Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Menginap


__ADS_3

Setelah mengobrol lama dengan Papanya, Kania menyuruh Papanya untuk beristirahat. Wanita itu bingung harus melakukan apa di rumahnya, karena semua pekerjaan rumah sudah dilakukan oleh asisten rumah tangga keluarganya.


Kania melihat asisten rumah tangga keluarganya sedang memasak di dapur, wanita itu berniat untuk membantu wanita paruh baya itu. Dia akhirnya melangkahkan kakinya menuju dapur, “apa Kania boleh membantu bibik?” tanyanya.


Wanita paruh baya itu tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, “apa bibik tidak merepotkan Non Kania?” tanyanya.


Kania menggelengkan kepalanya, “sekarang Kania sudah bisa memasak, Bik. Bahkan suami Kania sangat menyukai masakan Kania,” ucapnya dengan bangga.


“Bibik senang jika Non Kania bahagia, dan sekarang Non semakin dewasa pemikirannya.”


“Kania juga tidak menyangka, Bik. Kania akan secepat ini berubah, Kania bukan lagi gadis yang manja, dan tidak bisa apa-apa.” Kania menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman, “Mama mertua Kania sangat baik, Bik. Dia juga yang mengajarkan Kania cara memasak. Mama mertua Kania itu sama seperti Mama, dia sangat lembut dan baik kepada Kania,” ucapnya.


Kania mengambil alih untuk mencuci sayuran, “bibik mau membuat apa? biar Kania saja yang memasak malam ini,” ucapnya.


“Makanan kesukaan Non Kania.”


“Kalau begitu biar Kania saja yang memasaknya.”


Kania akhirnya menggantikan tugas wanita paruh baya itu untuk membuat menu makan malam, apalagi menu itu adalah makanan kesukaannya. Beberapa menit yang lalu, Kania mendapat telepon dari Veon, pria itu mengatakan jika dia akan terlambat untuk menjemputnya dengan alasan ada meeting dengan client.


Tapi Kania tidak semudah itu percaya, apalagi setelah kehadiran Bella. Kania memutuskan untuk menghubungi Zaki dan menanyakan keberadaan suaminya. Ternyata dugaannya benar, Veon sedang bersama dengan Bella. Kania mencoba untuk tidak memperdulikan itu, dia juga tidak bisa melarang Veon untuk tidak menemui Bella.


Bukan karena dia tidak ingin mempertahankan pernikahannya, tapi selama surat perjanjian itu masih ada, dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Mungkin saat ini dia tengah menyesali kebodohannya dulu, dimana dia mau saja menandatangani surat perjanjian itu sebelum menikah. Tapi dia juga menyadari kenapa dia sampai melakukan itu, karena saat itu yang hanya di hatinya hanya ada kebencian untuk Veon. Dia juga tidak mengira jika dirinya akan jatuh cinta pada pria yang sudah menjadi suaminya itu.


Setelah satu jam, akhirnya hidangan makan malam sudah tersaji di meja makan dengan sangat rapi. Kania hendak menemui Papanya untuk makan malam. Tapi saat dia melewati ruang tengah, tiba-tiba dia mendengar bel berbunyi.


Kania yang merasa sangat penasaran siapa yang datang, di jam makan malam seperti ini, akhirnya melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Kedua mata Kania membulat dengan sempurna saat dia membuka pintu dengan sepenuhnya, “k—kamu!” serunya terkejut.


Veon yang mendapati keterkejutan Kania pun mengernyitkan dahinya, “kenapa kamu terkejut seperti itu? Atau jangan-jangan kamu sedang menunggu orang lain?” tanyanya curiga.


Kania menggelengkan kepalanya, “bukannya tadi kamu bilang kalau kamu sedang meeting dengan Client, tapi kenapa sekarang kamu ada disini?” tanyanya terkejut.


Tanpa dipersilahkan masuk oleh Kania, Veon melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu, “aku tadi memang menemui client aku, tapi Cuma sebentar, karena aku ingin makan malam denganmu,” ucapnya sambil terus melangkah masuk.


Kania menutup pintu, dia lalu mengikuti Veon dan berjalan beriringan dengannya, “sekarang kamu langsung menuju meja makan, aku akan memanggil Papa untuk makan malam,” ucapnya.


Veon hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh ke arah Kania. Kakinya terus melangkah menuju meja makan. Kania mendengus kesal saat melihat sikap Veon yang begitu asih. Dia sama sekali tidak bisa berbasa-basi untuk menyenangkan hati Kania.


Kania membantu Papanya keluar dari kamarnya, “hati-hati, Pa,” ucapnya dan mendapatkan anggukkan dari pria paruh baya itu.


Pak Zaiz senang jika menantunya yang terkenal sangat dingin dan kejam, mau makan malam bersama dengan dirinya. Veon menatap Kania dan Papanya yang tengah berjalan menuju meja makan. Kania terlihat sangat terkejut saat Veon menarikkan salah satu kursi meja makan untuk Papanya duduk.


‘Kenapa dia bersikap baik pada Papa? Apa karena dia merasa bersalah sama Papa, dn ingin mengakhiri pernikahan ini? Agar dia masih terlihat baik di depan keluarga aku, saat kami berpisah nanti?’ tanya Kania dalam hati, dia tidak henti-hentinya menatap kedua mata Veon yang terlihat kecoklatan.


“Apa kamu akan terus berdiri seperti itu? Bahkan kamu sama sekali tidak berkedip saat menatapku. Jadi duduklah,” ucap Veon membuyarkan lamunan Kania.


“Jangan ke GR an ya, siapa juga yang menatapmu!” Kania lalu berjalan mendekati Veon dan mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.


Pak Zaiz terlihat sangat bahagia, melihat Kania bersama dengan suaminya di rumahnya. Mereka pun memulai makan malam. Kania dan Papanya terlihat sangat terkejut melihat porsi makan Veon.

__ADS_1


‘Apa tadi siang dia tidak makan? Kenapa dia makan seperti itu? Apa dia benar-benar kelaparan?’ gumam Kania dalam hati.


Pak Zaiz meminta menantunya itu untuk makan banyak, apalagi pekerjaannya yang sangat melelahkan. Setelah selesai makan malam, Kania ingin berbicara dengan suaminya itu. Wanita itu terlebih dahulu untuk mengantarkan Papanya untuk beristirahat di dalam kamar.


Melihat betapa Kania peduli dengan Papanya, itu mengingatkan dia tentang dirinya yang saat masih berusia seperti Kania, juga sering membantu Papanya saat Papanya itu tengah sakit. Tapi karena Dion sering mengatakan hal-hal yang sama sekali tidak ingin dia dengar, akhirnya melupakan semua itu. Dan sampai sekarang dia sudah tidak pernah membantu Papanya seperti Kania saat ini.


Kania mengajak Veon untuk duduk di ruang tengah, saat dia ingin duduk di sofa tunggal. Veon dengan tegas melarangnya dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya.


“Apa yang ingin kamu katakan padaku?” Veon melipat kedua lengannya di dada, dan menyilangkan salah satu kakinya. Tatapan kedua matanya begitu tajam. Tiba-tiba nyali Kania menciut, tapi dia akan tetap mengutarakan keinginannya.


“Apa malam ini aku boleh menginap di rumah Papa? Aku tidak bisa membiarkan Papa sendirian, apalagi kondisi tubuhnya saat ini...”


Kania tiba-tiba mulutnya terbungkam, karena saat ini bibir Veon menempel di bibir tipis Kania dan mulai memanggut setiap bagian dari bibir tipis itu. Tapi pangutan yang Veon berikan hanya sesaat, karena hanya gara-gara ciuman sesaat itu sudah membangkitkan gairah di dalam tubuhnya.


“Dimana kamar kamu?” Veon bertanya dan beranjak dari duduknya.


“Hah...”


“Aku mau mandi, dimana kamarmu?” tanyanya lagi.


Kania beranjak dari duduknya, dia lalu mengajak Veon untuk menuju kamarnya. Ini pertama kali bagi Veon masuk ke dalam kamar Kania. Kamar itu terlihat sangat rapi, meskipun sudah lama tidak dipakai, tapi asisten rumah tangga keluarga Kania selalu membersihkan kamar itu.


“Kamu tunggu disini sebentar, aku akan menyiapkan air hangat untukmu.” Kania lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Kania mengisi bathup dengan air hangat, dia juga tidak lupa mencampurkan wewangian di dalamnya. Wanita itu sangat terkejut saat melihat Veon masuk ke dalam kamar mandi, dan menutup pintu itu.


“Airnya belum penuh.” Kania lalu berjalan mendekati Veon, “kalau kamu ingin segera mandi, lebih baik aku keluar,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.


Veon memeluk Kania dari belakang saat wanita itu ingin membuka pintu kamar mandi itu, “temani aku mandi,” ucapnya sambil menopangkan dagunya di bahu Kania.


Kania menelan ludah, saat Veon mulai mengecup tengkuk lehernya. Veon lalu membalikkan tubuh Kania agar menghadapnya, “aku menginginkan kamu malam ini, aku juga sangat merindukkan kamu,” ucapnya sambil membelai pipi wanita itu.


Kania menatap kedua mata Veon, “kenapa kamu merindukan aku, padahal kita hanya tidak bertemu selama 7 jam saja?” tanyanya penasaran.


Veon mulai membelai bibir tipis Kania yang sangat membuatnya candu, “apa untuk merindukan kamu, aku butuh alasan?” tanyanya.


Kania menganggukkan kepalanya, “apapun itu pastilah ada alasannya,” ucapnya.


Veon nampak tengah berpikir, dia tidak tahu kenapa dirinya sangat merindukan Kania. Dia bahkan pergi meninggalkan Bella hanya untuk segera bertemu dengan Kania. Pria itu tampak tengah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “aku tidak tau kenapa aku merindukan kamu, mungkin karena biasanya setiap jam makan siang kamu selalu menemaniku dan menyuapi aku makan, tapi beberapa hari ini, kamu sudah tidak melakukan itu lagi,” ucapnya.


‘Dasar! Bukankah kamu sendiri yang melarang aku untuk membawakan bekal makan siang untuk kamu, karena kamu ingin makan siang bersama dengan Bella. Tapi kenapa kata-kata kamu seakan menyalahkan aku?’ gumam Kania dalam hati.


Veon menatap lekat bibir tipis Kania sebelum membenamkan bibirnya di sana. Kania sama sekali tidak menolak, setiap Veon melakukan itu padanya, tubuhnya seakan membeku, detak jantungnya berdebar-debar, nafasnya semakin memburu bersamaan dengan bangkitnya gejolak dalam dirinya.


Guyuran air shower menjadi saksi bisu pergulatan panas mereka, entah kenapa kali ini Kania merasa sangat puas dengan penyatuan mereka. Veon tidak memperlakukannya dengan kasar, pria itu bersikap sangat lembut hingga mampu membuat Kania terasa melayang. Jika apa yang dia alami ini hanya mimpi, dia tidak ingin bangun dari mimpi manis itu.


Setelah melakukan pergulatan panas, mereka berendam dalam bathup yang sudah terisi air panas, dengan posisi Veon memeluk Kania dari belakang.


Veon menopangkan dagunya ke bahu Kania, “tentang permintaan kamu tadi, aku akan mengabulkannya,” bisiknya.

__ADS_1


“Soal apa?”


“Bukankah kamu ingin sekali menginap disini?”


Kania memiringkan wajahnya, menatap wajah tampan suaminya, “apa kamu tidak berbohong? Kita benar-benar akan menginap disini malam ini?” tanyanya dengan wajah yang berbinar.


Veon mengecup kilas bibir Kania, “aku serius, lagian badan aku juga capek, aku ingin segera tidur,” ucapnya.


Kania mengusap lembut lengan kekar Veon yang saat ini melingkar di tubuhnya, “terima kasih untuk semuanya,” ucapnya.


Veon tersenyum, “apa kamu hanya akan mengucapkan terima kasih?” tanyanya dengan menggoda.


Kania mengernyitkan dahinya, “l—lalu apa yang kamu inginkan?” tanyanya gugup.


“Tentu saja kamu, memang ada yang aku inginkan selain kamu,” ucap Veon dengan senyuman di wajahnya.


“Bukannya tadi kamu bilang, kamu capek dan ingin segera tidur?” Kania tersenyum tipis.


Veon memeluk Kania dengan sangat erat, “kalau untuk itu, aku tidak merasa lelah sama sekali. Apa kita perlu melakukan itu sampai pagi?” tanyanya dengan menggoda.


Kania menelan ludah, “tidak! Apa kamu ingin menyiksaku lagi?” tolaknya sambil mengerucutkan bibirnya.


Veon tertawa, “menyiksa! Apa kamu tidak salah bicara? Bagaimana itu bisa disebut menyiksa jika kamu begitu menikmatinya?” tanyanya.


Kania yang merasa sangat malu pun menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kenapa dia sampai mengatakan semua itu, jika akhirnya ucapannya itu malah mempermalukan dirinya sendiri.


Veon menurunkan kedua tangan Kania yang menutup wajah cantiknya, “sebaiknya kita sekarang keluar dari sini, karena aku lebih suka melakukannya di atas ranjang,” ucapnya sambil mengedipkan salah satu matanya.


“Memangnya ada bedanya?” tanya Kania bingung.


“Banyak, kalau di atas ranjang, aku bisa memakai gaya apa saja, tapi kalau disini...” Veon menggelengkan kepalanya, “rasanya tidak nyaman, aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman saat melakukan itu,” imbuhnya.


“Dasar!” Kania tersenyum bahagia.


Dengan gaya bridal style, Veon membopong tubuh Kania keluar dari dalam kamar mandi. Dengan sangat lembut pula dia merebahkan tubuh istrinya itu di atas pembaringan.


Veon nampak tengah memandangi wajah cantik istrinya itu, dia tidak menyangka dirinya akan melakukan hal seperti itu kepada Kania. Sejak pernikahan itu terjadi, dia bahkan tidak mempunyai niat untuk menyentuh wanita itu, tapi entah mengapa saat setiap malam, tanpa dia sadari jika dia tertidur dalam posisi memeluk wanita itu.


Sejak saat itu, ada gejolak di dalam dirinya yang menginginkan lebih dari sekedar pelukan yang tidak di sengaja itu. Apalagi saat dia terbangun dari tidurnya, dia mendapati hal yang sama, Kania tengah memeluknya dengan sangat erat, bahkan hembusan hangat nafasnya mampu membangkitkan gejolak di dalam dirinya.


Veon sudah bertekad, jika dirinya tidak akan pernah melepaskan Kania, ‘apa yang harus aku katakan tentang Bella? Meskipun aku sudah mengatakan semuanya pada Bella, dia masih tetap tidak ingin melepaskan aku. aku tidak ingin menyakitimu Kania, tapi aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak sanggup untuk berbicara jujur kepadamu, karena aku takut, aku takut kamu akan pergi meninggalkan aku. Aku janji akan mengurus semuanya, setelah masalah aku dengan Bella selesai, aku akan memberikan semuanya untuk kamu,’ gumamnya dalam hati.


Kania mengernyitkan dahinya saat melihat Veon yang sejak tadi hanya menatapnya. Dia bahkan tidak bergerak dan masih bertahan dengan posisinya saat ini, yaitu menindih tubuh Kania.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Kania penasaran.


Veon tersenyum, “bukan apa-apa,” jawabnya.


“Kalau kamu merasa capek, lebih baik kamu beristirahat.”

__ADS_1


Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak akan menghentikan sesuatu yang sudah aku rencanakan,” godanya.


~oOo~ 


__ADS_2