
" Tuan muda, sudah cukup biarkan anak buah kita yang mengurusnya" thom melerai saat merasa pria paruh baya itu sudah sangat sekarat,ia bukan karena kasihan tapi ditempat itu ada banyak orang tidak baik jika ada yang melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib yang ada masalah bisa berabe.walaupun tuan mudanya memiliki kekuasaan yang sangat besar untuk membungkam mulut mereka, tapi masih banyak musuh diluar sana yang tidak diketahui rupanya bisa saja mereka keluarga dekat atau sahabat yang berkedok baik tapi sebenarnya sangat berbahaya.mereka akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengahancurka tuan mudanya.
" Pastikan ia menerima ganjaran yang setimpal dengan perbuatannya pada istriku" perintahnya mutlak
" Baik tuan"
Setelah itu thom menyuruh beberapa anggota black devil yang tadi ia hubungi sebelum menuju ke lokasi tempat nyonya mudanya berada, karena thom yakin pasti akan ada masalah yang terjadi. Sehingga akan mudah dibereskan jika ada beberapa anak buahnya yang ikut.
" Bawa dia ke markas" ucap thom dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain
***
" Sayang" Raka berjalan kearah dimana Desi berdiri disamping Rani yang tadi membantunya berdiri saat terjatuh akibat pukulan beruntut dari mandor Rio, ia mematung dengan ekspresi wajah dingin menatap kearah suaminya itu bahkan Desi tidak mendengar panggilan dari sang suami.
" Sayang ayo kita kerumah sakit, luka mu bisa tambah parah jika tidak segera ditangani" ucap Raka setelah berdiri sejajar dengan istrinya itu, yang masih tanpa ekspresi apapun, menatap tajam kearahnya.sedangkan Rani sudah pergi meninggalkan keduanya saat asisten thom mengajaknya sesuai perintah tuan Raka untuk mengantar wanita itu kembali ke kantornya.
" Tidak perlu,ini hanya luka kecil" sahut Desi setelah diam cukup lama memperhatikan gerak gerik suaminya yang terlihat khawatir dengan kondisinya.
" Apa kamu bilang luka kecil, kamu tidak lihat sudut bibirmu pecah dan terus mengeluarkan darah dan juga pasti badan mu sakit setelah mendapatkan pukulan dari pria brengsek itu" seru Raka dengan suara meninggi bagaimana bisa ia sangat khawatir tapi wanita ini malah menolak untuk diajak kerumah sakit.
" Aku bilang tidak perlu ya, tidak perlu lagian nanti juga akan sembuh setelah dioleskan Obat merah" timpal Desi dan berlalu meninggalkan Raka.
" Desi berhenti, kubilang berhenti" ucap Raka dengan emosi yang kembali tersulut, membuat Desi menghentikan langkahnya." Jangan bersikap keras kepala, sekarang kamu harus ikut aku kerumah sakit" lanjut Raka menarik kasar tangan Desi yang hanya diam mengikuti dari belakang.
***
Setelah sampai di mobil dengan segera Raka membuka pintu mobil untuk istirnya setelah itu ia juga ikut masuk ke mobil sedang thom sudah pergi lebih dulu bersama Rani.
Keadaan didalam mobil itu begitu hening karena Desi mengunci mulutnya dengan rapat tidak ingin berbicara sedikit pun dengan sang suami, bukan karena sakit mendapatkan luka dibibirnya dan juga perutnya tadi ditendang oleh Rio tapi karena melihat Raka mengingatkannya pada kejadian semalam, membuat hatinya kembali berdenyut perih.
Raka sebenarnya menyadari sikap istrinya yang berubah,tapi ia berusaha untuk tidak menghiraukannya menganggap seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara mereka.
" Kenapa kamu bisa ada ditempat seperti itu" tanyanya setelah berhasil menahan emosinya.
Tapi tidak dijawab oleh Desi, wanita itu justru memalingkan wajahnya kearah luar, melihat jalan kota yang begitu padat, lampu-lampu jalan yang juga sudah menyala karena hari sudah mulai gelap. Ya karena kejadian tadi begitu banyak menyita waktu sehingga mereka baru bisa pulang setelah hari mulai gelap.
" Desi" panggil Raka sudah tidak menggunakan embel sayang karena melihat sikap sang istri yang terus-menerus mengacuhkan bahkan menggapanya tak ada.
"Ada apa" saut Desi masih tetap melihat kearah luar
" Sejak kapan kamu tidak memiliki sikap sopan santun, Jika berbicara dengan suami seharusnya kamu melihat kearahnya" bentak Raka karena mulai merasa kesal dengan sikap Desi.
__ADS_1
Desi yang mendengar bentakan itu merasakan hatinya kembali sakit tapi ia tetap berusaha kuat dan menoleh kearah pria yang sudah dua tahun ini menjadi suaminya.
" Ada apa?" Ulangnya lagi kembali bertanya
" Kamu tahu aku sangat menghawatirkan mu, tapi lihat bagaimana sikapmu kamu malah mengacuhkan dan mengabaikan ku. Apa kamu tidak merasa bersalah sedikitpun, aku telah meninggalkan pekerjaan ku dan membatalkan pertemuan dengan klien yang sangat penting hanya untuk menyusul mu ketempat itu tapi lihat kamu malah bersikap tidak tahu diri seperti ini" bentak Raka kelepasan.
" Oh jadi kamu marah karena kamu harus meninggalkan pekerjaan mu, hanya untuk menyusul ku, jadi kamu merasa rugi karena aku kamu harus kehilangan klien penting mu itu. Lagian yang minta mas nyusul aku siapa" balas Desi tak kalah tajam,hanya menangkap kata terakhir dari suaminya yang seperti tak relah harus meninggalkan kantor karena dirinya.yang membuat Desi semakin sakit hati karena suaminya itu tidak sedikitpun menyinggung masalah semalam apakah suaminya itu tidak menghawatirkan kemana ia semalam, dimana ia tinggal. Padahal pertanyaan itu yang diharapkan Desi akan keluar dari mulut Raka tapi pada kenyataannya suaminya itu malah menyalakannya hanya karena dirinya pria itu harus meninggalkan pekerjaannya dan membatalkan meeting penting dengan kliennya.
Sedangkan Raka yang mendengar perkataan Desi yang hanya menangkap perkataannya diakhir tanpa tahu bahwa ia sangat khawatir dengan keadaan wanita itu, ia pun mengusap wajahnya kasar.
" Maksud aku tidak seperti itu Des, kamu kenapa jadi " sebelum Raka menyelesaikan kalimatnya Desi sudah memotong terlebih dahulu.
" Cukup mas, aku lagi nggak ingin ribut sama kamu sekarang,lebih baik kamu menambah kecepatan mobilnya supaya kita bisa cepat sampai kerumah! aku capek pengen istirahat" sahutnya menyela membuat Raka mengacak rambutnya frustasi.
" kita tidak akan pulang kerumah,kamu harus diperiksa! Mau atau tidak kamu harus ikut aku kerumah sakit" timpal Raka tak terbantah.
Sedangkan Desi yang sudah malas berdebat pun lebih memilih diam, terserah apa yang ingin dilakukan suaminya itu ia tidak peduli! Yang sekarang ia inginkan adalah istirahat sebentar berharap bisa meredam emosi yang sejak tadi membuncah dihatinya.
Beberapa menit keadaan kembali hening Raka yang tidak merasakan pergerakan lagi disampingnya lantas menoleh dan amarah yang tadi menguasai hatinya lenyap begitu saja berganti dengan senyum lembut menatap wanitanya yang tertidur pulas disampingnya.
" Kenapa kamu malah berpikir aku lebih mementingkan pekerjaan dan klien ku dibandingkan dirimu, kamu harusnya mengerti jika aku sangat menghawatirkan mu! Aku rela kehilangan apapun Des, yang penting aku tidak kehilangan dirimu karena aku tidak akan sanggup." Ucapan dengan tatapan sendu menatap pada sang istri" aku tidak pernah merasa rugi jika harus kehilangan semuanya tapi tidak dengan kehilangan mu, apa kamu tahu aku sangat panik saat mengetahui kamu datang ketempat berbahaya seperti itu! Dan lihatlah apa yang aku khawatirkan benar terjadi bagaimana jika aku telat kamu pasti sudah babak belur oleh pria brengsek itu" lanjutnya bergurau karena ia tahu sang istri tidak bisa beladiri dan juga Desi sangat tidak menyukai kekerasan, istrinya itu adalah wanita lemah lembut Tapi Raka tidak mengerti kenapa sikap istrinya bisa berubah hanya dalam satu malam,dia yang selalu takut jika ada perkelahian seperti tadi tapi yang Raka lihat sungguh berbeda sang istri malah berekspresi biasa saja, dan untuk pertama kalinya semenjak dua tahun mereka bersama istrinya itu membantah dan bersikap galak padanya sikap yang tak pernah Desi tunjukkan padanya selama mereka pacaran dan menikah.
***
" Kamu kenapa Jes" tanya Maria pada menantunya itu, yang terlihat mondar mandir di depan pintu
" Itu ma, kenapa mas Raka belum pulang juga ya. Padahal udah jam segini biasanya dia pulang cepat" sahut Jessi dengan raut khawatir.
Maria tersenyum lembut melihat bagaimana perhatiannya Jessi pada putranya itu,ia merasa bahwa pilihannya tidak akan pernah salah.
" Kok mama malah senyum sih" tanya Jessi saat perkataannya tidak digubris oleh sang mertua.
" Mama senyum karena mama sekarang bisa merasa tenang,jika mama sedang tidak ada didekat Raka atau mungkin mama ada pekerjaan diluar. Ada kamu yang akan menjaganya! Jadi mama merasa sedikit lega jika meninggalkan Raka"ucap Maria sambil menepuk pundak menantunya itu, merasa bangga melihat Jessi yang relah meninggalkan dunia modelling atas perintahnya dan menjadi istri yang baik dengan menunggu sang suami dirumah.
" Mama bisa aja" jawabnya malu-malu.
"Hahah kamu ini " tawa Maria pecah melihat semburan merah menghiasi pipi menantunya itu." Lebih baik kita tunggu Raka didalam saja, Raka memang biasa pulang larut jika pekerjaannya banyak.jadi kamu nggak usah heran ya!" Lanjut Maria sambil menuntun Jessi kesofa diruang itu.
" Oh gitu ya ma"
" Ia, memang kamu berpikir apa" tanya Maria
__ADS_1
" Aku hanya berpikir, mungkin mas Raka lagi sama mbak Desi " Sahutnya
Maria menghela nafas panjang mendengar penuturan menantu keduanya itu.
" Kamu tidak perlu pikirin hal itu, kamu harus dengerin kata mama supaya kamu bisa mendapatkan Raka seutuhnya. Dan caranya hanya satu kamu harus bisa mengandung anak Raka! Apa kamu mengerti"ucapnya dengan penuh percaya diri.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Next Sampai sini dulu ya gays š„°š
Jangan lupa Like dan Votenya š„°ššš
__ADS_1