
Setelah Veon keluar dari kamar itu, Kania pun melakukan rutinitas paginya. Wanita itu memutuskan untuk berendam sebentar dengan sedikit wewangian yang akan membuat pikirannya tenang. Setiap berhadapan dengan Veon, darah Kania seakan mendidih, apalagi dengan sikap dingin pria itu, tatapannya yang begitu tajam, dan Kania sama sekali tidak bisa mengartikan tatapan pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
Setelah selesai berendam dan membilasnya, Kania keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang melilit tubuhnya. Dengan santainya dia berjalan menuju lemari pakaiannya, dia memilah-milah pakaian apa yang akan dia pakai hari ini.
Veon yang melupakan sesuatu, akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya, dengan cepat dia membuka pintu kamarnya.
Kania yang mendengar pintu kamar terbuka pun langsung berteriak dengan sangat kencang, hingga membuat Veon terkejut. Tapi bukan hanya teriakan Kania yang membuat Veon terkejut, tapi juga pemandangan yang ada di depannya. Kedua mata Veon membulat dengan sempurna, dia lalu dengan cepat membalikkan tubuhnya dan memunggungi Kania.
“Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk, hah!” Kania segera memakai pakaiannya, dia terlihat begitu terburu-buru memakai pakaiannya, hingga dia tidak menyadari jika kaos yang dia pakai terbalik.
“Kenapa kamu pakai baju di dalam kamar? Mana aku tau kalau kamu sedang berganti pakaian.” Veon masih memunggungi Kania, “sudah belum, aku sedang terburu-buru, ada sesuatu yang harus aku ambil!” serunya.
“Sudah, berbalik lah.”
Veon membalikkan tubuhnya secara perlahan, dia lalu menatap ke arah Kania yang sudah berpakain lengkap. Melihat penampilan Kania membuat Veon tertawa terbahak-bahak, dan tentu saja tawa pria itu membuat wanita yang berada di depannya mengernyit bingung.
“Kenapa kamu malah tertawa seperti itu? Apa kamu menertawakan aku?” tanyanya kesal.
Veon melangkahkan kakinya mendekati Kania, dia lalu menyentuh ujung kaos Kania, hingga membuat wanita itu terkejut, dan dengan cepat Kania menepis tangan Veon dari bajunya, “apa yang mau kamu lakukan!” teriaknya.
“Apa kamu tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan?” Veon melipat kedua lengannya di dada.
“Apa maksud kamu, memang apa yang aku lakukan?”
Veon membalikkan tubuh Kania, dia lalu mendorong tubuh wanita itu sampai di depan cermin besar yang berada di kamar itu, “sekarang kamu lihat penampilan kamu itu,” ucapnya.
Kania membulatkan kedua matanya saat melihat penampilannya di balik cermin, dia merutuki kebodohannya, “tapi ini semua kan gara-gara kamu, kalau kamu tidak tiba-tiba masuk ke dalam kamar, semua itu juga tidak akan terjadi.” Wanita itu mencoba untuk mencari alasan atas kebodohannya.
“Kenapa kamu malah menyalahkan aku? apa kamu ini anak kecil, kenapa pakai baju saja tidak bisa?” ledek Veon dengan menyunggingkan senyumannya.
Kania terlihat sangat kesal saat ada orang yang mengatainya anak kecil, dia lalu membalikkan tubuhnya menghadap Veon, “aku bukan anak kecil!” serunya tidak suka.
Veon lalu menarik ujung kaos yang di pakai Kania, “lalu ini apa? Mana ada orang dewasa melakukan hal bodoh seperti ini,” ledeknya lagi.
__ADS_1
“Aku akan buktikan kalau aku bukan lagi anak kecil!” seru Kania yang tetap tidak mau kalah.
Veon lalu melipat kedua lengannya di dada, “memangnya apa yang bisa di buktikan oleh anak kecil, apa kamu akan merengek minta dibelikan permen.” Pria itu tidak henti-hentinya meledek wanita yang sudah terlihat sangat kesal itu.
“Kamu mau bukti?” Veon menganggukkan kepalanya.
“Aku akan membuktikannya.” Kania melangkahkan kakinya maju, semakin mendekat pada priaa yang berada di depannya.
Veon mengernyitkan dahinya, tapi dia mencoba untuk tetap tenang. Dia tetap berada di tempat dan tidak mengubah posisinya, hingga kini sudah tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua. Apa yang ingin wanita bodoh ini lakukan? Pikirnya.
Dengan perlahan Kania menggerakkan kedua tangannya, setelah itu dia melingkarkan kedua tangannya itu ke leher Veon, “kamu ingin tau apa yang bisa dilakukan orang dewasa?” saat ini jantung Kania berdetak dengan sangat kencang, nafasnya seakan sesak. Wanita itu sebenarnya tidak ingin melakukan hal sejauh itu, tapi dia pikir hanya itu jalan satu-satunya agar pria yang berada di depannya itu tidak lagi menganggapnya seperti anak kecil.
Kania menatap lekat kedua manik mata Veon yang berwarna kecoklatan. Bagi wanita itu kedua manik mata pria itu terlihat sangat indah, bahkan mampu membuat detak jantungnya semakin berdebar tidak menentu. Wanita itu semakin mendekatkan wajahnya, hingga bibir tipisnya itu menyentuh bibir pria yang berada di depannya.
Kedua mata Veon membulat dengan sempurna saat Kania membenamkan bibir tipisnya pada bibirnya. Tubuh pria itu seakan membeku, dia seakan tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya.
Hanya kecupan, setelah itu Kania menjauhkan bibirnya dari bibir pria itu, “apa ini cukup menjadi bukti kalau aku bukan anak kecil?” wanita itu ingin sekali berlari keluar dari kamar itu dan bersembunyi di suatu tempat agar tidak melihat wajah pria yang kini menatapnya dengan sangat tajam. Apa dia marah? Apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sudah gila? Rutuk Kania pada dirinya sendiri.
Veon menyunggingkan senyumannya, “aku semakin yakin kalau kamu ini anak kecil,” ledeknya.
“Yang kamu lakukan tadi?” Veon tertawa terbahak-bahak, “semua anak kecil bisa melakukan itu,” imbuhnya.
“Tidak mungkin, kamu hanya ingin mempermalukan aku kan!” Kania semakin terlihat kesal, pria itu sama sekali tidak ingin mengalah sedikit saja untuknya.
“Apa kamu bilang? Mempermalukan kamu? Bukankah kamu sendiri yang mempermalukan diri kamu sendiri dengan melakukan itu sama aku.” Veon lalu melipat kedua lengannya di dada, sorot matanya yang tajam di arahkan ke kedua mata Kania, “sekarang aku mau tanya sama kamu, apa tadi ciuman pertama kamu?” tanyanya.
“Bu—kan, itu bukan ciuman pertama aku,” elak Kania.
“Apa kamu pikir aku bodoh, hingga aku tidak tau kalau itu ciuman pertama kamu?”
“A—pa maksud kamu?” Kania terlihat sangat gugup, itu memang ciuman pertamanya, tapi apa ada yang salah dengan ciuman yang dia lakukan tadi hingga membuat Veon meragukan ciuman yang diberikan oleh Kania?
“Yang kamu lakukan tadi adalah ciuman terbodoh yang pernah aku dapatkan. Apa aku perlu mengajari kamu bagaimana cara berciuman?” Veon mendekatkan wajahnya ke wajah Kania, dia lalu membisikkan sesuatu di telinga wanita itu, “anak kecil,” imbuhnya.
__ADS_1
Kania mendorong tubuh Veon hingga menjauh dari tubuhnya, “aku tidak butuh!” tolaknya.
Veon melangkahkan kakinya maju, semakin mendekat, tapi wanita itu malah semakin melangkah mundur, hingga kini dia berada di jalan buntu yang tertutup oleh dinding.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Kania terlihat begitu takut.
“Aku akan menunjukkan apa itu ciuman, bukan kecupan seperti yang baru saja kamu lakukan sama aku.”
Kania menggelengkan kepalanya, “aku bilang aku tidak butuh itu!” serunya.
“Tapi aku harus mengajari anak kecil ini bagaimana cara berciuman dengan benar.”
Veon menghimpit dan mengunci tubuh Kania, agar wanita itu tidak bisa leluasa bergerak. Veon menatap dalam kedua mata Kania secara bergantian, ia mengatur nafasnya yang kian memanas. Kini tatapan mata pria itu beralih ke bibir tipis wanita itu yang menampakkan belahan di antara keduanya. Kecupan yang diberikan wanita itu membuatnya ingin meminta lebih dari itu.
Kania mengusur tubuhnya, dia mencoba untuk meloloskan diri dari kungkungan Veon, tapi usahanya sia-sia, karena pria itu semakin menghimpitnya, hingga tak ada lagi cela di antara mereka. Bahkan mereka harus berebut oksigen untuk bernafas, karena hidung mereka sudah hampir menempel satu sama lain, “aku mohon, lepaskan aku, aku minta maaf, tidak seharusnya aku melakukan itu sama kamu,” pintanya.
“Kak...” Kania menopang dada Veon dengan kedua tangannya, saat pria itu nyaris menarik tubuhnya untuk mendekat semakin dalam. Wajahnya memucat, seakan tidak teraliri darah sama sekali di sana. Kania nampak begitu ketakutan.
Kedua mata Kania dibuat membulat dengan sempurna saat Veon tiba-tiba menanamkan sebuah ciuman di bibir tipisnya, pria itu lalu mengunci pangkal lehernya, hingga membuat tubuhnya terasa lumpuh dan tidak bisa bergerak untuk menghindar. Tubuh Kania berdesir hebat hingga membuat denyut nadinya memacu semakin cepat. Kania menikmati ciuman itu tanpa tau apa yang harus dia lakukan.
Veon mulai menelusuri setiap bibir Kania yang dia pangut lebih dalam, hingga tangannya kini mulai menjamah setiap inci tubuh wanita itu.
Kania membulatkan kedua matanya saat dia merasakan tangan Veon mulai menyusup masuk di balik kaosnya, dia lalu mendorong tubuh Veon hingga pria itu kini berubah posisi sedikit menjauh darinya, “apa yang akan lakukan? Bukankah kamu tidak pernah menganggap aku sebagai istri kamu? Lalu kenapa kamu melakukan ini sama aku?” kedua sudut mata Kania mulai dipenuhi oleh cairan bening.
Veon hanya diam dengan mengepalkan kedua tangannya. Dia lalu mengalihkan tatapannya ke lain arah sambil menghela nafas dengan kasar. Pria itu lalu mengambil apa yang tadi ingin dia ambil, setelah itu dia keluar dari kamar itu sambil membanting pintu dengan sangat keras.
Kania terkulai lemas di lantai, “kenapa dia melakukan itu sama aku, kenapa? Apa dia ingin mempermalukan aku? jika saja dia memperlakukan aku dan menganggapku sebagai istrinya...”
~oOo~
__ADS_1