
Setelah Kania keluar dari ruangan itu, Veon lalu membuka paper bag itu dan mengeluarkan bekal makan siang yang dibawa oleh Kania.
Veon mulai membuka bekal makan siang itu. Pria itu menghirup aroma makanan itu yang sangat menggugah selera, “Mama memang pandai memasak.” Pria itu lalu mengambil sendok dan mulai menyendok makanan itu dan dia masukkan ke dalam mulutnya.
Veon mengunyah makanan itu secara perlahan, menikmati setiap rasa yang ada di makanan itu, “em...makanan ini sangat lezat,” ucapnya setelah dia menelan makanan yang ada di mulutnya.
Veon menghabiskan makanan itu tanpa sisa sedikitpun, “aku akan meminta Mama untuk membuatkan makanan seperti ini lagi, aku sangat menyukai makanan ini.” Pria itu lalu mengambil segelas air minum lalu dia teguk sampai habis.
Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahu Veon dari dalam ruangan.
Zaki membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu, dia lalu melangkahkan kakinya menghampiri Veon, “maaf, Tuan, saya di suruh Nona Kania untuk mengambil tempat bekal makan siang itu.” Pria itu menatap ke arah meja, ‘ternyata habis juga, segitu sukanya Tuan Veon dengan masakan istrinya.’
“Memangnya dia masih berada disini?” tanya Veon terkejut.
Zaki menganggukkan kepalanya, “Nona Kania sekarang menunggu di depan,” ucapnya.
“Tolong bilang sama dia, malam ini aku ingin makan makanan ini lagi. Suruh Mama untuk memasak makanan seperti ini lagi.”
Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, Tuan,” ucapnya. Pria itu lalu memasukkan tempat makan siang itu ke dalam paper bag.
“Zak, tolong kamu antarkan Kania sampai di rumah, pastikan dia sampai di rumah dengan selamat.”
Zaki tersenyum, ‘apa sekarang Tuan mulai peduli sama Nona Kania?’ “baik, Tuan,” sahutnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
“Tuan menyuruh ku untuk mengantar kamu sampai di rumah.” Zaki memberikan paper bag itu kepada Kania.
Kania mengernyitkan dahinya, dia tidak percaya jika Veon menyuruh Zaki untuk mengantarnya, “kamu pasti bohong, mana mungkin dia menyuruh kamu untuk mengantarku pulang, memangnya dia kesambet apa sampai peduli sama aku,” ucapnya tidak percaya.
“Apa perlu aku tanyakan lagi agar kamu percaya?”
Kania membulatkan kedua matanya, dengan cepat dia lalu menggelengkan kepalanya, “aku percaya...aku percaya, tapi aku kesini sama supir, jadi kamu tidak perlu mengantar aku pulang,” tolaknya.
“Kalau soal itu gampang, aku tinggal menyuruh dia untuk pulang terlebih dahulu, setelah itu kamu bisa pulang sama aku.” Zaki lalu melangkahkan kakinya menuju lift. Kania pun mengikuti Zaki dari belakang.
__ADS_1
Setelah menyuruh supirnya pulang, Kania masuk ke dalam mobil Zaki. Zaki pun mulai melajukan mobilnya. Dalam perjalanan Kania terus mengumpat Veon, hingga membuat Zaki tertawa. Pria itu tidak menyangka jika Bos nya itu sudah sangat membuat istrinya semarah itu.
“Kenapa kamu begitu membenci Tuan Veon?” Zaki bertanya sambil terus menatap ke depan.
“Apa kamu tidak tahu bagaimana sikap dia selama ini kepadaku?” Kania melipat kedua lengannya di dada, “seandainya dia bisa bersikap baik sedikit saja sama aku, aku tidak akan membencinya seperti ini,” ucapnya sambil menepiskan senyumannya.
“Tuan Veon memang seperti itu orangnya, dia tidak mudah untuk menunjukkan perasaannya.”
Kania mengernyitkan dahinya, “apa maksud kamu?” tanyanya bingung.
Zaki menghela nafas, “apa kamu sudah tau tentang siapa Tuan Veon sebenarnya?” tanyanya.
“Apa maksud kamu tentang kenyataan jika dia bukan anak kandung dari Mamanya?”
Zaki menganggukkan kepalanya, “aku tau itu juga setelah satu tahun bekerja dengannya. Awalnya aku juga sangat terkejut mendengar semua itu, tapi Tuan Veon sangat menyayangi Nyonya Vera seperti ibu kandungnya sendiri,” ucapnya.
“Apa itu juga yang membuat dia bersikap seperti itu?”
“Ya...sebenarnya Tuan Veon itu dulu berhati hangat, tapi setiap Tuan Dion mengatakan jika dirinya adalah fotocopy ibunya, Tuan Veon menjadi sosok yang dingin.”
“Jadi aku mohon sama kamu, jika Tuan Veon bersikap dingin sama kamu, jangan membalasnya dengan sikap dingin juga, tapi bersikap hangatlah padanya, tunjukkan perhatian kamu, agar dia merasa masih ada orang yang juga sangat peduli padanya,” pinta Zaki.
“Aku tidak bisa melakukan itu, kamu tahukan bagaimana awal hubungan kami? Sejak awal semuanya sudah salah.”
“Aku minta maaf untuk semua itu. Sebenarnya aku lah yang mengusulkan kepada Tuan Veon untuk menikah denganmu,” aku Zaki.
Kedua mata Kania membulat dengan sempurna, “apa maksud kamu?” tanyanya terkejut.
Zaki mengambil nafas lalu membuangnya secara perlahan. Dia lalu menceritakan semuanya, awal mula saat dirinya memberikan ide kepada Veon untuk melakukan penawaran kepada papa Kania, sampai mengusulkan untuk menikahi wanita itu.
“Zak, aku tidak menyangka, dirimulah yang membuat hidup aku menderita seperti ini!” seru Kania kecewa.
“Aku minta maaf, aku juga tidak menyangka jika kedua orangtua Tuan Veon merestuinya untuk menikah denganmu, karena aku kira mereka tidak akan merestui kalian.”
__ADS_1
“Tapi kenapa harus aku! kenapa!” Kania merasa sangat kecewa kepada Zaki setelah mendengar cerita yang sebenarnya, “jadi semua ini bukan keinginan Veon, tapi keinginan kamu!” air mata mulai mengalir dari kedua sudut mata Kania.
“Aku minta maaf, orang yang perlu di salahkan bukan Tuan Veon tapi aku.”
Kania hanya diam, dia mengalihkan tatapannya menatap keluar jendela, air matanya terus mengalir membasahi kedua pipinya, ‘sekarang apa yang harus aku lakukan?’ gumamnya dalam hati.
“Tadi Tuan Veon berpesan kepadaku, dia ingin makan malam dengan makanan yang sama seperti yang tadi kamu bawa, katanya makanan tadi sangat enak.”
“Bukannya dia tidak menyukai masakan aku, lalu kenapa dia ingin makan makanan itu lagi.”
Zaki mengernyitkan dahinya, “jadi makanan tadi kamu yang masak? Bukannya itu masakan Nyonya Vera?” tanyanya terkejut.
“Aku yang memasak makanan itu, tapi aku sengaja mengatakan sama dia kalau itu masakan Mama. Aku kira dia tidak menyukai masakan aku, jadi aku sengaja mengatakan semua itu.”
Zaki tersenyum, “Tuan Veon sangat menyukai masakan kamu waktu itu, bahkan dia menghabiskan makanan itu sampai tak tersisa. Kali ini Tuan Veon juga melakukan hal yang sama,” ucapnya.
Kania mengalihkan tatapannya menatap Zaki, “apa kamu serius?” tanyanya tidak percaya.
Zaki menganggukkan kepalanya, “aku baru pertama kali ini melihat Tuan Veon makan dengan begitu lahapnya, itu berarti dia benar-benar menyukai masakan kamu,” ucapnya.
Entah mengapa hati Kania merasa sangat senang saat Zaki mengatakan semua itu, tapi wanita itu teringat akan foto wanita yang bersama dengan Veon, “apa aku boleh bertanya sesuatu sama kamu?” tanyanya ragu-ragu.
“Apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Em...saat aku berada di ruangan dia tadi, aku melihat ada bingkai foto di atas meja kerjanya. Dalam bingkai foto itu ada foto dia dengan seorang wanita.”
Zaki membulatkan kedua matanya, ‘apa Tuan Veon meletakkan bingkai itu lagi di atas meja kerjanya?’ gumamnya dalam hati.
“Apa kamu tau siapa wanita itu? Apa dia kekasih Bos kamu itu?”
Zaki terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan dirinya juga tidak tau siapa wanita itu sebenarnya, ‘apa yang harus aku katakan?’ gumamnya dalam hati.
“Kak, kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak ingin memberitahu adik kamu ini?”
__ADS_1
~oOo~