Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Hatinya sangat baik


__ADS_3

Alex, Josep, Hera dan Rino akhirnya sudah sampai di Jakarta. Josep dan Hera sangat terkagum-kagum melihat rumah Alex yang begitu besar. Alex menyuruh asisten rumah tangganya untuk membersihkan kamar tamu, karena untuk sementara waktu sahabat-sahabatnya itu akan menginap di rumahnya.


Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya, dia lalu bergegas membersihkan kamar tamu seperti yang diperintahkan oleh Alex.


“Istri kamu kemana? Kok tidak ada di rumah?” tanya Hera sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


“Chelsea berada di rumahnya, mungkin nanti malam dia baru akan pulang.”


“Apa kamu tidak menjemputnya?”


Alex menggelengkan kepalanya, “dia membawa mobil sendiri, jadi aku tidak menjemputnya.”


Mereka lalu melanjutkan obrolan mereka di ruang tamu, wanita paruh baya menghampiri mereka sambil membawa minuman, “silahkan Tuan, Nyonya,” ucapnya.


“Terima kasih, Bi.” Hera tersenyum.


“Kalau begitu, Bibi pamit undur diri.” Wanita paruh baya itu lalu menjauh dari mereka.


Alex mengambil paper bag yang ada di sampingnya, paper bag itu berisi mainan yang tadi sempat dia beli sebelum pulang ke rumah, “Rino, Om punya sesuatu untuk Rino,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah mobil remot dari dalam paper bag itu.


Rino terlihat sangat bahagia, dia pun ingin segera turun dari pangkuan Hera dan merambat dengan perlahan untuk menghampiri Alex. Alex mendudukkan dirinya di lantai, begitu juga dengan Rino. Pria itu lalu membuka kotak mobil-mobilan itu, lalu mencoba mainan itu.


Rino tertawa bahagia, dia merebut remot dari tangan Alex, dan berusaha untuk memainkan remot itu, alhasil mobil-mobilan itu berjalan tak tentu arah dan menabrak dinding. Josep dan Hera tersenyum, mereka tidak pernah melihat anaknya sebahagia itu. Tapi, berkat Alex, anaknya bisa merasakan kebahagiaan seperti sekarang ini.


‘Ya Tuhan, berikanlah keturunan untuk sahabat hamba ini, dia memang dulunya sangat brengsek, tapi sebenarnya hatinya sangat baik. Berikanlah sedikit kebahagiaan untuknya Ya Tuhan,’ doa Hera dalam hati.


**


Chelsea merenggangkan otot-ototnya, menjaga Noel itu memang sangat melelahkan. Apalagi sampai sekarang Kania dan Veon belum juga pulang ke rumah.


“Ma, kapan kakak pulang? Ini sudah malam, tapi mereka belum juga pulang ke rumah,” keluh Chelsea.


“Mungkin sebentar lagi sayang, memangnya kenapa, apa kamu sudah lelah menjaga cucu Mama yang ganteng ini?” tanya Vera sambil memainkan kedua pipi gembul cucunya itu.


“Chelsea tidak menyangka, Ma. Akan se-lelah ini menjaga Noel. Dia memang tidak rewel, tapi kalau dia sudah merasa haus...” Chelsea lalu menggelengkan kepalanya, “kalau belum di kasih susu, nangisnya tidak mau berhenti,” keluhnya.


“Kalau masih bayi memang seperti itu sayang, makanya hanya Kania yang bisa menangani Noel kalau dia sedang rewel seperti itu. Mama saja yang sudah berpengalaman merawat dua anak saja menyerah kalau disuruh menjaga Noel.” Vera lalu mengambil Noel dari pangkuan Chelsea, “tapi kalau dia sedang diam seperti ini, baru Mama mau bermain dengannya,” imbuhnya sambil mengecup kedua pipi gembul Noel dan membuat Noel tertawa sambil menggerakkan kedua tangan mungilnya menyentuh kedua pipi neneknya.


“Ma, bagaimana keadaan Papa, apa Papa kondisinya sudah membaik?”


Vera menganggukkan kepalanya, “kamu tenang saja, Papa kamu sudah lebih sehat kok, sekarang Papa kamu sedang tidur setelah minum obat tadi.”


Kania dan Veon yang sudah sampai di rumah, mereka langsung masuk ke dalam rumah. Mereka sudah tidak sabar ingin bertemu dengan jagoan kecil mereka.

__ADS_1


“Noel, sayang. Papa dan Mama pulang.” Veon dan kania melangkahkan kaki mereka mendekati mereka bertiga.


Noel yang melihat Mamanya tampak kegirangan, bayi mungil itu menggerakkan kedua tangannya seakan-akan ingin minta digendong sama Mamanya.


“Kania, Veon, lebih baik kalian mandi dulu, setelah itu baru kalian bisa bermain dengan putra kalian ini,” ucap Vera.


Kania mengecup kening putranya, “tunggu ya sayang, Mama mandi dulu, setelah itu Noel bisa bermain sama Mama nanti,” ucapnya.


Chelsea beranjak dari duduknya, “Ma, Kak, Kania, lebih baik aku pulang sekarang. Kasihan Alex di rumah sendirian,” ucapnya.


Kania dan Veon menganggukkan kepalanya, “terima kasih sudah mau menjaga Noel seharian ini,” ucap Kania.


Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu mengecup kedua pipi gembul Noel, “Tante, pulang dulu yang sayang, kita ketemu lagi besok,” ucapnya.


Vera menggerakkan kedua tangan mungil Noel, “iya, Tante. Noel tunggu lo Tante.” Wanita itu menirukan gaya suara anak kecil.


“Chelsea pulang dulu ya, Ma, Kak, Kania,” pamitnya.


“Hati-hati di jalan ya sayang,” ucap Vera.


Chelsea menganggukkan kepalanya, dia lalu mengambil tas selempang nya dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Wanita itu lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumahnya.


**


Sesampainya di rumah, Chelsea masuk ke dalam rumahnya. Dia terkejut saat mendengar ada suara orang yang sedang mengobrol di ruang tengah, dia pun segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.


Chelsea mengernyitkan dahinya, ‘apa Alex sudah tidak marah lagi sama aku?’ tanyanya dalam hati.


Alex mengecup kening Chelsea, “maafkan aku, aku memang egois dan tidak mengerti perasaan kamu,” ucapnya.


Chelsea menganggukkan kepalanya, “tapi aku tidak mau kamu bersikap seperti anak kecil lagi,” pintanya.


Alex menganggukkan kepalanya, “oya, ada yang ingin aku kenalkan sama kamu.” Alex lalu membawa Chelsea masuk ke dalam ruang tengah, “mereka berdua adalah sahabat terbaik aku saat aku masih duduk di bangku SMA, Hera dan Josep. Anak kecil itu namanya Rino,” ucapnya.


Chelsea tersenyum, “halo, salam kenal, saya Chelsea, istrinya Alex,” ucapnya memperkenalkan diri.


Hera tersenyum, “aku tidak menyangka, Alex akan mendapatkan istri secantik kamu,” pujinya.


“Terima kasih atas pujiannya,” ucap Chelsea.


Alex lalu mengajak Chelsea untuk duduk di sofa, “sayang, mereka akan menginap disini beberapa hari, kamu tidak keberatan kan?” tanyanya.


Chelsea menggelengkan kepalanya, “aku malah senang mereka mau tinggal disini, dengan begitu aku tidak akan merasa kesepian,” ucapnya.

__ADS_1


Wanita paruh baya datang menghampiri mereka, “Tuan, makan malam sudah siap,” ucapnya.


“Terima kasih, Bi. Jo, Ra, ayo kita makan malam dulu,” ajak Alex.


“Sayang, aku mandi dulu ya, nanti aku akan menyusul.” Alex menganggukkan kepalanya.


“Ayo,” ajak Alex lalu beranjak dari duduknya.


Hera menggendong Rino dan beranjak dari duduknya, begitu juga dengan Josep, mereka melangkah menuju meja makan, sedangkan Chelsea menaiki tangga menuju kamarnya.


Chelsea merasa sangat lelah, dia pun bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia ingin sekali berendam air hangat untuk merilexkan kembali tubuhnya. Tanpa Chelsea sadari, dia sudah berendam hampir satu jam, ternyata dia ketiduran.


Chelsea terbangun setelah mendengar suara pintu kamar mandi di ketuk, dan ternyata Alex yang mengetuk pintu itu karena merasa khawatir dengan keadaan Chelsea yang tak kunjung datang ke ruang makan untuk makan malam.


Chelsea menyengir kuda saat dia membuka pintu kamar mandi, “maaf, aku ketiduran,” ucapnya.


Alex lalu memeluk tubuh Chelsea, “sayang, kamu sangat membuat aku cemas, aku tadi benar-benar takut terjadi apa-apa sama kamu,” ucapnya yang masih terlihat sangat panik.


“Maafkan aku, mungkin karena kelelahan, aku jadi ketiduran.”


Alex menghela nafas lega, “sekarang kamu pakaian baju, aku akan membawakan makan malam kamu ke kamar.”


“Bagaimana dengan kedua sahabat kamu itu? mereka pasti mengira aku tidak suka dengan kehadiran mereka?” tanya Chelsea cemas.


Alex menggelengkan kepalanya, “mereka tidak akan berpikiran seperti itu, justru mereka sangat mengkhawatirkan kamu,” ucapnya sambil tersenyum.


“Aku akan meminta maaf sama mereka nanti, aku tidak bermaksud untuk membuat mereka khawatir. Ini hari pertama mereka di Jakarta, seharusnya aku menyambutnya, bukannya malah membuat mereka cemas.”


“Sayang, sudahlah, mereka tidak apa-apa, lebih baik sekarang kamu pakai pakaian kamu, atau kamu memang sengaja ingin menggodaku? Sudah 3 hari kita tidak melakukannya,” goda Alex sambil tersenyum usil.


Chelsea tersenyum, dia lalu melingkarkan kedua lengannya di leher Alex, “boleh juga, aku juga sangat merindukanmu sayang, aku pikir kamu akan marah lama sama aku,” ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.


Alex mengecup bibir tipis itu yang terus cemberut, “maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk marah sama kamu, tapi saat aku teringat kamu malah membela Zaki waktu itu, tiba-tiba aku menjadi kesal dan cemburu. Maafkan aku,” ucapnya sambil menarik tubuh Chelsea agar semakin melekat di tubuhnya.


“Kamu salah, aku tidak bermaksud untuk membela Zaki, aku hanya tidak ingin kamu di permalukan nantinya, karena saat itu kamu memang salah.”


Alex membelai kedua bahu Chelsea yang polos, “jangan bahas itu lagi.” Pria itu lalu mengecup bahu itu, dan seketika membuat Chelsea menggeliat, “malam ini aku hanya ingin menikmati kenikmatan ini bersama denganmu,” imbuhnya.


Hanya dengan satu tarikan, Alex berhasil melepaskan handuk yang melilit tubuh Chelsea. pria itu lalu membopong tubuh Chelsea dan merebahkannya di atas ranjang. Mereka yang sudah terhanyut oleh hasrat terpendam mereka, seakan lupa jika saat ini di rumah itu bukan hanya ada mereka berdua. Alex lupa, jika Josep tengah menunggunya di ruang tengah.


“Apa yang tengah Alex lakukan? Apa terjadi sesuatu dengan istrinya? Kenapa dia tidak juga turun dari tadi,” gerutu Josep.


~oOo~

__ADS_1



 


__ADS_2