
Kepulangan Chelsea disambut hangat oleh keluarganya. Vera dan Dion sangat merindukan putri kecil mereka. Meskipun saat ini Chelsea sudah tumbuh menjadi wanita dewasa, tapi bagi mereka Chelsea tetaplah gadis kecil mereka yang sangat manja.
Chelsea menceritakan semua yang dia lakukan di Amerika, bagaimana kehidupannya di sana dan perlakuan keluarga Sam di sana. Ya...semenjak Vera menikah dengan Dion, Sam memutuskan untuk menetap di Amerika. Dia ingin melupakan cinta pertamanya yang sama sekali tidak mendapatkan balasan.
Meskipun begitu, hubungan Vera dan Sam masih berlanjut, hubungan itu menjadi hubungan adik dan kakak. Ya...Vera, kakak cantiknya Sam. Remaja yang sangat tengil dan berani menantang Dion hanya untuk mendapatkan kakak cantiknya.
Sam...mungkin dia sudah tidak lagi muda, tapi wajahnya masih tetap tampan. Dia memutuskan untuk menikah dengan orang Amerika, dari pernikahannya dia mempunyai seorang anak laki-laki. Namanya Erico Samuel, sekarang dia berusia 17 tahun. Sam kehilangan istrinya sejak Eric berusia 10 tahun, dan sejak itu Sam memutuskan untuk tidak menikah lagi. Dia membesarkan Eric seorang diri, dia berperan sebagai ayah dan ibu sekaligus, dan tentu saja dibantu oleh kedua orang tuanya yang juga ikut menetap di Amerika.
Semenjak Chelsea tinggal di rumah Sam, dia semakin dekat dengan Eric. Eric adalah pemuda yang sangat tampan, dan baik hati. Eric menganggap Chelsea seperti kakaknya sendiri. Saat Eric tau Chelsea akan pulang ke Indonesia, pemuda itu memutuskan untuk ikut dengannya. Meskipun Sam berasal dari Indonesia, tapi semenjak dia menikah dan mempunyai anak, dia sudah tidak lagi menginjakkan kakinya di Indonesia. Jadi ini adalah pertama kalinya Eric menginjakkan kakinya di tanah kelahiran ayahnya.
Eric juga merasa sangat senang, karena keluarga Chelsea menyambutnya dengan hangat. Terutama Vera, dia tidak pernah menyangka dia akan bertemu dengan anak sih bocah bau kencur alias Sam. Sudah sangat lama Vera tidak bertemu dengan Sam, terakhir kali mereka bertemu saat Chelsea lahir ke dunia. Setelah itu mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.
Dion...apakah dia masih sangat membenci Sam? Jawabannya tidak. Dion sudah berdamai dengan bocah tengil itu, karena baginya tidak ada gunanya juga jika harus bersaing dengan bocah tengil itu sedangkan Vera sudah menjadi miliknya seutuhnya. Semua kesalahan yang Sam lakukan sudah dimaafkan, dan menganggap Sam sebagai keluarganya.
Zaki memberitahu Veon tentang kedatangan Chelsea, dan pria itu pun juga datang ke rumahnya untuk menyambut kedatangan adiknya meskipun tidak didampingi oleh Kania. Saat ini mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah.
“Mama senang kamu sudah mendapatkan pekerjaan di sana, apa selama kamu tinggal di rumah Om Sam, kamu membuat masalah sayang,” goda Vera.
“Chelsea tidak pernah melakukan kesalahan apapun, Ma. Di sana banyak orang yang menyayangi Chelsea, kakek dan nenek juga sangat menyayangi Chelsea, terutama di rese ini,” ucap Chelsea sambil mengusap puncak kepala Eric yang saat ini duduk di sampingnya dan itu membuat Zaki tidak suka melihatnya.
“Eric, bagaimana kabar Daddy kamu?” tanya Dion.
“Daddy, baik kok Om, Daddy juga titip salam buat Om dan Tante. Daddy meminta maaf karena tidak bisa ikut pulang,” ucap Eric.
Chelsea menatap kakaknya yang tampak berbeda, Veon terlihat lebih kurus, bahkan penampilannya juga sedikit berantakan, ‘apa Kak Veon begitu merasa kehilangan Kania ya? Kenapa sekarang penampilannya menjadi seperti itu?’ gumamnya dalam hati.
Mereka semua mendengarkan celotehan Eric, pemuda itu sudah merasa dekat dengan keluarga Chelsea. Chelsea pergi memisahkan diri dari keluarganya, dengan alasan mau menelpon sahabatnya. Zaki yang mengetahui Chelsea pergi dari ruangan itu pun mengikuti wanita itu dari belakang, dan wanita itu mengetahuinya.
__ADS_1
Chelsea dan Zaki memilih untuk duduk di bangku taman, udara malam terasa sangat dingin dan menusuk tulang. Zaki melepas jaket yang dia pakai dan di pakaikan ke dua bahu Chelsea.
“Zak, kenapa Kak Veon menjadi seperti itu? Dimana kesan dingin, tegas dan berwibawa yang selama ini dia bangga-banggakan itu? Aku sudah tidak bisa melihat itu semua di diri kakak.”
“Semenjak kepergian Kania, kakak kamu seakan kehilangan semangatnya. Dia habiskan waktunya untuk mencari istrinya dan juga bekerja. Dia bahkan sering melupakan waktu makan, kalau aku sedang tidak ada di samping kakak kamu, dia tidak akan pernah makan, dia hanya sibuk dengan pekerjaannya.”
Chelsea menghela nafas panjang, “lalu apa yang harus kita lakukan, aku tidak mungkin membiarkan kakak seperti ini terus. Dia harus bangkit dari keterpurukan ini, kalau tidak hidupnya akan benar-benar hancur, dan aku tidak ingin itu sampai terjadi,” ucapnya.
“Kamu mengambil cuti sampai kapan?”
“Aku juga tidak tau, aku bilang sama Om Sam, kalau aku harus kembali ke Indonesia, dan aku menceritakan semuanya. Om Sam menyuruh aku untuk menyelesaikan urusanku terlebih dahulu, setelah itu baru aku kembali ke Amerika.”
Zaki ingin menanyakan tentang Eric, kenapa pemuda itu juga ikut dengannya, apa dia tidak sekolah?
Chelsea mengernyitkan dahinya saat melihat Zaki yang tiba-tiba terdiam, “ada apa, apa yang sedang kamu pikirkan?” tanyanya penasaran.
“Dia? Maksud kamu Eric?” Zaki menganggukkan kepalanya, Chelsea tersenyum, “kenapa? Apa kamu merasa cemburu?” godanya.
“Aku bukannya cemburu, hanya saja, apa dia tidak sekolah?”
Mendengar jawaban Zaki, Chelsea tampak kecewa, tapi kenapa dia harus kecewa? Dirinya bahkan tidak pantas untuk mendapatkan rasa cemburu dari pria itu. Dia sadar, dirinya sudah kotor, dan dia tidak pantas untuk pria sebaik Zaki.
“Eric, dia baru saja lulus sekolah, jadi masih ada waktu untuk dia melanjutkan kuliahnya. Jadi dia ikut aku pulang ke Jakarta. Eric itu anak yang sangat cerdas, dia bisa masuk di universitas terbaik di Amerika,” ucap Chelsea bangga.
“Kamu sangat dekat dengannya ya, padahal kalian belum lama bersama.”
“Eric itu anaknya mudah bergaul, setiap aku pulang kerja hanya Eric yang selalu menemaniku, menghiburku saat aku sedih. Mungkin karena itu sekarang kita bisa menjadi sangat dekat.”
__ADS_1
Zaki menatap Chelsea yang sedang menundukkan wajahnya, “apa kamu masih sering teringat dengan pria brengsek itu?” tanyanya.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “tapi saat aku sedang sendirian, bayangan-bayangan saat Alex menyiksaku masih sering muncul dalam ingatan aku. kalau bukan karena Eric, mungkin aku tidak akan sanggup bertahan selama ini,” akunya.
Zaki menghela nafas berat, dia berharap dirinyalah yang berada di samping Chelsea, menjadi tempat bersandar untuk wanita itu, tapi semua itu hanya angan-angannya, karena sekarang sudah ada Eric disisi wanita itu.
***
Veon memutuskan untuk menginap di rumah utama. Setelah berganti pakaian dengan pakaian biasa, pria itu mendudukkan tubuhnya di sofa, menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Veon mengingat semuanya, di kamar ini dia sering menghabiskan waktunya bersama dengan Kania. Bahkan di kamar ini juga dia merenggut kesucian Kania dengan paksa, padahal wanita itu sudah menjadi istrinya yang SAH. Jika dia memang menginginkannya, dia bisa memintanya dengan baik-baik, tapi tidak...dia memaksanya, menyakitinya dan membuat wanita itu menangis.
“Kania, waktu itu kamu pasti merasa sangat kesakitan. Maafkan aku, karena aku tidak menghiraukan teriakan kesakitan kamu, aku bahkan tidak peduli dengan air mata yang mengalir dari kedua sudut matamu. Andai...andai aku bisa kembali ke waktu itu, aku akan melakukannya dengan sangat lembut, aku tidak akan pernah menyakitimu dan memperlakukan kamu dengan kasar. Tidak akan ada teriakan kesakitan yang keluar dari bibir mungil mu, tapi kenikmatan. Pengalaman pertama yang seharusnya kamu rasakan dengan penuh kebahagian dan kenikmatan, tapi kamu harus mengalaminya dengan penuh siksaan dan air mata.”
Veon mengambil pigura foto yang berada di atas nangkas, itu adalah foto pernikahannya dengan Kania, “sayang, maafkan aku, jika kamu sangat membenciku, kamu boleh melakukan apapun padaku, hukuman apapun akan aku terima, tapi...tapi...” air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata pria itu, “jangan tinggalkan aku seperti ini, aku tidak sanggup sayang, aku sangat merindukan kamu. Sekarang apa yang sedang kamu lakukan, apa kamu juga merindukan aku? sayang...dimana kamu sekarang, apa kamu benar-benar tidak ingin kembali bersama denganku lagi, se-benci itu kah kamu padaku?” pria itu lalu mengecup foto Kania yang memperlihatkan senyum keterpaksaannya di dalam foto itu.
Veon tidak menyangka dirinya akan menjadi se-rapuh itu hanya karena seorang wanita yang dulu bahkan tidak dia harapkan kehadirannya di dalam hidupnya. Wanita yang hanya dia anggap sebagai alat untuk membatalkan rencana Papanya yang terus menerus memintanya untuk menikah.
Bahkan untuk jatuh cinta dengan wanita itu pun tidak pernah terlintas di dalam pikirannya. Tapi sekarang semua berbanding terbalik dengan keinginannya. Kania telah memporak-porandakan hatinya. Mengubah sisi pria berhati dingin dan tegas, menjadi pria yang rapuh. Meskipun dia melalui hari-harinya seperti layaknya orang normal, tapi saat dia sendirian, dia seperti orang yang kehilangan semangat hidupnya.
Hanya satu orang yang mampu mengembalikan semangat hidupnya lagi, hanya dia yang mampu mengembalikan senyuman pria itu lagi. Tapi kapan semua itu akan terjadi? Veon bahkan sudah patah semangat, dia begitu putus asa, semua usahanya sia-sia.
~oOo~
__ADS_1