
Eca menatap dalam-dalam wajah tampan Zaki yang sedang tertidur lelap, sudah hampir 15 menit gadis itu menatap wajah pria tampan itu, tapi dia belum merasa puas.
“Aku tidak tega membangunkannya, jika aku bangunkan, nanti aku tidak bisa melihat wajah tampannya lagi.”
Eca menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipi Zaki, “andai aku bisa menjadikan kamu milikku, aku akan sangat bahagia,” ucapnya lirih.
Usapan di pipi itu membuat kedua mata Zaki mulai terbuka dengan perlahan, dia merasa ada yang mengusik istirahatnya. Eca pun dengan cepat lalu menarik tangannya saat kedua mata itu mulai terbuka dengan sepenuhnya.
Eca menampakkan senyuman manisnya saat kedua mata itu mulai menatapnya, “Kak Zaki sudah bangun?” gadis itu berusaha untuk tetap tenang.
“Eca! Kenapa kamu ada di kamar aku? apa yang sedang kamu lakukan di kamar aku?” Zaki lalu bergegas mengubah posisinya menjadi duduk.
“Aku di minta Kak Veon untuk mengantarkan sarapan untuk kakak.” Eca lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil makanan yang dia letakkan di atas meja, “ini sarapan kakak, maaf kalau sudah mulai dingin, atau aku panaskan lagi?” tawarnya.
Zaki menggelengkan kepalanya, “terima kasih, aku akan memakannya, sekarang kamu boleh pergi.” Pria itu lalu mengambil nampan yang berisi makanan dan juga susu hangat.
“Aku akan tetap disini, memastikan kakak memakan makanan itu.”
“Aku ingin sendiri, tolong keluar dari kamar aku,” pinta Zaki lagi.
Jika gadis itu tetap tidak akan keluar dari kamar itu, maka Zaki sudah bersiap-siap untuk meminta Eca keluar dari kamar itu, tapi kali ini dia akan bicara dengan penuh penekanan. Tapi Zaki mengurungkan niatnya itu, saat dia melihat Eca mulai melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.
Zaki merasa masih sangat mengantuk, dia akhirnya meletakkan nampan itu ke atas meja yang terletak di samping ranjangnya, “aku akan memakannya nanti, sekarang aku mau kembali tidur.”
Suara pintu terbuka, membuat Zaki kembali terjaga, tapi kali ini dia menyambut seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dengan senyuman di wajahnya, “ada apa kamu kesini?” tanyanya kemudian.
“Memangnya kenapa? apa aku tidak boleh masuk ke kamar kamu? Apa kamu hanya ingin Eca yang masuk ke dalam kamar kamu?” pikiran Chelsea sudah dipenuhi dengan berbagai macam prasangka buruk tentang Zaki dan juga Eca.
Zaki tersenyum, dia tau jika saat ini Chelsea tengah cemburu kepada Eca, dan semua itu terlihat jelas di wajah Chelsea, “aku boleh minta tolong tidak?”
“Minta tolong apa?” Chelsea berdiri tepat di samping ranjang Zaki.
Zaki menarik tangan Chelsea dan mendudukkannya di tepi ranjang, dia lalu mengambil piring yang sudah terisi makanan yang sangat lezat, “suapi aku makan ya, perut aku sangat lapar,” pintanya.
Chelsea mengambil piring itu dari tangan Zaki, “kenapa tadi kamu tidak meminta Eca untuk menyuapi mu makan?” sindirnya.
__ADS_1
“Aku hanya ingin kamu yang menyuapi aku makan.” Zaki pun mulai membuka mulutnya, dan meminta Chelsea untuk menyuapinya.
Chelsea pun mulai menyendok kan satu sendok makanan dan dia sodorkan di depan mulut Zaki yang sudah membuka mulutnya sejak tadi, “apa kamu tidak malu, sudah besar tapi makan saja harus disuapi,” candanya.
Zaki menarik tangan Chelsea yang tengah memegang sendok, dan mulai memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya, “kan aku minta disuapin juga tidak setiap hari.”
“Dasar manja!” meskipun terus mengomel, tapi Chelsea terus menyuapi Zaki sampai makanan itu habis tidak tersisa.
Zaki lalu mengambil segelas air susu itu, “kamu saja yang meminum susu ini, aku tidak suka minum susu,” ucapnya sambil memberikan susu itu kepada Chelsea.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “kamu kan tau aku paling tidak suka minum susu,” tolaknya.
“Lalu susu ini untuk siapa?”
“Kamu minum saja, karena suatu saat kamu akan mulai suka minum susu.”
Zaki mengernyitkan dahinya, “maksudnya?” tanyanya bingung.
“Sudah kamu minum saja susunya, kasian Eca, dia sudah mempunyai niat baik dengan membuatkan susu itu untuk kamu.”
Chelsea mengambil nampan itu, dia lalu beranjak dari duduknya, “kalau kamu masih ingin tidur, maka tidurlah, aku akan keluar sekarang.”
Zaki melihat jam di pergelangan tangannya, “sepertinya istirahat aku sudah cukup, aku harus kembali bekerja.” Pria itu lalu beranjak dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.
Chelsea pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar Zaki, dia terlihat begitu bahagia, karena dia sudah menyuapi Zaki makan. Itu adalah momen terindah yang tidak akan pernah dia lupakan. Wanita itu lalu melangkahkan kakinya menuju dapur untuk meletakkan piring dan gelas kotor itu.
Zaki yang sudah selesai bersiap-siap pun keluar dari kamar, dia bergegas keluar dari rumah utama itu. Dengan berdiri tegak, dia berdiri di depan mobilnya, dia tengah menunggu Veon untuk mengantarkannya ke kantor.
Zaki sudah menunggu selama hampir 30 menit, tapi Veon tidak kunjung keluar. Zaki akhirnya berinisiatif untuk menelpon Veon, tapi panggilnya teralihkan, “apa mungkin Tuan Veon sudah berangkat ya, tapi biasanya Tuan Veon minta saya untuk mengantarnya ke kantor,” gerutunya.
Zaki melihat Kania dan Eca yang baru saja keluar dari pintu utama rumah itu, dia lalu memanggil mereka untuk mendekat. Kania dan Eca pun menuruti permintaan zaki.
“Kok kamu belum berangkat?” tanya Kania terkejut.
“Apa suami kamu sudah berangkat ke kantor?”
__ADS_1
“Dia sudah berangkat setengah jam yang lalu.”
Zaki pun bergegas masuk ke dalam mobil. Dia tidak ingin kehilangan kepercayaan Veon padanya. Pria itu pun mulai melajukan mobilnya pergi dari rumah utama. Sebelum dia melakukan tugasnya untuk mengawasi Alex, Zaki ingin menemui Tuan mudanya itu.
***
Disisi lain, Alex sedang menyusun rencana untuk mendapatkan Chelsea kembali. Pria itu meminta bantuan Vika untuk memancing Chelsea keluar dari rumahnya. Dan rencana Alex berhasil, Chelsea mau menemui Vika, sahabat yang sudah lama tidak dia temui.
Alex sudah menunggu di tempat yang sudah ditentukan, tapi tentu saja dia harus bersembunyi agar Chelsea tidak melihat keberadaannya. Alex bisa melihat Chelsea mulai masuk ke dalam restoran itu, dia melangkah menuju meja tempat Vika menunggunya.
“Maaf, membuat kamu menunggu lama.” Chelsea lalu mendudukkan tubuhnya di depan Vika, “kamu apa kabar?” tanyanya kemudian.
“Aku baik, kamu sendiri bagaimana? Sudah lama kita tidak bertemu, kamu bahkan tidak menghubungi aku.”
“Aku baik, maaf, aku sibuk bekerja, jadi aku tidak sempat untuk menghubungi kamu.”
“Selama ini kamu tinggal dimana, karena saat aku datang ke rumah kamu, kamu tidak ada?”
Chelsea pun mulai menceritakan semuanya kepada Vika, tentang apa yang sudah dia alami selama ini. Vika membulatkan kedua matanya tidak percaya, dia tidak menyangka sahabatnya akan diperlakukan sejahat itu oleh Alex.
“Jadi Alex sudah...”
“Aku tidak ingin membahas itu, aku ingin melupakannya,” ucap Chelsea sambil menundukkan wajahnya.
Vika tampak sedang memikirkan sesuatu, ternyata Alex telah menipu dan memanfaatkannya. Dia mengira Alex meminta bantuannya hanya untuk bertemu dengan Chelsea, tapi dia tidak menyangka kalau ada masalah sebesar ini.
“Aku tidak akan membiarkan kamu untuk melupakan aku.”
Chelsea mendongakkan wajahnya saat mendengar suara yang sangat familiar di telinga nya. Kedua matanya membulat dengan sempurna saat melihat Alex yang tengah berdiri tepat di sampingnya, “Alex!” serunya terkejut.
Chelsea lalu menatap Vika, “apa semua ini rencana kalian!” serunya keras.
~oOo~
__ADS_1