
Vera bingung mau menjawab apa, sebenarnya dia sendiri juga nggak tau apa alasan yang membuat dia belum siap untuk melakukan itu.
"Sayang, aku bertanya ini nggak ada maksud apa-apa, aku cuma penasaran aja, kalau kamu nggak mau jawab juga nggak apa apa?"
"Bukan gitu, aku nggak pernah meragukan kamu, kasih aku waktu. Aku janji aku akan melakukan itu karena itu adalah kewajiban aku sebagai istri kamu," ucap Vera pelan.
"Aku nggak akan pernah memaksa kamu, aku ingin kita melakukan itu atas dasar suka sama suka, bukan karena terpaksa."
"Aku nggak terpaksa kok, jika sudah saatnya aku akan lakuin itu," ucap Vera sambil menggenggam tangan Dion.
"Aku akan setia menunggu," ucap Dion sambil mencium kening Vera.
"Aku boleh minta sesuatu sama kamu nggak?" Tanya Vera serius.
"Kamu mau minta apa?" Tanya Dion penasaran.
"Aku mau mengunjungi makam Ferdi, boleh kan?"
"Boleh dong sayang, aku akan mengantar kamu. Kamu mau berangkat kapan?"
"Kita berangkat sebelum kita pindah ke rumah kamu."
"Baiklah, sekalian kita mampir ke rumah nenek," ucap Dion sambil mengecup tangan Vera.
"O iya, nenek kan kemarin nggak bisa datang ke pernikahan kita ya."
"Kalau kamu mau, kita bisa menginap di rumah nenek," usul Dion.
"Kamu serius kan?" tanya Vera senang.
"Iya sayang, aku serius," ucap Dion sambil mencubit hidung mancung Vera.
"Makasih ya," ucap Vera sambil memeluk tubuh Dion.
"Apa sih yang enggak buat istri aku tersayang ini," goda Dion sambil tersenyum manis.
"Senyuman kamu itu loh bikin jantung aku berdebar tak karuan," goda Vera balik.
"Kamu ni ya bisa aja sayang, memangnya senyuman aku manis ya,kayak gula dong," goda Dion lagi.
"Ya manis banget sampai dikerubungi semut," ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.
"Nggak apa-apa asal semut nya cantik-cantik," ucap Dion yang seketika membuat wajah Vera berubah cemberut.
__ADS_1
"Kamu kenapa cemberut gitu?" Tanya Dion penasaran.
"Nggak apa-apa," ucap Vera singkat.
"Aku cuma bercanda sayang, yang ada di hati aku cuma kamu. Bagiku cuma kamu wanita yang paling cantik di dunia ini," ucap Dion sambil mencubit hidung Vera.
"Gombal," ucap Vera yang masih cemberut.
"Serius..dua rius malahan."
"Ya aku percaya kok."
"Sayang..aku bosen di rumah, aku juga nggak bisa ngapa-ngapain kamu," goda Dion.
"Memangnya kamu mau ngapain aku?"
"Mau cium nggak bisa, mau ini itu juga nggak bisa," sindir Dion.
"Kamu kan udah janji nggak akan melakukan itu?"
"Iya sih..tapi aku kan juga laki-laki normal sayang, aku juga butuh belaian," goda Dion lagi.
"Terus aku harus ngapain?" tanya Vera bingung.
"Caranya?" tanya Vera dengan mengernyitkan dahinya.
"Gimana ya enaknya, tapi kamu nggak kan marah kan kalau aku minta sesuatu sama kamu?"
"Tergantung, asal mintanya yang nggak aneh-aneh."
"Tapi aku ingin minta sesuatu yang belum pernah kamu lakuin."
"Apa itu?" tanya Vera penasaran.
"Nggak jadi aja, aku nggak mau kamu marah," ucap Dion sambil menepiskan senyumannya.
"Aku nggak akan marah, cepetan kasih tau aku."
"Janji kamu nggak akan marah," ucap Dion memastikan.
"Ya aku janji."
"Aku mau kamu cium aku," pinta Dion.
__ADS_1
"Kalau cuma minta cium kenapa berbelit-belit, aku kan istri kamu, aku akan lakuin itu."
"Tapi nanti saat kamu mencium aku kalau aku nggak bisa menahan diri aku, gimana? kalau aku nggak bisa mengontrol diri aku, apa kamu akan marah?" tanya Dion sambil menatap kedua mata Vera.
"Sebenarnya aku nggak punya hak untuk menolak karena kamu punya hak sepenuhnya atas diri aku, aku akan berdosa jika menolak keinginan suamiku, tapi itu semua tergantung sama kamu," sahut Vera pelan.
"Maafin aku sayang, aku nggak bermaksud untuk membuatmu sedih, ya udah kita nonton tv aja," ucap Dion sambil tidur di pangkuan Vera.
"Ya Tuhan, apa aku berdosa kalau aku menolak keinginan suamiku? Dion adalah suamiku, dia berhak atas diriku," gumam Vera dalam hati.
Vera melihat kesedihan di wajah Dion, dia menjadi tidak tega. Dia merasa dirinya saat ini sudah keterlaluan.
"Sayang," panggil Vera sambil mencium kilas bibir Dion.
"Heemmm...apa ?" sahut Dion malas.
"Lakuin apa yang kamu mau, asal nggak melebihi batas," ucap Vera pelan.
"Kamu serius sayang?" tanya Dion senang.
"Heemmm...asal nggak melebihi batas, kamu tau kan aku lagi berhalangan."
"Ya aku janji," ucap Dion senang.
Dion menarik tengkuk Vera dan mendaratkan ciuman di bibir Vera. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut di bibir Vera. Vera mulai memejamkan kedua matanya dan menikmati setiap pangutan yang Dion berikan pada bibirnya.
Dion melepaskan ciumannya. Mereka mengatur nafas mereka yang tak beraturan.
"Aku boleh melakukan lebih?" tanya Dion dengan nafas yang tak beraturan.
"Kamu mau melakukan apa lagi?" tanya Vera cemas.
Vera takut Dion tidak bisa menahan diri dan menginginkan hal yang tidak bisa dia lakukan saat ini.
"Aku ingin memelukmu dari belakang," pinta Dion.
"Lakukanlah."
Dion bangun dan beralih duduk di belakang Vera, dia lalu memeluk tubuh Vera dari belakang. Dion membisikan sesuatu di telinga Vera.
"Aku mencintaimu, dari dulu sampai sekarang hanya kamu yang aku cintai. Aku akan menunggu seberapa lamanya pun sampai kamu bisa menerima aku seutuhnya," bisik nya pelan.
"Maafin aku Dion, karena aku harus membuat kamu menunggu. tapi aku janji itu nggak akan lama lagi," gumam Vera dalam hati.
__ADS_1
šššš