
Alex melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Chelsea yang masih terdiam, kata-kata Alex terasa begitu menusuk ke dalam relung hatinya. Entah mengapa melihat wajah Alex seperti itu membuat hati Chelsea terasa sakit.
Saat Alex masuk ke dalam rumah, dia berpapasan dengan Dion, “Papa mau kemana?” tanyanya.
“Papa ingin jalan-jalan sebentar, Papa bosan di rumah terus.”
“Apa Alex boleh menemani Papa?”
Dion menganggukkan kepalanya, “apa kamu bisa mengantarkan Papa ke makam? Papa ingin berziarah ke makam kedua orang tua Papa.”
Alex menganggukkan kepalanya, “Alex akan mengantar kemanapun Papa mau.”
Dion tersenyum, “kamu memang menantu yang baik, Papa tidak salah menikahkan Chelsea denganmu.”
Alex menepiskan senyumannya, ‘jika Papa tahu siapa aku yang dulu, dan apa yang sudah aku lakukan kepada Chelsea, apa Papa masih akan berbicara seperti itu?’ tanyanya dalam hati.
Alex mengajak Dion untuk masuk ke dalam mobilnya. Chelsea yang melihat Alex membawa Papa nya ke dalam mobil pun segera beranjak dari duduknya dan berlari menghampiri Alex dan Dion.
“Papa! Papa mau pergi kemana?” Chelsea mengkhawatirkan kesehatan Papanya, dan dia juga tidak tahu apa rencana Alex kali ini.
“Sayang, apa kamu juga mau ikut? Papa dan Alex akan berziarah ke makam kakek dan nenekmu.”
Chelsea menatap ke arah Alex yang bahkan sudah masuk ke dalam mobil tanpa melihatnya, ‘kenapa dia, apa dia marah sama aku? kenapa dia berubah baik kepada Papa?’ gumamnya dalam hati.
“Sayang, kenapa kamu diam, kamu mau ikut atau tidak?” tanya Dion lagi.
Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu membukakan pintu penumpang bagian belakang dan meminta Dion untuk masuk ke dalam mobil. Setelah itu dia membuka pintu penumpang bagian depan, dan duduk di samping Alex.
“Pakai sabuk pengaman kamu, aku tidak ingin terjadi sesuatu nanti.” Alex berbicara tanpa menatap Chelsea.
“Biasanya kamu yang memakaikan sabuk pengaman aku.”
“Kamu bisa melakukan itu sendiri, kamu kan bukan anak kecil lagi.” Alex lalu mulai menyalakan mesin mobilnya. Kata-kata yang Alex ucapkan membuat Chelsea merasa seperti di acuhkan.
Dion hanya tersenyum mendengar perdebatan anak dan menantunya. Dion pikir mereka sedang dalam masa-masa pengantin baru, yang kadang memang harus ada perdebatan kecil di dalamnya, dan itu akan memperkuat rasa cinta di antara mereka berdua.
Alex melajukan mobilnya, dia sebenarnya tidak ingin berbicara sedingin itu kepada Chelsea, tapi dia tidak mempunyai cara lain untuk membuat wanita itu menyadari akan perhatian yang dia berikan selama ini. Alex ingin membuat Chelsea merasa kehilangan, dengan cara mengacuhkan dan tidak sepeduli seperti biasa yang dia tunjukkan selama ini.
Sebelum menuju makam, Alex menghentikan mobilnya ke toko bunga, dia membeli se-buket bunga mawar merah, dan itu membuat Chelsea tertawa.
“Sayang, jangan menertawakan suami kamu.” Dion lalu menatap Alex yang terlihat begitu malu saat Chelsea menertawakannya, “Lex, bagaimana kamu bisa tahu kalau neneknya Chelsea sangat menyukai bunga mawar?”
__ADS_1
Alex menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “em...hanya menebak saja,” ucapnya.
Chelsea merasa malu, dirinya saja tidak tahu bunga kesukaan neneknya, sedangkan Alex yang hanya menebak dan ternyata itu benar.
“Alex, apa kamu tidak membelikan bunga juga istri kamu?”
Alex menatap ke arah Chelsea, dia lalu mengambil setangkai mawar merah dan dia berikan kepada Chelsea.
“Terima kasih.” Chelsea mengambil setangkai bunga mawar itu.
Setelah membayar, mereka lalu keluar dari toko bunga itu. Alex melajukan kembali mobilnya menuju makam. Setelah setengah jam perjalanan mereka akhirnya sampai di makam. Mereka bertiga lalu keluar dari mobil.
Dion terlebih dahulu masuk ke pekarangan makam, dan diikuti Alex dan Chelsea di belakangnya. Alex yang biasanya selalu menggandeng tangan Chelsea kemanapun dia pergi bersamanya, tapi kali ini Alex tidak melakukan itu. mereka hanya berjalan beriringan melewati gundukan-gundukan tanah dan juga Nisan yang berjajar rapi.
Mereka menghentikan langkah mereka tepat di depan Makam dengan batu Nisan yang bertuliskan Santo Sanjaya dan Serly Nurmala. Dion duduk berjongkok di depan makam kedua orang tuanya, sedangkan Chelsea dan Alex berdiri di belakang Dion.
“Ma, Pa, Dion minta maaf, karena baru sekarang Dion mengunjungi Mama dan Papa. Dion datang kesini bersama dengan Chelsea dan juga Alex. Alex adalah suami Chelsea, Ma, Pa.”
Alex yang mendengar kata-kata yang Dion ucapkan merasa terharu, dia pun duduk berjongkok di samping Papa mertuanya, “halo, Nenek, Kakek, saya Alex, maafin Alex karena baru bisa memperkenalkan diri Alex.” Pria itu lalu meletakkan buket bunga mawar yang tadi dibeli di depan nisan Serly, “semoga nenek suka dengan bunganya.”
Chelsea juga duduk berjongkok di depan makam kakeknya, mereka lalu berdoa untuk kebaikan nenek dan kakek mereka. Setelah selesai berdoa, mereka keluar dari makam, Alex membukakan pintu mobilnya untuk Dion, tapi dia tidak membukakan pintu mobil untuk Chelsea.
Sikap yang Alex tunjukkan membuat Chelsea merasa kesal, Alex tidak pernah memperlakukan dia seperti itu selama dua bulan ini, tapi kenapa hari ini sikapnya berubah? Itu yang dipikirkan Chelsea sekarang.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku hanya...”
Alex menggenggam tangan Chelsea, “jangan berpikiran yang macam-macam.” Dia lalu membukakan pintu mobil untuk Chelsea, “masuklah, jangan membuat Papa kamu menunggu.”
Chelsea masuk ke dalam mobil. Alex menutup pintu mobil itu, dia berjalan menuju pintu pengemudi dan masuk ke dalam mobil.
“Ada apa? apa kalian bertengkar?”
Chelsea menatap Papanya, dia lalu menggelengkan kepalanya, “tidak kok, Pa. Chelsea hanya ingin Alex membukakan pintu mobil untuk Chelsea,” ucapnya sambil menatap Alex.
Dion tersenyum, “kamu ini sama seperti Mama kamu, manja. Dulu Mama kamu juga seperti kamu, dia tidak mau masuk ke dalam mobil sebelum Papa membukakan pintu mobil untuknya.”
“Benarkah? Itu berarti Mama ingin selalu di manjakan oleh Papa.” Chelsea tersenyum sambil melirik Alex, “tapi ada juga orang yang tidak peka dengan itu,” sindirnya.
Alex tahu jika Chelsea saat ini tengah menyindirnya, tapi dia bersikap cuek dan tidak peduli dengan sindiran Chelsea. Pria itu lalu melajukan mobilnya meninggalkan makam.
**
__ADS_1
Alex mendekati Chelsea yang sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya, “Chel, aku akan pulang sekarang, aku lupa kalau aku ada janji dengan Betrand.”
“Apa kamu tidak bisa tinggal disini beberapa hari lagi?”
Alex menggelengkan kepalanya, dia lalu mendudukkan tubuhnya di samping Chelsea, “kenapa, apa kamu tidak ingin jauh dariku?” godanya.
“Em...bukan seperti itu, hanya saja, apa yang akan Mama dan Papa pikirkan kalau kita tinggal terpisah.”
“Kalau Cuma soal itu, kamu tenang saja, aku akan menjelaskannya pada Mama dan Papa.” Alex lalu beranjak dari duduknya, “aku pergi sekarang.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju pintu. Alex membalikkan tubuhnya menatap Chelsea sebelum dia membuka pintu, “apa kamu tidak ingin mengantarku sampai di pintu?”
Chelsea beranjak dari duduknya, dia lalu melangkah mendekati Alex, entah mengapa dia seakan tidak rela Alex meninggalkannya sendirian, ‘ada apa denganku, bukannya aku seharusnya senang melihat Alex pergi dan membiarkan aku disini, dengan begitu aku tidak perlu lagi menunjukkan sikap cuekku padanya, aku juga bisa melakukan apapun sesuka hatiku,’ gumamnya dalam hati.
Setelah berpamitan dengan Vera dan Dion, Chelsea mengantar Alex sampai di mobil. Alex dan Chelsea berpapasan dengan Zaki di depan pintu.
“Chel, apa kakak kamu ada?” Zaki tidak menyapa Alex sama sekali.
“Sepertinya kakak ada di ruang kerjanya, apa ada hal penting?”
Zaki menganggukkan kepalanya, “aku akan menemui kakak kamu.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Melihat kedatangan Zaki, membuat Alex ragu untuk pergi dari rumah itu, tapi jika membatalkan rencananya, maka itu akan membuat Chelsea seakan besar kepala. Niat Alex meninggalkan Chelsea di rumah kedua orang tuanya adalah agar wanita itu merasakan kehilangan saat dirinya tidak ada.
Alex mengecup kening Chelsea, “aku pergi dulu, aku percaya sama kamu, dan aku harap kamu tidak mengkhianati kepercayaan aku.” pria itu lalu melangkahkan kakinya menuju mobil.
“Lex, tunggu!” teriaknya.
Alex menghentikan langkahnya, dia lalu menengok ke arah Chelsea, “ada apa? apa kamu ingin ikut denganku?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “hati-hati, jaga diri kamu selama aku tidak ada di rumah.”
Alex tersenyum, “memangnya selama ini kamu peduli sama aku?”
Kata-kata yang Alex ucapkan bagaikan belati yang langsung menancap di hatinya, ‘benar kata Alex, selama ini aku bahkan tidak pernah peduli padanya.’ Gumamnya dalam hati.
“Aku pergi dulu.” Alex sebenarnya merasa sangat senang saat Chelsea mengatakan itu padanya, itu pertama kalinya Chelsea menunjukkan perhatiannya.
Alex masuk ke dalam mobil, dia lalu melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Chelsea, ‘Chel, aku harap kamu bisa menjaga kepercayaan aku. jangan bersama dengan Zaki, aku mohon.’
~oOo~
__ADS_1