
Tantri bingung gimana caranya meminta maaf kepada Vera, dia takut Vera tidak mau memaafkannya, sudah banyak sekali kesalahan yang dia lakukan kepada Vera.
"Aku...aku..aku mau kita besok ketemuan," ucap Tantri gugup.
"Kamu mau bicara apa? bicara aja di telfon," ucap Vera ketus.
"Ini nggak bisa dibicarakan di telfon, besok pagi kita ketemuan di taman, kamu ajak Veon dan Dion sekalian, ada yang mau aku bicarakan sama kalian."
Vera bingung sebenarnya apa yang terjadi sama Tantri, apa yang sedang direncanakan oleh Tantri.
"Aku nggak bisa janji, semua tergantung sama Dion, kalau dia setuju aku akan menemui mu, tapi kalau dia menolak aku nggak akan menemui."
"Baiklah, aku akan tetap menunggu di taman."
"Kalau nggak ada yang perlu diomongin lagi aku akan menutup telfonnya. Dion sudah menungguku," ucap Vera lalu mematikan telfon.
Tantri berjalan menghampiri Mamanya, dipeluknya tubuh Mama nya.
"Ma..maafin Tantri jika selama ini Tantri sudah banyak membuat Mama menderita."
"Mama sudah memaafkan kamu sayang, Mama senang kalau kamu sudah mau berubah, jalani lah hidup kamu dengan bahagia."
"Iya Ma, Tantri akan melupakan Dion dan mencoba membuka lembaran baru."
"Sekarang kamu mau ngapain? apa ada yang ingin kamu lakukan?"
"Nggak Ma, Tantri mau membantu Mama menjaga toko saja."
Rumah Dion..
Vera sedang bersiap-siap untuk pergi ke butik..
"Sayang beneran kamu nggak mau ikut ke buti ?"
"Hari ini aku mau ketemu claien," ucap Dion sambil bersiap-siap.
"Ya sudah, kalau gitu aku berangkat dulu," ucap Vera sambil mencium tangan Dion.
"Hati-hati ya sayang, jangan tergoda sama cowok lain." ucap Dion dengan senyuman di wajahnya.
"Iya sayang, suamiku saja sudah ganteng kayak gini jadi, mana mungkin aku melirik cowok lain," goda Vera.
Vera keluar dari kamar dan berjalan menuruni tangga, dia melihat Veon sedang asyik menonton tv dengan mertuanya.
"Ma, Vera titip Veon ya, Vera mau ke butik sebentar," pamit Vera.
"Baiklah sayang, kamu hati-hati ya," ucap Serly.
"Iya Ma, sayang jangan nakal ya, turuti semua kata-kata Oma, Mama pergi sebentar," ucap Vera sambil memeluk Veon.
Veon menganggukkan kepalanya.
"Vera berangkat dulu ya, Ma," ucap Vera sambil mencium tangan Serly.
__ADS_1
Vera berjalan keluar menuju mobil, dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya..sesampainya di butik, Vera masuk kedalam butik.
"Hai Net," sapa Vera.
"Hai, wah ada angin apa ni kamu datang kemari?" tanya Neti penasaran.
"Aku kangen sama kamu," goda Vera.
"Idih...ogah banget dikangenin sama kamu," ucap Neti sambil tersenyum.
"Mama mana?"
"Bu Mila belum datang."
"Nggak kayak biasanya Mama belum datang, ini sudah siang lagi," ucap Vera cemas.
Vera sangat mencemaskan Mamanya..
"Coba kamu telfon aja," usul Neti.
Vera mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelfon Mila..
Tuttt...tutt...tutt... ( ponsel Mila berbunyi )
"Mama kemana sih, kok telfon aku nggak diangkat-angkat," gerutu Vera.
"Net aku balik dulu ya, aku sangat mencemaskan Mama," ucap Vera sambil berjalan keluar.
Vera masuk kedalam mobil. Dia berniat memberitahu Dion, kalau sia tidak ada di butik dan pulang ke rumah Mamanya.
"Halo sayang," jawab Dion.
"Sayang aku sudah sampai di butik tapi Mama nggak ada di butik, sekarang aku mau ke rumah Mama."
"Iya sayang, nanti kalau urusan aku sudah selesai aku akan menyusul ke rumah Mama."
"Ya udah sayang aku mau ke sana sekarang," ucap Vera sambil mematikan telfon.
Vera melajukan mobilnya, sesampainya di rumah.
"Itu mobil Mama masih di rumah," ucap Vera sambil turun dari mobil.
"Tapi itu mobil siapa ya?" gumamnya dalam hati.
Vera berjalan menuju pintu, lalu membuka pintu. Dia terkejut melihat siapa yang ada di rumahnya.
"Sam!" teriak Vera.
Sam yang melihat Vera masuk langsung berlari memeluk Vera.
"Kak, aku kangen banget sama kakak," ucap Sam sambil memeluk tubuh Vera.
"Sam! lepasin aku!" seru Vera sambil melepas pelukan Sam.
__ADS_1
"Ada perlu apa kamu kemari Sam?" tanya Vera terkejut.
"Aku mau minta penjelasan kakak, kenapa kakak tega melakukan ini sama aku? aku sangat mencintai kakak, tapi kenapa kakak menikah dengan Om Om itu?" tanya Sam kesal.
"Sam, maafin aku, aku nggak bermaksud menyembunyikan ini sama kamu, tapi aku nggak mau menganggu belajar kamu. Aku menikah sama Dion karena aku mencintainya Sam," jelas Vera.
"Terus aku gimana kak? aku sangat mencintai kakak, apa hari-hari yang kita lalui nggak berarti bagi kakak?"
"Sam, bukan begitu maksud aku, aku nggak ingin menyakiti kamu, dari awal aku sudah bilang sama kamu kan kalau kita nggak mungkin bisa bersama, jarak antara kita terlalu jauh, masa depan kamu masih panjang dan kamu juga ganteng pasti banyak cewek yang suka sama kamu."
"Tapi yang aku inginkan cuma kakak, yang aku cintai cuma kakak."
Vera tidak tau bagaimana caranya menghadapi Sam, dia mencari sosok Mamanya.
"Kamu disini sama siapa?" tanya Vera penasaran saat mendapati Mama nya tidak ada di rumah.
"Aku sendiri."
"Terus Mama aku dimana?"
"Tadi katanya mau keluar sebentar."
"Sam lebih baik sekarang kamu pulang, lupakan aku," pinta Vera.
"Aku nggak akan pergi dari sini, sebelum kakak menjelaskan semuanya sama aku."
"Nggak ada lagi yang perlu dijelasin Sam, karena sejak awal aku cuma menganggap kamu sebagai teman aku."
"Apa kakak nggak pernah sekalipun suka sama aku? apa hati kakak nggak pernah berdebar saat bersama aku?" tanya Sam dengan menatap kedua mata Vera.
"Maksud kamu apa Sam?"
"Aku tau kakak sebenarnya juga suka sama aku, tapi kakak nggak mau mengakuinya, kakak takut karena jarak umur kita yang terlampau jauh, tapi bagi aku itu semua nggak akan merubah perasaan aku kak."
"Sam..aku mohon jangan seperti ini, sekarang aku sudah menikah, aku sudah menjadi milik orang lain," bujuk Vera.
"Aku nggak perduli kak, aku akan merebut kakak dari Om Om itu," ancam Sam.
"Maksud kamu apa Sam? jangan lakukan hal yang akan merusak hidupmu," ucap Vera terkejut.
"Kenapa kakak perduli dengan hidup aku? apa kakak masih perduli sama aku?" tanya Sam kesal.
"Aku perduli sama kamu Sam karena aku sayang sama kamu, aku ingin kamu bahagia, kamu masih muda, masa depan kamu masih panjang."
"Benar kakak sayang sama aku? buktikan kalau kakak benar-benar sayang sama aku," ucap Sam sambil mendekati Vera.
"Maksud kamu apa Sam? kamu bisa berhenti nggak!" seru Vera sambil terus berjalan mundur.
Sam terus berjalan mendekati Vera sedangkan Vera terus berjalan mundur, kini tubuh Vera sudah menempel di dinding. Sam mengurung Vera dengan kedua tangannya, Vera tak dapat berkutik. Sam menatap wajah Vera dengan sangat tajam.
"Kak..cintaku tulus sama kakak, asal kakak tau aku belum pernah merasakan perasaan seperti ini pada cewek lain, hanya kakak yang bisa membuat jantung ini berdebar-debar, hanya kakak yang bisa membuat hati ini bergetar, aku sangat mencintaimu kak," bisik Sam ditelinga Vera.
"Sam..apa yang kamu lakuin, ini nggak bener Sam," ucap Vera sambil mendorong tubuh Sam.
__ADS_1
¤¤¤¤