
Kania sudah terbiasa dengan kondisi tubuhnya saat ini, meskipun setiap pagi dia harus mengalami morning sick, tapi dia tetap tidak mengeluh. Wanita itu tetap semangat untuk bekerja, apalagi uang yang dia pegang saat ini hanya tinggal sedikit.
Rega setiap pagi selalu memberi waktu untuk Kania beristirahat, dia hanya akan bekerja menjelang siang. Pria itu merasa tidak tega melihat kondisi Kania saat ini, seharusnya di situasi Kania saat ini ada seorang suami yang mendampinginya dan memenuhi semua kebutuhannya. Tapi tidak dengan Kania, dia harus berjuang sendiri agar tetap bisa bertahan hidup menjaga sang buah hatinya agar tetap aman.
“Mas Rega tidak perlu melakukan semua ini, aku merasa tidak enak dengan karyawan yang lain.” Saat ini Rega tengah menyiapkan makan siang untuk Kania, tentu saja makanan yang sehat dan bergizi.
Rega mendudukkan tubuh Kania di sofa. Ya mereka sedang berada di ruangan Rega, “jangan peduli sama omongan orang lain. Aku melakukan ini tulus, karena aku peduli sama kamu,” ucapnya.
Rega lalu duduk di sofa tunggal, “sekarang ayo dimakan, atau perlu aku suapin,” godanya.
Kania menggelengkan kepalanya, “aku bisa makan sendiri.” Wanita itu lalu mengambil piring yang berisi makanan itu, lalu mulai memakannya secara perlahan. Entah kenapa semenjak kehamilannya ini dia sering merasa lapar, tapi pagi harinya dia selalu mual dan muntah.
Rega menopang dagunya dengan sebelah tangannya, dia menatap Kania yang tengah menyantap makanannya dengan sangat nikmat. Pria itu merasa sangat bahagia bisa sedekat ini dengan wanita idamannya. Meskipun dia tidak bisa melakukan lebih dari ini, tapi jika Kania benar-benar akan bercerai dengan suaminya, saat itu juga dia akan bertindak lebih jauh lagi.
Bagaimanapun dia tidak akan melepaskan Kania, dan membiarkan wanita itu hidup dalam kesusahan dan kesendirian, apalagi dia harus menjadi orang tua tunggal. Rega memberikan secangkir teh hangat untuk Kania setelah wanita itu menyelesaikan makan siangnya.
Kania menerima teh hangat itu lalu mulai meneguknya, “Mas, aku tidak tahu bagaimana cara aku untuk membalas kebaikan Mas Rega selama ini,” ucapnya lalu meletakkan cangkir itu ke atas meja.
“Kamu hanya perlu menjaga diri kamu dan calon anak kamu, aku akan selalu ada buat kamu,” ucap Rega dengan senyuman di wajahnya.
“Tapi kenapa? Bukankah Mas Rega sudah mendengar semuanya dari Eca, tapi kenapa Mas Rega tetap baik sama aku?”
“Lalu apa hubungannya dengan kisah hidup kamu sama aku? bagiku semua itu tidak penting, selain itu semua itu bukan salah kamu, tapi salah Papa kamu yang tega menjadikan kamu sebagai alat menebus hutangnya. Dan lagi suami kamu itu, pria yang sama sekali tidak pantas untuk kamu tangisi,” ucap Rega sambil mengepalkan kedua tangannya.
Rega ingin sekali bertemu dengan pria yang sudah menyia-nyiakan wanita sebaik Kania. Dia ingin tau apa salah wanita itu hingga harus diperlakukan seburuk itu. Jika dia memang tidak mencintainya, dan tidak menginginkan pernikahan itu, lalu untuk apa dia menikmati tubuh wanita itu dan membuatnya hamil lalu meninggalkannya.
Kania beranjak dari duduknya, “Mas Rega, terima kasih untuk makan siangnya, sebaiknya aku kembali bekerja, tidak enak dengan yang lainnya,” ucapnya.
Rega hanya mampu menganggukkan kepalanya, jika dia sudah mengikat wanita itu menjadi miliknya, maka dia tidak akan membiarkan wanita itu untuk bekerja. Setelah mengetahui kehamilan Kania, Rega sengaja memindahkan Kania di bagian kasir, agar dia tidak bekerja terlalu berat. Awalnya Kania bekerja sebagai waitress, dan itu adalah pekerjaan yang sangat melelahkan.
Hari ini restoran terlihat sangat ramai dari biasanya, Rega selalu mengawasi gerak-gerik Kania saat bekerja. Pria itu takut terjadi apa-apa dengan wanita itu, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang masih terlihat lemah.
Eca melangkahkan kakinya mendekati Rega, pria itu tidak menyadari jika saat ini Eca sudah berdiri di sampingnya, “hem.” Gadis itu mulai berdehem.
Rega menyengir kuda saat ketahuan sedang mengamati sahabat gadis itu, “s—sejak kapan kamu ada disini?” tanyanya gugup.
Eca menatap ke arah Kania yang sedang melayani pelanggan yang sedang melakukan transaksi pembayaran, “aku kasihan dengan Kania, dalam kondisinya sekarang seharusnya dia duduk manis di rumah sambil menikmati berbagai macam camilan dan beristirahat, bukan malah bekerja seperti sekarang ini,” ucapnya.
“Jika dia sudah resmi bercerai dengan suaminya, aku siap untuk menikahinya.”
__ADS_1
Eca tertawa, “PD banget jadi orang, memangnya Kania mau sama Mas Rega,” ledeknya.
“Jika dia tidak mau, aku akan tetap menunggu, aku yakin, Kania adalah jodoh yang dikirim Tuhan untuk aku,” ucap Rega dengan PD nya.
Eca menatap wajah Kania yang nampak kelelahan, “jika Kania setuju menikah dengan Mas Rega, aku akan sangat bahagia. Kania adalah gadis yang baik, tapi kenapa takdirnya tidak sebaik hatinya?”
“Ca, kamu tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab penuh dengan Kania.” Rega lalu mengalihkan tatapannya menatap Eca, “Ca, apa kamu dan Kania mau pindah ke rumah aku? dengan begitu kalian akan lebih mudah berangkat bekerja, dan tidak perlu naik angkot lagi.” Pria itu lalu menatap Kania, “apalagi dengan kondisi Kania saat ini,” imbuhnya.
Eca membulatkan kedua matanya, “hah! Pindah ke rumah Mas Rega? Apa tidak salah?” tanyanya terkejut.
“Kamu tenang saja, rumah itu sudah lama tidak aku tempati, karena aku sekarang tinggal bersama dengan Mamaku setelah Papa meninggal, jadi kalian bisa tinggal di rumah itu dengan leluasa, daripada rumah itu tidak ada yang menempati.”
“Kenapa Mas Rega sampai melakukan semua itu, padahal baru satu bulan Mas Rega mengenal Kania?” tanya Eca penasaran.
Rega tersenyum sambil melihat senyuman manis yang terlihat di kedua sudut bibir Kania, “kamu lihat senyuman manis itu, aku ingin melihatnya setiap hari. Aku juga tidak tau kenapa aku bisa menyukai Kania sampai seperti ini, tapi ya hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menjaganya saat ini,” ucapnya.
Kania merasa sangat lelah, dia akhirnya mendudukkan tubuhnya di kursi depan meja kasir. Dia lalu mengusap perutnya yang masih rata, “sayang, kamu capek ya, kamu harus bersabar sedikit lagi ya sayang, sebentar lagi kita akan pulang, setelah itu kita akan bisa beristirahat,” ucapnya lirih.
Rega kembali ke ruangannya, dia harus menyelesaikan pekerjaannya, karena sebentar lagi dia harus mengantarkan Kania pulang. Ya...setiap hari Rega selalu mengantar Kania pulang ke rumahnya, awalnya Kania menolak tawaran itu, karena dia tidak ingin merepotkan siapapun, tapi Rega sama seperti Veon, tidak suka di bantah.
Jam kerja Kania sudah selesai, dia di gantikan oleh Reka. Kania bersiap-siap untuk pulang, setelah berganti pakaian dia lalu melangkahkan kakinya keluar dari restoran itu lewat pintu samping. Seperti biasa Rega sudah menunggunya di luar pintu itu.
“Terima kasih,” ucap Kania lalu masuk ke dalam mobil itu.
Rega lalu masuk ke dalam mobil itu, “mau makan dulu?” tawarnya lagi.
Kania menggelengkan kepalanya, “aku mau langsung pulang saja,” tolaknya.
Rega hanya menganggukkan kepalanya, tapi sebelum pulang Rega mampir untuk membeli makanan untuk Kania.
“Mas Rega seharusnya tidak perlu melakukan semua ini.”
“Aku akan tetap melakukan semua ini untuk kamu, meskipun kamu selalu menolakku.” Rega terus menatap ke depan.
“Tapi aku tidak bisa menerima semua kebaikan Mas Rega, aku sama sekali tidak pantas untuk menerima semua itu,” ucap Kania sambil menundukkan wajahnya.
Rega memang belum menyatakan perasaannya kepada Kania, karena dia tidak ingin Kania menjauhinya jika mengetahui perasaannya.
“Bukankah kita teman, sudah seharusnya kita harus saling membantu bukan?”
__ADS_1
“Mas Rega sudah banyak membantu aku selama ini, apalagi sudah memberikan aku pekerjaan. Mas Rega juga sudah memindahkan aku di bagian yang tidak begitu menguras tenagaku.”
“Kamu tidak usah memikirkan semua itu, yang penting kamu jaga diri kamu, semua itu sudah cukup membuat aku senang,” ucap Rega dengan senyuman di wajahnya.
***
Semakin hari Veon semakin terlihat kacau, sekarang pria itu sudah tidak lagi memperdulikan penampilannya. Rambut Veon mulai memanjang, tumbuh sedikit jambang di wajahnya, setelah kepergian Kania, seakan nyawanya tidak lengkap. Zaki dan sekretaris Veon yang menghandle semua pekerjaan Veon.
Malam ini Veon mendapat pesan dari Mamanya. Vera menyuruh Veon dan Kania untuk makan malam di rumahnya. Sudah satu bulan mereka tidak lagi mengunjungi rumah utama, dan itu membuat Vera dan Dion mulai curiga.
Veon bingung harus memberi alasan apalagi kepada kedua orang tuanya tentang Kania. Dia harus segera menemukan Kania, karena selamanya dia tidak mungkin terus membohongi kedua orang tuanya.
“Zak, kenapa orang-orang yang kamu suruh sampai sekarang belum juga menemukan keberadaan Kania, sebenarnya mereka becus bekerja tidak!” Veon sudah berada di puncak kesabarannya, selama ini dia menahan diri dan berharap Kania akan segera di temukan, tapi semuanya nihil.
“Saya akan menyuruh mereka untuk bekerja lebih serius lagi, Tuan. Maafkan saya,” ucap Zaki dengan menundukkan wajahnya.
“Jika dalam waktu satu minggu lagi, mereka belum juga bisa menemukan Kania, aku akan mengampunimu, Zak!” Veon lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Malam ini dia harus datang ke rumah utama, dia tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin tambah curiga. Pria itu akan mencari alasan tentang kenapa Kania tidak bisa ikut makan malam bersama dengan mereka.
Zaki mengacak-acak rambutnya karena frustasi, sekarang nasibnya berada di tangan anak buahnya, jika mereka dalam satu minggu ini tidak bisa menemukan Kania, maka nyawanya yang akan menjadi taruhannya.
***
Setelah membersihkan diri, Kania bersiap-siap untuk makan malam. Seperti biasa, dia harus makan malam sendirian, karena Eca akan pulang pukul 21.00 malam. Dulu sebelum dirinya di pindah di bagian kasir dan bisa berganti sip dengan Reka. Kania tau jika semua itu adalah ulah Rega yang sengaja membiarkannya pulang lebih cepat.
Kania mengusap perutnya yang masih rata, “sayang, apa kamu sangat merindukan Papa kamu? Mama sangat merindukan Papa kamu. Sekarang Papa kamu sedang apa ya, apa dia sekarang sedang bersama dengan Bella?” tanpa sadar air mata mulai mengalir dari kedua sudut matanya.
“Veon, aku sangat merindukan kamu, apa kamu juga merasakan hal yang sama?”
Kania menatap layar benda pipih itu, dia lalu membuka galeri foto. Kania masih menyimpan foto Veon yang dia ambil secara diam-diam, “kenapa dulu aku tidak pernah berinisiatif untuk mengajaknya berfoto selfie, aku jadi tidak mempunyai foto saat kami sedang berdua,” gerutunya.
Kania menghapus air matanya dari kedua pipi dan sudut matanya, “aku harus kuat, aku pasti bisa melewati semua ini. Papa...Kania sangat merindukan Papa, sekarang bagaimana keadaan Papa? Apa Papa tau tentang kepergian aku ya, atau Veon merahasiakan semua itu dari Papa dan keluarganya? Atau dia malah mengenalkan Bella kepada Mama dan Papanya?”
“Kenapa waktu itu aku langsung membuang nomor lama ku dan mengganti yang baru, mana aku lupa nomor Zaki lagi. Aku ingin tau kabar Veon dan keluargaku, aku sangat merindukan mereka, tapi aku juga belum siap untuk bertemu mereka, hati aku masih sakit. Meskipun aku sudah menerima semua ini dengan ikhlas, tapi aku belum siap untuk bertemu dengannya. Apalagi dengan kehamilan aku saat ini, apa dia akan mau menerima anak ini? Sedangkan dia belum siap untuk mempunyai anak.”
~oOo~
__ADS_1