Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Aku akan tunjukkan


__ADS_3

Alex membuka kedua matanya secara perlahan, dia melihat Chelsea masih tertidur di dalam dekapannya. Senyuman merekah dari kedua sudut bibir Alex, dia lalu mengecup kening Chelsea, “selamat pagi sayang.”


Chelsea tetap diam, dia bahkan semakin mendekatkan tubuhnya. Alex menarik selimut untuk menutupi tubuh Chelsea, setelah itu dia memutuskan untuk beranjak dari ranjang dan melakukan rutinitas paginya.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Alex mencoba untuk membangunkan Chelsea, karena mereka pagi ini sudah memiliki rencana untuk jalan-jalan berdua mengelilingi komplek.


Alex membelai lembut pipi Chelsea, “sayang, ayo bangun, ini sudah pagi, katanya mau menemani aku jalan-jalan?”


Chelsea mulai membuka kedua matanya, dia juga masih menguap karena rasa kantuk yang masih dia rasakan, “memangnya ini sudah jam berapa?” wanita itu lalu mengambil guling untuk dipeluk.


“Ini sudah jam 06.30 pagi sayang, nanti keburu matahari sudah tinggi, aku hanya tidak ingin nanti kamu kepanasan lagi.”


“Kamu saja yang pergi jalan-jalan, aku malas, aku masih mengantuk.” Chelsea lalu kembali memejamkan kedua matanya.


“Aku tidak mau, bukannya semalam kamu sudah berjanji ingin menemani aku jalan-jalan? Kalau aku pergi sendirian, terus Mama kamu bertanya ‘kok kamu sendirian, Chelsea mana?’ terus aku harus bilang apa? apa aku harus bilang kalau kamu tidak mau menemani aku jalan-jalan?” Alex berbicara sambil melipat kedua lengannya di dada.


Chelsea kembali membuka kedua matanya, dia lalu mengubah posisinya menjadi duduk, “mau kamu sebenarnya apa sih?” wanita itu mendengus kesal.


“Aku hanya ingin jalan-jalan berdua sama kamu, mumpung kita masih berada di rumah kedua orang tua kamu.” Alex menggerakkan kedua alisnya naik turun.


“Aku itu malas kemana-mana, kita di rumah saja, ya,” pintanya dengan memelas.


Alex menggelengkan kepalanya, “kamu sudah janji, aku hanya ingin menagih janji kamu.”


“Kapan aku berjanji sama kamu? Kayaknya aku tidak pernah mengatakan itu?”


“Aku tidak mau tahu, kita berangkat sekarang.” Alex lalu menarik tangan Chelsea hingga wanita itu beranjak dari ranjang, “sekarang kamu mandi, aku tunggu.”


Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku tidak mau mandi, aku mau cuci muka saja. Mandinya nanti setelah jalan-jalan.” Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Seperti yang dia katakan tadi, Chelsea memang hanya menggosok gigi dan mencuci muka.


“Ayo kita berangkat,” ajak Chelsea yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Alex mengernyitkan dahinya, “kamu mau berpenampilan seperti ini?”


Chelsea melihat penampilannya yang masih menggunakan piyama, “kenapa, apa kamu malu jalan sama aku dengan penampilan seperti ini?”


Alex menggelengkan kepalanya, “mau kamu pakai baju compang-camping pun, bagiku kamu tetap lah cantik, hanya saja, aku takut kamu malu nantinya.”


Chelsea mengerucutkan bibirnya, sebenarnya dirinya juga malu berpenampilan seperti itu, apalagi melihat Alex yang sudah berpenampilan rapi dan terlihat sangat tampan, “tunggu, aku ganti baju dulu.”


Alex tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, dia memilih untuk menunggu Chelsea berganti pakaian sambil duduk di sofa. Pria itu mulai memainkan ponselnya.


Chelsea yang sudah berganti pakaian...bukan-bukan, ternyata Chelsea sekalian mandi, dia tidak ingin Alex sampai mencium bau badannya yang mengeluarkan bau ciri khas baru bangun tidur. Chelsea sudah terlihat lebih Fresh, “ayo,” ajaknya.

__ADS_1


Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu mengikuti Chelsea keluar dari kamar itu. Chelsea membiarkan Alex untuk menggenggam tangannya, karena saat ini mereka masih berada di rumah utama.


Saat di depan pintu, mereka berpapasan dengan Veon, Kania dan juga Zaki. Veon baru pulang menemani Kania jalan-jalan, karena di kehamilannya yang sudah menginjak 9 bulan, dokter menyarankan untuk memperbanyak gerak, agar memperlancar waktu persalinan. Dan Veon memang sengaja menyuruh Zaki untuk datang ke rumahnya pagi itu, karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan Zaki.


Alex menatap ke arah Zaki yang saat ini tengah menatapnya dengan sangat tajam, pria itu mempunyai ide untuk membuat pria itu sadar, jika Chelsea sekarang sudah menjadi miliknya.


Alex memeluk Chelsea dari belakang, dia lalu menopangkan dagunya ke bahu Chelsea, “sayang. Lihatlah, kakak kamu saja mau menemani istrinya jalan-jalan pagi, mereka bahkan terlihat sangat mesra.” Pria itu menatap Veon yang tengah merangkul pinggang Kania, “apa aku juga boleh seperti kakak kamu, aku ingin menunjukkan rasa sayang aku ke kamu?”


Chelsea menatap Zaki yang saat ini tengah menatap Alex dengan sangat tajam, “Lex, jangan seperti ini.” Wanita itu mencoba untuk menyingkirkan kedua tangan Alex dari tubuhnya.


Tapi Alex semakin mempererat pelukannya, dia lalu mengecup bahu Chelsea, “kenapa kamu malu sayang, kan disini hanya ada kakak kamu, kakak ipar kamu dan asisten kakak kamu.”


Zaki mengepalkan kedua tangannya, dia marah bukan karena Alex merendahkannya, tapi karena Alex memeluk Chelsea dan menciumi bahu Chelsea di depan kedua matanya. Tapi Zaki mencoba untuk menahan amarahnya, jika dia marah pun tidak akan ada gunanya, Alex adalah suami Chelsea, dan dia berhak atas wanita itu.


“Kalian mau kemana?” tanya Kania sengaja untuk mengalihkan perhatian Alex dan Chelsea yang sejak tadi menatap tajam ke arah Zaki.


“Alex ingin jalan-jalan keliling komplek, dan aku ingin menemaninya,” sahut Chelsea sambil menepiskan senyumannya.


Alex melepaskan pelukannya, dia lalu menggenggam tangan Chelsea dan mengecup punggung tangannya, “ayo sayang, nanti keburu siang,” ajaknya.


Chelsea dan Alex berpamitan kepada Kania, Veon dan juga Zaki. Saat berjalan di depan Zaki, Alex sengaja merangkul bahu Chelsea, dan mengecup pelipis wanita itu. Dia puas melihat ekspresi wajah Zaki yang terlihat tengah menahan amarah.


Setelah melewati gerbang rumah utama, Chelsea menyingkirkan tangan Alex dari bahunya, “apa kamu sengaja melakukan itu di depan Zaki?”


“Lex, aku dan Zaki sudah tidak mempunyai hubungan apa-apa, apa kamu perlu melakukan itu?”


Alex menangkup kedua pipi Chelsea, “kamu yakin tidak ada hubungan apa-apa dengan Zaki? Lalu tanda merah yang di leher kamu itu apa?”


Chelsea membulatkan kedua matanya, “t—tanda merah apa maksud kamu?”


“Kamu bukan lagi anak kecil, dan kamu pasti tahu apa itu, kalau kamu masih belum paham, aku akan tunjukkan.” Alex lalu menurunkan kaos yang menutupi bahu Chelsea hingga memperlihatkan kulit mulusnya, pria itu lalu menghisap dan menggigit pelan bahu Chelsea hingga meninggalkan jejak kemerahan.


Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna saat Alex melakukan itu di tubuhnya, “Lex! Apa yang kamu lakukan?”


Alex lalu mengambil ponselnya dan mengambil gambar tanda merah yang tadi dia buat lalu dia tunjukkan kepada Chelsea, “di leher kamu ada dua tanda merah seperti ini, dan aku yakin kamu pasti juga sudah mengetahuinya. Tidak mungkin kamu tidak merasakan itu saat Zaki melakukannya,” ucapnya sambil menyipitkan kedua matanya.


Chelsea menelan ludah, dia sampai melupakan hal itu, tapi dia waktu itu tidak bisa mencegah Zaki karena itu terjadi begitu cepat, “kalau kamu sudah mengetahui itu, lalu kenapa kamu masih mempertahankan aku?”


Alex tersenyum, “kalau hanya itu, aku tidak terlalu memperdulikannya, selain itu aku yakin, kamu tidak akan pernah melakukan itu lagi.”


“Kenapa kamu bisa seyakin itu?”


Alex menggenggam tangan Chelsea lalu mengecupnya, “karena aku percaya sama kamu, aku mencintaimu dengan tulus.”

__ADS_1


**


Veon mengajak Zaki menuju ruang kerjanya, Veon mengambil berkas dari atas meja kerjanya dan memberikannya kepada Zaki.


“Apa ini, Tuan?” tanya Zaki setelah menerima berkas itu.


“Itu adalah info tentang perusahaan yang tengah Alex pimpin.”


Zaki tersenyum, “apa kita akan menghancurkan perusahaan itu sekarang juga?” tanyanya dengan senyuman di wajahnya.


Veon menggelengkan kepalanya, “kamu atur kerja sama dengan perusahaan Alex.”


Zaki membulatkan kedua matanya, “tapi kenapa, Tuan? Bukankah seharusnya kita menghancurkan perusahaan itu?”


Veon mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya, “itu memang rencana aku dulu, tapi sekarang situasinya berbeda. Alex adalah suami Chelsea, jika aku menghancurkan perusahaan Alex, itu sama saja aku menghancurkan hidup Chelsea, karena perusahaan itu adalah tempat satu-satunya Alex mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan Chelsea dan juga dirinya.”


“Tapi, Tuan. Apa Tuan sudah melupakan semua perbuatan yang Alex lakukan kepada anda dan juga Chelsea?”


Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak pernah bisa melupakannya, tapi sekarang Alex sudah mulai berubah, aku bisa melihat betapa Alex sangat mencintai Chelsea.”


“Tuan...” Zaki tidak menyangka Veon sekarang malah berpihak kepada Alex, sekarang dia tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa menghancurkan Alex.


“Zak, aku tahu bagaimana perasaan kamu, tapi kamu harus mencoba untuk melupakan Chelsea, bagaimanapun aku tidak ingin hidup Chelsea hancur untuk kedua kalinya.”


“Bagimana jika saya tidak bisa melakukan itu?” Zaki menundukkan wajahnya, hatinya begitu sakit saat dia mendengar Veon menyuruhnya untuk mengikhlaskan Chelsea, padahal baru kemarin mereka menghabiskan waktu berdua.


“Aku tahu itu akan terasa sulit, tapi kamu harus tetap mencobanya.” Veon lalu beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Zaki, “jangan membenciku, aku melakukan semua ini demi kebaikan kalian berdua.” Pria itu lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerjanya.


Veon masuk ke dalam kamarnya, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Kania yang tengah duduk di sofa, “aku sudah melakukan apa yang kamu minta,” ucapnya sambil mendudukkan tubuhnya di samping Kania.


“Apa yang dikatakan Zaki? Apa dia marah?”


Veon menganggukkan kepalanya, “dia sepertinya tidak terima dengan keputusan aku, aku tahu apa yang dia rasakan saat ini.”


“Sayang, kita harus melakukan ini. Semua ini kita lakukan untuk kebaikan Zaki dan Chelsea. aku juga tidak tega melihat Zaki seperti itu, tapi itu lebih baik daripada dia harus mengharapkan Chelsea untuk kembali kepadanya.”


“Apa kamu yakin Chelsea akan bahagia bersama dengan Alex?”


Kania menganggukkan kepalanya, “aku sangat yakin, semalam saja aku bisa melihat kekhawatiran di wajah Chelsea saat Alex belum juga kembali ke rumah ini, padahal dia sudah berjanji akan menginap di rumah ini.”


“Semoga saja, tapi jika ternyata Chelsea tidak bahagia dengan pernikahan itu, maka aku akan membawa dia kembali ke rumah ini, apapun yang terjadi,” ucapnya tegas.


~oOo~

__ADS_1



__ADS_2