
Sesampainya di rumah pribadi Veon, Kania menunjukkan kamar Eca. Eca begitu kagum melihat rumah suami Kania itu.
“Kania, kamu beruntung mempunyai suami seperti suami kamu itu, sudah tampan, kaya lagi.”
Kania mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, “tampan sih tampan, tapi kalau kamu mengenal dia sebelumnya, aku jamin kamu tidak akan ingin mengenalnya. Dia itu pria terdingin dan ter-angkuh yang pernah aku kenal. Setiap hari kerjaannya terus menyiksaku, aku bahkan sampai...”
“Sampai apa? kok diam.”
Kania menyengir kuda, “bukan apa-apa, kamu sebaiknya tidak perlu tahu itu, aku takutnya nanti kamu malah kepikiran lagi, bisa bahaya,” candanya.
Eca mendengus kesal, “meskipun aku masih jomblo, kalau soal kayak gituan aku juga tau.” Gadis itu lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, “aku juga ingin menikah, tapi tidak ada yang mau sama gadis miskin seperti aku,” keluhnya.
“Jangan terburu-buru menikah, menjadi seorang istri tidak semudah yang kamu bayangkan. Mumpung kamu masih muda, nikmati saja masa muda mu, karena jika kamu sudah menikah, kamu sudah tidak bisa menikmati kebebasan kamu.”
Eca memiringkan tubuhnya menghadap Kania, “apa kamu juga seperti itu? Apa suami kamu mengekang kamu dan tidak mengizinkan kamu untuk pergi kemanapun kamu mau?”
Kania menggelengkan kepalanya, “meskipun dia tidak melarang ku, tapi harus sadar diri, kalau hidup aku ini sepenuhnya bukan milikku lagi.” Wanita itu lalu beranjak berdiri, “istirahatlah, aku juga mau istirahat, aku ingin tidur, badan aku capek semua,” imbuhnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu.
Kania melihat Zaki yang tengah duduk di ruang tamu bersama dengan Veon, wanita itu lalu melangkahkan kakinya menghampiri mereka, “apa yang sedang kalian bicarakan?” tanyanya penasaran.
Veon menarik tangan Kania dan mendudukkannya di sampingnya, “bukan apa-apa.” pria itu lalu merebahkan kepalanya di pangkuan Kania, dengan posisi menghadap perut Kania, “halo sayang, kamu kangen sama Papa tidak? Maafin Papa ya karena baru mengetahui kehadiran kamu,” ucapnya sambil menciumi perut Kania.
Zaki yang mendengar kata-kata Veon pun mengernyitkan dahinya, “Kania....kamu...”
Kania tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, “sebentar lagi akan ada anggota baru di rumah ini,” ucapnya sambil mengusap perutnya.
“Zak, mulai sekarang aku akan menugaskan kamu untuk menjaga istriku, jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Kania dan juga anakku, aku tidak akan memaafkan kamu.”
“Baik, Tuan. Saya akan menjaga Nona Kania dan juga calon anak anda.”
Veon mengubah posisinya menjadi duduk, “sayang, ayo kita tidur, kamu juga butuh istirahat.” Pria itu lalu dengan satu gerakan langsung membopong tubuh Kania.
Kania membulatkan kedua mata, “turun aku!” teriaknya.
Veon menggelengkan kepalanya, “tidak akan, mulai hari ini aku akan memanjakan kamu.”
“Apa kamu tidak mau sama Zaki, dia sedang melihat kita.” Kania menyembunyikan wajahnya ke dada bidang suaminya.
“Zak, kamu boleh istirahat.” Veon lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju kamarnya.
Zaki hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah bucin Veon, “aku tidak menyangka Tuan Veon akan menjadi se-bucin itu sama istrinya.” Pria itu lalu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, “aku senang, akhirnya mereka bisa kembali bersama lagi, selama dua bulan ini aku melihat tuan Veon begitu frustasi, dia seakan kehilangan semangat hidupnya.”
__ADS_1
Zaki merasakan getaran di saku celananya, dia lalu mengambil ponselnya dari saku celananya. Pria itu melihat siapa yang menelponnya di pagi buta seperti ini, “Chelsea! Apa dia tidak tidur?” dia lalu melihat jam di pergelangan tangannya, “sekarang pukul 02.30, ada apa dia menelpon ku.”
“Halo,” sahut Zaki saat dia sudah menjawab panggilan itu.
“Apa Kania sudah ketemu?”
“Sudah, sekarang dia sedang bersama kakak kamu di rumah pribadinya.”
Chelsea menghela nafas lega, “apa kalian nanti akan kesini?”
“Hem...apa kamu tidak tidur jam segini menelfon ku?”
“Aku baru bangun tidur, aku tidak bisa tidur lagi. Mau menemani aku mengobrol?”
“Tidak! Maaf, aku mau tidur dulu.” Zaki lalu mengakhiri panggilan itu, “kalau lagi gabut baru mencari ku, kalau lagi senang, lupa sama aku, dasar!” umpatnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Kamar Zaki ternyata bersebelahan dengan kamar Eca. Saat Zaki ingin membuka pintu kamarnya, tiba-tiba Eca muncul dari balik pintu kamar sebelahnya.
“E...ada tuan...”
“Kenapa kamu belum tidur?” Zaki mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Kamu cari saja sendiri di dapur, lagian jam segini kamu sudah kelaparan.”
“Em...aku takut ke dapur sendirian, temani aku ya, please.” Eca memohon dengan mengatupkan kedua tangannya.
“Apa kamu anak kecil? Masa ke dapur saja harus di temani,” ledek Zaki.
Eca mendengus kesal, “dasar! Jadi cowok kok tega amat sih, aku kan baru di rumah ini, aku juga tidak tau dimana letak dapurnya,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
‘merepotkan!’ Zaki lalu melangkahkan kakinya menuju dapur dan di ikuti oleh Eca di belakangnya, “sepertinya tidak ada makanan, kamu bisa membuatnya sendiri kan, aku mau tidur.”
Eca menarik tangan Zaki saat pria itu ingin melangkah pergi, “aku tidak bisa memasak,” ucapnya sambil menyengir kuda.
“Terus...aku peduli gitu, itu derita kamu, aku tidak mau tau!” Zaki menyingkirkan tangan Eca dari pergelangan tangannya, “kamu tidak malu jadi cewek tidak bisa masak,” ledeknya sebelum pergi meninggalkan Eca.
“Dasar cowok sombong!” teriak Eca keras, “aku akan buktikan kalau aku juga bisa memasak, dan aku tidak perlu malu sama diri aku sendiri!”
Zaki tidak memperdulikan teriakan Eca, dia benar-benar sangat lelah, dia ingin segera menghirup bau harum ranjangnya yang terasa nyaman saat dia tiduri.
Sedangkan Eca masih terus menggerutu, “dasar cowok dingin, tidak punya hati. Apa dia memang sedingin itu sama siapa saja?”
__ADS_1
Gadis itu lalu membuka pintu lemari pendingin, “ada telur, mendingan aku bikin telur dadar aja yang mudah, yang penting perut kenyang.”
Eca mengambil telur itu, setelah itu dia mulai menyiapkan bahan apa saja yang akan dicampurkan ke dalam telur itu. Tidak butuh waktu lama, telur dadar spesial ala Eca sudah siap di santap.
Zaki yang mencium baru harum dari telur dadar spesial itu, tiba-tiba merasa lapar. Pria itu lalu kembali keluar dari kamar itu dan melangkah menuju dapur, “apa kamu yang membuat telur dadar itu?” tanyanya saat dirinya sudah sampai di dapur.
“Katanya mau tidur, capek, tapi kenapa kamu malah datang kesini,” sindir Eca sambil mengambil nasi dari dalam rice cooker, “jangan bilang kamu mau makan juga,” tebaknya.
Zaki menarik salah satu kursi meja makan lalu dia mendudukkan tubuhnya di kursi itu, “buatkan aku satu, sama seperti punyamu itu,” perintahnya.
“No, aku tidak mau! Memangnya aku pembantu kamu apa, kalau kamu mau, bikin saja sendiri.” Eca lalu menaruh telur dadar spesial itu ke atas nasi yang tadi dia ambil.
“Aku tidak bisa membuat itu, kalau aku yang bikin, mungkin akan beda rasanya.”
Melihat wajah tampan Zaki yang berubah menjadi memelas, membuat Eca merasa tidak tega. Itulah kelemahan Eca, dia tidak tega melihat orang lain menderita, “ini buat kamu saja,” ucapnya lalu memberikan piring itu kepada Zaki.
“Lalu kamu?”
“Aku akan membuatnya lagi, sepertinya kamu sangat kelaparan gitu, aku jadi tidak tega.” Eca lalu beranjak dari duduknya, dia berniat untuk membuat telur dadar yang sama seperti yang baru saja diberikan kepada Zaki.
Tanpa rasa malu, Zaki memakan makanan itu, dia begitu menikmati makanan nya, meski dia hanya makan dengan telur dadar, tidak ada sayur ataupun lauk yang lainnya.
“Bukannya tadi kamu bilang tidak bisa memasak?” Zaki kembali memasukkan satu suapan ke mulutnya.
Eca duduk di depan Zaki, “aku memang tidak bisa memasak, tapi kalau masak mie dan menggoreng telur, aku bisa. Karena saat aku tidak punya untuk membeli makanan, aku selalu menggoreng telur dan memasak mie.”
Tidak butuh waktu lama, dia sudah menghabiskan makanannya. Eca hanya menggelengkan kepalanya melihat Zaki yang makan dengan sangat lahap, seperti orang yang tidak makan selama satu minggu.
“Dimana orang tua kamu?” Zaki mengambil gelas yang berisi air putih, lalu meneguknya sampai habis.
Eca menundukkan wajahnya, “mereka sudah meninggal, sekarang aku sendirian. Kalau tidak ada Kania, mungkin aku tidak akan mempunyai teman seperti kamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Siapa juga yang mau menjadi teman kamu.” Zaki beranjak dari duduknya, “maaf, aku sudah membuat kamu untuk mengingat kedua orang tua kamu, dan terima kasih untuk makanannya,” imbuhnya lalu pergi meninggalkan dapur.
“Dasar tidak tau terima kasih!” umpatnya.
Eca kembali menikmati makanannya, setelah makanan itu habis, Eca berniat untuk membersihkan rumah itu lebih awal lagi. Kania memang tidak memintanya untuk membersihkan rumah, tapi Eca tidak mungkin tinggal di rumah itu secara gratis.
~oOo~
__ADS_1