
Zaki melihat Veon dari balik kaca spion yang berada di depannya, ‘apa ada dengan Tuan Veon, bukannya semalam dia baru saja merasakan surga dunia, tapi kenapa sekarang raut wajahnya seperti itu?’ gumamnya dalam hati.
“Zak...”
“Iya, Tuan,” sahut Zaki sambil menengok kebelakang.
“Apa Chelsea menghubungi kamu? Sejak dia berangkat ke Amerika, dia sama sekali belum menghubungi aku.”
‘Apa tuan tidak tau, adik tuan itu sangat menyebalkan. Dia menghubungi aku hanya untuk menanyakan bagaimana kelanjutan hubungan anda dengan Kania. Dia bahkan terus menghubungiku setiap malam hanya untuk menyuruhku untuk menyatukan kalian,’ gumam Zaki dalam hati.
“Kenapa kamu diam, apa Chelsea sama sekali tidak menghubungi kamu?” tanya Veon lagi.
“Hanya beberapa kali tuan,” ucap Zaki berbohong. Pria itu terpaksa berbohong, karena dia tidak ingin Veon terus mengintrogasinya.
“Apa yang dia bicarakan sama kamu? Apa dia menanyakan soal si brengsek itu?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “dia hanya bilang kalau dia betah tinggal di Amerika, dia bahkan sudah mulai bekerja di kantor Tuan Sam,” ucapnya.
“Baguslah. Semoga Chelsea bisa secepatnya keluar dari masa lalunya dan melupakan si brengsek itu.” Veon lalu menghela nafas berat, “tapi aku takut,” imbuhnya.
“Apa yang membuat anda takut?” tanya Zaki penasaran.
“Apa dia suatu saat akan bisa menikah? Apa ada pria yang mau menerima kondisinya itu?”
‘Jika anda mengizinkan, aku akan menikahinya Tuan. Aku tidak perduli dengan kondisinya saat ini, karena aku tulus mencintainya. Tapi dia tidak mau menerima cintaku ini,” gumam Zaki dalam hati.
“Zak, apa kamu pernah jatuh cinta? Apa kamu percaya apa itu cinta?”
Zaki mengernyitkan dahinya, “kenapa Tuan menanyakan itu? Apa terjadi sesuatu antara anda dan Nona Kania?” tanyanya dengan sengaja untuk memancing Veon agar menceritakan apa yang sudah dia lakukan kepada Kania.
“Aku bertanya sama kamu, tapi kenapa kamu malah bertanya balik sama aku!”
“M—maafkan saya, tuan.”
“Aku belum pernah cerita ini sama kamu kan? Aku dulu pernah mencintai seseorang, dia adalah teman masa kecil ku. Kita tumbuh besar bersama, dia juga mencintai aku, kita bahkan pernah berjanji untuk menikah suatu hari nanti.” Veon menghentikan ucapannya.
“Lalu apa yang terjadi dengan wanita itu, Tuan?” tanya Zaki yang semakin penasaran. Apa mungkin wanita itu yang fotonya ada di meja kerjanya? Pikirnya.
“Dia lebih memilih mengejar cita-citanya dari pada disini bersama denganku. Sejak kecil dia bermimpi ingin menjadi model terkenal, dan dia pergi meninggalkan aku hanya untuk mimpinya itu,” ucap Veon lalu menatap keluar jendela.
“Tuan, apa wanita yang Tuan maksud adalah wanita yang ada di foto itu?”
__ADS_1
Veon menganggukkan kepalanya, “bahkan untuk membuang foto itu aku masih sangat sayang,” ucapnya.
“Lalu bagaimana dengan Nona Kania, dia kan sekarang adalah istri anda?” Zaki jadi teringat akan pertanyaan Kania mengenai foto wanita itu.
Veon menghela nafas, “kenapa kamu bertanya itu, apa kamu lupa aku menikahinya hanya karena Mama dan Papa. Aku bahkan tidak mencintainya.”
“Tapi tuan kan sudah...” Zaki menghentikan ucapannya, dia sudah terlalu dalam mencampuri urusan pribadi majikannya itu.
“Apa yang ingin kamu katakan?” tanya Veon saat tiba-tiba Zaki menghentikan ucapannya.
Zaki menggelengkan kepalanya, “tidak ada tuan,” ucapnya.
***
Kania merasa sangat lapar, tapi dia tidak berani keluar dari kamarnya. Wanita itu takut untuk bertemu dengan mama mertuanya, apalagi jika nanti mama mertuanya itu mulai menanyakan hal-hal yang sangat memalukan itu.
Kania saat ini tengah mondar-mandir di dalam kamarnya, dia terus menggigit ujung kukunya, “apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan mati kelaparan disini?”
Terdengar suara pintu diketuk, “masuk,” sahut Kania dari dalam kamar, dia sudah tahu siapa yang mengetuk pintu itu, sudah pasti mama mertuanya yang sudah Kania anggap seperti ibunya sendiri.
“Sayang, kenapa kamu tidak turun untuk sarapan?” Vera masuk ke dalam kamar Kania sambil membawa nampan yang berisi makanan dan segelas susu hangat.
Kania lalu berjalan menuju sofa, tempat dimana mama mertuanya meletakkan nampan itu di atas meja, “maafkan Kania sudah merepotkan Mama,” ucapnya.
Vera mengusap lengan Kania, “makan yang banyak ya sayang, biar badan kamu sehat. Biar nanti Mama bisa cepat dapat cucu,” ucapnya sambil tersenyum.
Kania membulatkan kedua matanya, tapi dia hanya mampu menganggukkan kepalanya. Mau memungkiri apa yang sudah terjadi pun tidak mungkin, toh mama mertuanya itu sudah melihat buktinya secara langsung. Itu semua juga karena kebodohan pria yang menjadi suaminya itu.
“Sekarang kamu makan, setelah itu kamu masakan makanan kesukaan suami kamu itu dan antar ke kantornya. Karena tadi Veon hanya makan sedikit saja. Sepertinya suami kamu itu juga malu seperti kamu setelah kejadian tadi pagi,” goda Vera.
“Apa Mama menceritakan itu kepada siapa-siapa?” tanya Kania cemas.
“Kamu tenang saja, Mama hanya cerita sama Papa kamu dan juga Zaki.”
Kedua mata Kania kembali membulat dengan sempurna, ‘apa! Zaki! Apa yang harus aku katakan jika nanti Zaki bertanya soal itu? Aku tidak berani datang ke kantor itu, disana ada Zaki dan juga Veon,’ gumamnya dalam hati.
“Em...Ma, sepertinya Kania tidak bisa mengantarkan bekal makan siang untuk Kak Veon deh, Ma,” ucap Kania sambil menundukkan kepalanya.
“Tapi kenapa sayang?” tanya Vera sambil mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
“Em...karena....”
Vera tersenyum, dia tau jika menantunya itu malu untuk bertemu dengan suaminya, “sayang.” Wanita itu mengusap lengan menantunya, “Mama tau jika kamu malu untuk bertemu dengan suami kamu setelah kejadian yang baru kalian alami, tapi kamu juga tidak bisa menghindari suami kamu. Lama kelamaan kalian akan terbiasa, bahkan kalian akan saling merindukan jika tidak bertemu sedetik saja,” godanya.
Kania hanya diam, dia tidak tahu harus berkata apa, karena mama mertuanya itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Veon. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, tanda dia setuju untuk mengantarkan bekal makan siang untuk Veon.
“Baiklah, Mama keluar dulu, kamu makanlah dulu.” Vera lalu keluar dari kamar itu.
Kania yang sudah sangat lapar pun mulai melahab makanan yang dibawa oleh mama mertuanya itu. Kania sebenarnya tidak suka susu, tapi demi menghargai niat baik mama mertuanya, wanita itu pun dengan sangat terpaksa meminum susu itu sampai habis.
***
Kania saat ini sudah berdiri di depan gedung kantor Veon. Wanita itu hanya diam sambil menatap gedung yang terdiri dari lima lantai, “apa aku harus masuk ke dalam? Tapi aku belum siap untuk bertemu dengan Veon dan juga Zaki.”
Kania terkejut saat tiba-tiba ada yang menepuk bahunya, dia pun memberanikan diri untuk melihat kesamping, “kamu!” serunya terkejut.
“Kenapa kamu malah berdiri di sini? Apa kamu tidak ingin masuk ke dalam?”
Kania memalingkan wajahnya, dia lalu memberikan paper bag itu, “aku tidak ingin masuk ke dalam, tolong berikan ini kepada dia,” ucapnya tanpa menatap lawan bicaranya.
Zaki tersenyum, “apa kamu sekarang merasa malu untuk bertemu dengan suami kamu itu,” godanya.
Kania menelan ludah, “aku tidak malu, tapi aku hanya...”
Kania belum sempat menyelesaikan ucapannya, Zaki sudah menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam lobby kantor itu. Dengan terpaksa Kania mengikuti Zaki, tapi wanita itu tidak tahu apa yang harus dia lakukan nanti saat bertemu dengan Veon.
“Tidak usah segugup itu, apa kalian juga segugup itu saat melakukan itu,” goda Zaki.
Kania sontak langsung memukul lengan Zaki, “jangan membahas itu, kalau tidak, aku tidak akan mau berteman dengan kamu lagi,” ancamnya.
Zaki tertawa, “bukannya yang butuh teman itu kamu, jadi ancaman kamu itu tidak mempan,” sindirnya.
‘Benar juga ya, yang menawarkan pertemanan pertama kali kan aku,’ gumam Kania dalam hati.
Zaki menghentikan langkahnya, “apa kalian benar-benar melakukan itu?” tanyanya.
“Itu bukan urusan kamu!”
“Apa kamu mulai mempunyai perasaan kepada Tuan Veon?”
__ADS_1
Kania menatap kedua mata Zaki, “kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanyanya penasaran.
~oOo~