Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kesakitan


__ADS_3

Alex menutup tubuh Chelsea dengan selimut, dia lalu mengecup kening Chelsea, “selamat malam, sayang. Terima kasih untuk malam ini.”


Chelsea melingkarkan lengannya di pinggang Alex, “maaf, kamu pasti tidak merasa puas.”


Alex menggelengkan kepalanya, “aku puas kok, justru aku yang seharusnya meminta maaf, karena telah membangunkan kamu.”


“Aku kangen momen-momen seperti malam ini,” ucap Chelsea lalu menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Alex.


“Sama, lebih baik sekarang kamu tidur, kamu pasti sangat lelah dan mengantuk.” Chelsea lalu menganggukkan kepalanya, dia lalu mulai memejamkan kedua matanya.


Alex mengecup puncak kepala Chelsea, “aku janji, aku akan membuat kamu dan anak-anak kita bahagia.”


Baru satu jam Chelsea menutup matanya, tiba-tiba dia merasakan sakit di perutnya, “em...Lex!” pekiknya.


Mendengar jeritan Chelsea, Alex lalu membuka kedua matanya, “sayang, kamu kenapa?” tanyanya terkejut saat melihat Chelsea yang tengah menahan sakit.


“Perut aku sakit sekali...ah...” Chelsea mengusap-usap perut buncitnya, “sayang, apa kalian sudah ingin keluar?”


Alex membulatkan kedua matanya, “apa? apa kamu akan segera melahirkan?” tanyanya panik.


“Em...sepertinya begitu, i—ni sangat sakit!”


“Kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang.” Alex lalu beranjak dari ranjang dan segera memunguti pakaiannya lalu dia kenakan kembali, Alex juga membantu Chelsea untuk memakai pakaian.


“Lex, ganti baju kamu. Masa kamu mau ke rumah sakit dengan celana kolor dan kaos seperti itu. apa kamu sengaja ingin memperlihatkan bentuk tubuhmu pada semua orang,” ucap Chelsea kesal saat sakit di perutnya sudah mulai mereda.


“Ini tidak penting sayang, sekarang yang terpenting itu kamu. Aku tidak tega melihat kamu kesakitan seperti itu.”


“Ah...” Chelsea kembali merasakan sakit di perutnya, “kalau kamu tidak ganti baju kamu, aku tidak akan ke rumah sakit,” ancamnya di sela kesakitannya.


“Iya, tahan sebentar ya, tidak akan lama.” Alex lalu melepas pakaiannya, dia lalu mengambil celana jeans panjang dan kaos berwarna putih.


“Ayo sekarang kita ke rumah sakit.” Alex membopong tubuh Chelsea dan membawanya keluar dari kamar, “Bi, tolong siapkan semua perlengkapan Chelsea dan juga calon anak-anak aku!” teriaknya.


“Lex, semua sudah aku siapkan, semuanya ada di dalam tas dekat lemari tadi.” Rasa sakit itu kembali menghilang.

__ADS_1


Wanita paruh baya yang mendengar teriakan Alex pun bangun dari tidurnya dan bergegas menghampiri kedua majikannya itu, “iya, Tuan.”


“Bi, tolong ambilkan tas besar yang berada di samping lemari kamar saya,” pinta Alex, “saya tunggu di mobil.”


Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dia lalu menaiki tangga menuju kamar majikannya. Alex membawa Chelsea keluar dari rumah dan membawanya ke dalam mobil.


“Ini, Tuan,” ucap wanita paruh baya itu sambil memberikan tas berukuran besar tempat perlengkapan Chelsea dan calon kedua anaknya.


“Terima kasih, Bi. Tolong bibi jaga rumah, saya mau mengantar istri saya ke rumah sakit.”


“Iya, Tuan. Semoga Nyonya Chelsea melahirkan dengan selamat.”


Alex menganggukkan kepalanya, “terima kasih, Bi atas doanya, kalau begitu saya pergi dulu.”


Alex menyuruh sopirnya untuk secepatnya melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Alex tidak tega melihat Chelsea yang tengah menahan rasa sakitnya. Alex tak hentinya memberikan kecupan di punggung tangan Chelsea dan menyeka keringat yang mengalir membasahi kening wanita itu.


“Pak, bisa cepat sedikit?” Alex benar-benar tidak tega melihat Chelsea yang begitu kesakitan.


“Iya, Tuan. Sebentar lagi akan segera sampai di rumah sakit.”


Alex mengeluarkan Chelsea dari mobil, dia lalu membawa Chelsea menghampiri dokter kandungan Chelsea. Dokter itu meminta Alex untuk merebahkan Chelsea ke bankar, setelah itu kedua perawat itu mendorong bankar itu menuju ruang pemeriksaan. Dokter meminta Alex untuk menunggu di luar. Sebenarnya Alex ingin menemani Chelsea di dalam, tapi dokter tetap tidak mengizinkan.


Alex akhirnya menunggu di kursi tunggu yang terletak tidak jauh dari ruang pemeriksaan itu, “aku harus menghubungi Veon, kalau Chelsea akan segera melahirkan.” Pria itu lalu mengambil ponselnya dari saku celananya.


“Halo,” sahutnya saat panggilan itu sudah terhubung.


Dengan suara khas bangun tidur, Veon bertanya kepada Alex, kenapa malam-malam menghubunginya, “ada apa kamu menghubungiku? Ini sudah larut malam.”


“Apa kamu bisa ke rumah sakit sekarang, sepertinya Chelsea akan segera melahirkan.”


Veon yang awalnya tiduran, kini bangun dan mengubah posisinya menjadi duduk, “apa? Chelsea akan melahirkan!”


Kania yang mendengar teriakan Veon, akhirnya membuka kedua matanya, “ada apa, Pa?”


“Chelsea akan segera melahirkan.” Veon lalu kembali berbicara dengan Alex, “beritahu alamatnya, aku dan Kania akan segera kesana.”

__ADS_1


“Baiklah.” Alex lalu mengakhiri panggilan itu, dia lalu mengirim alamat rumah sakit itu kepada Veon.


**


“Chelsea akan melahirkan?” tanya Kania memastikan.


“Hem...sebaiknya kita bersiap-siap sekarang.” Veon lalu beranjak dari ranjang dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah Veon selesai, giliran Kania yang masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai bersiap-siap, Veon dan Kania keluar dari kamar, mereka lalu menuju kamar Noel yang terletak di samping kamar mereka.


“Noel masih tidur, biar aku minta Mama untuk menjaga Noel.” Kania menganggukkan kepalanya, Veon lalu menutup kembali pintu kamar Noel.


Kania dan Veon melangkah menuju tangga, mereka menuruni tangga itu, dan menuju kamar kedua orang tuanya.


Veon mengetuk pintu kamar itu, “Ma,” panggilnya.


Vera yang mendengar suara Veon pun membuka kedua matanya, “ya, sebentar.” Wanita paruh baya itu lalu bangun dan turun dari ranjang, dia lalu melangkah menuju pintu kamarnya dan membuka pintu itu, “ada apa sayang?”


“Ma, Veon dan Kania titip Noel ya, kami mau pergi ke rumah sakit.”


Vera membulatkan kedua matanya, “rumah sakit! Siapa sayang yang sakit?”


“Tidak ada yang sakit, Ma. Veon dan Kania akan menemani Alex, karena Chelsea akan segera melahirkan.”


“Apa? sayang...pergilah, Mama akan menjaga Noel, kasihan adikmu, dia pasti sekarang sedang kesakitan, apalagi dia akan melahirkan anak kembar,” ucap Vera yang terlihat sangat cemas.


Veon memeluk Mamanya, “Mama tidak usah cemas, Chelsea akan baik-baik saja. Veon janji, Veon akan menjaga Chelsea.”


“Sayang, kamu kan tahu, adik kamu itu paling tidak bisa menahan sakit. Mama ingin sekali berada di sana untuk menemaninya, tapi Mama tidak bisa. Mama juga tidak bisa meninggalkan Papa kamu dan juga Noel,” ucap Vera sedih.


“Nanti, kalau Chelsea sudah melahirkan, Veon akan menjemput Mama dan Papa. Veon janji.”


Vera menganggukkan kepalanya, “pastikan adik kamu baik-baik saja.”


Veon mengangguk, “kalau begitu, kami pergi dulu, Ma.” Veon dan Kania mencium punggung tangan Vera, mereka lalu melangkah keluar dari rumah.

__ADS_1


~oOo~


__ADS_2