
Veon menghubungi Alex untuk membuat janji bertemu di sebuah restoran, tapi Alex menolak dan mengajak ketemuan di rumahnya. Veon bersama dengan Zaki kini tengah meluncur ke rumah Alex setelah mendapatkan alamat rumah pria itu.
“Apa yang akan tuan lakukan? Apa tuan akan benar-benar mengizinkan adik tuan menikah dengan si brengsek itu?” Zaki tetap fokus menatap ke depan, dia hanya melihat Veon dari balik kaca spion di depannya.
Veon menghela nafas panjang, “apa aku punya pilihan lain untuk itu?” tanyanya.
“Tapi tuan, hidup Chelsea...em maksud saya hidup adik tuan akan semakin menderita nantinya.” Zaki menundukkan wajahnya saat Veon menatapnya dari balik kaca spion di depannya.
“Zak, kamu tau kan aku tidak pernah mengambil keputusan yang salah. Tapi untuk kali ini mungkin aku akan mengambil keputusan yang akan aku sesali seumur hidup aku.”
Zaki terdiam, dia lalu menengok ke belakang menatap wajah Veon yang terlihat sangat gusar. Selama 3 tahun dia bekerja dengan Veon, ini pertama kali baginya melihat tuannya itu seputus asa itu. Bahkan ini melebihi saat Veon disuruh menikah oleh kedua orangtuanya.
Sesampainya di rumah Alex, mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah Alex. Terdengar suara bel berbunyi saat tangan kanan Zaki mulai memencet tombol di samping pintu.
Wanita paruh baya mulai terlihat dari balik pintu saat pintu itu mulai terbuka, wanita paruh baya itu langsung menyuruh Zaki dan Veon masuk ke dalam rumah itu. Tentu saja dia sudah diperintahkan oleh Alex untuk langsung mempersilahkan mereka masuk.
“Silahkan duduk, saya akan segera memanggilkan tuan Alex,” ucap wanita paruh baya itu sebelum akhirnya pergi dari ruang tamu itu.
“Apa mereka sudah datang?” wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “tolong buatkan minuman untuk mereka,” pinta Alex lalu melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.
Alex tersenyum saat melihat Zaki dan Veon sudah menunggu di ruang tamu. Pria itu memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celananya, dia lalu berjalan mendekat.
“Apa segitu putus asanya kamu, hingga kamu menghubungi aku duluan dan datang ke rumah aku?” Alex mendudukkan tubuhnya di sofa yang letaknya tepat di depan Veon dan Zaki.
“Apa mau kamu yang sebenarnya? Jika ini menyangkut Papa kamu, tapi kenapa kamu menyeret Chelsea ke dalamnya, seharusnya kamu langsung melakukan itu padaku.” Veon bertanya dengan posisi kedua tangan dia lipat di depan dadanya, bahkan kakinya pun mulai menyilang. Pria itu tidak ingin terlihat lemah di depan musuhnya, meskipun saat ini dia memang lemah dan tak berdaya jika itu menyangkut kehormatan keluarganya.
“Bukankah kamu sudah tau apa yang aku inginkan? Aku tidak tertarik dengan tawaran kamu waktu itu.” Alex tersenyum sinis, “kalau soal wanita, aku bahkan bisa mendapatkan siapa saja, bahkan wanita yang suci sekalipun. Jadi aku sudah tidak membutuhkan adik kamu itu,” imbuhnya dengan tatapan sinis.
Zaki mengepalkan kedua tangannya, setiap melihat wajah Alex, amarahnya memuncak. Tapi seberapa besar amarahnya saat ini, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Apa kamu ingin tahu cerita yang sebenarnya tentang Papa kamu?” Veon menatap tajam ke arah Alex yang saat ini mengernyitkan dahinya.
“Maksud kamu?” tanya Alex bingung.
Veon meminta Zaki untuk memberikan apa yang diminta. Zaki mengambil memory card dari dalam dompetnya dan dia letak kan di depan Alex.
“Kamu akan tau yang sebenarnya dari video itu. Tapi sebelum itu aku akan memberikan apa yang kamu mau. Bukankah kamu menginginkan perusahaan Papa kamu?” tanya Veon.
__ADS_1
“Untuk apa aku menginginkan perusahaan yang sudah hancur, aku menginginkan perusahaan kamu!”
Veon menyunggingkan senyumannya, “aku tidak bisa memberikan perusahaan keluargaku kepadamu, tapi sebagai gantinya aku akan mengembalikan perusahaan Papa kamu,” ucapnya.
“Sebenarnya perusahaan Tuan Fernando belum bangkrut sepenuhnya, tapi jika Tuan Veon tidak segera mengambil alih perusahaan itu, mungkin sekarang perusahaan keluarga kamu akan benar-benar hancur tak tersisa,” jelas Zaki.
Alex kini terdiam, ini adalah berita yang sangat menggembirakan. Dia tidak menyangka perusahaan yang dirintis oleh ayahnya dari nol sampai sekarang masih tetap berjaya, meskipun sekarang sudah berubah pemiliknya.
“Aku hanya akan memberikan kamu sekali penawaran, jika kamu menolak, aku tidak akan memberikan apapun yang kamu inginkan. Dan soal video itu, silahkan saja kalau kamu ingin menyebar luaskannya, aku bahkan sudah tidak memperdulikannya.” Veon menghela nafas panjang, “kamu ingin menghancurkan keluarga aku! maka hancurkan lah, dan aku akan mengucapkan terima kasih untuk itu,” imbuhnya.
Zaki membulatkan kedua matanya. Dia tidak menyangka Veon akan mengambil keputusan seperti itu, apalagi ini menyangkut masa depan adiknya dan juga nama baik keluarganya. Apa Tuan benar-benar akan membiarkan itu terjadi? Apa dia benar-benar ingin keluarganya hancur? Pikirnya.
Alex tertawa sarkas, “apa sekarang kamu sedang mengujiku? Apa kamu fikir aku akan terjebak dalam taktik kamu?” tanyanya sambil menyungingkan senyumannya.
“Apa kamu berpikiran seperti itu? Taktik...kenapa aku harus memakai taktik yang akan menghancurkan keluarga aku sendiri?” Zaki menatap Veon dengan penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh majikannya itu.
Alex terdiam, dia menatap wajah Veon yang tetap tenang meskipun dirinya mengancamnya dengan video itu. Pria itu kini mulai terjebak oleh permainan Veon, tapi Alex bukan orang yang bisa semudah itu untuk menyerah.
“Baiklah, aku akan menerima tawaranmu, tapi aku mempunyai satu syarat lagi,” ucap Alex.
“Aku akan menyerahkan video yang aku miliki, tapi kamu harus melakukan apa yang aku minta.” Alex lalu beranjak dari duduknya, “sekarang aku ingin kamu berlutut di depanku,” imbuhnya.
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna, “apa kamu sudah gila! Berani-beraninya kamu meminta Tuan Veon untuk berlutut di bawah kaki kamu!” serunya dengan mengepalkan kedua telapak tangannya.
“Itu adalah syarat dari aku, tapi jika kamu menolaknya...tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi.” Alex hendak melangkahkan kakinya pergi dari tempat itu. Tapi teriakan dari depan pintu mengurungkan niatnya.
Zaki dan Veon begitu terkejut saat melihat Chelsea berada di rumah itu juga. Wanita itu masuk ke dalam rumah Alex dengan emosi yang memuncak. Dia dengan sangat keras menampar wajah Alex.
“Berani-beraninya kamu meminta kakak aku untuk bertekuk lutut di bawah kaki kamu!” teriak Chelsea keras.
Alex menyungingkan senyumannya sambil menyentuh pipi kirinya yang terkena tamparan keras, “sayang, akhirnya kamu datang ke rumah aku. apa kamu tidak tau betapa aku sangat merindukan hangatnya tubuh kamu itu?” ucapnya sambil meraih pinggang wanita itu dan menariknya ke dalam dekapannya.
“Brengsek kamu!” Chelsea mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan Alex di pinggangnya.
Zaki beranjak dari duduknya, tapi Alex mengancam Zaki, jika dia melangkah satu langkah saja, maka dia akan menelanjangi Chelsea saat itu juga.
“Chelsea, kenapa kamu datang ke sini? Bukannya kamu tidak ingin menikah dengan Alex?” tanya Veon dengan nada yang mulai meninggi. Segala rencana yang sudah disusun, harus gagal karena kecerobohan adiknya.
__ADS_1
“Aku mengikuti kakak, aku tidak ingin kakak terlibat terlalu jauh dalam masalah aku. Sedangkan kakak saat ini juga memiliki masalah,” ucap Chelsea.
“Zak, bawa Chelsea pergi dari sini!” seru Veon.
Zaki menganggukkan kepalanya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Chelsea dan Alex.
“Apa kamu akan dengan mudah membawa dia pergi dari sini? Aku bahkan belum mengizinkannya,” ucap Alex sambil menyunggingkan senyumannya.
“Bukankah yang kamu inginkan adalah aku, bukankah dendam yang kamu miliki kamu tujukan untuk aku? lepaskan Chelsea, aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan,” ucap Veon.
“Kak!” pekik Chelsea keras.
“Baiklah.” Alex lalu melepaskan cengkraman tangannya, “bawa dia pergi, aku sudah tidak membutuhkannya lagi,” ucapnya sambil menatap ke arah Zaki.
“Aku tidak akan pergi dari sini, aku akan mempertanggung jawabkan perbuatan aku. Aku akan menikah dengan Alex, aku akan melakukan itu,” ucap Chelsea.
Alex tertawa sarkas, “apa kamu bilang, menikah!” pria itu lalu mencengkram erat lengan wanita itu, “jangan pernah bermimpi aku mau menikah denganmu, karena bagiku kamu tak ada bedanya dengan sampah yang sudah tidak berguna,” ucapnya penuh penekanan.
Veon beranjak dari duduknya, diaa tidak terima adiknya di hina di depan kedua matanya, “Zak! Jika kamu masih peduli dengan Chelsea, bawa dia pergi dari sini sekarang juga!” serunya.
“Aku tidak mau! Aku tidak perduli dengan apa yang dikatakan Alex, tapi aku tidak ingin kakak kehilangan harga diri kakak!” seru Chelsea.
“Zak! Apa kamu mau aku pecat sekarang juga!” teriak Veon keras.
Zaki menarik tangan Chelsea, tapi wanita itu terus meronta, “Zak, apa kamu rela melihat kakak bertekuk lutut di bawah kaki si brengsek itu?” tanyanya dengan air mata yang terus mengalir dari kedua sudut matanya.
“Chel, aku tidak punya pilihan lain. Kita harus pergi dari sini,” ucap Zaki sambil menundukkan wajahnya.
Terdengar suara tepuk tangan dari kedua telapak tangan Alex, “wah...wah...drama apalagi yang aku lihat sekarang?” pria itu lalu melipat kedua lengannya di dada, “bagaimana kalau aku mengubah permintaan aku. Aku ingin Chelsea melihat bagaimana kakaknya bertekuk lutut di bawah kaki aku, bukankah itu lebih menyenangkan?” imbuhnya.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “Kak, jangan pernah melakukan itu, aku mohon,” pintanya.
“Tuan...” Zaki tidak akan sanggup melihat orang yang sangat dia hormati harus bertekuk lutut di depan musuhnya.
~oOo~
__ADS_1