
Veon dan Zaki sampai di rumah yang Kania tempati pukul 03.00 dini hari. Veon tidak ingin mengganggu tidur Kania, meskipun dia sangat merindukannya, dia mencoba untuk menahannya. Selain itu rasa kantuk sudah mulai menerpa kedua matanya.
“Zak, lebih baik kita tunggu sampai pagi. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Lebih baik kita tunggu disini, selain itu aku ingin memejamkan mataku sebentar.”
Zaki mengangguk mengerti, dirinya juga sangat lelah setelah berjam-jam mengendarai mobil itu. Dia tidak menyangka Kania akan bersembunyi di tempat terpencil seperti ini, ‘makanya aku dan anak buahku tidak bisa menemukannya, dia bersembunyi sejauh ini. Tapi aku penasaran, selama dua bulan ini dia tinggal di rumah siapa?’ gumamnya dalam hati.
Zaki melihat Veon sudah mulai terlelap, dia pun juga mulai memejamkan kedua matanya, rasa kantuk juga melandanya.
Seperti biasanya, Kania bangun lebih dulu daripada Eca. Kania mulai membereskan rumah, menyiapkan sarapan pagi, setelah itu membersihkan dirinya. Eca yang juga sudah bersiap-siap pun melangkah menuju meja makan.
Masakan Kania memang sangat lezat, hingga membuat Eca merasa sangat kekenyangan karena telah menghabiskan dua piring sekaligus. Kania bahkan merasa heran dengan sahabatnya itu, meskipun makannya banyak, tapi berat badannya sama sekali tidak bertambah gemuk.
“Ca, aku berangkat duluannya, aku mau mampir ke rumah Kak Rega sebentar, aku mau mengantarkan makanan ini untuk dia.”
“Wah...tumben kamu mau membuatkan bekal untuk dia, bukannya dia pemilik restoran, jadi dia tidak akan kekurangan makanan,” goda Eca.
“Aku tau, tapi aku sudah terlanjur janji akan membawakan bekal makanan ini untuknya. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih aku, karena selama ini dia sudah begitu baik sama aku.”
“Bukannya Mas Rega tinggal bersama Mamanya, apa kamu benar-benar akan datang ke rumahnya?”
“Mamanya Mas Rega sedang pulang kampung, makanya aku ingin memberikan makanan itu untuknya, karena mungkin dia sedang kelaparan sekarang.”
“Mana mungkin, dia kan punya asisten rumah tangga, kamu ini ada-ada saja.” Eca berucap sambil menggelengkan kepalanya.
“Betul ya, terus makanan ini untuk siapa dong, kan mubazir kalau di buang.”
“Biar nanti aku yang memakannya, atau kalau tidak kamu bawa saja ke resto, nanti bisa kamu makan untuk makan siang.”
Kania menggelengkan kepalanya, “kamu kan tau, aku tidak suka makanan yang sudah dingin,” ucapnya.
Eca mengambil kotak bekal makanan itu, “biar nanti aku yang makan, aku mah makanan apa saja aku makan, yang penting enak,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
“Ya udah, ayo kita berangkat sekarang. Kamu kunci pintunya, kita lewat pintu belakang saja, kita lewat jalan pintas biar lebih dekat.”
Eca mengangguk kan kepalanya, mereka lalu keluar dari pintu belakang. Mereka menuju restoran lewat jalan pintas, memasuki jalan perumahan menuju jalan raya, tempat restoran Rega berada.
“Kalau jalan seperti ini, aku jadi teringat saat kita sekolah dulu.” Eca mengingat masa lalu saat mereka masih sekolah, “aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki, aku bahkan sering dihukum, karena sering terlambat sampai di sekolah,” imbuhnya.
“Aku ingat itu, hanya demi menemani kamu, aku bahkan rela dihukum juga.” Kania tersenyum bahagia, “aku rindu masa-masa indah itu,” imbuhnya.
Mereka pun terus melangkahkan kaki mereka menyusuri jalan itu. Mereka saling mengenang masa lalu, masa-masa yang paling indah, yaitu masa SMA.
Zaki membuka kedua matanya secara perlahan, dia lalu melihat jam di pergelangan tangannya. Pria itu membulatkan kedua matanya saat melihat jam tangannya yang memperlihatkan pukul 11.00 siang.
“Tuan, bangun.” Zaki mencoba untuk membangunkan Veon, tapi pria itu tidak kunjung bangun juga. Mungkin rasa kantuk masih melandanya.
Akhirnya Zaki keluar dari mobil, dia lalu membuka pintu penumpang belakang, “Tuan, bangun. Kita kesiangan,” ucapnya sambil menggoyangkan tubuh Veon.
Veon yang merasakan sentuhan di tubuhnya pun mulai membuka kedua matanya secara perlahan, “ada apa, Zak? Aku masih sangat mengantuk ini,” omel nya.
“Maaf, Tuan. Apa Tuan lupa dengan tujuan Tuan ke sini?”
Veon mengerjapkan kedua matanya berkali-kali, mencoba untuk mengumpulkan semua nyawanya lagi, “apa Kania sudah keluar dari rumahnya?” tanyanya cemas.
Zaki menggelengkan kepalanya, “saya tidak tahu, Tuan. Tapi sepertinya sejak tadi tidak ada seorang pun yang lewat,” ucapnya.
Veon pun keluar dari mobil itu, setelah itu dia mulai melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu dan mulai mengetuknya. Setelah beberapa menit menunggu, pintu itu tidak kunjung terbuka. Veon mencoba untuk mengetuk pintu itu lagi, tapi hasilnya tetap sama, pintu itu belum juga terbuka.
“Tuan, sepertinya Nona Kania tidak ada di dalam.”
__ADS_1
Veon mengepalkan kedua tangannya, “apa dia sengaja menghindariku? Apa dia sudah tau kalau aku datang kesini untuk menjemputnya?”
“Sebaiknya kita mencarinya, mungkin Nona Kania masih berada di sekitar sini.”
Veon teringat akan restoran yang di beritahu oleh Papanya Kania, “kita ke restoran yang tadi kita lewati,” perintahnya.
Zaki mengangguk mengerti, mereka pun masuk ke dalam mobil. Zaki mulai melajukan mobilnya menuju restoran yang dimaksud oleh Veon. Tak butuh waktu lama, hanya beberapa menit, mereka sampai di restoran itu.
Veon dan Zaki menatap restoran itu. Restoran itu tampak ramai pengunjung. Mereka lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam restoran itu, Veon mengedarkan pandangannya menyusuri seluruh ruang restoran itu.
Kedua mata Veon melihat Kania sedang duduk di depan meja kasir, ‘jadi selama ini dia bekerja di restoran ini? Maafkan aku sayang, aku sudah membuat hidup kamu menderita,’ gumamnya dalam hati.
Rasa penyesalan itu tiba-tiba hilang saat Veon melihat seorang pria sedang mengajak bicara Kania dan mengajaknya pergi dari tempat itu. Veon penasaran dengan pria itu, dia pun mulai mengikuti kemana Kania dan Rega pergi, dan tentu saja Zaki mengikuti dari belakang.
Veon melihat Kania dan Rega tengah duduk dengan hidangan yang tertata rapi di atas meja. Pria itu melihat mereka tertawa, bercanda gurau. Dengan emosi yang meluap, dia lalu melangkahkan kakinya mendekati meja mereka.
“O...jadi ini yang kamu lakukan selama ini.” Veon berbicara dengan nada yang masih biasa-biasa saja.
Kania membulatkan kedua matanya saat melihat Veon berdiri tepat di sampingnya. Tapi tidak dengan Rega, pria itu terlihat sangat kebingungan dan penasaran tentang pria itu.
“Maaf, anda siapa? Kenapa anda mengganggu makan siang kami?” tanya Rega sambil mengernyit bingung.
“Kamu ingin tau siapa aku!” Veon lalu melangkahkan kakinya menuju belakang kursi Kania, dia lalu membungkukkan tubuhnya dan memeluk Kania dari belakang, “aku suami Kania. Justru aku yang seharusnya bertanya sama kamu, siapa kamu? Kenapa kamu makan siang bersama dengan istriku?” tanyanya dengan sorot mata yang tajam.
Kedua mata Rega membulat dengan sempurna, dia tidak menyangka akan secepat ini bertemu dengan suami dari wanita yang sangat dia kagumi.
“Kenapa kamu diam?” tanya Veon lagi.
Rega menyungingkan senyumannya, “jadi setelah dua bulan, kamu baru mencarinya?” sindirnya.
Veon mencoba menahan amarahnya, apalagi ini di tempat umum, dia tidak ingin mempermalukan dirinya juga Kania, “sayang, aku datang ke sini untuk menjemputmu, ayo kita pulang,” ajaknya dengan suara lembut.
Kania menyingkirkan kedua lengan Veon dari tubuhnya, “aku tidak ingin pulang,” tolaknya.
Kania beranjak dari duduknya, dia lalu melangkahkan kakinya pergi menjauh. Veon tentu saja tidak akan membiarkan Kania untuk pergi lagi. Veon mengikuti Kania dari belakang, dia ingin tau kemana Kania akan pergi.
Rega yang ingin mengikuti Kania, di cegah oleh Zaki. Zaki tidak ingin ada orang lain yang mengganggu Veon dan Kania. Rega merasa sangat kesal, tapi dia juga tidak ingin membuat keributan di restorannya.
Saat melewati tempat yang di rasa sepi, Veon menarik tangan Kania, dia lalu mendekapnya, “Kania, jangan seperti ini, jangan pergi lagi,” pintanya.
Kania mencoba untuk tidak menangis, dia mendorong tubuh Veon agar menjauh darinya, tapi Veon sama sekali tidak berubah posisi dan malah semakin memeluknya dengan erat.
“Apa mau kamu? Kenapa kamu melakukan semua ini, kenapa?” Kania sudah tidak sanggup lagi menahan air mata yang sudah memenuhi kedua sudut matanya.
“Apa maksud kamu? Tentu saja karena aku ingin membawamu pulang. Kenapa kamu pergi meninggalkan aku? apa kamu ingin pergi dariku?”
“Untuk apa aku pulang? Sedangkan kamu sudah tidak membutuhkan aku lagi.” Kania berucap di sela isak tangisnya.
Veon melepaskan pelukannya, “apa maksud kamu? Siapa yang bilang seperti itu? Apa Bella yang mengatakan semua itu? Katakan!” serunya.
“Bella...aku bahkan tidak bisa melupakan nama itu.”
Veon menggenggam tangan Kania, “kalau soal Bella, aku bisa jelasin semuanya. Semua tidak seperti yang kamu pikirkan, aku dan Bella...”
Kania menghempaskan tangan veon, “aku tidak mau mendengar apapun soal kamu dan Bella! Aku bahkan tidak peduli jika kamu ingin menikah dengannya!” teriaknya keras.
“Apa kamu percaya dengan semua yang Bella katakan padamu? Apa kamu mempercayai wanita busuk itu?” tanya Veon dengan nada yang mulai meninggi.
Kania tersenyum sinis, “wanita busuk! Apa kamu sengaja mengatakan itu hanya untuk membujukku, agar aku memaafkan kamu?” tanyanya penuh emosi.
__ADS_1
“Aku akan menjelaskan semuanya, dengerin aku dulu, aku mohon,” pinta Veon dengan memelas.
Kania tidak percaya, pria dingin, angkuh dan keras kepala seperti Veon akan memohon padanya dengan memelas seperti itu. Melihat kedua mata sendu itu membuat hati Kania mulai meluluh.
Veon menggenggam tangan Kania lalu mengecupnya, “aku sudah tau semuanya, kenapa kamu pergi meninggalkan aku. Bella berbohong sama kamu, aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk meninggalkanmu dan menikah dengan Bella, itu bahkan tidak pernah terlintas dalam benakku,” jelasnya.
“Kamu bohong, kalau kamu tidak ingin menikah dengan Bella, lalu kenapa kamu membiarkan dia untuk tinggal di rumah itu? Kamu bahkan sering datang ke rumah itu untuk menemuinya.”
“Aku minta maaf, karena aku tidak langsung memberitahu kamu soal Bella. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan itu dari kamu, aku hanya mencari waktu yang tepat untuk memberitahu kamu. Selain itu masa lalu aku dan Bella yang tidak kamu ketahui, aku takut kamu akan salah paham nantinya.”
Kania melangkah mundur, “aku tidak percaya, mana mungkin kamu dan Bella tidak ada apa-apa, bukankah kamu pernah menginap di rumah itu bersama dengannya?” tanyanya sambil menatap kedua mata Veon.
Veon menggelengkan kepalanya, “aku tidak pernah menginap di rumah itu, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan itu sama Zaki, karena setiap aku menemui Bella, dia selalu bersamaku,” bela nya.
“Aku dan Bella sudah tidak ada hubungan apa-apalagi setelah dia pergi meninggalkan aku, itu bahkan sebelum aku mengenal kamu.”
“Bohong!” teriak Kania keras.
“Aku tidak berbohong, bahkan aku sudah mengusir Bella dari rumah itu.”
Kania membulatkan kedua matanya, “apa? kamu mengusir Bella?” tanyanya tidak percaya.
Veon menganggukkan kepalanya, “aku mengusirnya setelah aku tau, dirinya lah yang membuat kamu pergi meninggalkan aku.” pria itu lalu menggenggam tangan Kania, “ada satu hal lagi yang ingin aku katakan sama kamu,” imbuhnya.
“Apa?” Kania berucap dengan mengerucutkan bibirnya.
Veon tersenyum, dia sangat gemas saat melihat Kania mengerucutkan bibirnya. Ingin sekali dia melahap habis bibir tipis itu, tapi dia mencoba untuk menahan diri, “Kania, aku...aku...” Pria itu mengumpat di dalam hati, baru kali ini dia merasa segugup ini di depan Kania.
“Apa? aku apa?” desak Kania.
“Em...aku...”
Kania pun mulai merasa jengah, “kalau kamu tidak juga mengatakan apa yang ingin kamu katakan, aku pergi!” ancamnya.
“Tunggu...aku juga tidak tau kenapa aku bisa segugup ini, tapi aku akan mengatakannya.” Veon berjongkok di depan Kania, hingga membuat Kania membulatkan kedua matanya, “Kania, aku minta maaf jika selama ini aku sudah sangat menyakiti hati kamu. Aku tau ini sudah sangat terlambat, tapi aku tidak peduli. Mungkin ini akan terlihat sangat konyol, di usiaku yang tidak lagi muda, aku mengatakan semua ini, tapi aku tidak peduli.”
“Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan sih!” Kania sudah kehabisan kesabaran.
“Kania, asal kamu tau, selama ini aku tidak pernah menganggap pernikahan kita ini hanya sandiwara. Saat aku mengucap ijab qobul itu, aku sudah berjanji akan terus mempertahankan pernikahan ini, dan aku tidak pernah berpikir untuk mengakhirinya. Mungkin sikapku selama ini sudah sangat kelewatan, aku minta maaf untuk semua itu. Tapi sekarang aku sudah menyadari semuanya.” Veon mengecup tangan Kania, “saat kamu pergi meninggalkan aku, aku baru menyadari betapa kamu sangat berharga untukku. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu, separuh nyawaku seakan ikut pergi bersamamu.”
Kania tidak menyangka akan mendengar semua ini dari mulut Veon, “apa maksud semua ini? Apa kamu ingin mempermainkan aku lagi?” tanyanya dengan kedua sudut mata yang mulai dipenuhi air mata.
Veon menggelengkan kepalanya, “aku melakukan ini karena aku ingin kamu terus bersamaku,” ucapnya.
“Tapi kenapa? Bukankah kamu tidak mencintaiku? Kamu menikah denganku hanya karena terpaksa.”
“Kita menikah memang karena terpaksa, tapi itu dulu. Kania...aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu. Kamu mau kan kembali ke rumah sama aku? rumah itu terasa sepi saat kamu pergi,” pinta Veon dengan tatapan mata sendunya.
“Tadi kamu bilang apa?” Kania ingin memastikannya sekali lagi, dia takut, dia salah mendengar.
Veon berdiri, dia lalu memeluk Kania dengan sangat erat, “aku mencintaimu, sangat...sangat mencintaimu, sayang.” Pria itu berucap dengan sangat mantap.
Kania mendongakkan wajahnya menatap wajah tampan suaminya yang sangat dia rindu kan, “apa aku bermimpi?” tanyanya dengan air mata yang mulai menetes dari kedua sudut matanya.
Veon menggelengkan kepalanya, “ini bukan mimpi sayang, aku mencintaimu, aku milikmu seutuhnya, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu.” Pria itu lalu membenamkan bibirnya di bibir tipis itu, memagutnya dengan lembut.
Kania menautkan jemarinya di belakang leher Veon, membalas pangutan itu, menyalurkan rasa rindu yang dia tahan selama ini. Veon memeluk erat tubuh Kania, memperdalam ciumannya, menikmati candu yang sangat dia rindukan.
“Aku mencintaimu, Veon, sangat mencintaimu, jangan pergi, jangan tinggalkan aku.” Kania berucap dengan nafasnya yang memburu.
__ADS_1
Veon mengecup kening Kania, “aku tidak akan pergi, karena aku tidak bisa hidup tanpa kamu,” ucapnya.
~oOo~