafas panjang, “Lex, Vika selama ini sudah sangat menderita, dia hidup dalam keluarga broken home, Papanya menikah lagi dan sama sekali tidak peduli dengannya, sedangkan Mamanya sering bergonta-ganti pasangan dan itu membuat Vika merasa muak.”
“Tapi Vika bisa mulai berubah saat dia mengenal Betrand, dia menaruh harapan besar kepada Betrand, dia yakin Betrand akan segera membawanya keluar dari hidupnya yang kacau, tapi apa...justru pengkhianatan yang dia dapatkan, itu pun setelah Vika memberikan seluruh hidupnya kepada Betrand.”
“Sayang, aku bukannya ingin membela Betrand, aku akui yang dia lakukan salah, tapi dia juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua, sama seperti aku. jadi aku harap kamu mau membujuk Vika untuk mau kembali bersama dengan Betrand lagi.”
“Aku tidak janji, tapi aku akan berusaha, bagaimanapun Vika juga berhak untuk bahagia.”
Alex mengecup punggung tangan Chelsea, “kita juga berhak untuk bahagia. Bagaimana kalau setelah kamu selesai datang bulan, kita pergi berbulan madu, kayaknya seru deh. Kita kan belum pergi berbulan madu.”
Chelsea tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “aku ikut kemanapun kamu pergi,” ucapnya.
~oOo~
__ADS_1