
Tamparan keras Vera layangkan ke pipi putri semata wayangnya. Chelsea pulang pagi-pagi sekali, untung saat itu Dion masih tidur, hingga dia tidak tau kelakuan putrinya yang semalaman tidak pulang ke rumah.
“Apa yang kamu lakukan di luar sana? Apa kamu tidak punya rumah hingga kamu harus tidur di luar? Apa ini yang Mama ajar kan sama kamu!” teriak Vera dengan penuh emosi.
Veon mencoba untuk menenangkan mamanya, bagaimana pun dia tidak akan tega melihat adiknya yang terduduk lemas sambil meneteskan air mata, “Mama, sudah. Apa Mama ingin Papa bangun setelah mendengar teriakan Mama,” ucapnya.
“Apa kesalahan Mama di masa lalu hingga Mama harus mempunyai anak yang sama sekali tidak mau mendengarkan kata-kata Mama?” Vera menjatuhkan tubuhnya di lantai, semalaman dia tidak bisa tidur karena menunggu kepulangan sang putri tercinta. Tapi yang dia tunggu baru pulang pukul 05.00 pagi.
Chelsea bersimpuh di depan mamanya, “maafin Chelsea, Ma. Maafin Chelsea,” pintanya.
“Sekarang katakan sama Mama, semalam kamu pergi ke mana? Kenapa kamu tidak pulang ke rumah?” Vera mencoba untuk menahan emosinya.
Veon memang tidak menceritakan kepada mamanya tentang apa yang dia lihat oleh Dimas. Dia tidak ingin membuat mamanya semakin khawatir, apalagi jika mamanya tau Chelsea dalam keadaan mabuk waktu itu.
“Chelsea ketiduran di rumah teman, Ma. Maafin Chelsea,” ucap Chelsea berbohong.
“Siapa nama teman kamu itu, Mama ingin bertanya langsung sama teman kamu itu?” tanya Vera.
Chelsea membulatkan kedua matanya, dia pun menelan salivanya, mati aku, pikirnya.
“Kenapa kamu diam saja? Apa kamu membohongi Mama?” tanya Vera lagi.
Chelsea menggelengkan kepalanya, dia lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Vika. Tidak butuh waktu lama panggilan itu sudah diangkat oleh Vika, “halo, Chel, ada apa kamu menelfon aku?” tanyanya.
__ADS_1
Vera mengambil ponsel dari tangan Chelsea, “halo, ini mamanya Chelsea,” ucapnya.
“Eh...tante, ada apa ya, Tan?” tanya Vika terkejut. Apa ini ada hubungannya dengan Chelsea yang semalaman tidak pulang ke rumah ya? Pikirnya.
“Tante minta maaf, karena sudah mengganggu kamu pagi-pagi. Tapi Tante hanya ingin bertanya, apa benar semalam Chelsea tidur di rumah kamu?”
Vika sejenak terdiam, apa Chelsea beralasan tidur di rumah aku? “iya tante. Semalam Chelsea tidur di rumah Vika. Sebenarnya Chelsea semalam ingin pulang, tapi sama Mama Vika dilarang karena sudah larut malam. Maafkan Vika ya tante, karena Vika Chelsea jadi kena marah?” ucapnya.
“Tidak apa-apa. Tapi lain kali jangan di ulangi lagi, ya sudah tante tutup dulu telponnya,” ucap Vera lalu mematikan telfon.
Vera mengembalikan ponsel putrinya, “untuk kali ini Mama akan memaafkan kamu, tapi jika kamu sampai mengulangi lagi, Mama akan benar-benar mengurung kamu di dalam di rumah, kalau perlu Mama akan segera menikahkan kamu,” ancamnya lalu mencoba untuk berdiri. Vera melangkahkan kakinya menjauh.
Veon membantu adiknya berdiri, “kakak tahu kamu bohong sama Mama,” ucapnya.
“Semalam teman kakak melihat kamu tengah mabuk berat, kamu dan teman-teman kamu semalam pergi ke club kan?”
Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, “Kak, jangan kasih tahu Mama. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,” pinta nya sambil mengatupkan kedua tangannya.
“Sekarang bilang sama kakak siapa saja teman-teman kamu itu? Siapa pria yang bersama kamu semalam?” tanya Veon dengan sorot mata yang tajam.
“Semalam aku hanya pergi dengan Vika dan teman-temannya, pria yang bersama dengan kami semalam adalah pacar Vika dan sahabatnya,” ucap Chelsea berbohong.
“Apa dia pacar kamu?” Chelsea langsung menggelengkan kepalanya, “ingat kata-kata kakak ini, kalau sampai kakak tahu kamu melakukan hal yang sangat memalukan, kakak tidak akan pernah mengampuni kamu!” ancam Veon penuh penekanan.
__ADS_1
Chelsea mengangguk mengerti, “maafin aku, kak. Jika kakak tahu yang sebenarnya, apa yang akan kakak lakukan? Apa kakak akan membunuhku?” ucapnya dalam hati.
“Sekarang pergi lah ke kamar dan bersihkan diri kamu. Jangan sampai Papa tahu apa yang terjadi hari ini, kalau sampai Papa tahu, kamu tanggung sendiri akibatnya.” Veon melangkahkan kakinya menaiki tangga. Semalaman dia juga tidur karena menemani mamanya sepanjang malam.
Chelsea menggosok seluruh tubuhnya dengan sangat kasar, begitu banyak tanda merah yang Alex tinggalkan di tubuhnya, “brengsek kamu Alex, aku sangat mencintai kamu, tapi ini yang kamu lakukan ke aku! Aku membencimu...sangat membencimu. Aku menyesal karena telah mencintaimu!”
Chelsea terkulai lemas dalam guyuran air shower. Dia menyesali apa yang sudah terjadi, andai dia menolak ajakan teman-temannya untuk pergi ke club malam dan tidak menuruti Alex saat dirinya di minta untuk meneguk minuman keras itu, maka semua ini tidak akan terjadi. Tapi apalah dikata, nasi sudah menjadi bubur, selain itu saat ini Alex menyimpan video saat mereka tengah bercumbu panas di atas ranjang.
“Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menjadi budak nafsunya si brengsek itu? Tapi jika aku menolak keinginan dia, pasti vidio itu akan di sebar luaskan oleh Alex.” Chelsea menggelengkan kepalanya, “tidak! Itu tidak boleh terjadi, kalau sampai itu terjadi pasti nama baik Mama, Papa dan Kak Veon akan tercoreng. Ini semua salah aku, jadi aku yang harus menanggungnya sendiri.”
***
Alex kini tengah menonton adegan panas dirinya dengan Chelsea, “akhirnya aku bisa membalaskan dendamku kepada Veon, lihat saja nanti, aku akan menghancurkan nya secara perlahan. Sekarang adiknya sudah berada di genggaman tangan aku,” ucapnya sambil menyunggingkan senyuman.
Cerita sedikit tentang siapa Alex sebenarnya. Alex adalah anak dari salah satu patner kerja Veon yang perusahaannya telah di akusisi oleh Veon karena utang yang di miliki oleh perusahaan itu. Ayah Alex meninggal dunia karena serangan jantung, dia tidak terima saat perusahaannya di ambil alih oleh Veon.
Alex ingin membalas dendam atas kematian ayahnya, dia mencari tau soal seluk beluk keluarga Sanjaya. Dan nasib berpihak kepada dirinya, karena sahabatnya Betran ternyata mempunyai pacar yang bernama Vika, dan lewat Vika lah dia bisa mendekati Chelsea dan mengambil hati gadis itu.
Chelsea tidak menyadari jika cinta yang Alex tunjukkan padanya hanyalah palsu. Hingga dirinya terlalu hanyut dalam rayuan-rayuan yang Alex lontarkan padanya.
“Aku akan lihat kehancuran keluarga Sanjaya, aku akan membuat Veon bertekuk lutut di bawah kaki aku.” Alex tertawa sarkas sambil menikmati sebotol wine di tangannya, “Pa, aku akan membalaskan dendam Papa, aku akan menghancurkan Veon dan keluarganya, ini hadiah untuk Papa,” imbuhnya sambil terus meneguk wine itu sampai habis tak tersisa sedikitpun.
Dendam yang ada di hati Alex seakan sudah mendarah daging, dia tidak akan pernah merasa puas sebelum balas dendamnya tercapai.
__ADS_1
~oOo~