Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Sudah lebih dari cukup


__ADS_3

Setelah kepergian Veon, Zaki mendapatkan panggilan telepon dari Chelsea. Wanita itu tau jika Kania pergi dari rumah, dan tentu saja dia tahu informasi itu dari pria yang saat ini sedang berbicara dengannya.


“Apa sudah ada kabar tentang Kania?” meskipun Chelsea tidak ada di sana, tapi dia juga sangat mencemaskan keadaan Kania, bagaimanapun Kania sudah dia anggap seperti saudaranya sendiri.


Zaki menggelengkan kepalanya, meskipun wanita itu tidak bisa melihat apa yang dia lakukan, “aku bingung harus mencari dia kemana lagi, seluruh penjuru kota Jakarta sudah aku telusuri, aku bahkan sudah mencari keluar kota, tapi hasilnya tetap nihil,” ucapnya.


“Apa kamu masih terus menghubungi nomor Kania?”


“Sepertinya Kania sudah mengganti nomornya, karena nomor lamanya sudah tidak bisa di hubungi.”


“Aku sudah mengambil cuti, aku akan pulang ke Jakarta. Aku akan membantu kamu dan Kak Veon untuk mencari Kania, mungkin nanti sore jam terbangku, tunggu aku ya.”


“Chel, ada satu hal yang belum aku katakan sama kamu.”


“Apa itu?” Chelsea terlihat sangat penasaran.


“Kedua orang tua kamu belum tau kalau Kania menghilang, jadi saat nanti kamu sampai disini dan berada di rumah, jangan pernah membicarakan soal Kania.”


“Baiklah, aku tau kenapa kakak menyembunyikan semua itu dari Mama dan Papa. Kakak tidak ingin membuat mereka cemas, dan aku akan membantunya.”


“Baiklah, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Aku harus terus mencari kabar tentang Kania.” Zaki lalu mengakhiri panggilan itu.


***


 


“Kania, kamu sudah tidur?” Eca mengetuk pintu kamar Kania.


Kania yang saat itu masih berdiri di depan jendela pun melangkahkan kakinya menuju pintu, “ada apa, Ca?” tanyanya saat pintu itu sudah dia buka lebar-lebar.


“Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, lebih baik kita bicara di dalam saja.” Eca lalu masuk ke dalam kamar Kania, dia lalu mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, “kenapa kamu malah bengong, sini,” panggilnya saat melihat Kania masih berdiri mematung di depan pintu kamar.


Kania menutup pintu, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati Eca, “apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya sambil mendudukkan tubuhnya di samping sahabatnya.


“Bagaimana dengan kandungan kamu, semua baik-baik saja kan?” Kania menganggukkan kepalanya, Eca senang melihatnya, “Kania, tadi Mas Rega menawarkan sebuah rumah untuk kita tinggali, rumah itu letaknya dekat dengan restoran. Mas Rega ingin kita menempati rumah itu karena rumah itu sudah lama tidak dia tempati, bagaimana menurut kamu?” tanyanya.

__ADS_1


“Ca, sebenarnya aku tidak mau merepotkan Mas Rega, dia sudah terlalu baik sama aku. Aku sebenarnya tidak mau mempunyai hutang budi padanya.”


Eca menggenggam tangan Kania, “Kania, sekali ini saja buang jauh-jauh ego dan harga diri kamu, demi anak yang kamu kandung. Lagian Mas Rega melakukan semua itu karena dia sangat peduli sama kamu, jangan lagi kamu memikirkan suami kamu yang sama sekali tidak bertanggung jawab itu. Mungkin sekarang dia sedang bersenang-senang dengan istri barunya,” ucapnya.


“Tapi kenapa kita harus tinggal di rumah Mas Rega, rumah ini bagiku sudah lebih dari cukup.”


“Tapi lingkungan rumah ini tidak cocok dengan perkembangan anak kamu.”


Rumah Eca memang berada di kawasan terpencil, selain itu rumah itu kondisinya sudah sangat tua, bahkan cat-cat dinding rumah itu banyak yang mulai menjamur dan mengelupas. Eca hanya ingin Kania tinggal di rumah yang layak untuk dia tempati bersama dengan calon anaknya.


Kania mencoba untuk mempertimbangkan penawaran Eca, yang dikatakan sahabatnya itu memang benar. Anaknya tidak mungkin tumbuh di lingkungan seperti itu. Tapi apa dia memang benar-benar akan menetap di kota itu dan tidak ingin bertemu dengan keluarganya lagi?


“Ca, apa selama ini aku juga sudah merepotkan kamu?” tanya Kania tiba-tiba.


Eca menggelengkan kepalanya, “aku malah sangat bahagia kamu mau menemani aku, selain itu aku juga sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi,” ucapnya.


Kania tampak tengah berpikir, dia ingin membuat sahabatnya itu bahagia, apalagi sahabatnya itu selama ini hanya tinggal bersama dengan Mamanya, tapi sayang, Mamanya sama sekali tidak memperdulikannya.


Kania menepuk bahu Eca, “jika kamu ingin pindah ke rumah Mas Rega, aku ngikut saja. Lagian dengan kita tinggal di rumah itu, kita bisa lebih menghemat waktu dan pengeluaran,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Eca memeluk Kania dengan sangat erat, “kamu memang sahabat terbaik aku,” ucapnya.


Eca menganggukkan kepalanya, “kamu mau tanya apa sama aku, bukankah kamu sudah tau semua tentang aku?” tanyanya penasaran.


“Apa kamu mempunyai perasaan khusus kepada Mas Rega?”


Eca menggelengkan kepalanya. “mana mungkin aku mempunyai perasaan sama Mas Rega. Mas Rega itu adalah sahabat serta penolong hidupku. Berkat Mas Rega juga aku bisa bertahan sampai sekarang, dia pria yang sangat baik,” pujinya.


“Ca, sebenarnya aku merasa banyak berhutang budi sama Mas Rega, apalagi selama ini dia sudah terlalu baik sama aku, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk membalas kebaikannya selama ini.”


“Caranya gampang, kamu terima perasaan dia, dengan begitu Mas Rega akan sangat bahagia,” celetuk Eca.


Kania mengernyitkan dahinya, “maksud kamu apa ya? Terima perasaan Mas Rega?” tanyanya terkejut.


“Ops.” Eca lalu menutup mulutnya, sial! Aku keceplosan lagi, Kania pasti sangat terkejut, apa yang harus aku katakan sekarang? Pikirnya bingung.

__ADS_1


“Ca, apa maksud dari kata-kata kamu tadi?” tanya Kania lagi.


“Em...maksud aku, kamu terima perasaan tulus dia untuk membantu kamu, dengan begitu Mas Rega akan merasa senang. Kamu kan tau sendiri Mas Rega orangnya tidak suka dibantah,” ucap Eca sambil menyengir kuda memperlihatkan deretan gigi-giginya yang rapi dan putih itu.


“Kamu benar, sifat Mas Rega hampir sama dengan suami aku, tapi bedanya Mas Rega terlihat lebih tenang dan tidak dingin seperti dia.” Kania menundukkan wajahnya, tanpa dia sadari air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya, “Ca, kenapa aku belum bisa melupakan dia, padahal dia sudah sangat menyakiti hatiku, tapi aku sama sekali tidak bisa membencinya. Rasa cinta ini semakin dalam, aku sangat merindukannya,” imbuhnya dengan nada suara yang seakan berat.


Eca memeluk Kania dan mengusap punggung sahabatnya itu secara perlahan, “kamu yang sabar ya, Kan. Suatu saat pasti akan ada kebahagiaan yang menantimu di depan sana. Aku yakin semua penderitaan yang sekarang kamu alami akan tergantikan dengan kebahagiaan yang melimpah,” ucapnya mencoba menenangkan sahabatnya itu yang saat ini mulai terisak di dalam dekapannya.


***


 


“Sayang, sekarang katakan sama Mama, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan istri kamu?”


Saat ini Vera sedang duduk berdua bersama dengan Veon. Vera meminta putranya itu untuk menginap di rumahnya malam ini. Dia sangat merindukkan anak-anaknya, tapi putri kesayangannya jauh darinya.


“Maksud Mama apa? Veon dan Kania tidak ada masalah apa-apa,” elak Veon.


“Kamu tidak bisa membohongi Mama sayang, Mama tau betul kamu seperti apa kalau sedang berbohong.”


Veon menghela nafas panjang, “maafin Veon, Ma. Veon tidak bisa menjaga istri Veon dengan baik. Veon tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Kania, Veon sudah gagal, Ma,” ucapnya sambil menundukkan wajahnya.


Vera mengusap lengan Veon dengan sangat lembut, “pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa, tapi jangan di biarkan terlalu lama,” ucapnya. Vera mengira Veon dan Kania sedang bertengkar, itu sebabnya Kania tidak datang ke rumahnya untuk makan malam bersama dengannya.


Veon hanya mengangguk mengerti, ‘maafin Veon, Ma. Veon tidak bermaksud untuk membohongi Mama, tapi Veon hanya tidak ingin membuat Mama dan Papa cemas,’ gumamnya dalam hati.


“Besok Mama akan menemui istri kamu, Mama akan membujuknya untuk pulang ke rumah ini lagi.”


Veon membulatkan kedua matanya, “em...tidak usah, Ma. Biar Veon menyelesaikan masalah Veon sendiri. Selain itu Veon dan Kania juga sudah memutuskan untuk hidup mandiri, mungkin dengan begitu Veon dan Kania bisa belajar untuk saling mengerti satu sama lain,” ucapnya.


Vera menghela nafas panjang, “jika itu mau kamu, Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa. Mama harap kamu bisa menjaga dan membahagiakan Kania, karena Kania itu gadis yang sangat baik. Kamu itu beruntung mendapatkan istri sebaik dan secantik Kania. Apalagi umur dia masih sangat muda,” ucapnya.


Veon tersenyum, apa yang dikatakan Mamanya itu memang benar. Dirinya seharusnya bersyukur memiliki istri cantik, muda dan baik seperti Kania. Tapi kenapa selama ini dia baru bisa menyadarinya setelah wanita itu pergi dari hidupnya, meninggalkannya dalam kesedihan dan kehampaan.


Dunia Veon seakan hampa, hidupnya seakan tidak berwarna lagi. Tidak ada yang bisa dia peluk, cium dan bersikap manja. Tidak ada lagi tawa canda Kania di dalam hari-harinya, yang ada hanya kehampaan dan kesunyian. Veon setiap hari hanya marah-marah, dan yang menjadi sasaran kemarahannya adalah Zaki dan Dimas. Padahal Veon tahu, mereka sama sekali tidak bersalah. Setelah memarahi Zaki dan Dimas, dia menyesal dan merutuki dirinya sendiri.

__ADS_1


‘Kania, dimanapun kamu berada, aku berharap kamu akan baik-baik saja. Tunggu aku sayang, aku pasti akan segera menemukan kamu. Aku akan membawamu kembali pulang, aku akan merubah sikap aku, aku akan lebih perhatian dan peduli sama kamu. Sayang...kembalilah, aku mohon. Aku sangat merindukan kamu,’ gumam Veon dalam hati.


~oOo~


__ADS_2