Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Bukan salah kamu


__ADS_3

“Aku tau kamu tidak menginginkan anak ini, tapi aku tidak peduli.” Kania mengusap perutnya dengan lembut, “jika karena anak ini kamu ingin meninggalkan aku, aku akan menerimanya,” imbuhnya.


Veon membulatkan kedua matanya, dia masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, hamil...seorang anak, aku akan menjadi seorang ayah, fikirnya.


Kania mengambil kembali baju yang tadi sempat di buang oleh Veon, kemudian dia kembali memakai baju itu, “dengan kebungkaman kamu seperti itu, aku sudah tau apa yang akan kamu katakan.” Wanita itu lalu melangkah menuju pintu.


Veon menarik tangan Kania saat tangan itu mau menarik handle pintu itu, “aku belum mengatakan apapun, kenapa kamu bisa langsung mengambil kesimpulan?” tanyanya.


“Aku sudah tau apa yang ingin kamu katakan, bahkan tadi siang kamu mengatakannya dengan sangat jelas.”


Veon menangkup kedua pipi Kania dengan kedua telapak tangannya, “berapa usia kandungan kamu? Sejak kapan kamu mengetahui kehamilan ini?” tanyanya dengan nada serius.


Kania menepis kedua tangan Veon dari pipinya, “untuk apa kamu tanya semua itu? Sedangkan kamu tidak menginginkan anak ini!” serunya.


“Aku perlu tahu, bukankah dia juga anakku?”


“Tapi kamu tidak menginginkan anak ini, jadi anak ini hanya milikku!” Kania terus melangkah mundur, “jika kamu ingin membunuh anak ini, kamu harus membunuhku juga!” kedua mata Kania mulai mengalirkan cairan bening.


Veon melangkah maju, direngkuhnya tubuh Kania ke dalam dekapannya, “apa yang kamu katakan? Apa aku pernah mengatakan akan membunuh anak ini?” tanyanya dengan suara lembut.


“Kamu memang tidak mengatakan itu, tapi kamu pasti akan melakukan itu. Kamu akan menyuruhku untuk menggugurkan kandungan aku, karena kamu tidak menginginkan anak ini.” Kania berucap di sela tangisannya, dia masih berada di dalam dekapan Veon.


Veon mengecup puncak kepala Kania, “aku memang belum siap untuk memiliki anak, aku memang tidak suka dengan anak kecil, tapi itu bukan berarti aku akan membunuh anak aku sendiri,” ucapnya sambil memeluk erat tubuh Kania.


Kania mendongakan wajahnya menatap wajah tampan suaminya, “apa maksud kamu? Lalu apa kamu akan benar-benar meninggalkan aku, setelah mengetahui kehamilan aku ini?” tanyanya dengan tatapan sendunya.


Veon mengecup kening Kania, “mana mungkin aku akan meninggalkan kamu, apalagi ada anak aku di perut kamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Kania semakin tidak mengerti dengan apa yang Veon katakan, dia tidak suka dengan anak kecil, dia juga tidak menginginkan seorang anak, tapi semua yang dia katakan mengartikan sebaliknya.

__ADS_1


Veon menggenggam tangan Kania, “sayang...dengerin aku!” pria itu menatap lekat kedua mata wanita itu, “anak ini adalah anak aku, aku akan menerima kehadirannya. Aku akan lakukan apapun untuk kalian berdua, karena kalian adalah segala-galanya untukku,” ucapnya lalu mengecup punggung tangan Kania.


“Kamu tidak sedang membohongiku kan?”


Veon menggelengkan kepalanya, dia lalu duduk berjongkok di depan Kania. Kania sangat terkejut saat Veon mengusap perutnya dengan lembut, setelah itu memberikan ciuman bertubi-tubi pada perutnya. Terlihat senyuman merekah dari kedua sudut bibir Kania, dia berharap ini bukanlah mimpi, Veon benar-benar mau menerima kehadiran anak mereka.


“Sayang, berapa usia kandungan kamu sekarang?” Veon tidak henti-hentinya menciumi perut Kania hingga membuat Kania merasa geli sekaligus bahagia.


“Tiga bulan.”


“Apa selama ini dia rewel? Karena aku dengar wanita hamil itu sering mengalami mual dan muntah-muntah.”


“Itu dulu, tapi sekarang sudah tidak lagi.”


Veon beranjak berdiri, dia lalu memeluk tubuh Kania, “maafkan aku, di saat-saat seperti itu seharusnya aku mendampingi kamu,” ucapnya merasa bersalah.


“Kenapa kamu meminta maaf, ini bukan salah kamu. Aku tahu kalau aku hamil setelah aku pergi dari rumah, aku tidak memberitahu kamu karena aku takut, aku takut kamu akan meminta aku untuk menggugurkan kandungan aku ini.” Kania berucap sambil menundukkan wajahnya.


“Ya aku juga tidak tahu, tapi dengan sifat kamu yang seperti itu, siapa tau kamu benar-benar sanggup melakukan itu.” Kania mengerucutkan bibirnya.


“Dasar! Meskipun aku pria dingin dan kasar, tapi aku tidak akan pernah membunuh orang, apalagi itu anak aku sendiri.” Veon memeluk kembali tubuh Kania, “maafkan aku, tapi aku berjanji, aku akan menjaga kamu dan anak kita, tidak akan aku biarkan siapapun menyakiti kalian berdua,” ucapnya.


Kania memeluk tubuh Veon dengan sangat erat, “apa kamu bahagia karena kamu akan menjadi seorang ayah?” tanyanya.


Veon mengangguk pelan, “tentu saja aku bahagia, apalagi selama ini Papa dan Mama selalu menuntut aku untuk memberikan cucu untuk mereka. Mereka pasti akan sangat bahagia saat mendengar kabar kehamilan kamu,” ucapnya.


Kania melepaskan pelukannya, dia melupakan kabar tentang mertuanya, “apa Mama dan Papa tau tentang kepergian aku?” wanita itu bertanya dengan kepala yang menunduk.


Veon tersenyum, dia lalu mengajak Kania untuk duduk di tepi ranjang, “kenapa? Apa kamu merasa bersalah kepada mereka karena telah pergi dari rumah?”

__ADS_1


“Maafkan aku, aku tidak memikirkan perasaan Mama dan Papa saat aku meninggalkan rumah itu. Mereka pasti sangat membenciku, aku bukanlah menantu yang baik.” Kania mulai menyesali apa yang telah dia lakukan, hanya karena rasa cemburu dan sakit hati, dia telah menjadi orang yang egois.


Veon mengecup puncak kepala Kania, “mereka tidak membencimu, mereka sangat menyayangimu. Semua keluargaku sangat menyayangi kamu, tapi sayangnya orang yang mereka sayangi tidak memperdulikan perasaan mereka,” sindirnya.


Kania mulai menitihkan air mata, “maafkan aku, maafkan aku,” ucapnya berkali-kali.


Niat ingin menggoda Kania, tapi dirinya malah membuat wanita itu menangis. Veon menghapus air mata Kania, “sayang, aku tidak mengatakan apapun tentang kepergian kamu sama Mama dan Papa. Selama ini mereka taunya kamu menginap di rumah Papa kamu, jadi sampai sekarang mereka tidak mengetahui hal yang sebenarnya, tentang kepergian kamu dan juga tentang Bella,” ucapnya.


“Kenapa kamu melindungiku? Padahal aku sudah membuat kamu malu, dengan pergi dari rumah begitu saja.”


“Karena aku tidak ingin keluargaku berpikiran buruk tentang kamu, selain itu aku yakin, suatu saat nanti kamu akan kembali kepadaku, karena kita sudah ditakdirkan untuk terus bersama.” Veon lalu mengecup kening Kania.


Kania tidak menyangka Veon akan melakukan semua itu untuknya, selama ini dia mengira pria yang saat ini tengah mengecup punggung tangannya itu adalah pria yang berhati dingin dan tidak berperasaan, pria yang sama sekali tidak mengerti arti sebuah hubungan. Tapi ternyata semua itu salah, pria itu ternyata sangat peduli padanya, bahkan dia telah menjaga nama baiknya di depan kedua mertuanya.


“Kenapa kamu menatapku seperti itu?” tanya Veon saat melihat kedua mata indah itu yang terus menatapnya tanpa mengedipkan mata itu.


“Aku mencintaimu, aku sungguh sangat mencintaimu. Aku tidak akan pernah menyesal karena telah mencintaimu.”


“Jadi sebelum ini apa kamu pernah menyesal karena telah mencintaiku?” tanya Veon dengan mengernyitkan dahinya.


Kania menggelengkan kepalanya, “meskipun kamu sudah sangat menyakiti hati aku berulang-ulang kali, aku tetap tidak akan pernah menyesal karena telah mencintaimu. Sekarang rasa cinta itu semakin tumbuh, apalagi dengan hadirnya buah cinta kita,” ucapnya sambil mengusap perutnya.


“Aku juga sangat mencintaimu, meskipun aku terlambat menyadarinya, tapi cintaku ini tulus.” Veon mengecup puncak kepala Kania berkali-kali, meluapkan rasa kebahagiaan yang dia rasakan saat ini.


Di saat Kania dan Veon sedang saling mengungkapkan dan meluapkan rasa bahagianya, ada seorang pria yang terus menggerutu sambil menahan hawa dingin yang terasa menusuk di tulangnya.


“Mau sampai kapan mereka memadu kasih? Apa mereka benar-benar tidak menghiraukan kehadiran aku disini?”


Zaki melihat jam di pergelangan tangannya, “sudah jam segini kenapa sahabat Kania itu belum juga datang?” keluhnya kesal.

__ADS_1


Zaki mengusap kedua lengannya untuk mengurangi rasa dingin yang dia rasakan saat ini. Di tempat itu kalau malam hari udara memang terasa sangat dingin. Zaki melihat ada mobil masuk ke dalam halaman rumah itu, dia tau siapa pemilik mobil itu.


~oOo~


__ADS_2