
Kania membuka kedua matanya secara perlahan saat cahaya matahari mulai masuk ke dalam kamarnya melalui celah-celah jendela kamarnya. Dia mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, dia menatap wajah tampan yang saat ini tengah memeluknya.
“Jadi semua ini bukan mimpi.”
Kania mengusap wajah itu dengan lembut. Menikmati pemandangan indah di depan matanya, dari kedua alis tebalnya, bulu mata yang lentik, serta bibir tipisnya. Dia mengusap bibir tipis itu dengan perlahan, “ada juga cowok yang mempunyai bibir tipis seperti ini,” ucapnya pelan.
“Apa kamu begitu menyukai bibirku?” kedua mata itu mulai terbuka dengan perlahan, “aku akan memuaskan kamu dengan bibir tipis ini.”
Veon lalu membenamkan bibirnya di bibir tipis Kania, hingga membuat wanita itu membulatkan kedua matanya. Veon benar-benar melahap habis bibir Kania, tidak memberi kesempatan untuk Kania menolaknya.
Veon menyelipkan jemarinya ke belakang telinga Kania, menarik kepalanya untuk memperdalam ciumannya, dan tidak membiarkan Kania untuk menghindar dari serangannya. Kini lidah itu mulai memaksa masuk ke dalam rongga mulut Kania. Kania tidak memiliki cara lain selain membuka mulutnya dan membiarkan lidah itu bermain-main disana, mengeksplor kehangatannya.
Kania mulai kehabisan nafas, dia lalu mendorong tubuh Veon. Nafasnya memburu, dia benar-benar kewalahan mengimbangi ciuman panas Veon.
Veon mencubit hidung mancung Kania, “kita sudah sering melakukan ciuman seperti ini, tapi kenapa sampai sekarang kamu belum juga paham. Kalau sedang berciuman, jangan menahan nafas kamu,” ucapnya.
“Mana bisa berciuman sambil bernafas, apalagi kamu melahap bibirku dengan sangat brutal,” ucap Kania dengan mengerucutkan bibirnya.
“Bisa dong, sini aku ajari.” Wajah Veon kembali mendekat, “tutup kedua mata kamu,” pintanya.
Entah mengapa Kania menuruti katak-kata Veon, dia pun mulai menutup kedua matanya. Dalam sekejap Kania mulai merasakan hembusan hangat nafas Veon di wajahnya, membuat tubuhnya meremang. Dan usapan bibir hangatnya menyentuh bibir tipis Kania.
Kali ini Kania merasakan sensasi yang berbeda, tidak ada ciuman panas dan brutal, yang ada hanya sentuhan hangat, membuat nafas Kania mulai tertahan.
“Bernafaslah sayang...bernafas...jangan tegang seperti itu.”
Kania pun mulai mengambil nafas, dia merasa sedikit rileks, meskipun bibir mereka masih dalam keadaan menyatu, tapi dia bisa bernafas dengan lancar. Bibir veon masih berlama-lama berlabuh di bibir tipis itu, tanpa melakukan pergerakan apapun.
Setelah menyadari tubuh Kania mulai rileks, bibir itu mulai meng*lum bibir bawah Kania, mengecap, menggigit dengan lembut, membuat Kania dengan perlahan mulai membuka mulutnya, seolah-olah memberinya izin untuk masuk.
Veon mulai memasukkan lidahnya, mulai menari-nari di dalam rongga mulut itu, lidah itu seakan meminta lidah Kania untuk membalas perlakuannya. Kania melakukan apa yang di minta Veon, lidah mereka mulai saling mem*lin dan menghisap dan menggigit dengan lembut.
Desahan tertahan mulai lolos dari mulut Kania, permainan lidah itu sungguh memacu gejolak dalam diri Kania. Kania mulai mendekap kepala Veon, seolah-olah menuntut pria itu untuk tidak mengakhiri ciumannya.
Lama-lama kelamaan nafas mereka menjadi berat, pertautan lidah mereka semakin memanas, ciuman itu terasa begitu nikmat. Kedua mata Kania yang semula terpejam, kini mulai terbuka dengan perlahan saat Veon mengakhiri ciuman itu.
Veon tersenyum, “sekarang kamu sudah pandai berciuman ternyata,” godanya.
Wajah Kania mulai memerah, dia lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Veon menurunkan kedua telapak tangan Kania dari wajahnya, dia lalu mengecup kening Kania.
“Sepertinya ini sudah siang, aku ingin mengajak kamu ke rumah utama, Mama dan Papa pasti akan senang melihat kamu mengunjungi mereka lagi setelah sekian lama.”
“Apa kamu yakin mereka tidak tahu tentang kepergian aku?”
__ADS_1
Veon mengangguk pelan, “aku yakin, kalau kamu masih penasaran, kita buktikan kebenarannya,” ucapnya.
Veon lalu bangun dari tidurnya, dia membulatkan kedua matanya saat melihat tubuh polos Kania, dia pun mulai menelan ludah. Pergulatan dini hari tadi kembali berputar di otaknya, “ayo kita mandi, aku ingin mandi bersamamu.”
Kania membulatkan kedua matanya saat tiba-tiba Veon membopong tubuhnya dan membawanya ke dalam kamar mandi. Wanita itu tahu kenapa suaminya mengajaknya untuk mandi bersama, pasti ujung-ujungnya hanya akan membuat tubuhnya lemas seperti dini hari tadi.
***
Kania dan Veon keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi. Mereka bersiap untuk makan siang, karena mereka telah melewatkan sarapan pagi mereka. Asisten rumah tangga Veon sudah menyiapkan makan siang di meja makan.
“Makan yang banyak agar tenaga kamu kembali pulih.” Veon mengambilkan makanan untuk Kania, dan meletakkan di depannya, “aku ingin kamu dan anak aku sehat,” imbuhnya.
“Kamu tau aku sedang hamil, tapi kenapa kamu terus menyiksaku seperti tadi.” Kania mengerucutkan bibirnya.
Veon menggenggam tangan Kania lalu mengecupnya, “aku tidak menyiksamu sayang, aku memberikan kenikmatan kepadamu. Bukankah kamu tadi sangat menikmatinya,” godanya.
Kania tidak memperdulikan ucapan Veon, dia memilih untuk mengisi perutnya yang sudah sangat kelaparan. Tenaganya sungguh telah terkuras habis, dia bahkan merasa tubuhnya begitu lemas.
Veon mengambil sendok dari tangan Kania, “biar aku suapi,” ucapnya.
Veon mulai menyuapi Kania dengan perlahan, dia berjanji pada dirinya sendiri, dia akan membuat wanita yang duduk di sampingnya itu bahagia.
Sejak tadi Kania hanya melihat Veon yang terus menyuapinya, dia bahkan tidak melihat Veon memasukkan satu suap makanan ke mulutnya.
“Nanti saja, yang penting sekarang istri ini makan yang banyak agar anak aku sehat, istri aku yang cantik ini juga sehat,” ucap Veon dengan senyuman di wajahnya.
“Kamu juga harus makan.” Kania mengambil satu sendok makanan dan dia suapkan ke mulut veon, dengan senang hati Veon membuka mulutnya dan menerima suapan itu.
Eca dan Zaki yang sejak tadi berdiri tak jauh dari ruang makan, mereka hanya tersenyum melihat kemesraan Veon dan Kania.
“Aku juga ingin di suapi seperti itu,” ucap Eca sambil menatap ke arah Veon dan Kania yang masih saling menyuapi satu sama lain.
“Kalau kamu ingin disuapi seperti itu, cepatlah menikah, dan minta suami kamu untuk menyuapi kamu.”
Eca melihat Zaki yang sejak tadi berdiri di sampingnya, “kenapa harus menunggu sampai menikah, sekarang aku juga bisa merasakan bagaimana rasanya disuapin sama pria tampan,” ucapnya sambil mengedipkan kedua matanya berkali-kali.
Zaki mengernyit bingung, “maksud kamu?” tanyanya bingung.
Eca merangkul lengan Zaki, “kamu saja yang menyuapi aku, mau ya,” pinta sambil menyengir kuda.
Zaki menjitak kening Eca hingga membuat gadis itu melepaskan rangkulan tangannya, dia beralih mengusap keningnya yang terasa sakit, “sakit tau!” serunya tidak terima.
__ADS_1
“Kalau sakit, itu berarti kamu sedang tidak bermimpi, tapi jangan berkhayal aku akan menyuapimu.” Zaki lalu memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan tempat itu.
Eca menatap punggung Zaki yang semakin menjauh, “sepertinya dia pria tampan yang baik, aku akan mendapatkannya,” ucapnya mantap.
Veon dan Kania yang sudah selesai makan pun beranjak dari duduknya, mereka terkejut saat melihat Eca berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
“Eca, sedang apa kamu disitu?” Kania dan Veon berjalan menghampiri Eca.
Veon melihat kening Eca yang memerah, “kenapa kening kamu?” tanyanya penasaran.
“Ini semua ulah Kak Zaki,” ucap Eca sambil mengerucutkan bibirnya.
“Kening kamu di cium sama Zaki,” canda Kania sambil menahan tawa.
“Memangnya ciuman Zaki bisa membuat kening Eca jadi memerah seperti itu?” tanya Veon bingung.
Kania menggelengkan kepalanya, dia tidak menyangka suaminya bisa bodoh juga, “iya,” ucapnya.
Eca dan Kania tertawa melihat tingkah bodoh Veon. Kania tidak ingin melihat suaminya semakin terlihat bodoh di depan sahabatnya, dia pun merangkul lengan Veon dan mengajaknya pergi. Eca mengikuti mereka dari belakang.
“Zak, sekarang antar aku ke rumah utama.”
Veon lalu mengajak Kania menuju mobil, pria itu lalu membukakan pintu mobil untuk Kania dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.
“Oh...so sweet,” ucap Eca sambil menyatukan telapak tangannya dan menyentuhkannya di pipi kanannya.
Zaki tidak memperdulikan tingkah Eca, dia memilih untuk segera masuk ke dalam mobil. Menyadari dirinya telah di tinggal pergi oleh Zaki, Eca bergegas melangkahkan kakinya menuju pintu pumpang dan membukanya, dia lalu masuk ke dalam mobil itu.
“Kita langsung menuju rumah utama saja.”
“Baik, Tuan.” Zaki lalu melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah pribadi Veon.
Dalam perjalanan Eca terus menggerutu tentang sikap Zaki yang selalu mengacuhkannya. Padahal dia hanya berniat ingin berteman dengannya, apalagi mereka tinggal satu atap, dia tidak ingin ada kecanggungan di antara mereka.
Veon dan Kania hanya menggelengkan kepalanya, melihat Zaki yang sejak tadi kena omelan Eca.
“Sayang, sepertinya sahabat kamu itu tertarik sama Zaki,” tebak Veon.
“Aku lihat juga seperti itu, tapi apa Zaki sampai sekarang tidak mempunyai kekasih?” tanya Kania lirih.
“Sepertinya tidak.”
Zaki yang sejak tadi mengamati gelagat Veon dan Kania dari kaca spion di depannya hanya diam saja. Dia membiarkan dua insan itu untuk terus membicarakan dirinya. Zaki menatap Eca yang sejak tadi menatap keluar jendela, baru kali ini dia mendapatkan omelan sebanyak itu, itu pun dari gadis yang baru sehari dikenalnya.
__ADS_1
~oOo~