
Veon terus mencari keberadaan Kania, tapi sampai sekarang dia tidak bisa menemukan istrinya itu, “Zak, apa kamu sudah ada kabar dari orang-orang suruhan kamu?” tanyanya.
Zaki menggelengkan kepalanya, “belum, Tuan,” sahutnya.
“Arrrggghhhhh.” Veon mengacak-acak rambutnya karena frustasi, “Kania, kamu dimana? Apa kamu benar-benar ingin pergi dariku?” pria itu berteriak dengan sangat keras.
Zaki tidak tau harus berbuat apa lagi, segala cara telah dia lakukan. Seluruh penjuru Jakarta sudah dia jelajahi untuk mencari Kania, tapi hasilnya tetap nihil.
Veon sengaja menyembunyikan kepergian Kania dari keluarganya, dia tidak ingin membuat keluarganya cemas. Terutama keadaan Dion yang membuat Veon untuk mengambil keputusan itu. Veon mencari alasan kalau Kania menginap di rumah Papanya karena Papanya tengah sakit, dan untuk sementara dia dan Kania akan tinggal di rumah orang tua Kania, dan untung saja Dion dan Vera percaya dengan alasan Veon.
Dan selama dua minggu ini Veon menginap di rumah Zaki, bukan karena dia tidak bisa menginap di hotel atau apa, tapi dia maupun Zaki tidak pernah mempunyai waktu untuk bersantai. Zaki, Veon dan Dimas, mereka bertiga bahkan menyewa orang-orang yang berpengalaman dalam mencari orang hilang, tapi mereka masih belum menemukan Kania.
“Tuan, lebih baik tuan beristirahat dulu, tuan juga harus memperhatikan kondisi tubuh tuan,” bujuk Zaki.
“Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan aku tidak tau kondisi Kania saat ini bagaimana. Dia bahkan pergi tanpa membawa apa-apa, aku hany melihat transaksi penarikan dia terakhir kali, hanya 10 juta. Itu bahkan tidak sudah satu bulan yang lalu.”
“Apa tuan sekarang mulai peduli padanya?”
“Apa kamu bodoh! Tentu saja aku peduli padanya, dia istriku dan aku...” Veon menghentikan ucapannya, dia tidak tau dengan apa yang akan dia katakan, apa dia benar-benar merasakan ras itu untuknya?
“Anda kenapa, Tuan? Apa anda sudah mulai mencintainya? Lalu bagaimana dengan Nona Bella, mau sampai kapan anda akan terus menerima Nona Bella?”
“Zak, apa maksud kamu?”
“Tuan, saya minta maaf jika saya sudah lancang mengatakan semua ini, tapi anda harus tau semuanya.” Zaki menghela nafas panjang, “Nona Kania tau semuanya, tau tentang perasaan anda pada Nona Bella, dia juga tau jika Nona Bella adalah cinta pertama Tuan. Nona Kania pernah bilang sama saya, dia rela menahan rasa sakit itu, melihat anda bersama dengan Nona Bella. Karena Nona Kania sangat mencintai anda, dan tidak berharap anda akan membalas perasaannya. Dia sadar, jika dia bukan siapa-siapa dalam hidup anda. Apa yang selama ini anda lakukan padanya, itu hanya karena anda membutuhkannya, bukan karena cinta, tapi tidak dengan Nona Kania, dia melakukannya karena dia benar-benar mencintai anda.”
Pernyataan Zaki membuat jantung Veon seakan berhenti berdetak. Dia tidak menyangka Kania akan mencintainya sedalam itu, padahal perlakuannya selama ini sudah sangat buruk padanya. Walau kadang dia bersikap manis dan manja, tapi kadang dia juga bisa terbawa emosi dan menyakiti hati Kania.
“Zak, kenapa semua menjadi seperti ini?” Veon terduduk lemas di lantai, dia meraup wajahnya gusar, “aku sudah terlalu banyak menyakitinya, tapi dia masih begitu mencintaiku. Aku menyesali semuanya, kenapa aku baru menyadari betapa dia sangat berharga untukku setelah dia pergi meninggalkan aku?” tanyanya frustasi.
Zaki hanya diam, dia tidak tahu harus berbicara apa, bagaimana dia bisa memberi solusi, sedangkan dirinya saja belum pernah mengalami semua itu, bahkan cinta pertamanya lepas dari genggamannya karena kesalahan bodohnya.
Veon beranjak dari duduknya, “kita ke rumah sekarang, aku ingin berbicara serius dengan Bella,” ucapnya.
Zaki mengangguk kan kepalanya. Mereka lalu keluar dari ruangan itu. Sebelum pergi, Veon memberi tahu sekretarisnya untuk membatalkan semua meeting hari ini. Dia juga tidak akan kembali ke kantor lagi.
Sesampainya di rumah pribadinya, dia tidak melihat Bella, sepertinya wanita itu tidak ada di rumah. Veon dan Zaki tetap menunggu sampai wanita itu pulang ke rumah. Zaki yang merasa kehausan akhirnya pergi ke dapur untuk membuat minuman untuknya dan juga Veon.
__ADS_1
Saat pemuda itu melangkah menuju dapur, samar-samar dia mendengar suara yang tidak asing untuknya. Ya...itu adalah suara Bella yang sedang berbicara di telepon dengan seseorang, Zaki berjalan mengendap-endap supaya Bella tidak mengetahui keberadaannya.
Zaki adalah pria yang cerdas, dia lalu menyalakan perekam suara di ponselnya, dia tidak ingin melewatkan hal kecil apapun mengenai Bella.
Bella yang tidak mengetahui keberadaan Zaki pun berbicara dengan santainya, dia bahkan tertawa.
“Hans, aku sungguh berterima kasih sama kamu, berkat informasi yang kamu berikan padaku, aku sekarang berhasil membuat Kania pergi dari kehidupan Veon.”
Zaki yang mendengar ucapan Bella membulatkan kedua matanya, dia benar-benar tidak menyangka ternyata Bella dalang di balik semua itu.
“Gadis itu memang bodoh, dia langsung percaya saja dengan ucapan aku. dia langsung pergi meninggalkan Veon tanpa mencari tau kebenarannya dulu, dasar gadis bodoh!” Bella tertawa puas.
Zaki merasa semua ucapan Bella sudah cukup untuk dia jadikan bukti, bahwa Bella adalah bilang keladi dari semua itu. Pria itu lalu melangkahkan kakinya menghampiri Veon yang sedang berdiri di depan pintu utama sambil memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celananya.
“Tuan, saya mempunyai sesuatu untuk Tuan.” Zaki memberikan ponselnya kepada Veon.
Veon mengambil ponsel itu dari tangan Zaki, “apa itu? Kenapa kamu memberikan ponselmu padaku?” tanyanya bingung.
Zaki meminta Veon untuk mendengar rekaman audio yang baru dia rekam. Veon pun mulai menekan tombol play, dan mulailah terdengar suara Bella dari benda pipih itu. Pria itu mengepalkan salah satu tangannya, terlihat amarah sudah menyelimuti raut wajahnya.
“Dimana dia sekarang?” tanyanya penuh amarah.
Veon dengan penuh amarah melangkah kan kakinya secepat mungkin ke arah dapur. Dia tidak menyangka selama ini dia telah di bodohi oleh wanita ular yang berkepala dua. Selama ini dia bersimpati kepada Bella karena janji yang sudah dia ucapkan kepada kedua orang tua wanita itu, tapi dia tidak menyangka kebaikannya selama ini malah menjerumuskannya dan menjauhkannya dari wanita yang sangat dia cintai.
Veon menarik lengan Bella hingga membuat wanita itu terkejut, tamparan keras dia layangkan ke wajah cantik itu, “jadi selama ini kamu yang telah membuat Kania pergi meninggalkan aku, hah!” serunya marah.
Zaki membulatkan kedua matanya saat melihat Veon menampar Bella, bahkan suara tamparan itu sangat keras terdengar di seluruh ruangan.
Bella jatuh tersungkur karena tamparan keras itu, “sayang, apa maksud kamu, aku bahkan sebelumnya tidak tahu siapa itu Kania, jadi mana mungkin aku...” wanita itu menghentikan ucapannya saat Veon memutar kembali rekaman audio yang tadi dia dengar dari ponsel Zaki.
“Sekarang kamu sudah tidak bisa menyangkalnya lagi. Aku tidak menyangka kamu akan berbuat hal seperti ini padaku, setelah apa yang aku lakukan untuk kamu. Aku bahkan masih memberimu tempat tinggal setelah kamu pergi meninggalkan aku, itu semua karena aku masih menganggapmu sebagai teman masa kecilku, tapi apa ini balasan kamu padaku, hah!” seru Veon dengan nada meninggi.
Bella mencoba untuk berdiri, dia lalu tertawa sarkas, “teman, aku tidak mau menjadi temanmu, aku mau menjadi wanita satu-satunya di dalam hidupmu seperti itu!” serunya.
“Sekarang katakan padaku, apa yang kamu katakan kepada Kania, katakan!” teriaknya.
“Aku mengatakan yang seharusnya aku katakan, aku bilang sama dia kalau kamu ingin menikah denganku, dan aku meminta satu syarat sama kamu, yaitu menceraikan istri kamu. Aku juga bilang pada Kania kalau kamu sekarang sedang mengurus perceraian kalian.” Bella tertawa, “dan dengan bodohnya Kania percaya dengan ucapan aku. aku tidak menyangka dia akan secepat itu pergi meninggalkan kamu,” ucapnya dengan tersenyum bahagia.
__ADS_1
Veon mencengkram kuat kedua lengan Bella, hingga membuat wanita itu meringis kesakitan, “berani-beraninya kamu berkata seperti itu pada Kania, hah!” teriaknya.
“Aku sama sekali tidak takut, aku bahkan bisa melakukan lebih dari itu untuk bisa mendapatkan kamu lagi. Aku tidak menyangka rencanaku akan berhasil secepat itu.”
Veon menghempaskan tubuh Bella hingga membuat wanita itu kembali jatuh terjerembab, “aku telah salah menilaimu selama ini, kamu sudah banyak berubah, kamu bukan lagi Bella yang aku kenal. Mulai sekarang kemasi barang-barang kamu, dan pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin melihatmu berada di rumah ini lagi!” teriaknya.
Bella membulatkan kedua matanya, ini tidak seperti yang dia bayangkan. Wanita itu mengira setelah kepergian Kania, Veon akan kembali padanya, memandangnya seperti dulu lagi, tapi...bukan ini yang dia inginkan.
“Jangan usir aku, kalau kamu mengusirku, kemana aku harus pergi,” pinta Bella dengan wajah memelasnya.
Veon menatap zaki, “kamu urus dia, pastikan tidak ada satu barang miliknya yang tertinggal di rumah ini. Aku tidak ingin melihat wanita ini berada di rumah ini lagi,” perintahnya.
Zaki menganggukkan kepalanya, dia lalu berjalan mendekati Bella yang terkulai lemas di lantai. Pria itu menyuruh wanita itu untuk bangun, dan memintanya untuk mengemasi semua barang-barangnya.
“Veon, aku mohon, izinkan aku untuk tinggal disini, sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi,’ pinta Bella lagi.
“Keputusan aku sudah bulat. Aku tidak bisa memaafkan kesalahanmu kali ini, gara-gara kamu aku sudah kehilangan wanita yang sangat aku cintai.” Veon menatap tajam ke arah kedua mata Bella, “mulai sekarang jangan pernah menghubungi aku lagi, kalau sampai kamu menghubungi aku lagi, aku bahkan bisa menyakitimu dan menyiksamu seumur hidupmu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengan istriku, aku akan mencarimu dan membunuhmu!” ancamnya dengan nada meninggi.
Tubuh Bella bergetar, dia terlihat begitu ketakutan. Selama dia mengenal Veon, pria itu bahkan tidak pernah menunjukkan sisi kejamnya padanya. Yang dia rasakan hanya sisi hangat dan perhatian yang pria itu berikan padanya selama ini.
Veon melangkahkan kakinya menaiki tangga, dia pergi ke kamarnya. Sedangkan Zaki memantau Bella dalam mengemasi semua barang-barangnya dan memastikan tidak ada satu barang pun milik wanita itu tertinggal di rumah itu.
“Sekarang anda bisa pergi dari rumah ini, sebelum Tuan Veon berubah pikiran dan malah menjebloskan kamu ke penjara,” ancam Zaki dengan melipat kedua lengannya di dada saat melihat Bella sudah selesai mengemasi semua barang-barangnya.
“Izin kan aku untuk bertemu dengannya, aku mohon.”
Zaki menggelengkan kepalanya, “jangan harap anda bisa menemui Tuan Veon lagi, sekarang pergi dari sini!” teriaknya keras.
Bella mengepalkan kedua tangannya, ‘brengsek! Bisa-bisa kacung seperti dia meneriaki ku seperti itu! Kita lihat saja nanti, aku akan memberi perhitungan pada kalian!’ ancamnya dalam hati.
Bella menarik kopernya dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu. Wanita itu bingung harus pergi kemana, dia tidak mempunyai arah tujuan. Apalagi dia sudah tidak mempunyai pekerjaan lagi, dia bahkan sudah berhenti menjadi model saat dirinya memutuskan untuk kembali menemui Veon, berharap dia akan bisa menikahi pria tampan dan kaya itu.
Veon berdiri di depan jendela, dia menatap langit yang mulai gelap. Sudah hampir tiga jam dia berdiri di depan jendela itu, pikirannya selalu memikirkan Kania.
“Kania, kamu dimana? Bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?” Kedua sudut mata pria itu mulai berkaca-kaca, “aku sangat merindukan kamu, apa kamu sama sekali tidak merindukan aku? katanya kamu mencintaiku, dan tidak peduli akan balasan cinta itu, tapi kenapa sekarang kamu malah pergi meninggalkan aku, kenapa?” teriaknya.
“Apa kamu ingin mengujiku? Apa ini salah satu cara kamu agar aku menunjukkan cintaku padamu?” Veon menyandarkan tubuhnya ke dinding, dia meremas rambutnya dengan sangat kasar, “apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu kembali padaku? Aku akan melakukan apapun yang kamu minta, kembalilah padaku, aku mohon. Kania...aku mencintaimu, sangat mencintaimu...bukankah ini yang ingin kamu dengar, kembalilah sayang...aku mohon.”
__ADS_1
Zaki yang hendak mengetuk pintu kamar itu pun mengurungkan niatnya, “Kania, kamu dimana? Sekarang Tuan Veon sudah menyadari akan perasaannya padamu, kamu pasti akan sangat senang mendengarnya, kembalilah padanya, aku mohon.” Pria itu tidak tega melihat orang yang dia kenal sangat tegar dan tegas terlihat sangat lemah seperti sekarang ini. Zaki berjanji pada dirinya sendiri, dia akan segera menemukan Kania dan membawanya pulang ke pelukan majikannya.
~oOo~