
Kini kandungan Chelsea sudah menginjak bulan kedelapan. Alex selalu menemani Chelsea dan memberikan apapun yang dia minta. Chelsea merasa sangat bahagia, karena Alex selalu ada di saat dia butuhkan.
Seperti hari ini, Alex sedang berada di ruangan meeting, tapi tiba-tiba Chelsea menghubunginya. Alex lalu meminta Betrand untuk menggantikan dirinya, “kamu lanjutkan meeting ini, aku akan tunggu hasilnya.”
Betrand menghelas nafas, “kenapa kamu menjadi seperti sekarang? Semenjak Chelsea hamil, kamu seakan tidak fokus dengan pekerjaan,” keluhnya.
“Kamu pasti pernah merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Apalagi aku sudah menunggu momen-momen ini selama 3 tahun.” Alex lalu beranjak dari duduknya, dia meminta maaf kepada semua karyawannya yang berada di ruang meeting itu dan mengatakan jika meeting diambil alih oleh Betrand, “aku keluar pergi dulu,” ucapnya sambil menepuk bahu Betrand.
Setelah mendapatkan anggukkan dari Betrand, Alex keluar dari ruangan meeting itu. Alex bergegas menuju basement, dia tidak tahu kenapa Chelsea memintanya untuk segera pulang.
“Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Chelsea dan anak aku.” Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai di rumah.
Dalam perjalanan, Alex kembali mendapat telpon dari Chelsea. Pria itu lalu menjawab panggilan Chelsea dari layar yang ada di depannya, “halo, sayang.”
“Kamu sekarang dimana?”
“Aku sedang dalam perjalanan pulang, apa kamu menginginkan sesuatu?”
“Apa kamu bisa mampir ke restoran favorit kita? Aku ingin makan makanan kesukaan aku.”
“Siap, aku akan membelikan makanan kesukaan kamu.”
“Terima kasih sayang, aku tunggu, tidak boleh pakai lama.”
“Iya, tunggu aku akan segera pulang membawa makanan itu.” Alex lalu mengakhiri panggilan itu.
Alex melajukan mobilnya menuju restoran favoritnya, letak restoran itu tak jauh dari posisinya saat ini. Setelah mendapatkan apa yang diminta Chelsea, Alex kembali masuk ke dalam mobilnya, tidak lupa, Alex juga membelikan salad buah untuk Chelsea.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya Alex sudah sampai di rumahnya. Alex melihat Mawar tengah duduk di teras bersama dengan Kania dan Noel. Pria itu lalu keluar dari mobilnya dan melangkah menghampiri Chelsea dan Kania.
“Ada Kania dan Noel juga.” Alex lalu duduk berjongkok di depan Noel, “apa kabar sayang?” tanyanya sambil mengusap puncak kepala Noel.
“Baik, Om.” Noel lalu melihat paper bag yang dibawa Alex, “Om, bawa apa itu?”
“Em...ini makanan untuk dedek bayi, untuk adiknya Noel.” Alex lalu memberikan paper bag itu kepada Chelsea, “apa kamu ingin memakannya sekarang?”
Chelsea menganggukkan kepalanya, “tapi, aku tidak enak dengan Kania, masa aku makan sendiri.”
“Kamu tenang saja, aku beli lebih kok, kamu bisa memakannya dengan Kania, biar Noel aku ajak untuk membeli es cream.”
“Tidak usah, aku tadi sudah makan kok, lebih baik kamu makan bersama dengan Alex. Dia pasti juga belum makan siang,” tolak Kania halus.
“Tapi...”
“Sudah, aku beneran sudah makan, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanya sama Noel, iya kan sayang?” Noel menganggukkan kepalanya, “tapi Noel ingin makan es cream.”
__ADS_1
“Kania, di dalam lemari pendingin aku punya stok es cream, kamu bisa ambilkan untuk Noel.”
Kania menganggukkan kepalanya, “sayang, kamu mau es cream?” Noel menganggukkan kepalanya, “kalau begitu ikut Mama masuk ke dalam, Mama akan memberikan Noel es cream.”
Kania mengajak Noel masuk ke dalam rumah. Alex juga mengajak Chelsea untuk masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di meja makan, bersama dengan Kania dan Noel. Chelsea dan Alex memakan makanan yang dia beli, sedangkan Kania dan Noel tengah menikmati es cream mereka.
“Sayang, kamu baik-baik saja kan?” Chelsea menganggukkan kepalanya, “lalu, kenapa kamu menyuruhku untuk pulang?” tanyanya kemudian.
“Karena anak kita kangen sama kamu.” Chelsea berbicara sambil menatap wajah Alex yang saat ini menampakkan senyuman di wajahnya, “apa aku mengganggumu?”
Alex menggelengkan kepalanya, dia lalu mengusap perut buncit Chelsea, “anak Papa, Papa juga kangen sama kamu sayang, sudah seminggu ini Papa tidak menjengukmu.”
Kania tersenyum, “betah juga kamu,” ledeknya.
Alex menghela nafas, “ya mau gimana lagi, Chelsea sempat tidak enak badan, jadi aku tidak ingin semakin memperburuk kesehatannya,” ucapnya sambil menggenggam tangan Chelsea.
“Maafkan aku,” ucap Chelsea yang merasa sangat bersalah.
“Kenapa kamu meminta maaf, kamu sakit kan bukan keinginan kamu.”
“Tapi aku sakit karena aku tidak mendengar apa kata kamu, maafkan aku, aku janji, aku akan menuruti apapun yang kamu katakan.”
Setelah selesai menemani Chelsea makan, Alex kembali ke kantornya, karena masih banyak pekerjaan yang menunggunya, “jangan pergi kemana-mana, aku senang, ada Noel dan Kania disini, jadi kamu tidak merasa kesepian.
Chelsea menganggukkan kepalanya, “pulangnya jangan malam-malam, aku tidak ingin makan malam sendirian.”
“Hati-hati.”
Alex menganggukkan kepalanya, dia lalu menggendong Noel, “sayang, jagain Tante Chelsea selama Om pergi ya.”
Noel menganggukkan kepalanya, “Noel akan jagain Tante Chelsea, Om tenang saja.”
Alex mengecup kedua pipi gembul Noel, “anak pintar,” ucapnya lalu menurunkan Noel dari gendongannya, “kalau begitu, aku pergi dulu.” pria itu lalu melangkah menuju mobilnya.
Chelsea melambaikan tangannya saat Alex mulai melajukan mobilnya dan keluar dari pintu gerbang rumahnya.
“Lebih baik kita masuk,” ajak Kania sambil menggandeng tangan Noel.
**
“Chel, aku mau bicara soal Zaki.”
“Ada apa dengan Zaki?”
“Seminggu lagi dia akan pergi ke London, dia akan membantu rencana Veon untuk mengembangkan usahanya ke luar negeri.”
__ADS_1
“Itu bagus dong, dengan begitu kakak akan semakin banyak memiliki cabang perusahaannya.”
“Tapi, Zaki akan tinggal disana lama, mungkin bisa sampai bertahun-tahun.”
Chelsea mengernyitkan dahinya, “maksud kamu?” tanyanya bingung.
Kania menghela nafas, “Zaki meminta sama kakak kamu untuk menugaskannya mengurus cabang yang ada di London. Veon mengabulkan permintaan Zaki, jadi Zaki mungkin akan menetap disana.”
Chelsea tersenyum, “jika itu yang diinginkan Zaki, aku hanya bisa mendukungnya. Semoga dia bisa segera mendapatkan wanita pengganti aku.”
“Ada satu kabar lagi, Eric kan sudah lulus kuliah, dia ingin kembali ke Amerika, katanya Papanya sangat membutuhkan bantuannya untuk mengurus perusahaan.”
“Aku senang, akhirnya Eric bisa berpikiran dewasa juga. Om Sam, pasti sangat bangga padanya,” ucap Chelsea dengan senyuman di wajahnya.
“Tapi, setelah kepergian Eric, rumah akan terasa sepi. Tidak ada lagi yang mengajak Noel main saat Papanya sibuk dengan pekerjaannya.”
“Iya sih, Eric itu tipe orang yang sangat ceria, dia juga sangat menyayangi Noel. Tapi, kita juga tidak bisa menghalangi Eric untuk kembali ke negaranya. Keluarganya pasti juga sangat merindukannya.”
Kania memangku Noel, “Noel pasti akan sangat merasa kehilangan.”
“Noel sayang, apa Noel sayang sama Om Eric?”
Noel menganggukkan kepalanya, “tapi, Om Eric mau pergi, Noel tidak boleh ikut,” ucapnya sedih.
Chelsea mengusap puncak kepala Noel, “apa Noel ingin memberikan hadiah perpisahan untuk Om Eric?” Noel menganggukkan kepalanya, “kalau begitu, sekarang kita beli hadiah untuk Om Eric,” ajaknya kemudian.
“Tapi Chel, bukannya tadi Alex melarang kamu untuk pergi kemana-mana?”
“Aku akan minta supir untuk mengantar kita, jadi aku tidak menyetir sendiri. Aku juga akan memberitahu Alex.”
Kania menganggukkan kepalanya, “makasih ya, aku yakin, Noel bisa menerima kepergian Eric.”
“Kalau begitu, aku akan menghubungi Alex dulu.”
~oOo~
Maaf ya semuanya, aku baru bisa up setelah beberapa hari tidak up...kondisi belum fit, dan tidak memungkinkan untuk nulis dua cerita langsung. Jadi, untuk Cinta Yang Menyakitkan, aku slow update ya..sambil menunggu ini update lagi...kalian semua bisa juga baca Novel aku yang lain..
Haruskah Aku Mengalah, itu aku usahain update tiap hari..ada juga Kekasihku Kakak Iparku yang udah tamat...terima kasih untuk semuanya.
Sekali lagi aku minta maaf..
Salam sayang,
💕💕💕
__ADS_1
Rhossie