
Alex membuka pintu kamarnya, tapi dia tidak melihat Chelsea ada di kamar itu, “pergi kemana dia?” pria itu lalu keluar dari kamarnya, dia ingin menanyakan kepada asisten rumah tangganya.
“Bi, apa Bibi tahu, kemana Chelsea pergi? Dan dia pergi sejak kapan?”
“Nyonya Chelsea, pergi dari siang, Tuan. Saya tidak tahu, kemana Nyonya Chelsea pergi.”
“Baiklah, Bi. Bibi boleh pergi.” Alex lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, ternyata ponselnya mati, “astaga! Kenapa aku tidak sadar kalau ponselku mati.”
Alex lalu kembali menaiki tangga menuju kamarnya, dia lalu mengambil charger dan mulai mengisi daya baterai ponselnya. Alex terkejut saat dia menyalakan ponselnya, karena begitu banyak panggilan tak terjawab dari Chelsea.
Alex pun langsung menghubungi Chelsea, “halo,” sahutnya saat panggilan itu mulai tersambung.
“Lex, kamu sedang apa sih, kenapa ponsel kamu tidak bisa dihubungi!” Chelsea berbicara dengan nada kesal.
“Maaf, aku tidak tahu kalau ponsel aku mati. Kamu sekarang dimana, apa perlu aku jemput?”
“Aku di rumah Vika, sepertinya dia sudah mau melahirkan.”
Alex membulatkan kedua matanya, “apa? lalu, apa Betrand ada disana?”
“Betrand baru saja sampai di rumah, kami akan ke segera ke rumah sakit, jadi kamu lebih baik langsung menuju ke rumah sakit saja. Kalau begitu, aku tutup dulu. aku tunggu di rumah sakit.” Chelsea lalu mengakhiri panggilan itu.
Alex terduduk lemas di sofa, “Chel, aku tahu, kamu pasti sangat sedih sekarang. Bahkan Vika memiliki anak lebih dulu. Sayang, maafkan aku.” pria itu lalu menghela nafas, “sepertinya aku harus jujur sama Chelsea. Aku tidak ingin menyembunyikan ini lagi darinya, aku sudah berusaha, tapi ternyata sampai sekarang belum juga ada hasilnya.”
Alex pun bergegas untuk membersihkan dirinya, dia sudah tidak sabar ingin segera pergi ke rumah sakit. Dia ingin mengatakan semuanya kepada Chelsea, dia tidak ingin membohongi Chelsea lagi. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Alex mengambil kunci mobil dan ponselnya dari atas meja, dia lalu bergegas keluar dari kamarnya.
“Bi, saya mau ke rumah sakit dulu. Tolong jaga rumah, ya Bi.”
“Iya, Tuan. Tapi, siapa yang sakit, Tuan?”
“Tidak ada yang sakit, Bi. Tapi sahabat saya mau melahirkan, dan Chelsea sedang bersama dengannya sekarang.”
Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, “hati-hati, Tuan.”
“Iya, Bi.” Alex lalu bergegas keluar dari rumahnya.
__ADS_1
“Ya Tuhan, tolong berikan anugerah terindah-Mu, untuk Tuan Alex dan juga Nyonya Chelsea. Sudah tiga tahun mereka menunggu, mereka orang-orang yang sangat baik, Tuhan.”
**
Setelah sampai di rumah sakit, Alex segera menuju ruang bersalin. Pria itu melihat Chelsea dan Betrand yang sedang berdiri di depan pintu ruang bersalin.
“Betrand, bagaimana istri dan calon anak kamu?” tanya Alex cemas.
Betrand langsung memeluk Alex, “anak aku sudah lahir, aku menjadi seorang Ayah,” ucapnya bahagia.
Alex menepuk punggung Betrand, “selamat ya. Akhirnya kamu menjadi seorang Ayah.” Pria itu lalu menatap Chelsea, terlihat jelas kesedihan di wajah wanita itu.
Betrand melepaskan pelukannya, “anak aku cowok, dia sangat tampan.”
“Sekali lagi selamat ya, lalu bagaimana dengan Vika, dia baik-baik saja, kan?”
Betrand menganggukkan kepalanya, “dokter sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut.”
“Tapi, bukankah HPL Vika seharusnya satu minggu lagi, tapi kenapa secepat ini?” tanya Alex heran.
Ruang persalinan terbuka, Vika dan bayinya akan dipindahkan ke ruang perawatan. Betrand memesan ruang VIP, dia ingin membuat Vika dan anaknya merasa nyaman.
Betrand mengecup kening Vika, “terima kasih sayang, kamu telah memberikan aku anugerah terindah.”
Vika tersenyum, dia lalu melihat bayi mungil yang berada di gendongan Chelsea, “Chel, aku ingin melihat anakku.”
Chelsea melangkahkan kakinya menuju ranjang, “anak kamu sangat tampan, dia sangat mirip dengan Betrand.”
“Ya iyalah mirip aku, kan aku yang bikin Vika hamil.” Betrand lalu mengambil bayi mungil itu dari gendongan Chelsea, “sayang, lihatlah, matanya sangat mirip denganmu.”
Vika mengecup kening putranya, “selamat datang ke dunia sayang, Mama sayang sudah lama menunggu kehadiran kamu,” ucapnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Alex menggenggam tangan Chelsea, “sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu.”
“Nanti saja ya, aku masih ingin disini. Melihat Vika dan Betrand bahagia, membuat aku sangat bahagia. Apalagi melihat bayi mungil itu, aku...”
__ADS_1
“Maafkan aku, sayang. Maafkan aku.”
Chelsea tersenyum, “kenapa kamu meminta maaf, memangnya kamu sudah melakukan kesalahan apa?”
Vika menatap Chelsea dan Alex, “kenapa kalian seserius itu, apa terjadi sesuatu?” tanyanya penasaran.
Chelsea dan Alex menggelengkan kepalanya. Chelsea lalu menyentuh pipi gembul bayi mungil itu, “ngomong-ngomong, mau diberi nama siapa anak kalian ini?”
Betrand menatap wajah bayi mungil yang berada di gendongannya, “aku akan memberinya nama Aristide Keano Favian, yang artinya laki-laki terbaik yang membawa kesejukan dan dimengerti banyak orang,” ucapnya lalu mengecup kening bayi mungil itu.
Vika tersenyum, “nama yang sangat bagus. Kalau aku akan memanggilnya Kean.” Wanita itu lalu mengambil bayi mungil itu dari gendongan Betrand, “Kean, anak Mama yang tampan,” ucapnya lalu mengecup kedua pipi gembul Kean.
“Nama yang bagus, ternyata kamu pandai juga memberi dia nama, tapi...kenapa kamu tidak memberikan nama belakang kamu?” tanya Alex penasaran.
Betrand tersenyum, dia lalu menatap Vika dan juga anaknya, “aku ingin membuka lembaran baru dengan keluarga kecilku. Kami ingin melupakan masa lalu kita, dimana keluarga kita sama-sama telah membuang kita. Aku tidak ingin, apa yang aku dan Vika alami, terjadi pada anak kita juga.”
“Betrand, maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk membuka luka lama kamu,” ucap Alex sambil menepuk bahu Betrand, pria itu merasa sangat bersalah.
Betrand tersenyum, “tidak apa-apa lagi. Tanpa bantuan kamu, mungkin aku tidak bisa bangkit seperti sekarang. Terima kasih.”
Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu mengajak Chelsea untuk keluar dari ruangan itu. Pria itu ingin membiarkan Betrand bersama dengan keluarga kecilnya. Selain itu, Alex sudah tidak bisa menahan diri lagi, dia merasa sangat bersalah, karena telah membohongi Chelsea selama ini.
Mereka saat ini sedang duduk di ruang tunggu.
“Lex, apa yang ingin kamu katakan sama aku?”
Alex menggenggam tangan Chelsea, “tapi kamu harus janji, kamu jangan marah sama aku setelah mendengar apa yang aku katakan.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, tapi, wanita itu tiba-tiba merasa kepalanya sangat berat, “katakan, apa itu?”
Chelsea merasa penglihatannya semakin buram, hingga akhirnya dia tidak sadarkan diri. Untung Alex dengan sigap langsung menopang tubuh Chelsea.
“Sayang, kamu kenapa? bangun sayang...bangun...”
Betrand yang mendengar teriakan Alex, bergegas keluar dari ruang perawatan itu. Pria itu terkejut saat melihat Chelsea tidak sadarkan diri. Betrand lalu meminta Alex untuk membawa Chelsea ke ruang pemeriksaan. Alex pun membopong tubuh Chelsea dan membawanya menuju ruang pemeriksaan.
__ADS_1
~oOo~