Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Aku cemburu


__ADS_3

“Chel, aku mohon, buka pintunya.”


Pintu itu pun mulai terbuka, Chelsea berdiri tepat di depan Zaki, “aku hanya ingin sendiri, jangan ganggu aku,” pintanya.


Zaki memaksa masuk ke dalam kamar Chelsea, “aku sudah mendapatkan persetujuan dari kakak kamu, jadi aku tidak butuh persetujuan kamu.”


“Zak, mau kamu apa sih!”


“Aku ingin menemani kamu, itu saja.” Zaki mendudukkan tubuhnya di sofa, “aku tau kamu membutuhkan tempat untuk bersandar, aku kesini menawarkan bahuku untuk kamu jadikan tempat bersandar,” imbuhnya.


Chelsea menutup pintu kamarnya, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Zaki, “aku tidak butuh tempat bersandar, aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu khawatir,” ucapnya.


Zaki menarik tangan Chelsea hingga membuat wanita itu jatuh tepat di atas tubuhnya, jarak mereka begitu dekat. Mereka bahkan bisa merasakan hembusan nafas hangat yang keluar dari lubang hidung mereka, “aku tau kamu tidak sedang baik-baik saja,” bisiknya.


Chelsea mencoba menghindari tatapan mata Zaki, dia lalu mengubah posisinya menjadi duduk di samping Zaki, “Zak, jangan terlalu baik padaku.”


“Kenapa tidak boleh?”


“Karena aku tidak mau bergantung sama kamu, aku ingin menyelesaikan masalahku sendiri.”


“Tapi kamu tidak mungkin bisa menghadapi semua ini sendiri. Alex itu berbahaya.” Zaki mencengkram kedua bahu Chelsea, “aku akan selalu ada buat kamu,” imbuhnya.


“Apa sebenarnya mau Alex? Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan? Kenapa dia menggangguku lagi, kenapa?” air mata itu kembali mengalir membasahi kedua pipi wanita itu.


Zaki menarik tubuh Chelsea dan mendekapnya dengan sangat erat. Chelsea menangis dalam dekapan Zaki, dia meluapkan semua kesedihannya.


“Aku minta maaf, seharusnya tadi aku menjaga kamu.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “ini bukan salah kamu, jangan menyalahkan diri kamu sendiri,” ucapnya sambil melepas pelukan Zaki.


“Sekarang kamu boleh pergi, aku baik-baik saja.”


“Aku akan tetap disini untuk menemani kamu.”


Chelsea tersenyum, “kamu yakin ingin tetap disini? Kamu ingin tidur di kamar ini?”


Zaki mengusap tengkuknya sambil menatap ke lain arah, “jika kamu mengizinkan,” ucapnya.


Chelsea beranjak dari duduknya, “Zak, aku benar-benar baik-baik saja, lebih baik kamu sekarang keluar dari aku.” wajahnya mulai merah merona.


Zaki tersenyum melihat wajah Chelsea yang mulai merona, “aku bercanda kali, mana berani aku tidur di kamar kamu, bisa-bisa aku di bunuh sama kakak kamu,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.


Zaki lalu menggenggam tangan Chelsea, “kamu tidak perlu takut pada Alex, aku akan selalu ada buat kamu, jika dia sampai mengganggu kamu lagi, aku tidak segan-segan akan membunuhnya!”

__ADS_1


“Kenapa kamu melakukan semua ini?” Chelsea menatap kedua mata Zaki secara bergantian.


“Karena aku peduli sama kamu, karena aku...”


Chelsea menutup mulut Zaki dengan jari telunjuknya, “pergilah,” pintanya.


“Chel, kamu tau kenapa tadi aku berpura-pura tidak mengerti percakapan kamu dengan Eric?”


Chelsea menundukkan wajahnya, “aku tidak mau tau.”


“Bukankah kamu ingin tau, apa tadi aku cemburu atau tidak saat kamu memuji Eric tampan?”


“Aku tidak ingin tau.” Chelsea meremas jemari-jemari tangannya.


Zaki mendongakkan wajah Chelsea, “yakin kamu tidak ingin tau?” wanita itu menggelengkan kepalanya, “tapi aku ingin memberitahu kamu,” imbuhnya.


“Zak...pergilah, aku tidak...”


“Aku cemburu, aku sangat cemburu. Aku tidak suka mendengar kamu memuji Eric, aku tidak suka melihat kamu bersama pria lain, aku cemburu!”


“Zak...” Chelsea memberanikan diri untuk menatap kedua mata Zaki, “tapi kenapa? aku tidak pantas untuk kamu cemburui.”


“Karena mencintai kamu, bukankah aku dulu pernah bilang sama kamu sebelum kamu berangkat ke Amerika, aku akan tetap menunggumu sampai kamu membuka kembali hati kamu untukku.”


Zaki menggelengkan kepalanya, “aku tidak butuh siapapun, aku hanya mau kamu, aku tidak ingin yang lain.”


“Zak...”


“Beri aku kesempatan, aku mohon.”


“Tapi aku tidak mau kamu menyesal nantinya.”


Zaki mengecup kening Chelsea, “aku tidak akan pernah menyesal.”


Chelsea menyentuh keningnya yang baru saja di kecup oleh Zaki, “apa yang kamu lakukan?” wajahnya semakin merah merona.


Zaki tersenyum, “menciummu, atau kamu mau aku cium di...” pria itu menatap bibir tipis Chelsea. Bibir yang dulu pernah dia rasakan manisnya, dia ingin kembali merasakan manisnya bibir tipis itu, “apa aku boleh mencium...”


Chelsea mendorong tubuh Zaki, “pergilah, aku ingin tidur,” usirnya.


Zaki menyentuh pipi Chelsea dan mengusapnya dengan lembut, “baiklah, aku akan keluar. Selamat malam,” ucapnya sambil kembali mengecup kening wanita itu.


Zaki lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Sebelum membuka pintu itu, dia memutar tubuhnya dan menatap Chelsea yang saat ini juga tengah menatapnya, “aku serius, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu seperti dulu lagi,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


“Zak...”


“Tidurlah, semoga kamu malam ini memimpikan aku.” Zaki lalu membuka pintu itu dan keluar dari kamar Chelsea. Zaki menutup pintu itu, dia lalu bersandar di pintu itu, “jantungku...jantungku hampir copot, aku tidak menyangka aku akan berani mengecup kening Chelsea, gila! Ini gila!”


***


 


Veon dan Kania berniat untuk memberitahu kedua orang tuanya tentang kehamilannya. Mereka berharap kabar gembira itu bisa membuat kondisi Dion kembali membaik. Veon menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya.


Vera yang baru saja selesai membantu suaminya untuk meminum obat pun beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu kamarnya, “kalian, ayo masuk.”


Veon dan Kania masuk ke dalam kamar itu, “bagaimana keadaan Papa, Ma?” tanya Veon cemas.


“Papa kamu sudah lebih baik, tumben kamu datang ke kamar Mama dan Papa. Apa ada yang ingin kalian katakan?” Vera lalu duduk di samping suaminya, Veon dan Kania duduk di sofa yang lain.


“Kania, bagaimana kabar Papa kamu? Kata Veon, Papa kamu sedang sakit, itu sebabnya kamu tinggal di rumah Papa kamu.” Dion sebenarnya selama ini curiga dengan tingkah Veon yang aneh selama dua bulan ini, tapi dia hanya diam, karena dia tidak ingin Veon membencinya karena dirinya terlalu ikut campur dalam rumah tangganya.


“Papa sudah sehat kok, Pa.” Kania menepiskan senyumannya, dia merasa sangat bersalah karena telah membohongi mertuanya, tapi dia tidak mempunyai pilihan lain. Dia tidak ingin suaminya kembali mengalami masalah karena dirinya.


“Syukurlah kalau begitu, maaf, Papa dan Mama kamu tidak bisa menjenguk Papa kamu.”


Kania mengangguk mengerti, “tidak apa-apa kok, Pa.”


Veon menggenggam tangan Kania, “Ma, Pa. Kami datang kesini, ingin memberitahu Mama dan Papa tentang kabar gembira,” ucapnya.


“Kabar gembira? Apa itu?” tanya Vera penasaran.


“Mama dan Papa sebentar lagi akan menjadi kakek dan nenek.”


Dion dan Vera sama-sama membulatkan kedua matanya, “Kania hamil?” tanya mereka bersamaan.


Veon menganggukkan kepalanya, “iya, Ma, Pa. Kania hamil tiga bulan, Veon sebentar lagi akan menjadi seorang Ayah. Keinginan Mama dan Papa sudah terkabul.”


Veon bisa melihat senyuman merekah di kedua sudut bibir kedua orang tuanya. Pria itu juga menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman, dia bahagia, karena dia sudah bisa membuat kedua orang tuanya bahagia.


“Mama dan Papa senang mendengarnya, selamat ya sayang, Mama sudah tidak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia,” ucap Vera dengan senyuman di wajahnya.


“Papa akan memberikan apapun yang cucu Papa inginkan,” ucap Dion antusias.


“Anak Veon belum lahir, Pa. Memangnya dia akan minta apa sama Papa?” Veon menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Papanya. Veon menggenggam tangan Kania lalu mengecupnya, dia begitu bersyukur mempunyai istri yang begitu sabar seperti Kania. Padahal selama ini dia sudah sering bersikap kasar padanya, tapi wanita itu masih tetap mencintainya, bahkan saat ini dia memberinya kebahagiaan yang tidak pernah dia bayangkan.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2