Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Kembali ragu


__ADS_3

Rega dan Zaki melangkahkan kakinya menghampiri Veon dan Kania yang tengah berpelukan. Melihat adegan seperti itu membuat hari Rega sakit. Apa ini akan menjadi akhir dari semua cinta yang dia rasakan untuk Kania?


Kania melepaskan pelukan itu saat Rega dan Zaki sudah semakin dekat, “ada yang ingin aku kenalkan sama kamu,” ucapnya sambil menatap Veon dengan senyuman di wajahnya.


Veon menatap Rega yang berdiri di samping Zaki, dia bisa melihat ada cinta di mata Rega untuk Kania. Pria itu lalu menarik pinggang Kania agar semakin dekat dengannya, dia sengaja melakukan itu di depan Rega.


“Mas Rega pasti terkejut melihat semua ini, aku minta maaf, karena sudah membuat keributan di restoran Mas Rega.”


“Tidak apa-apa kok, yang penting kamu baik-baik saja.”


Ucapan Rega membuat dahi Veon mengernyit, “maksud kamu apa ya? Memang apa yang akan terjadi pada Kania? Apa kamu pikir aku akan menyakitinya?” sentaknya.


“Bukankah itu yang selalu kamu lakukan pada Kania?”


Veon mengepalkan kedua tangannya, “apa kamu bilang, hah!” serunya tidak terima.


“Veon, sudahlah.” Kania mencoba untuk menghalangi Veon yang sudah bersiap-siap untuk melangkah maju mendekati Rega, “Mas Rega, aku minta maaf, hari ini aku izin dulu, ada yang ingin aku bicarakan sama suami aku,” ucapnya.


“Aku akan ikut denganmu, aku tidak akan membiarkan dia menyakiti kamu lagi.” Rega menatap tajam ke arah Veon.


Kania berusaha untuk membujuk Veon untuk tidak membuat keributan. Pria itu pun akhirnya mengalah, tapi dia melakukan itu karena dia tidak ingin Kania berpikiran buruk tentangnya dan pergi meninggalkannya lagi.


Mereka akhirnya pergi ke rumah Rega, tempat tinggal Kania selama ini. Veon menarik tangan Kania agar wanita itu duduk di sampingnya.


“Veon, kenalin ini namanya Mas Rega. Dia lah yang membantu aku selama ini, dan rumah ini juga rumahnya,” jelas Kania.


Veon membulatkan kedua matanya, “apa? jadi ini rumah dia?” sambil menunjuk ke arah Rega, “apa dia juga tinggal di rumah ini bersama denganmu?” tanyanya sambil mencengkram kedua lengan Kania.


“Hai! Jangan kasar sama wanita ya!” teriak Rega tidak terima melihat Veon yang bersikap kasar dengan Kania.


“Jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga aku!” sentak Veon dengan sorot mata yang tajam.


Kania menepis kedua tangan Veon dari lengannya, “apa kamu pikir aku akan melakukan hal yang sama, seperti yang kamu lakukan?” tanyanya kecewa.

__ADS_1


“Maksud kamu?”


Kania menghela nafas, “sebelum kamu bertanya seperti itu padaku, sebaiknya kamu lihat diri kamu sendiri. Kamu sendiri menyembunyikan Bella di rumah kamu, padahal kamu sudah menikah,” sindirnya.


“Tapi itu kan, aku hanya...”


“Apapun bisa kamu jadikan alasan, tapi bukan berarti kamu bisa menuduhku seperti itu. Aku memang tinggal di rumah Mas Rega, itu karena rumah ini dekat dengan restoran. Selain itu aku tinggal disini bersama dengan sahabat aku. Aku bukan kamu, aku masih tau apa batasan aku, karena aku masih seorang istri dari seseorang yang sama sekali tidak tau apa itu arti sebuah hubungan.”


Kania menatap Zaki, “Zak, lebih baik kamu bawa Tuan kamu ini, melihat sikapnya seperti itu membuat aku ragu untuk kembali ke rumah,” ucapnya.


Veon memegang kedua bahu Kania, “bukankah tadi kamu sudah setuju untuk kembali ke rumah bersamaku? Lalu kenapa sekarang kamu berubah pikiran?” tanyanya terkejut.


“Aku masih melihat keraguan di sikap kamu. Jika kamu memang mencintaiku, kamu akan percaya padaku.”


“Aku percaya sama kamu, aku kan tadi hanya bertanya, aku begitu terkejut saat kamu mengatakan jika selama ini kamu tinggal di rumah dia,” ucap Veon sambil menatap Rega.


“Kania, kamu jangan terlalu banyak pikiran, karena itu tidak baik untuk kondisi tubuh kamu,” ucap Rega.


“Dia itu sedang...”


“Mas Rega, sebaiknya Mas Rega kembali ke restoran. Bukankah tadi Mas Rega bilang masih banyak pekerjaan?” Kania memotong ucapan Rega, dia tidak ingin Rega mengatakan soal kehamilannya.


Bukan karena dia tidak ingin memberitahu Veon tentang kehamilannya, tapi dia ingin tau, apa pria itu benar-benar siap mempunyai anak? Alasan Kania tidak memberitahu Veon, karena pria itu pernah mengatakan jika dia belum siap untuk mempunyai anak. Jadi mana mungkin Veon akan merubah pikirannya secepat itu.


Rega menatap Kania, terbesit dalam pikirannya mengapa Kania seakan melarangnya untuk mengatakan soal kehamilannya pada Veon. Mungkin dia masih meragukan perasaan dan ketulusan suaminya, pikirnya.


Rega beranjak dari duduknya, “kalau begitu aku balik ke restoran dulu, nanti aku akan datang kesini lagi,” pamitnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu.


Veon menyuruh Zaki untuk keluar, karena dia ingin berdua bersama dengan Kania. Zaki mengangguk mengerti dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


“Sebaiknya kamu dan Zaki pulang, aku akan tetap tinggal disini.”


“Kenapa? Apa kamu ingin selalu dekat dengan Rega?” suara Veon terdengar sangat tajam, seolah-olah menunjukkan rasa tidak sukanya tentang sosok Rega.

__ADS_1


“Kenapa kamu malah menuduhku? Bukankah yang sudah berkhianat disini itu kamu?”


Veon merasa sikap Kania sudah banyak berubah selama dua bulan ini, “aku tidak menuduhmu, selain itu aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku tidak peduli, hari ini juga kita balik ke Jakarta,” ucapnya yang tak mau kalah.


“Aku tidak mau!” tolak Kania mantap.


“Aku tidak peduli!”


Veon menatap tubuh Kania yang sedikit mengalami perubahan, “sepertinya selama dua bulan ini makan kamu banyak ya, tubuh kamu semakin berisi, apalagi itu...” menunjuk ke arah dada Kania yang semakin berisi.


Kania menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, “jangan macam-macam ya,” ancamnya.


Veon menyungingkan senyumannya, dia lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Kania, “kenapa kamu setakut itu sayang, apa kamu tidak merindukan aku selama dua bulan ini? Aku saja sangat merindukan kamu,” bisiknya.


Kania mendorong tubuh Veon, “apa kamu akan memaksakan kehendak kamu lagi? Apa itu memang kebiasaan kamu, hah!” teriaknya.


Veon menangkup kedua pipi Kania dengan kedua telapak tangannya, “sayang, aku minta maaf, jika selama ini aku bersikap kasar padamu. Aku sangat menyesali itu,” ucapnya dengan menatap kedua mata Kania secara bergantian.


“Dari dulu sampai sekarang, aku tidak bisa memahami sikap kamu. Kamu terkadang bersikap manis dan manja, tapi terkadang kamu sangat kasar, dan aku sangat membenci itu.” Kania berucap sambil menundukkan wajahnya.


Veon mengecup puncak kepala Kania, “aku janji, aku akan merubah semua sikap burukku, asal kamu mau kembali lagi bersamaku,” ucapnya.


“Kalau seperti itu, itu sama saja kamu berubah bukan karena kemauan kamu sendiri, tapi karena orang lain.”


“Aku melakukan itu demi kamu, hanya kamu yang mampu membuat seorang Veon bisa menjadi seperti ini. Veon yang tegas dan berwibawa, menjadi Veon yang sangat rapuh saat istrinya pergi meninggalkannya.” Veon menopangkan keningnya ke bahu Kania, “kamu adalah nyawa dan penyemangat hidupku, jika kamu meninggalkan aku, aku akan hidup seperti mayat hidup, tak mempunyai semangat sedikitpun untuk terus menjalani hidup ini,” imbuhnya.


Kania merasa iba dengan sosok Veon yang sekarang, dia sudah tidak lagi melihat pria yang dingin dan angkuh itu lagi, yang dia lihat hanya sosok Veon yang lemah dan rapuh. Dengan perlahan Kania mengusap punggung suaminya, lalu memeluknya, memberikannya rasa nyaman.


“Apa kamu benar-benar akan merubah sikap buruk kamu?”


“Aku akan merubah semuanya.” Veon melepas pelukan Kania lalu mencium keningnya, “karena aku mencintaimu, aku ingin selamanya bersamamu,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.


~oOo~

__ADS_1


__ADS_2