
Dalam perjalanan menuju lokasi pesta pernikahan, Kania terlihat sangat gugup, keringat dingin bercucuran di keningnya. Kania meremas jemari-jemari tangannya, “aku harus kuat, semua akan baik-baik saja” wanita itu menyemangati dirinya sendiri.
Sesampainya di lokasi gedung pernikahan, Kania terkejut saat melihat banyaknya tamu undangan yang datang. apa-apaan ini, bukannya dia bilang hanya keluarga saja yang tahu, tapi ini? Apa dia membohongi aku? Kania terlihat enggan untuk keluar dari mobil, tapi saat dirinya melihat papa nya yang sudah menunggunya, dia akhirnya keluar dari mobil saat pintu mobil itu terbuka.
Pak Zaiz melangkahkan kakinya untuk menyambut kedatangan putrinya, “sayang, hari ini kamu terlihat sangat cantik,” pujinya.
Kania memeluk papanya dengan sangat erat, “Pa, Kania...” wanita itu menghentikan ucapannya saat melihat Zaki berdiri di depan pintu.
Pak Zaiz melepaskan pelukan putrinya, “ada apa sayang?” tanyanya.
Kania menggelengkan kepalanya, “Kania bahagia, melihat Papa sebahagia ini,” ucapnya berbohong.
“Papa bahagia karena kamu akan menikah dengan pria yang tepat. Tuan Veon akan membuat kamu bahagia, kamu tidak akan menderita lagi.”
Papa salah, justru hidup Kania akan hancur mulai dari hari ini. Pikirnya. “Iya, Pa. Kania akan bahagia,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya.
Kania lalu melingkarkan tangannya ke lengan papanya dan berjalan mengikuti karpet merah yang terbentang di lantai gedung itu. Kania terlihat sangat gugup saat semua mata menatap ke arahnya. Pak Zaiz mengusap tangan putrinya dengan sangat lembut, mencoba untuk memberi kekuatan kepada putrinya agar tetap percaya diri.
Kania dan papanya berjalan menuju tempat di mana Veon sudah duduk menunggunya. Bahkan pria itu tidak menatap wajah Kania saat dia mendudukkan tubuhnya di sampingnya, “apa dia tidak bisa berpura-pura bahagia di depan semua orang? Dasar! Memangnya disini siapa yang paling membutuhkan pernikahan ini!” umpatnya dalam hati.
Dion merasa curiga saat melihat ekspresi wajah Veon yang begitu dingin dan datar, dia bahkan tidak menatap wajah Kania walau hanya sebentar, “Veon, kenapa sikap kamu sedingin itu sama calon istri kamu? Bukankah kalian saling mencintai? Atau kamu selama ini sudah membohongi Papa? Apa kalian sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini?” tanyanya.
Sial! Aku lupa kalau aku harus masih bersandiwara! Veon menggelengkan kepalanya, “tidak kok, Pa. Veon sangat mencintai Kania, Veon hanya sedikit gugup,” ucapnya dengan senyuman yang dipaksakan.
Veon lalu menatap ke arah Kania yang kini tengah menundukkan wajahnya karena sangat gugup, dia bahkan meremas jemari-jemari tangannya. Veon mendongakkan wajah Kania, karena dia ingin melihat wajah Kania, “cantik,” pujinya.
Dion, Vera dan papa Kania tersenyum mendengar Veon memuji kecantikan Kania. Bukan hanya mereka, Kania pun juga terlihat sangat terkejut saat Veon memujinya, dan entah mengapa dia merasakan sesuatu yang berdesir di hatinya. Jantungnya pun berdebar dengan sangat kencang, serasa ingin loncat dari dalam dadanya.
Kania lalu kembali menundukkan wajahnya, dia tidak berani menatap pria yang duduk di sampingnya. Wanita itu hanya mendengar ikrar janji suci yang Veon ucapkan dengan lantang. Entah apa yang Kania rasakan saat ini, apa dia harus merasa senang atau sedih atas pernikahan ini. Tapi satu hal yang tidak akan bisa dia pungkiri, saat ini dirinya sudah Sah menjadi istri Veon.
__ADS_1
“Selamat sayang, akhirnya sekarang kamu sudah menikah. Papa harap, mulai hari ini hidup kamu akan lebih bahagia,” ucap Pak Zaiz terharu, dia lalu memeluk putrinya dengan sangat erat.
“Kania, sekarang kamu adalah menantu saya. Saya senang, akhirnya Veon menikah, apa yang saya inginkan akhirnya terwujud. Jika suatu saat Tuhan mengambil nyawa saya, saya sudah tidak mempunyai beban lagi dalam diri saya,” ucap Dion dengan senyuman di wajahnya.
“Pa, apa yang Papa katakan?” Vera sangat sedih saat Dion selalu mengatakan tentang kematian.
“Veon tidak suka Papa berbicara seperti itu!” seru Veon geram.
Dion tersenyum, “maafkan, Papa.”
Pak Zaiz meminta Kania untuk mencium tangan Veon.
Kania menganggukkan kepalanya, dia lalu menatap wajah Veon. Veon menatapnya dengan wajah dinginnya, ‘lihatlah, apa dia ingin mempermalukan aku sekarang? Kenapa dia diam saja, saat Papa menyuruhku untuk mencium tangannya?”
Kania akhirnya dengan perlahan menggerakkan tangannya untuk menyentuh tangan Veon dan mencium punggung tangan pria itu.
Veon merasa kedua orang tuanya masih mencurigainya, dia tidak ingin semuanya sandiwaranya hancur. Pria itu pun memikirkan cara untuk memperlancar sandiwaranya agar kedua orangtuanya percaya jika dirinya benar-benar mencintai wanita itu.
Veon yang melihat ekspresi wajah Kania hanya menyunggingkan senyumannya, ‘kenapa dia tersipu malu seperti itu? Apa dia pikir aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Dasar!’ umpatnya dalam hati.
Acara ijab qobul pun berjalan dengan lancar. Veon bahkan menyematkan cincin di jari manis Kania, begitu juga sebaliknya. Riuh tepuk tangan kini terdengar memenuhi gedung itu. Semua para tamu undangan kini terlihat sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan.
Kania terlihat sangat muram dan gelisah, karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Apa Veon akan memperlakukan dia dengan baik selayaknya seorang istri, atau dirinya akan disiksa layaknya seorang pelayan.
Veon dan Kania harus berdiri saat para tamu undangan mendatangi mereka untuk mengucapkan selamat. Veon maupun Kania harus terpaksa menampakkan senyumannya di depan para tamu undangan dan keluarga besarnya. Kania merasa sangat lelah karena dia harus berdiri selama berjam-jam untuk menyalami semua para tamu undangan yang sama sekali tidak ada habisnya.
Veon terlihat begitu cuek, dia bahkan tidak memperdulikan kondisi Kania yang sudah begitu kelelahan. Bahkan wajahnya terlihat sangat pucat, karena dia kini tengah menahan rasa laparnya. Sejak tadi pagi gadis itu bahkan belum makan apapun.
***
__ADS_1
Acara pernikahan pun akhirnya selesai, Kania akhirnya bisa bernafas lega. Meskipun dia harus menahan lapar seharian, tapi gadis itu menganggap dirinya sedang berpuasa. Kania merentangkan kedua tangannya, dia benar-benar merasa sangat lelah. Wanita itu melihat Veon masih mengobrol dengan kedua orangtuanya, tapi tiba-tiba kedua mata wanita itu bertemu pandang dengan tatapan dingin Veon.
‘Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia kini tengah menyalahkan aku?’ gumamnya dalam hati.
Pak Zaiz yang melihat putrinya yang begitu murung, akhirnya melangkahkan kakinya mendekati putri kesayangannya itu, “pengantin baru kok cemberut gitu,” godanya saat dirinya berdiri tepat di depan putrinya.
Kania memeluk papa nya dengan sangat erat, “Pa...apa yang harus Kania lakukan setelah ini? Kania tidak tahu harus melakukan apa?”
Pak Zaiz melepaskan pelukan putrinya, “jadilah istri yang baik, melayani suami kamu. Patuhi apa kata suami kamu,” ucapnya.
Kania menganggukkan kepalanya, “baik, Pa,” ucapnya.
Veon melangkahkan kakinya menghampiri Kania dan papanya, “ayo kita pulang sekarang?” ajaknya lalu menarik tangan Kania.
Kania berpamitan pada papa nya. Pak Zaiz hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, ‘maafin Papa sayang, mungkin ini memang yang terbaik untuk kamu. Jika kamu masih tetap bersama Papa, mungkin hidup kamu akan menderita. Tapi jika kamu tinggal bersama dengan suami kamu, kamu akan bahagia dan tidak kekurangan satu apapun,’ gumamnya dalam hati.
Veon menyuruh Kania untuk masuk ke dalam mobil. Dia lalu ikut masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil itu sudah ada Zaki dan juga supir pribadi Veon.
“Zak, kita ke rumah utama,” titahnya.
Zaki mengangguk, dia lalu menyuruh supir itu untuk melajukan mobilnya.
“Kenapa kita harus ke rumah utama?” tanya Kania terkejut. Dia pikir setelah menikah dirinya akan tinggal di rumah Veon yang biasa dia tempati.
“Papa menyuruh kita untuk tinggal di sana sementara waktu sampai kondisi Papa benar-benar sehat.”
Kania membulatkan kedua matanya, “tapi aku tidak setuju,” ucapnya.
__ADS_1
Veon menatap tajam ke arah Kania, “aku tidak membutuhkan persetujuan kamu! Kamu hanya perlu melakukan apa yang aku suruh!” serunya penuh penekanan.
~oOo~