Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Sang CEO


__ADS_3

Veon kini menjadi pewaris tunggal keluarga Sanjaya. Dia menjadi CEO di usianya yang masih sangat muda. Veon dianugerahi dengan wajah yang sangat tampan dan menawan juga postur tubuh yang yang sangat ideal. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, sorot mata yang tajam, belum lagi sikapnya yang dingin semakin menambah daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian para kaum hawa.


Tapi Veon adalah pria yang sangat sulit untuk jatuh cinta. Sejak dia kuliah sampai sekarang menjabat sebagai CEO di perusahaan papanya, tidak ada satu wanita pun yang dia kenalkan kepada kedua orangtuanya. Masa muda Veon sangat jauh beda dengan masa muda Dion.


Veon sudah mengetahui semuanya, tentang jati dirinya yang sebenarnya. Tentang dirinya yang bukan anak kandung dari ibu yang sudah merawat dan membesarkannya selama ini. Tentang dirinya yang terlahir sebagai anak yang awalnya tidak diharapkan oleh ayahnya sendiri.


Itulah mengapa Veon tumbuh menjadi pria yang sangat dingin dan juga keras kepala. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak membenci kedua orangtuanya, dia malahan semakin menyayangi Vera yang sudah dia anggap seperti ibu kandungnya sendiri.


Meskipun Vera sudah memiliki anak kandung sendiri yang tak lain adalah adik Veon yaitu Chelsea, dia sama sekali tidak pernah membeda-bedakan kedua anaknya itu. Kasih sayangnya dia bagi secara adil untuk kedua anak nya itu.


Kedua orang tua Dion meninggal di saat Veon berusia 18 tahun. Ayah Dion meninggal karena penyakit komplikasi yang dia derita, sedangkan ibu Dion meninggal karena kecelakaan yang menimpanya saat ingin menyelamatkan Chelsea yang hampir tertabrak oleh mobil.


Sejak saat itu Chelsea selalu mengurung diri di kamar karena merasa sangat bersalah atas kematian neneknya, saat itu usia Chelsea baru 14 tahun. Vera dan Dion tidak henti-hentinya membujuk serta mengatakan kepada Chelsea jika itu bukan kesalahannya, tapi itu sama sekali tidak ada gunanya. Yang bisa membujuk gadis itu hanya kakaknya yaitu Veon.


Setelah dibujuk oleh Veon, Chelsea mau menjalani hari-harinya. Dion dan Vera sangat bersyukur mempunyai anak seperti Veon, meskipun mereka telah gagal mendidik Veon menjadi lelaki yang berhati hangat.


Waktu terus berlalu hingga akhirnya Dion jatuh sakit. Dion menderita kanker hati yang mengharuskannya untuk beristirahat dan meninggalkan semua pekerjaannya. Dion dengan sangat terpaksa mengemban tugas kan semua urusan kantor kepada Veon, karena Veon adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga mereka.


Veon yang saat itu baru berusia 23 tahun harus mengurus perusahaan keluarganya. Awalnya Veon menolak karena dia belum siap mengemban tugas seberat itu, apa lagi usianya yang masih sangat muda. Tapi setelah dibujuk oleh Vera dan melihat kondisi ayahnya yang semakin buruk, mau tidak mau Veon harus menuruti permintaan ayahnya.


Tiga tahun sudah Veon menjadi CEO di perusahaan ayahnya. Dalam kurun waktu tiga tahun itu pula perusahaan mengalami kenaikan yang sangat pesat. Dion tidak menyangka anaknya akan lebih berbakat daripada dirinya dalam menjalankan usaha mereka.

__ADS_1


Tapi Dion tidak tahu jika Veon diam-diam sering mengambil alih perusahaan para musuh-musuhnya lalu menghancurkannya. Veon menyembunyi kan sisi kejamnya dari keluarganya, karena sifat kejamnya hanya dia tunjukkan kepada para musuh-musuhnya yang berani menipu dan mengusik perusahaannya.


“Veon, Papa bangga padamu. Kamu telah berhasil membawa perusahaan kita sampai sesukses ini,” ucap Dion sambil menepuk bahu putranya.


“Papa tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan, semua biar Veon yang urus.” 


“Papa merasa usia Papa sudah tidak akan lama lagi, penyakit ini semakin lama semakin menggerogoti tubuh Papa.”


“Papa hanya perlu beristirahat, jangan memikirkan apapun, dengan begitu Papa akan tetap sehat.” saat berbicara dengan papanya pun Veon tetap bersikap dingin.


Dion menggelengkan kepalanya, “Papa tidak akan bisa beristirahat dengan tenang sebelum melihat kamu menikah,” ucapnya.


Voen beranjak dari duduknya, “Veon sudah pernah bilang sama Papa, Veon tidak mau menikah,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar papanya.


Veon hanya menggelengkan kepalanya lalu berlalu pergi meninggalkan mamanya yang masih diam mematung di depan pintu kamar. Vera menghela nafas panjang lalu berjalan masuk ke dalam kamar. Wanita itu lalu duduk di tepi ranjang, dia memberikan obat dan segelas air putih untuk suaminya.


“Sebenarnya ada apa, Pa dengan Veon, kenapa wajahnya kesal begitu?”


Dion memberikan gelas yang berisi air putih yang hanya tersisa separuh, “Papa memintanya untuk menikah, tapi Veon menolaknya,” ucapnya.


Vera meletakkan gelas itu ke atas meja, “Papa kan tau Veon belum mau menikah, jangan pernah memaksa dia lagi. Papa tau kan bagaimana sifat dia,” ucapnya.

__ADS_1


“Tapi Papa ingin melihat dia menikah sebelum Papa meninggal. Papa tau jika umur Papa tidak akan lama lagi.”


“Papa jangan pernah berbicara seperti itu lagi, Mama tidak suka,” ucap Vera sedih.


Dion menggenggam tangan istrinya, “Ma, saat itu pasti akan tiba. Kita juga tidak tau sampai kapan kita akan hidup, tapi jika Papa yang harus pergi terlebih dahulu, Papa harap Mama akan ikhlas. Selain itu Papa mempunyai satu permintaan untuk Mama,” ucapnya.


“Pa...” kedua mata Vera selalu berkaca-kaca saat suaminya selalu membahas soal umurnya yang sudah tidak lagi panjang.


“Papa harap Mama mau membantu Papa untuk membujuk Veon agar mau cepat menikah, karena itu adalah keinginan terakhir Papa. Mama mau kan mengabulkan permintaan Papa?”


Dengan sangat berat hati Vera menganggukkan kepalanya, dia lalu memeluk tubuh suaminya yang semakin terlihat kurus karena penyakit yang dia derita selama bertahun-tahun mulai menggerogoti tubuh suaminya.


“Terima kasih, Ma. Terima kasih Mama mau memaafkan semua kesalahan Papa selama ini dan mau merawat dan menganggap Veon seperti anak Mama sendiri. Mungkin ini adalah karma yang harus Papa terima atas kesalahan Papa di masa lalu,” ucap Dion sambil menepiskan senyumannya.


“Mama kan pernah bilang sama Papa, tidak usah mengungkit lagi soal masa lalu, karena semua itu sudah berlalu, Pa.” 


Dion merasakan sakit di ulu hatinya, dia mencoba menahannya dan tidak menunjukkan di depan istrinya, “Papa sangat mengantuk, Papa akan tidur sebentar,” ucapnya lalu merebahkan tubuhnya.


Vera mengangguk, dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh suaminya. Dia lalu keluar dari kamar dan membiarkan suaminya untuk beristirahat.


Dion melihat Vera yang sudah menutup pintu, dia lalu meremas di bagian tubuhnya yang terasa begitu sakit dan menyiksanya selama ini, “aku akan tetap bertahan, aku tidak akan menyerah sebelum melihat putraku menikah. Dengan sikap keras kepalanya, aku takut dia tidak akan pernah menikah nantinya,” ucapnya sambil merintih menahan sakit.

__ADS_1


~oOo~  


__ADS_2