Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Sahabat terbaikku


__ADS_3

“Bagaimana hasilnya, Chel?”


“Aku harus masih menunggu hasil lab-nya.” Chelsea membuka tutup toples yang berisi keripik kentang, lalu dia mengambil keripik kentang itu dan dia masukkan ke dalam mulutnya, “Alex juga sudah melakukan tes, aku pikir dia tidak mau melakukan itu.”


“Alex mungkin juga ingin segera memiliki anak, makanya dia menuruti kemauan kamu.”


“Vik, kapan kamu dan Betrand akan menikah? Apa hubungan kalian akan selamanya seperti ini, tidak ada kepastian?” Chelsea kembali mengambil keripik kentang itu dan dia masukkan ke dalam mulutnya, tak terasa Chelsea hampir menghabiskan setengah toples keripik kentang itu.


“Aku dan Betrand akan menikah dalam waktu dekat ini, makanya aku menyuruh kamu kesini. Besok, aku ada fitting baju pengantin, apa kamu mau menemaniku?”


“Besok, tapi hari itu aku harus ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes aku sama Alex.”


“Kamu bisa menyuruh Alex untuk mengambilnya. Kamu tahu kan, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa selain kamu, kedua orang tuaku saja tidak peduli dengan ku,” ucap Vika sedih.


Chelsea menepuk bahu Vika, “baiklah, aku akan menemani kamu, apapun akan aku lakukan untuk sahabat terbaikku,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


“Terima kasih, besok aku akan menjemputmu, kita naik mobilku saja. Besok, Betrand juga akan menyusul setelah urusannya selesai.”


Chelsea menganggukkan kepalanya, “kalau begitu bagaimana kalau sekarang kamu ikut ke rumah orang tua aku, aku kangen sama Noel, dia sekarang sudah semakin pintar, padahal usianya baru 3 bulanan, tapi dia kayak sudah ngerti gitu, aku makin gemas lihatnya,” ucapnya.


“Ok, kalau begitu aku siap-siap dulu,” ucap Vika lalu beranjak dari duduknya.


**


Kania senang melihat Vika datang ke rumahnya bersama dengan Chelsea. Dia sedikit tahu tentang masalah yang Vika hadapi dulu, karena Chelsea sempat bercerita padanya.


“Noel, mana, Kan?” tanya Chelsea sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Kania.


“Noel baru saja tidur, kamu telat sih kesininya.”


Chelsea dan Vika melangkahkan kakinya menuju box bayi tempat Noel tidur. Vika menyentuh pipi gembul Noel, dia begitu gemas saat melihat bayi mungil yang masih terlelap itu.


“Ya, padahal aku ingin main sama Noel. Apa boleh aku bangunin?” pinta Chelsea sambil menatap Kania.


Kania menggelengkan kepalanya, “jangan, Noel pasti capek, dia tadi habis bermain sama Papanya, makanya dia langsung pulas tidurnya.”


“Apa Kak Veon tadi pulang ke rumah?”

__ADS_1


Kania menganggukkan kepalanya, “dia pulang sama Zaki, selain mengambil berkas yang ketinggalan, mereka sekalian makan siang.”


Chelsea mengajak Vika dan Kania untuk keluar dari kamar itu, dia tidak ingin membangunkan tidur nyenyak Noel. Mereka memilih untuk mengobrol di teras belakang seperti biasanya.


“Eric, tumben kamu ada di rumah, aku kira kamu tidak bakalan balik ke rumah ini lagi,” sindir Chelsea saat melihat Eric juga ada di teras belakang rumah.


“Maaf, Kak. kalau sebulan ini aku tidak tinggal di rumah ini, kakak kan tahu, Papa membeli kembali rumah yang dulu sempat di jual sama Oma dan Opa. Aku mencoba untuk tinggal di rumah itu selama satu bulan, tapi aku tidak betah. Disana suasananya sepi, tidak kayak disini, rame, aku juga bisa main sama Noel,” jelas Eric.


“Apa juga sudah bilang sama Mama dan Papa aku, kalau kamu mau tinggal di rumah ini lagi?”


Eric menganggukkan kepalanya, “Om dan Tante sih tidak keberatan, katanya mereka, aku bisa menggantikan kakak disini sebagai anaknya,” godanya sambil menahan tawa.


“Dasar!” Chelsea memukul lengan Eric, “lalu bagaimana dengan kuliahmu? Jangan pacaran melulu kerjaannya,” ledeknya.


“Pacaran apanya, pacar saja aku tidak punya, aku ini masih jomblo ya, Kak. Aku mau mencari pacar itu kayak Kak Kania, sudah cantik, baik lagi,” puji Eric sambil menatap Kania.


“Jangan menggoda Kania ya, kalau tidak, nanti kamu bisa berurusan dengan Kak Veon, kamu tahu kan, bagaimana Kak Veon kalau sedang marah,” ucap Chelsea sambil tersenyum.


“Yaelah kakak, aku mana berani menggoda Kak Kania, aku kan mengatakan kriteria cewek yang aku sukai itu sama seperti Kak Kania, bukan berarti aku suka sama Kak Kania, kakak ini aneh deh lama-lama, apa semua itu efek karena kakak sudah menikah, jadi pemikiran kakak itu cethek banget,” ledek Eric.


“Ya..ya aku pergi, lagipula aku juga mau ke kampus,” ucap Eric lalu beranjak dari duduknya.


“Eric, apa kamu tidak kangen sama keluarga kamu, kamu kan sudah lama tinggal di Indonesia?” tanya Kania.


“Kangen sih, Kak. Tapi, aku juga tidak bisa meninggalkan kuliah aku, katanya saat liburan nanti, Papa akan pulang ke Jakarta.” Eric lalu melangkahkan kakinya menjauh.


“Kenapa kamu menanyakan itu sama Eric?” tanya Chelsea penasaran.


“Karena aku bisa melihat, kalau Eric itu sebenarnya sangat merindukan kasih sayang keluarganya. Dia memang sangat di sayangi di rumah ini, Veon saja sudah menganggap Eric seperti adik kandungnya sendiri, begitu pula aku, Mama dan Papa, kami semua sangat menyayangi Eric. Tapi, kasih sayang kami itu tidak bisa menggantikan kasih sayang keluarganya,” jelas Kania.


“Iya sih, Eric sudah banyak berubah saat tinggal disini, dia bisa menjadi lebih mandiri, dan sudah tidak manja lagi. Padahal dulu waktu di Amerika, sehari saja, dia tidak berhenti merengek kepadaku, minta ini lah, minta itu lah, aku sampai pusing menuruti kemauan Eric. Tapi, sekarang dia bisa sendiri, dan tidak butuh bantuan orang lain. Mama memang paling pandai untuk merubah sikap seseorang, kasih sayang Mama ke Eric, bisa menggantikan kasih sayang Mama Eric yang tidak pernah bisa lagi dia rasakan,” ucap Chelsea sambil melihat kepergian Eric yang bahkan sudah menampakkan punggungnya.


**


Keesokan harinya, Chelsea sudah bersiap-siap untuk pergi bersama dengan Vika untuk fitting baju. Mereka akan pergi ke butik langganan Vika sekitar pukul 10.00 pagi. Chelsea juga sudah memberitahu Alex, jika dirinya tidak bisa pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil check up mereka.


“Semoga nanti Alex tidak lupa.” Chelsea lalu mengambil tas selempangnya dan keluar dari kamarnya, karena Vika sudah menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


“Kamu sudah memberitahu Alex kan, kalau kamu tidak bisa datang ke rumah sakit?”


Chelsea menganggukkan kepalanya, “sudah, semoga saja dia tidak lupa, ayo kita berangkat sekarang saja,” ajaknya.


Chelsea lalu berpamitan dengan asisten rumah tangganya, setelah itu mereka keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Vika lalu melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang rumah Alex. Dalam perjalanan menuju butik, Chelsea mencoba untuk menghubungi Alex, tapi panggilan itu sama sekali tidak dijawab oleh Alex.


“Mungkin Alex sedang meeting, karena tadi Betrand bilang sama aku, dia akan menyusul setelah meetengnya selesai. Aku yakin, Alex tidak akan lupa.”


Chelsea menganggukkan kepalanya, “aku hanya khawatir saja, kamu tahu kan hasil itu yang sangat aku tunggu-tunggu selama ini.”


“Iya, aku tahu, makanya, Alex pasti akan mengingatnya karena itu sangat penting buat kamu.”


Mereka akhirnya sudah sampai di butik langganan Vika. Vika melihat-lihat begitu banyak koleksi gaun pengantin yang terpanjang di patung manekin. Gaunnya terlihat sangat indah dan mewah.


“Kamu mau yang seperti apa gaunny? Aku lihat semuanya indah.”


“Aku juga bingung, tapi aku maunya yang sederhana saja, tidak perlu yang mewah-mewah.”


Chelsea lalu menunjuk salah satu gaun pengantin yang sangat indah, tapi terlihat sederhana, “bagaimana kalau kamu coba gaun itu?” usulnya.


“Boleh juga, kalau begitu, aku akan mencobanya.” Vika lalu meminta pelayan untuk mengambilkan gaun pengantin itu dan membawanya ke ruang ganti.


Selama menunggu Vika mencoba gaun pengantin itu, Chelsea kembali mencoba menghubungi Alex, dan kali ini panggilan itu tersambung, “halo, sayang,” sahutnya.


“Maaf, tadi waktu kamu menelepon, aku sedang meeting. Aku tahu kamu pasti ingin mengingatkan aku untuk ke rumah sakit. Kamu tenang saja, aku ingat kok, ini aku baru mau berangkat ke rumah sakit.”


Chelsea tersenyum, “maaf, aku kira kamu lupa, kalau begitu hati-hati di jalan ya,” ucapnya.


“Iya sayang, nanti setelah urusanku selesai, aku akan menyusul kesana, sekarang Betrand sudah menuju kesana.”


“Baiklah, aku tunggu, kalau begitu aku tutup dulu.” Chelsea lalu mengakhiri panggilan itu, wanita itu pun bisa bernafas lega, “aku kira Alex lupa, ternyata dia masih ingat,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


Chelsea melihat Vika yang baru saja keluar dari ruang ganti, dia terpukau melihat kecantikan Vika. Gaun pengantin itu sangat cocok di tubuh Vika, “kamu sangat cantik, Betrand pasti sangat terpesona saat melihatmu memakai gaun pengantin itu,” pujinya.


~oOo~


 

__ADS_1


__ADS_2