Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Rasa takut


__ADS_3

Setelah perdebatan panjang, akhirnya mereka kembali akur. Veon selalu mengikuti kemanapun Kania pergi, hingga membuat wanita itu sangat kesal dibuatnya.


“Apa kamu tidak bisa duduk tenang? Kenapa kamu terus mengikuti aku?”


Veon tersenyum, “aku lapar, sejak tadi malam aku belum makan,” ucapnya sambil menyengir kuda.


“Astaga, kenapa kamu tidak bilang dari tadi.” Kania lalu membuka lemari pendingin, “ya...stok bahan makanan sudah habis,” ucapnya.


Veon menutup pintu lemari pendingin itu, dia lalu merangkul pundak Kania, “bagaimana kalau kita makan di luar saja, aku ingin menghabiskan waktu bersama denganmu,” pintanya.


“Ya udah deh, selain itu aku juga sangat lapar. Gara-gara kamu, aku jadi melewatkan makan siang aku.” Kania mengerucutkan bibirnya.


Veon lalu mengecup bibir tipis itu, “aku akan membuat perut kamu kenyang, ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya.


Kania tersenyum, dia lalu menganggukkan kepalanya. Veon menggandeng tangan Kania dan mengajaknya keluar dari rumah. Entah mengapa hanya dengan perlakukan Veon yang seperti itu sudah sangat membuat Kania bahagia.


“Kita mau makan dimana, Tuan?” tanya Zaki saat dia sudah mulai melajukan mobilnya.


“Ke restoran Mas Rega saja, disana makanannya enak-enak.” Kania sudah membayangkan menyantap makanan kesukaannya.


“Aku tidak mau, kita cari restoran lain saja,” tolak Veon tegas.


“Tapi kenapa, disini restoran yang paling dekat hanya punya Mas Rega, kenapa kita harus mencari yang lain?”


“Karena itu restoran pria itu, aku tidak suka.” Veon melipat kedua lengannya di dada.


Kania tersenyum, “apa kamu cemburu?” godanya.


“Siapa juga yang cemburu,” elak Veon sambil memalingkan wajahnya.


“Lucunya,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya. “Zak, kita tetap ke restoran Mas Rega, kalau tidak ke sana aku tidak mau makan,” ancamnya kemudian.


“Baik, Nona.” Zaki melirik Veon dari kaca spion di depannya, ‘Tuan, kalau sedang cemburu lucu juga,’ gumamnya dalam hati.


Tidak perlu waktu lama, mereka pun sudah sampai di restoran Rega. Veon enggan untuk keluar dari mobil.


Kania menyentuh lengan Veon, “ayo kita turun, katanya kamu sudah lapar,” ajaknya.


“Aku tidak akan turun.” Veon bersikukuh untuk tetap duduk di tempatnya.


“Aku sudah lapar ini, apa kamu tidak kasihan sama aku.” Kania menampakkan wajah imutnya, berharap Veon akan terbujuk rayuannya, tapi hasilnya tetap sama saja.


Kania sedang memikirkan bagaimana cara membujuk Veon agar mau keluar dari mobil, ‘apa aku harus memberitahu Veon tentang kehamilan aku ya? Tapi aku takut dia akan menolak anak ini,’ gumamnya dalam hati.


“Kalau kamu lapar, kamu bisa makan sendiri. Aku tidak mau makan di tempat ini.” Veon berbicara tanpa menatap wajah Kania.


Kania menarik wajah Veon agar menatapnya, “ada sesuatu yang ingin aku tanyakan sama kamu,” ucapnya.


“Apa?” Veon menampakkan wajah datarnya.

__ADS_1


“Apa kamu benar-benar mencintaiku?”


“Apa kamu masih meragukan perasaan aku?”


Kania menggelengkan kepalanya, “aku percaya, tapi aku mempunyai satu permintaan sama kamu,” pintanya.


“Apa itu?”


“Apa kamu menyukai anak kecil?”


Veon mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu menanyakan itu?” tanyanya penasaran.


“Aku hanya ingin tau, aku harap kamu akan menjawabnya dengan jujur.”


Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak suka anak kecil, mereka itu sangat merepotkan,” ucapnya.


Kania terlihat sangat kecewa mendengar jawaban Veon, “apa kamu benar-benar membenci anak kecil?” tanyanya dengan nada rendah. Bahkan hampir tidak terdengar oleh Veon, tapi pria itu memiliki pendengaran yang tajam.


“Aku tidak membenci anak kecil, hanya saja aku tidak suka dengan sikap mereka, apa kamu tidak tau kalau anak kecil itu sungguh sangat merepotkan?”


Kania menepiskan senyumannya, dia mencoba menyembunyikan rasa kecewanya, “kalau kamu tidak suka anak kecil, apa berarti kamu tidak ingin mempunyai anak?” tanyanya.


Veon semakin di buat bingung dengan tingkah Kania saat ini yang tiba-tiba membahas soal anak kecil, “anak ya...aku juga tidak tau, apa aku akan siap untuk mempunyai seorang anak? Sedangkan aku sendiri...” pria itu menghentikan ucapannya, dia lalu menatap kedua mata Kania, “sebenarnya ada apa, kenapa kamu tiba-tiba membahas soal anak?” tanyanya kemudian.


Kania menggelengkan kepalanya, “bukan apa-apa. Zak...kita cari restoran lain saja, aku tidak mau berdebat lagi.” Wanita itu mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


***


 


Setelah selesai makan, mereka kembali ke rumah Rega. Kania ingin berpamitan dengan Eca dulu sebelum pergi dari rumah itu. Bagaimanapun juga, Eca adalah orang yang paling berjasa saat dirinya sedang membutuhkan pertolongan.


“Sayang, kenapa teman kamu itu lama sekali, aku sudah sangat lelah menunggu ini,” keluh Veon sambil menguap.


Kania menggeleng pelan, “kalau kamu sudah mengantuk, lebih baik kamu istirahat dulu di kamar,” ucapnya.


Veon merangkul pundak Kania, “temani aku ya,” pintanya dengan senyuman di wajahnya.


Kania menatap Zaki yang saat ini juga tengah menatap ke arahnya, “apa kamu tidak malu bersikap seperti ini di depan Zaki?” candanya.


Veon menatap Zaki yang kini berpura-pura untuk menatap ke arah lain, dan itu membuat Kania tersenyum, “jangan hiraukan dia, anggap saja dia tidak ada,” ucapnya sambil mencium pipi Kania.


‘Memangnya aku hantu apa, tidak kelihatan wujudnya!’ gerutu Zaki dalam hati.


“Jangan begitu dong, aku tidak enak sama Zaki.”


“Zak, apa kamu keberatan jika aku ingin berduaan dengan istri aku?”


Zaki menggelengkan kepalanya, “tentu saja tidak, Tuan. Tuan boleh melakukan apa saja dengan Nona Kania,” ucapnya sambil menatap ke arah Kania.

__ADS_1


Kania membulatkan kedua matanya, ‘apa-apaan sih Zaki, awas saja nanti, aku akan bikin perhitungan dengannya,’ gumamnya dalam hati.


“Saya akan menunggu di luar, saya permisi dulu.” Zaki beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan keluar dari rumah itu.


Veon beranjak dari duduknya dan menarik tangan Kania menuju kamar yang biasa Kania tempati. Pria itu lalu mendudukkan Kania di tepi ranjang, “sayang, aku bahagia banget, akhirnya aku bisa menemukan kamu,” ucapnya sambil berjongkok di depan Kania.


“Maafkan aku, tidak seharusnya aku langsung percaya dengan ucapan Bella waktu itu.”


Veon mengecup punggung tangan Kania, “tapi, dengan kepergian kamu itu, aku bisa menyadari kesalahan aku selama ini. Dan aku bisa menyadari perasaan aku selama ini padamu, aku minta maaf, karena aku baru menyadarinya,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Kania meminta Veon untuk duduk di sampingnya, “semua itu sudah berlalu, aku ingin melupakan semuanya dan membuka lembaran yang baru,” ucapnya.


Veon menatap dalam wajah cantik Kania, wajah yang sangat dia rindukan selama ini. Tatapan matanya dia alihkan ke bibir tipis itu, bibir yang mampu membuatnya candu. Tanpa aba-aba, dia langsung membenamkan bibirnya di bibir tipis itu. Ciuman itu sangat lembut, hingga membuat Kania terbuai.


Veon menarik tengkuk Kania untuk memperdalam ciumannya, dengan mencecapi, menggigit pelan bibir tipis itu tanpa melewatkan seincipun. Kania menyadari jika ciuman itu kini sudah tidak selembut tadi, ciuman itu semakin panas.


Lidah mereka mulai bertautan, mengecap rasa manis manis dan kelembutan masing-masing. Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Veon mulai menelusup masuk ke dalam baju yang Kania pakai. Kania yang terbuai dengan perlakukan Veon, tidak menyadari jika tangan itu sudah mulai meraba punggungnya dengan lembut.


Kania mendesah tertahan, karena mulutnya tertutup mulut Veon yang terus mencecapi bibirnya, mengeksplor setiap jengkal rongga mulutnya. Kania dibuat melayang oleh sentuhan-sentuhan lembut tangan Veon. Hal yang sudah lama tidak dia rasakan, hasrat yang dia pendam selama ini meminta untuk di salurkan.


Kini tangan Veon beralih mengusap perut Kania, pria itu merasa ada yang janggal dengan perut istrinya itu. Seketika Veon melepaskan bibirnya dari bibir Kania, dia tatap kedua mata Kania yang masih terpejam dengan nafasnya yang memburu.


“Sayang, buka mata kamu.”


Dengan nafas yang masih memburu, Kania mulai membuka kedua matanya secara perlahan, kedua mata mereka pun saling bertemu tatap, “ada apa?” tanyanya bingung.


Veon kembali mengusap perut Kania. Kania yang menyadari itu dan langsung mendorong tubuh Veon, dia lalu beranjak dari duduknya, “a—ku...” wanita itu terlihat sangat gelisah, dia takut Veon tidak akan mau menerima kehamilannya.


Veon beranjak dari duduknya, dia lalu memegang kedua bahu Kania, “apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.


“A—ku...” Kania menggelengkan kepalanya, “t—tidak ada,” elaknya gugup.


Veon menarik tubuh Kania dan membalikkan tubuh itu, dia peluk Kania dari belakang, dia menopangkan dagunya di bahu Kania, “kalau tidak ada yang kamu sembunyikan lalu kenapa kamu begitu gugup?” pria itu lalu menaikkan baju yang Kania pakai, hingga membuat Kania membulatkan kedua matanya.


Kania mencoba memberontak, tapi dia tidak bisa, Veon memeluknya dengan sangat erat. Kania hanya bisa pasrah saat Veon berhasil meloloskan baju yang dia pakai.


Veon membalikkan tubuh Kania untuk menghadapnya, dia lalu menatap perut Kania yang sudah mulai terlihat membuncit, “yakin, tidak ada yang kamu sembunyikan dari aku?” tanyanya lagi.


Kania melangkahkan kakinya mundur, “a—pa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan membunuhnya?” tanyanya sambil menatap kedua mata Veon.


Veon mengernyitkan dahinya, “apa maksud kamu?” tanyanya tidak mengerti.


“Bukankah kamu tidak suka anak kecil? Bagimu anak kecil itu sangat merepotkan, dan kamu juga belum siap untuk mempunyai anak, apa kamu akan membunuhnya?” kedua sudut mata Kania mulai dipenuhi cairan bening.


“Apa kamu sekarang sedang...”


“Ya...aku sedang hamil, aku mengandung anak kamu! Meskipun kamu tidak menginginkan anak ini, aku tetap akan melahirkannya!” teriak Kania keras.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2