
Vera mendengar suara riuh dari ruang tamu, setelah suasana menjadi hening Vera mendengar samar samar suara pak penghulu.
"Dengan mas siapa saya bicara?" tanya pak penghulu.
"Dion Brian Sanjaya pak."
"Panjang amat namanya." ucap pak penghulu.
Semua tamu undangan tertawa mendengar ucapan pak penghulu.
"Ini pernikahan kedua mas Dion ya." tanya pak penghulu.
"Iya pak."
"Nggak apa-apa, saya juga pernah menikahkan orang yang menikah sampai empat kali." gurau pak penghulu.
"Baik, mari kita mulai aja acara ijab qobulnya, karena nama mas Dion panjang sekali, saya panggil mas Dion saja ya, gimana mas Dion, apa anda sudah siap untuk berumah tangga?" tanya pak penghulu.
"Siap pak." jawab Dion mantap.
Pak penghulu dan para tamu undangan tertawa mendengar jawaban Dion.
"Baiklah, saudara saudara mari kita mulai acara ijab qobulnya, gimana mas Dion, apa perlu latihan lagi atau langsung praktik?"
"Langsung aja pak." jawab Dion tegas.
Vera menyimak dengan seksama dari dalam kamar, perasaan cemas dan gugup menyelimuti hati Vera.
"Nggak usah gugup, Dion aja santai, kenapa kamu yang gugup?" Goda Neti.
"Ya ini kan pertama kalinya buat aku Net." ucap Vera dengan keringat dingin dikedua telapak tangannya.
Acaranya pun dilanjutkan.
"Saya nikahkan engkau Dion Brian Sanjaya binti Santo Sanjaya dengan ananda Vera Amalia binti Denny Wijaya dengan mas kawin emas seberat 50 gram dan seperangkat alat solat dibayar tunai."
" Saya terima nikah dan kawinnya Vera Amalia binti Denny Wijaya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." ucap Dion dengan lantang.
"Gimana para saksi, sah."
"Sahhh...Sahhhh.." teriak para tamu undangan.
"Selamat Ver, akhirnya kamu sudah menjadi istri Dion." ucap Neti sambil memeluk Vera.
Vera merasa jantungnya berdetak dengan cepat.
"A--aku sudah sah menjadi istrinya Dion." ucap Vera masih tidak percaya.
"Iya Ver, kamu sudah sah menjadi istrinya Dion." ucap Neti dengan senyuman diwajahnya.
Vera merasa bahagia,akhirnya dia menikah dengan pria yang sangat dia cintai sejak dulu. Mila membuka pintu dan lalu berjalan menghampiri Vera.
"Akhirnya anak Mama menikah juga, selamat ya sayang, Mama bahagia sekali."
"Maafin Vera ya, Ma, jika selama ini Vera udah menyusahkan Mama."
"Kamu nggak pernah menyusahkan Mama, ayo kita keluar, suamimu sudah menunggumu."
Vera menganggukan kepalanya, dia keluar dari kamar dengan didampingi Mama nya dan Neti. Mereka berjalan menuruni tangga. Jantung Vera berdebar kencang dia merasa sangat gugup. Para tamu undangan menatap kearah mereka.
"Ayo sayang." ucap Mila sambil mengandeng Vera untuk duduk disamping Dion.
__ADS_1
Vera duduk disamping Dion. Dion menatap wajah Vera dengan senyuman diwajahnya.
"Kamu cantik sekali sayang." puji Dion sambil menatap wajah Vera.
Vera hanya tertunduk malu dengan muka yang mulai memerah.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, silahkan kalian bertukar cincin." ucap Pak penghulu.
Dion memasangkan cincin dijari manis Vera begitu pula sebaliknya. Vera mencium tangan Dion.
" mCium..cium..cium." teriak para tamu undangan.
Dion menatap wajah Vera yang tertunduk malu, dia lalu mencium kening Vera.
"Selamat atas pernikahan kalian." ucap pak penghulu.
"Terimakasih." ucap Dion dan Vera bersamaan.
Acara ijab qobul sudah selesai, kini Vera dan Dion beristirahat sebentar sebelum menjalankan acara resepsi. Mereka beristirahat didalam kamar.
"Sayang aku bahagia akhirnya kamu sudah sah menjadi istri aku." ucap Dion sambil menggenggam tangan Vera.
"Aku juga bahagia Dion."
"Sayang sekarang kan kita sudah menjadi suami istri, apa kamu bisa memanggilku dengan sebutan sayang?" Pinta Dion.
"Maafin aku, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sebutan sayang."
"Terimakasih sayang." ucap Dion sambil memeluk tubuh Vera.
Terdengar suara ketukan pintu.
Tokk..tokk..tokk..
"Masuk aja Ma." Sahut Vera.
Mila membuka pintu dan masuk kedalam kamar Vera.
"Ini Mama bawakan makanan, kalian kan belum makan." ucap Mila sambil meletakan makanan diatas meja.
"Terimakasih ya Ma." ucap Vera.
"Kalian makan dulu biar badan kalian fit sebelum acara resepsi nanti."
"Baik Ma." ucap Dion.
"Ya udah Mama keluar dulu." ucap Mila lalu berjalan keluar dan menutup pintu.
Dion mengambil makanan dari atas meja.
"Sayang aku suapin ya." ucap Dion sambil duduk disamping Vera.
"Nggak usah aku bisa makan sendiri."
"Kamu nggak boleh nolak, pokoknya aku mau suapin kamu."
Dion mengambil satu sendok makanan.
"Ayo buka mulut kamu, aaaa.." ucap Dion sambil menyodorkan satu suapan kepada Vera.
Vera membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Dion.
__ADS_1
"Sayang kamu ingat nggak, waktu aku sakit kamu selalu menyuapi aku." Ucap Dion sambil kembali mengambil satu sendok makanan.
"Ya aku ingat." jawab Vera sambil mengunyah makanan.
"Hari ini giliran aku untuk menyuapi istri aku yang cantik ini." Goda Dion sambil menyodorkan satu suapan lagi didepan mulut Vera.
"Kalau kamu menyuapi aku makan, terus apa kamu nggak makan?"
"Aku bisa makan nanti yang terpenting istri aku makan dulu. Ayo buka mulut kamu lagi, aaa."
"Nggak bisa gitu, sini aku juga akan menyuapi kamu."
Vera mengambil sendok dari tangan Dion.
"Ayo buka mulut kamu." ucap Vera sambil memberikan suapan kepada Dion.
Dion membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Vera.
"Terimakasih sayang." ucap Dion tanpa sadar air mata menetes dikedua pipinya.
"Kenapa kamu malah menangis?"
"Karena aku bahagia, aku bahagia kamu mau menerima aku lagi dan mau menjadi istri aku." ucap Dion dengan senyuman diwajahnya.
"Maafin aku ya, jika aku sudah menyakiti hati kamu." ucap Vera sambil menghapus air mata Dion.
"Seharusnya aku yang meminta maaf sama kamu, karena aku sudah banyak menyakiti hatu kamu."
"Sudah kita lupakan masa lalu dan kita mulai dengan hidup yang baru." ucap Vera sambil menyuapi Dion.
Setelah setengah jam merekapun selesai makan..
Acara resepsipun dimulai..
Vera dan Dion duduk dipelaminan, Rio ditunjuk Dion untuk menjadi pembawa acara dipernikahannya.
"Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada sahabat saya Dion dan Vera, semoga menjadi keluarga yang Samawa, saya senang akhirnya sahabat saya Dion bisa menikah dengan cinta sejatinya."
Rio tersenyum menatap Vera dan Dion yang tengah duduk dipelaminan.
"Mari kita mulai acara selanjutnya,untuk menghibur para tamu undangan sekalian, bagaimana kalau kita mendengarkan suara merdu sang mempelai pria." ucap Rio.
"Setuju.." teriak para tamu undangan.
"Baiklah, sekarang kita akan mendengarkan suara emas sang mempelai pria." ucap Rio sambil berjalan menuju pelaminan.
"Ayo Dion, para tamu sudah menunggu." ucap Rio sambil memberikan Mic kepada Dion.
"Kamu ini kenapa sih Rio, masa aku harus menyanyi didepan banyak orang?" ucap Dion malu.
"Ya nggak apa-apa kan sekali-kali, dulu aja waktu kuliah kita sering tampil diacara kampus kok." bujuk Rio.
"Itukan dulu."
"Udah lah sayang, kamu turutin aja kemauan Rio, kasian para tamu sudah nggak sabar ingin mendengar suara kamu." bujuk Vera.
"Kamu temani aku ya." pinta Dion.
"Tapi aku--"
"Udah kamu temani suami kamu." bujuk Rio.
__ADS_1
"Ya udah deh."
šššš