
Alex saat ini tengah duduk bersama dengan Betrand di salah satu kursi penunggu yang berada di depan ruang pemeriksaan tempat Chelsea di periksa. Dia tengah menunggu dokter yang sedang memeriksa Chelsea di dalam ruangan pemeriksaan itu.
Alex duduk sambil terus meremas jemari-jemari tangannya, dia terlihat sangat panik. Terlihat sangat jelas, jika Alex sangat mencemaskan istrinya, dia begitu takut terjadi apa-apa dengan wanita yang sangat dia cintai selama ini.
Betrand yang diminta Vika untuk menemani Alex pun dengan setia berada di samping sahabatnya itu. Pria itu terus mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu agar tenang dan mengatakan jika Chelsea baik-baik saja.
“Lex, tenanglah, aku yakin Chelsea baik-baik saja.”
Tatapan mata Alex terus menatap ke pintu ruangan yang masih tertutup rapat itu, “aku...aku takut, aku tidak mau sampai Chelsea kenapa-napa. Aku...aku merasa sangat bersalah, selama ini aku sudah membohonginya. Aku tidak ingin kehilangan Chelsea lagi.” Pria itu menyatukan kedua telapak tangannya untuk menutup wajahnya, dengan kedua lengannya yang dia tumpu pada kedua pahanya.
Betrand menepuk bahu Alex, “apapun yang kamu lakukan, aku yakin, kamu pasti mempunyai alasan tersendiri, karena aku yakin, kamu tidak akan melakukan kesalahan yang sama yang akan menyakiti Chelsea lagi.”
Tak lama setelahnya pintu ruangan itu mulai terbuka, Alex dan Betrand bergegas untuk menemui dokter yang keluar dari ruangan itu.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Apa istri saya baik-baik saja? Kenapa dia tiba-tiba tidak sadarkan diri? dia sebenarnya sakit apa, Dok?” Alex bertanya secara bertubi-tubi tanpa memberikan waktu dokter itu untuk menjawab lebih dulu.
“Lex, tenanglah, jika kamu seperti ini, justru kamu yang akan membuat Chelsea cemas nanti.”
Dokter itu menggelengkan kepalanya, “saya mohon, bapak yang tenang. Istri anda baik-baik saja, Nyonya Chelsea juga tidak sakit apa-apa. Beliau hanya kelelahan, pikirannya terlalu stres.”
Alex seketika lega saat mendengar jika Chelsea baik-baik saja, “lalu kenapa istri saya tidak sadarkan diri, Dok? dia tadi masih baik-baik saja, tapi tiba-tiba dia tidak sadarkan diri.”
“Seperti yang saya bilang tadi, karena faktor kelelahan, pikiran yang stres, kurangnya istirahat.” Dokter itu lalu menghela nafas, “saya minta kepada anda, untuk lebih memperhatikan istri anda, apalagi saat ini istri anda sedang hamil muda, dan itu sangat riskan jika sang calon Ibu sampai tidak menjaga kondisi tubuhnya.”
Kedua mata Alex dan Betrand seketika membulat dengan sempurna. Mereka mencoba mencerna kata-kata yang baru saja dokter itu katakan. Keningnya mengerut, “hamil, Dok?” tanyanya memastikan.
__ADS_1
“Iya, Pak. Saat ini istri anda sedang mengandung.”
“Maksud Dokter, istri saya saat ini sedang hamil anak saya?” tanya Alex lagi, dia benar-benar belum bisa yakin dengan apa yang dokter itu katakan, mengingat kondisinya saat ini.
“Dokter tidak sedang bercanda kan? istri saya benar-benar sedang hamil?” Alex bertanya dengan wajah serius, takut jika dirinya hanya salah mendengar dan terlalu berharap jika Chelsea benar-benar sedang hamil.
“Tidak, Pak. Istri anda memang saat ini memang sedang mengandung. Saya kira anda sudah mengetahui kehamilan istri anda saat ini.”
Alex menggelengkan kepalanya, “saya tidak tau. Selama ini saya dan istri saya memang sangat ingin mempunyai anak, tapi sampai sekarang kami belum juga diberi keturunan.”
Dokter itu tersenyum, “kalau begitu saya mengucapkan selamat untuk anda, karena sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah, apa yang anda dan istri anda harapkan akan menjadi kenyataan.” Dokter itu lalu mengulurkan tangannya kepada Alex.
Mendengar apa yang dokter itu katakan membuat kedua sudut mata Alex mulai di penuhi cairan bening, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia tidak menyangka, akhirnya dia bisa membuat Chelsea hamil. Usahanya selama ini tidak sia-sia. Alex lalu segera menjabat tangan dokter itu dan mengucapkan terima kasih.
“Kalau begitu, kita tinggal menunggu Nyonya Chelsea sadar, lalu kami akan melakukan USG dan memastikan perkembangan sang janin. Kalau begitu saya permisi dulu.” Dokter itu lalu pergi meninggalkan Alex dan Betrand.
Alex masih diam mematung di depan pintu ruangan pemeriksaan itu. Apa yang baru saja dia dengar adalah kabar gembira, tapi dia masih tidak percaya, ‘apa Chelsea benar-benar hamil? Apa pengobatan aku selama ini berhasil?’ gumamnya dalam hati.
Betrand menepuk bahu Alex, “hai, kenapa kamu malah bengong? Apa kamu tidak bahagia setelah mendengar kabar yang sangat menggembirakan ini?”
Alex menggelengkan kepalanya, “bukan begitu, tapi...tapi semua ini masih bagaikan mimpi buatku.”
Betrand lalu mencubit lengan Alex dan membuat pria itu meringis kesakitan, “sakit kan? Itu berarti ini bukan mimpi. Lebih baik sekarang kamu temui Chelsea, aku akan memberitahu Vika kabar gembira ini.”
Betrand lalu melangkah pergi meninggalkan Alex, dia sudah tidak sabar ingin memberitahu Vika kabar yang sangat menggembirakan ini. Alex memberikan diri untuk masuk ke dalam ruang perawatan itu, dia melihat Chelsea masih terbaring tak sadarkan diri di ranjang pasien.
__ADS_1
Kedua mata Alex kini menatap pada wajah pucat Chelsea, menatap haru wajah istrinya yang masih belum sadarkan diri. Pria itu lalu menatap perut datar Chelsea dan mulai mengusapnya dengan lembut, “apa aku akan benar-benar menjadi seorang Ayah?”
Alex belum bisa mempercayai semua ini, padahal selama ini tidak ada tanda-tanda kalau Chelsea hamil, “apa karena aku terlalu sibuk dengan urusan perusahaan dan juga Veon, hingga aku tidak memperhatikan Chelsea lagi?”
Alex kembali mengusap perut rata Chelsea dan mencium perut Chelsea, setelah itu dia beralih mengecup kening Chelsea agak lama. Alex lalu mengambil kursi yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan meletakkannya di samping ranjang Chelsea.
Alex lalu mendudukkan tubuhnya di kursi itu, lalu dia menggenggam tangan wanita itu dan mengecupnya, “sayang, terima kasih. Terima kasih kamu sudah bersabar selama ini. Akhirnya penantian kita selama ini tidak sia-sia sayang, kita akan segera menjadi orang tua. Rumah kita akan ramai dengan tangis dan tawa anak kecil.” Pria itu mengecup punggung tangan wanita itu bertubi-tubi, hingga air matanya membasahi punggung tangan Chelsea.
Chelsea yang merasakan punggung tangannya basah, mulai membuka kedua matanya secara perlahan. Dia lalu memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Saat kedua mata Chelsea terbuka dengan sepenuhnya. Kedua matanya mulai menyesuaikan dengan cahaya lampu yang sangat menyilaukan kedua matanya.
“Lex, aku dimana ini? Kenapa aku bisa ada disini, bukannya kita sedang menemani Vika melahirkan?” Alex membantu Chelsea yang ingin bangun dan menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang dengan menaruh bantal di belakang punggung Chelsea.
“Tadi kamu tiba-tiba pingsan, jadi aku membawamu kesini. Apa yang kamu rasakan saat ini, apa kamu masih pusing?” Alex menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Chelsea, “sayang, maafkan aku. akhir-akhir ini aku selalu sibuk, hingga aku sudah tidak memperhatikan kamu lagi, maafkan aku.”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “kenapa kamu menyalahkan diri kamu sendiri? ini semua karena aku tidak bisa menjaga diri aku sendiri. Akhir-akhir ini aku terlalu stres, dalam satu tahun, Vika bisa langsung hamil, sedangkan aku...ini sudah tiga tahun, tapi aku belum juga hamil. Aku bahkan sudah tidak peduli dengan apapun lagi, bahkan kondisi tubuhku sendiripun tidak aku pedulikan,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.
Alex mengeratkan genggaman tangannya, “sayang, aku punya kabar gembira untuk kamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Chelsea mendongakkan wajahnya, dia tatap wajah bahagia suaminya, “apa itu?” tanyanya penasaran.
~oOo~
__ADS_1