
Kania melakukan apa yang diminta oleh Zaki. Malam ini dia memasak kan apa yang diinginkan oleh Veon. Dan tentu saja dia dibantu oleh mama mertuanya.
“Sayang, tumben malam ini kamu ingin menyiapkan makan malam, apa ada acara khusus malam ini?” Vera membantu Kania mencuci sayuran.
“Kania hanya ingin memasakkan makanan ini untuk Kak Veon, Ma. Kata Zaki, Kak Veon ingin makan makanan ini,” ucap Kania dengan senyuman di wajahnya.
Vera pun ikut tersenyum, “Mama senang mendengarnya sayang, Veon itu memang suka pilih-pilih makanan. Kalau dia tidak suka, maka dia akan bilang tidak suka, tapi sekali dia suka dengan sesuatu, maka dia harus mendapatkannya,” ucapnya.
Kania teringat akan foto yang berada di atas meja kerja Veon, ‘apa aku tanya sama Mama saja, ya. Siapa tau Mama tau sesuatu, Zaki bahkan tidak tau siapa wanita itu.’ “em...Ma. Apa Kania boleh bertanya sesuatu?” tanyanya ragu-ragu.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Apa Kak Veon pernah mengenalkan teman wanitanya kepada Mama?”
Vera mengernyitkan dahinya, “teman wanita?” dia lalu menggelengkan kepalanya, “hanya kamu teman wanita yang Veon kenalkan sama Mama. Ada apa sayang, apa terjadi sesuatu?” tanyanya kemudian.
Kania menggelengkan kepalanya, dia lalu mulai membuat makanan itu. Tapi pikiran Kania sama sekali tidak bisa berpaling dari wajah wanita yang ada di foto itu, ‘wajah wanita itu sangat cantik, bahkan mungkin dia seumuran dengan Veon. Jika wanita itu benar kekasihnya, lalu kenapa dia tidak menikahinya saja.’
Kania yang tidak fokus dengan apa yang dia kerjakan pun akhirnya terkena cipratan minyak panas. Wanita itu menjerit kesakitan lalu menjatuhkan spatula di tangannya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula, kini spatula itu mengenai kakinya.
Vera yang sangat terkejut lalu menyuruh Kania untuk duduk, wanita itu menyuruh asisten rumah tangganya untuk mengambil kotak P3K. Kania menolak saat Vera ingin mengoleskan salep di pergelangan tangan dan juga kakinya, tapi Vera tetap bersikukuh ingin melakukan itu.
“Aw...sakit, Ma,” pekik Kania saat Vera mulai mengoleskan salep di pergelangan tangan dan juga kakinya.
Vera lalu berdiri, “sayang, biar Mama saja yang memasak, kamu beristirahat saja di kamar,” pintanya.
Kania mengelengkan kepalanya, “tinggal sedikit lagi, Ma. Biar Kania lanjutkan saja,” ucapnya. Wanita itu tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada mama mertuanya itu.
Vera hanya bisa menganggukkan kepalanya, dia senang memiliki menantu yang begitu baik seperti Kania. Apalagi dia begitu peduli dengan anak lelakinya yang dingin itu. Tak butuh waktu lama, masakan Kania pun sudah terhidang di atas meja makan.
“Ma, apa Kania boleh beristirahat di dalam kamar?”
__ADS_1
Vera menganggukkan kepalanya, “pergilah, biar nanti Mama menyuruh suami kamu untuk membawakan makan malam kamu ke kamar,” ucapnya.
Kania mengangguk, dia lalu melangkahkan kakinya menjauh. Wanita itu masuk ke dalam kamarnya, dia lalu duduk di tepi ranjang, “aw...kenapa ini sakit sekali.” Wanita itu melihat luka di pergelangan tangannya, luka itu mulai mengeluarkan air.
Kania mengambil tisu dari atas meja, dia lalu membersihkan luka itu dengan perlahan, “kenapa hari ini aku begitu sial. Setelah siang tadi di perlakukan seperti itu oleh Veon, sekarang aku bahkan mengalami kesialan lagi hanya gara-gara ingin memasakkan makanan kesukaannya.”
Karena merasa sangat lelah, wanita itu pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tidak butuh waktu lama dia pun mulai terlelap.
Veon yang sudah pulang dari kantor pun mulai masuk ke dalam kamarnya, dahinya mengernyit saat dia melihat Kania yang tertidur lelap, “apa pekerjaan dia di rumah hanya tidur? Apa dia sama sekali tidak melakukan tugasnya sebagai menantu di rumah ini?”
Veon hari ini tidak ingin bertengkar dengan Kania, karena dia sudah tidak sabar ingin makan masakan yang dia kira masakan mamanya itu. Setelah selesai mandi dan berpakaian, Veon melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya, dia bahkan tidak membangunkan Kania. Sungguh tega...
“Apa istri kamu masih tidur sayang?” Vera mengambilkan makanan untuk suaminya.
Veon yang sedang mengambil makanan hanya menganggukkan kepalanya, dia lalu mulai menyantap makanan yang ingin sekali dia makan itu.
Vera hanya menggelengkan kepalanya melihat Veon yang makan dengan sangat lahap itu, “apa kamu begitu kelaparan hingga kamu makan selahap itu,” godanya.
Veon hanya menganggukkan kepalanya, karena saat ini mulutnya penuh dengan makanan. setelah Veon menelan semua makanan yang ada di mulutnya itu, dia baru mulai berkata kepada mamanya, “apa Mama tau, Veon sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah hanya gara-gara ingin memakan makanan ini. Makasih ya, Ma, karena Mama mau memasakkan makanan ini lagi,” ucapnya.
Veon membulatkan kedua matanya secara sempurna, mulutnya pun menganga tidak percaya, “apa?”
“Kenapa kamu terkejut seperti itu, apa kamu kira semua ini Mama yang bikin?” Veon menganggukkan kepalanya, bahkan kedua matanya masih membulat sempurna, “Kania sengaja memasak semua ini buat kamu, dia bahkan sampai terluka tadi,” imbuhnya.
“Maksud Mama apa? Kania terluka?” tanya Veon terkejut.
“Mama tidak tau apa yang sedang dipikirkan Kania tadi, dia memasak sambil melamun. Pergelangan tangannya dan kakinya terkena minyak panas tadi,” ucap Vera.
Veon meletakkan sendok dan garpu di atas piringnya, dia hendak berdiri tapi dicegah oleh papanya.
“Kenapa kamu tidak menghabiskan makanan kamu itu? Apa kamu tidak menghargai usaha istri kamu? istri kamu memasak semua ini hanya untuk kamu?” Dion berbicara dengan sangat jelas, hingga membuat Veon mengurungkan niatnya dan kembali mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
“Sayang, memang apa salahnya kalau Kania yang memasak semua ini? Bukankah kamu suka dengan semua makanan ini?” tanya Vera.
Veon memang tidak memungkiri jika dirinya sangat menyukai makanan itu, bahkan dia rela terburu-buru pulang ke rumah hanya gara-gara makanan itu.
“Makanlah makanan kamu itu, hargai usaha istri kamu, dia bahkan rela terluka demi bisa membuatkan makanan ini untuk kamu,” ucap Dion.
Veon pun tidak mempunyai pilihan lain selain menghabiskan makanannya, selain itu perutnya juga masih sangat lapar.
“Sayang, kamu bawakan makanan ini untuk istri kamu, sejak tadi dia belum makan,” pinta Vera setelah menyelesaikan makannya.
“Kania sedang tidur, Ma. Nanti kalau dia lapar, dia akan mengambilnya sendiri.” Veon lalu beranjak dari duduknya.
“Apa kamu tidak ingin membalas kebaikan istri kamu itu? Dia bahkan terluka demi kamu,” bujuk Vera.
Veon menghela nafas, “baiklah, jika Mama memaksa,” ucapnya.
Dion mengernyitkan dahinya, “apa kamu tidak ikhlas melakukan itu? Kamu bukan lagi anak kecil yang harus diajari lagi bagaimana membalas budi pada seseorang. Jika kamu tidak ikhlas, lebih baik kamu tidak usah melakukan itu,” ucapnya lalu beranjak dari duduknya.
“Sayang, sebenci itukah kamu sama istri kamu? Bukankah kamu yang membawa dia ke rumah ini untuk kamu jadikan seorang istri?” tanya Vera dengan suara lembut.
“Ma, biarkan dia. Dia sudah dewasa, dia sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk, kita tidak usah mengajarkan dia lagi.” Dion lalu melangkahkan kakinya menjauh.
Vera melangkahkan kakinya mendekati Veon, dia lalu mengusap lengan putranya itu, “Mama hanya ingin kamu bisa menghargai istri kamu, meskipun kamu tidak mencintainya, tapi hargailah dia,” ucapnya sambil tersenyum. Vera lalu meninggalkan Veon yang masih diam mematung.
“Apa semua orang sekarang mulai membela wanita itu? Zaki, Chelsea, dan sekarang Mama dan Papa juga!”
Veon lalu menatap ke meja makanan, “jadi semua ini Kania yang membuatnya? Tapi kenapa tadi saat di kantor dia bilang itu masakan Mama? Apa dia memang sengaja bilang seperti itu karena dia terpaksa membuatkan bekal makan siang untukku?”
“Argghhhh...” Veon mengepalkan kedua tangannya, “terserah! Aku tidak peduli, kalau dia merasa lapar, dia akan mengambilnya sendiri. Dia kan mempunyai tangan, kalau tangannya tidak dia gunakan lalu apa gunanya mempunyai tangan.”
Veon pun pergi dari ruang makan itu tanpa membawa apapun. Dengan santainya dia masuk ke dalam kamar, dia melihat Kania masih terlelap dalam tidurnya, “lihatlah, dia bahkan tidur senyenyak itu, jadi mana mungkin dia kelaparan.”
__ADS_1
Veon pun mengambil laptopnya dari atas meja, dia lalu duduk bersila di atas sofa sambil memangku laptopnya itu. Pria itu mulai mengecek file-file yang dikirim oleh Zaki, file-file hasil meeting tadi pagi.
~oOo~