
Vera membawa Veon masuk ke dalam kamar, sedangkan Mila dan Neti pulang kerumah. Serly, Santo, Dion dan Tantri duduk di ruang tamu..
" Ma..Pa, apa salah Tantri hingga kalian memperlakukan Tantri seperti ini ?" Tanya Tantri.
" Tan, sikap kamu kali ini sudah keterlaluan, kenapa kamu selalu menyalahkan Vera? dia tidak salah apa-apa. Asal kamu tau, justru karena Vera lah yang membuat Veon bahagia, Veon bisa merasakan kasih sayang yang belum pernah dia rasakan. Vera begitu tulus menyayangi Veon, tapi kamu telah menuduhnya yang bukan-bukan." Ucap Serly.
" Tantri ini Mama kandungnya Veon, tapi Veon lebih menyayangi Vera. Tantri nggak terima Ma." Ucap Tantri kesal.
" Kenapa kamu nggak terima? dimana kamu disaat Veon membutuhkan kamu? selama ini kamu hanya mentingin ego kamu sendiri. Walaupun kita udah cerai, aku nggak pernah melarang kamu untuk bertemu Veon karena aku tau Veon masih sangat membutuhkan kasih sayang kamu. Tapi kamu lebih mentingin diri kamu sendiri, yang seharusnya disalahkan itu kamu, kamu sendiri yang menjauhkan diri dari Veon!" Seru Dion marah.
" Dion cukup! kalau kalian masih tetap seperti ini masalah nggak akan pernah selesai!" Teriak Santo geram.
Dion mencoba untuk menahan emosinya, ia tau ini bukan waktu yang tepat untuk melupkan amarahnya.
" Sekarang aku mau tanya, mau kamu apa?" Tanya Dion.
" Aku mau tinggal bersama Veon, aku ingin membawa Veon ke,rumah aku." Ucap Tantri.
" Nggak boleh!" Teriak Vera dari arah belakang.
Vera berjalan menuju ruang tamu..
" Aku nggak akan mengizinkan kamu membawa Veon pergi!" Seru Vera.
" Kamu nggak berhak melarang aku, aku adalah ibu kandungnya." Ucap Tantri.
Vera berjalan mendekati Dion, ia tidak akan membitkan siapapun membawa Veon pergi darinya, walau itu Mama kandungnya.
" Sayang..jangan biarkan Tantri membawa Veon pergi, aku nggak bisa jauh dari Veon." Pinta Vera sambil duduk disamping Dion.
" Kamu nggak usah khawatir sayang, aku nggak akan mengizinkan Tantri untuk membawa Veon." Ucap Dion sambil memeluk Vera.
" Kamu nggak berhak melarang aku Dion!" Teriak Tantri.
" Aku berhak melarang kamu, karena hak asuh Veon ada ditangan aku. Aku mengizinkan kamu bertemu Veon bukan berarti kamu boleh membawanya pergi dari sini." Ucap Dion.
" Ok..aku nggak akan membawa Veon pergi, tapi kamu harus mengizinkan aku tinggal disini karena aku mau dekat dengan anak aku." Ucap Tantri dengan senyuman liciknya.
Dion membulatkan kedua matanya, ia merasa sangat geram. Tantri sengaja memanfaatkan situasi ini demi keuntungannya sendiri.
" Kamu mau tinggal disini! Gila apa! aku nggak akan membiarkan kamu menyakiti Vera lagi. Aku tau ini hanya akal-akalan kamu agar kamu bisa menyakiti Vera." Guman Dion dalam hati.
" Kamu mau tinggal disini berapa lama?" Tanya Santo.
" Satu minggu aja Pa, karena Tantri hanya punya waktu satu minggu sebelum Tabtri balik lagi ke LA." Ucap Tantri.
" Gimana Dion, apa kamu setuju dengan permintaan Tantri? " Tanya Santo.
" Nggak! Dion nggak akan membiarkan Tantri tinggal disini lagi." Ucap Dion marah.
__ADS_1
" Kalau begitu kamu harus menyerahkan Veon sama aku selama satu minggu, aku ingin tinggal sama anak aku. Aku juga punya hak atas Veon." Ucap Tantri.
" Sayang, aku mohon biarkan Tantri tinggal disini. Aku nggak mau Veon pergi dari sini." Bujuk Vera.
" Tapi sayang aku nggak mau kamu tersakiti lagi dengan sikap Tantri." Ucap Dion cemas.
" Aku nggak akan membiarkan Tantri menyakiti aku lagi, kamu nggak usah khawatir." Ucap Vera sambil mengusap lembut pipi Dion.
" Apa kamu yakin dengan keputusan kamu?" Tanya Dion memastikan. Karena ini keputusan yang sangat sulit untuknya.
" Ya, hanya ini jalan satu-satunya agar Tantri nggak membawa Veon pergi." Ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.
Sebenarnya Dion nggak mau mengambil keputusan itu, ia takut Tantri akan menyakiti Vera lagi, Tantri itu orang yang berhati licik, tapi Dion nggak punya pilihan lain selain menerima tawaran Tantri. Dion mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
" Baiklah, kamu boleh tinggal disini selama satu minggu setelah itu aku nggak ingin kamu menginjakkan kaki kamu di rumah ini lagi." Ucap Dion.
" Kalau soal itu aku nggak bisa menurutinya, aku akan tetap datang ke rumah ini karena anak aku tinggal disini." Tolak Tantri.
" Apa kamu nggak tau malu datang ke rumah orang sedangkan orang itu nggak menerima kedatangan kamu!" Sindir Dion.
" Aku nggak perduli, yang penting aku bisa ketemu sama anak aku." Ucap Tantri.
" Sayang udah, kamu turuti aja kemaunan Tantri, aku nggak mau ini masalah sampai berlarut-larut." Ucap Vera.
" Baiklah sayang, Tan kamu boleh tinggal disini. Kamu boleh tidur di kamar tamu." Ucap Dion.
" Nggak! aku mau tidur sama anak aku di kamar kita yang dulu." Ucap Tantri.
" Maksud kamu apa?" Tanya Tantri sambil mengeryitkan dahinya.
Bagaimana bisa, kamar yang begitu luas dan terkesan mewah bisa berubah menjadi sebuah gudang.
" Kamar yang dulu kamu pakai sekarang sudah menjadi gudang." Ucap Dion
" Kenapa? bukannya itu dulunya kamar kamu?" Tanya Tantri penasaran.
" Karena aku nggak mau tidur di kamar bekas kamu!" Seru Dion.
Hati Tantri semakin tambah sakit, ia tidak menyangka Dion akan setega ini sama dia.
" Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini Dion? apa salah aku sama kamu?" Guman Tantri dalam hati.
" Ya udah, karena masalah sudah selesai, Mama dan Papa mau tidur dulu." Ucap Serly lalu berdiri.
Serly dan Santo berjalan meninggalkan ruang tamu.
" Sayang ayo kita tidur." Ajak Dion sambil merangkul Vera dan melangkah pergi.
" Dion tunggu!" Teriak Tantri.
__ADS_1
Dion dan Vera menghentikan langkahnya, mereka membalikkan tubuhnya menatap Tantri.
" Mau apa lagi?" Tanya Dion kesal.
" Izinkan aku tidur sama Veon." Ucap Tantri.
" Gimana sayang?" Tanya Dion sambil menatap kedua mata indah Vera.
" Ya udah nggak apa-apa. Tantri juga berhak atas Veon asal Tantri nggak membawanya pergi dari sini." Ucap Vera.
" Ok..kamu bisa tidur sama Veon dikamarnya." Ucap Dion.
Dion melihat kesedihan di,wajah Vera. Ia lalu memeluk Vera dengan sangat erat.
" Udah nggak usah sedih, mendingan kita bikin adik buat Veon." Goda Dion sambil mengedipkan sebelah matanya.
" Kamu ini ya, orang lagi sedih malah diajak bercanda." Ucap Vera sambil memukul dada Dion.
" Aww..sakit sayang." Teriak Dion dengan suara di buat-buat.
" Syukurin, salah siapa mesum." Ucap Vera sambil tersipu malu.
" Mesum-mesum gini tapi kamu suka kan, buktinya setiap malam kamu menikmatinya." Goda Dion sambil melingkarkan tangannya kepinggang Vera.
" Ya kan aku juga nggak bisa menolaknya keinginan suami kan itu kewajiban bagi istri." Ucap Vera sambil menunduk.
" Sayang, aku merindukan suara desahanmu." Ucap Dion sambil tersenyum manis.
" Ihhh apaan sih, aku kan malu." Ucap Vera semakin tersipu malu.
Tantri yang mendengar obrolan Vera dan Dion semakin sakit hati, hatinya seakan tersayat-sayat.
" Dion..selama kita menikah kamu nggak pernah memperlakukan aku seperti itu, msnyentuhku pun kamu nggak pernah. Kamu seakan merasa jijik sama aku bila dekat-dekat denganku. Tapi saat bersama dengan Vera kamu bisa seperhatian ini, bahkan memberinya nafkah bathin. Kamu jahat Dion, aku membencimu!" Guman Tantri dalam hati.
" Tan, aku titip tolong jagain Veon, aku sama Vera mau bikin adik untuk Veon. Jangan pernah lewat pintu kamar kami kalau kamu nggak mau mendengar suara kenikmatan kami." Ucap Dion dengan menyungingkan senyumannya.
" Sayang, jangan gitu dong, kasian Tantri." Ucap Vera dengan senyuman tipisnya.
" Biarin aja." Ucap Dion sambil menarik tangan Vera dan masuk ke dalam kamar.
Tantri berjalan menuju kamar Veon. Ia merebahkan tubuhnya disamping Veon.
" Sayang, kenapa kamu bicara seperti itu di depan Tantri ?" Tanya Vera penasaran.
" Biar Tantri nggak menganggu kamu lagi, biar dia tau kalau kita udah bahagia." Ucap Dion lalu mengecup kening Vera.
" Ya tapi nggak harus kayak tadi aku kan malu." Ucap Vera.
" Kenapa harus malu? kita kan udah sah." Ucap Dion lalu memeluk tubuh Vera.
__ADS_1
šššš