Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Pigura foto


__ADS_3

“Leo!” seru Betrand terkejut.


“Betrand, what are you doing here? Do you want to hurt Vika again?”


Betrand menggelengkan kepalanya, “you take it easy, I came here to make up for all my mistakes. Is Vika in there?”


Leo menganggukkan kepalanya, “but I can’t let you inside. You better go home now.”


Betrand menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan pergi dari sini sebelum aku bertemu dengan Vika!” pria itu lalu memaksa masuk ke dalam rumah Vika, dia terus berteriak memanggil nama Vika.


Vika yang baru saja ingin memejamkan kedua matanya, mendengar suara teriakan Betrand. Dia pun akhirnya beranjak dari ranjang dan segera keluar dari kamarnya. Vika melihat Betrand sedang berdiri di bawah tangga.


“Vik, aku ingin bicara sebentar sama kamu, aku mohon...sebentar saja,” pinta Betrand dengan mengatupkan kedua tangannya.


Vika merasa tidak tega melihat Betrand sampai mau merendahkan harga dirinya seperti itu. wanita itu akhirnya melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga. Vika meminta Leo untuk pergi, dia hanya ingin berbicara empat mata dengan Betrand.


“If he messes up dan hurts you again, call me immediately, then I’ll beat him up and kick him out of here,” ucap Leo sambil menatap Betrand dengan sorot mata yang tajam.


Vika menganggukkan kepalanya, Leo pun lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Betrand dan juga Vika. Vika mengajak Betrand untuk duduk di sofa ruang tamu. Betrand tidak menyangka, Vika mau berbicara dengannya.


Vika menghela nafas, “apa yang ingin kamu katakan padaku?”


“Kamu pasti sudah mendengar semuanya dari Alex, lalu apa keputusanmu?”


Vika mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa?”


“Vik, aku tahu apa yang aku lakukan sama kamu itu salah, tapi aku ingin menebus semua kesalahan aku dulu, tolong beri aku kesempatan untuk menebus semuanya.”


“Betrand, sekarang aku mau tanya sama kamu, apa perceraian kamu dengan istri kamu sudah selesai?”


Betrand menggelengkan kepalanya, “aku hanya tinggal menunggu keputusan dari pengadilan. Tapi, walaupun begitu, dalam agama, aku dan dia sudah bercerai, karena aku sudah men-talak tiga ke dia.”


Vika membulatkan kedua matanya, “apa? sejak kapan?”


“Sebelum aku keluar dari rumah itu.”


“Betrand, kenapa kamu melakukan semua ini? Apa salah wanita itu sama kamu, hingga kamu memperlakukan dia seperti itu?”


“Kesalahan terbesar dia adalah karena dia mau menerima perjodohan itu, padahal aku sudah mengatakan padanya kalau aku mempunyai kekasih dan aku sangat mencintai kekasih ku itu, tapi dia sama sekali tidak peduli dan ingin meneruskan perjodohan itu.”


“Tapi meskipun begitu, dia pasti mempunyai alasan, kenapa dia sampai melakukan itu.”

__ADS_1


“Aku tahu, tapi aku tidak peduli.” Betrand lalu beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya mendekati Vika, lalu duduk berjongkok di depan wanita itu, “Vik, aku mohon. Sekali ini saja beri aku kesempatan. Aku ingin kamu berada di sampingku, mendukungku, memberikan aku semangat untuk melalui semua cobaan ini.”


Vika menghela nafas, “berdirilah, jangan seperti ini,” pintanya.


Betrand menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan berdiri, sampai kamu mau memberikan aku kesempatan kedua,” kukuhnya.


“Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi, tapi tolong...aku ingin kamu menyelesaikan masalah kamu terlebih dahulu. Aku tidak ingin di cap sebagai pelakor.”


Betrand menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak berdiri dan duduk di samping Vika. Pria itu lalu menggenggam tangan Vika dan mengecupnya, “terima kasih, aku janji, aku akan segera menyelesaikan perceraian ku, setelah itu aku akan kembali lagi padamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Vika tersenyum, dia lalu menganggukkan kepalanya, “lalu, bagaimana dengan kedua orang tua kamu, bukankah mereka tidak setuju dengan hubungan kita?” tanyanya cemas.


“Kamu tidak perlu khawatir, itu semua biar aku yang urus. Jika mereka tetap tidak merestui hubungan kita, aku tetap dengan keputusan aku, aku akan segera menikahi mu, aku juga tidak peduli jika mereka tidak menganggap ku sebagai anak mereka lagi.”


Vika menggelengkan kepalanya, “tapi bukan itu yang aku mau. Aku tidak mau, hanya gara-gara aku, hubungan kamu dengan kedua orang tua kamu jadi merenggang.”


“Sayang, lihat aku...” Vika menatap kedua mata Betrand, “demi kamu, aku akan merelakan apapun, termasuk aku harus kehilangan status anak dari kedua orang tuaku, karena bagiku, kamu adalah segala-gala nya. Aku tidak peduli orang akan menghinaku seperti apa, yang terpenting aku bisa bersama denganmu,” ucap Betrand dengan senyuman di wajahnya.


“Dasar! Dari dulu sampai sekarang kamu tidak pernah berubah, keras kepala!”


“Jika aku tidak keras kepala, aku tidak akan pernah bisa mendapatkan kamu lagi.”


Alex sudah kembali ke rumah utama, saat ini dia sedang berada di ruang tengah bersama dengan Vera, Dion, dan Chelsea. Vera menanyakan tentang bulan madu mereka, dia juga mengatakan keinginannya, yaitu melihat Chelsea hamil dan memberinya cucu.


“Mama tenang saja, Alex dan Chelsea sedang berusaha, semoga tidak akan lama lagi, akan mendapatkan kabar gembira,” ucap Alex sambil menggenggam tangan Chelsea.


“Mama akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian,” ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.


Saat mereka sedang asyik mengobrol, Veon masuk ke dalam rumah, dia baru saja pulang dari kantor. Veon langsung menuju kamarnya, tapi sebelum masuk ke dalam kamar, dia melihat Alex dan Chelsea yang sedang mengobrol dengan kedua orang tuanya.


Veon pun melangkahkan kakinya menuju ruang tengah, “kalian sudah pulang?” tanyanya sambil berjalan mendekat.


“Ya...kami tiba tadi siang,” ucap Alex.


Veon lalu mendudukkan tubuhnya di sofa tunggal, “oya, Lex, aku sebenarnya ingin memberitahu kamu ini sebelum kamu berangkat bulan madu, tapi aku menundanya. Tapi, sekarang aku akan mengatakannya.”


“Soal apa, Kak?” tanya Chelsea penasaran.


“Hanya soal kerjasama perusahaan kakak dengan perusahaan suami kamu, kakak bangga dengan kinerjanya. Hasilnya sangat memuaskan, kakak berencana untuk menawarkan kerjasama lagi kepada suami kamu, itupun kalau suami kamu mau,” ucap Veon sambil menatap Alex.


Chelsea lalu mengalihkan tatapannya ke arah Alex, “sayang, apa jawaban kamu? Bukankah kamu pernah bilang sama aku kalau kamu suka bekerja sama dengan kakak aku?”

__ADS_1


Alex menganggukkan kepalanya, “tentu saja aku akan menerima tawaran bagus itu, mana mungkin aku bisa menolaknya sayang,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Veon tersenyum, “baiklah, saat Zaki kembali nanti, aku akan mengirimkan berkas-berkasnya.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya, “kalau begitu Veon ke kamar dulu, Ma, Pa,” pamitnya lalu melangkahkan kakinya menjauh.


Veon membuka pintu kamarnya secara perlahan, dia melihat Kania sedang duduk di tepi ranjang sambil menyusui Noel, “hai, sayangku,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar.


“Noel, sayang, Papa kamu sudah pulang sayang,” ucap Kania sambil mengusap lembut pipi gembul Noel.


Veon meletakkan tas kerjanya di samping Kania, dia lalu duduk berjongkok di depan istrinya itu, “halo jagoan Papa,” ucapnya lalu mengecup pipi Noel.


“Sayang, kamu pasti capek, lebih baik kamu mandi dulu, baru kamu main sama Noel.”


“Aku kangen banget sama Noel, sejak aku tidak bisa pulang untuk makan siang, waktu aku untuk bertemu dengan Noel berkurang. Pokoknya malam ini aku mau main sama Noel.”


“Iya, tapi kamu juga harus ingat, besok kamu juga harus kerja, jadi tidurnya jangan malam-malam.” Kania lalu beranjak dari duduknya dan meletakkan Noel di atas ranjang, “lebih baik sekarang kamu mandi, aku akan siapkan makan malam dulu,” ucapnya.


Veon menganggukkan kepalanya, dia lalu beranjak berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Kania mengambil tas kerja Veon, dia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu penghubung ke ruang kerja Veon. Kania lalu meletakkan tas kerja Veon ke atas meja kerjanya, saat dia meletakkan tas itu ke atas meja, dia melihat ada pigura foto yang berada di tong sampah.


Kania mengambil pigura foto itu, “ini kan...” wanita itu lalu membawa pigura foto itu ke dalam kamar. Dia menunggu sampai Veon selesai mandi, untuk menanyakan tentang foto itu.


Veon yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandi, “sayang, ada apa? katanya mau membuatkan aku makan malam?” tanyanya sambil berjalan mendekat.


Kania memberikan pigura itu kepada Veon, “sekarang jelaskan, maksud semua ini apa?”


Veon mengernyitkan dahinya, “kamu mendapatkan ini dari mana?”


“Dari ruang kerja kamu.”


“Aku bukannya mau menyimpan foto ini, tapi aku menemukan foto itu berada di dalam laci ruang kerjaku, makanya aku langsung membuangnya di tong sampah.” Veon memeluk Kania, “maafkan aku, aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyimpan foto itu. Aku kira dulu aku sudah membuangnya, tapi aku lupa jika aku menaruhnya di dalam laci meja kerjaku.”


Veon lalu melepaskan pelukannya, “kamu percaya padaku kan? Kalau hanya kamu yang aku cintai?”


Kania tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “aku percaya, aku menanyakan itu sama kamu, hanya ingin tahu, apa alasan kamu masih menyimpan foto wanita itu. tapi, aku masih percaya sama kamu,” ucapnya.


“Terima kasih, sayang. Terima kasih,” ucap Veon lalu mengecup punggung tangan Kania.


“Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam untuk kamu dulu,” ucap Kania lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar.


Veon lalu membuang pigura itu ke dalam tong sampah, “aku tidak mau gara-gara foto ini, hubungan aku dan Kania jadi hancur. Bella hanya masa lalu aku, dan akan tetap seperti itu, aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku.”


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2