
Vika menghela nafas berat, “semalam Mama pulang ke rumah bersama dengan kekasih barunya. Aku membiarkannya, aku sudah tidak peduli dengan apa yang Mama lakukan.”
“Bukankah Mama kamu sudah tidak tinggal di rumah kamu, tapi kenapa dia kembali ke rumah kamu lagi?”
“Aku juga tidak tahu, aku juga tidak mau tahu.”
“Kalau begitu apa yang membuat kamu dan Mama kamu bertengkar?”
“Mama aku menuduh aku menggoda pacarnya,” ucap Vika sambil menundukkan wajahnya.
Kedua mata Chelsea membulat dengan sempurna, mulutnya menganga, “apa? apa Mama kamu sudah gila? Bagaimana dia bisa menuduh anaknya sendiri? Memangnya apa alasan Mama kamu menuduh kamu seperti itu?” tanyanya geram, dia bahkan mengepalkan kedua tangannya.
“Aku waktu itu sedang pergi ke dapur, karena aku merasa sangat haus. Aku saat itu tidak tahu kalau pria itu sedang berada di dapur. Aku melihat sekujur tubuhnya penuh dengan keringat.”
“Maksud kamu pria itu bertelanjang dada?” Vika menganggukkan kepalanya, “astaga! Apa mereka habis melakukan...” Chelsea tidak sanggup meneruskan kata-katanya, dia tidak ingin menghakimi Mamanya Vika, wanita yang sudah melahirkan sahabatnya itu. Sejak pertama kali dirinya berteman dengan Vika, dia sudah mengetahui tentang keadaan keluarga sahabatnya itu.
“Pria itu menatapku dengan sangat tajam, aku merasa takut, akhirnya aku memutuskan untuk mengurungkan niatku dan ingin kembali ke kamarku. Saat aku masuk ke dalam kamarku, tiba-tiba pria itu sudah berdiri di belakangku, dia memaksa masuk ke dalam kamarku. Aku berteriak memanggil Mama, aku mencoba untuk memberontak, tapi tenagaku tidak sebanding dengan tenaga pria itu.”
“Vik...” Chelsea menyentuh bahu Vika.
“Pria itu terus memaksaku untuk memenuhi nafsunya, aku...aku terus memberontak, akhirnya aku bisa lolos dari cengkraman pria itu. Entah kenapa saat aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku teringat akan kata-kata Betrand kepadaku. Betrand pernah memberitahu tentang kelemahan seorang pria, yaitu bagian terpentingnya. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku miliki, aku menendang barang berharga miliknya dengan sangat keras. Usahaku ternyata berhasil, pria itu tersungkur di lantai. Melihat dia lengah, aku langsung berlari keluar dari kamarku.”
Vika meremas jemari-jemari tangannya, “tapi ternyata aku salah, pria itu menarik kakiku, hingga aku jatuh tersungkur, dia lalu menindihku dan mengunci tubuhku. Aku sama sekali tidak bisa bergerak, dan saat itu, tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Aku melihat Mama berdiri di depan pintu kamarku. Saat itu aku bernafas lega, Mama datang untuk menolongku.”
Vika sudah tidak bisa lagi menahan air mata yang telah memenuhi kedua sudut matanya, air mata itu pun mulai mengalir deras membasahi kedua pipinya, “aku melihat Mama melangkah mendekatiku, lalu dengan kasar dia mendorong tubuh pria itu. Aku mencoba untuk bangun, lalu aku memeluk Mamaku dan mengucapkan terima kasih karena Mama telah menolongku. Tapi...tapi...tiba-tiba Mama mencengkram kedua bahuku, setelah itu...”
Vika menyentuh pipinya, rasa sakit itu masih dia rasakan sampai sekarang, “Mama menamparku dengan sangat keras sambil berteriak...anak tidak tahu diri, wanita murahan, berani kamu menggoda kekasih Mama!”
Chelsea membulatkan kedua matanya, dia tidak menyangka ada seorang Ibu yang tega berkata seperti itu kepada anaknya sendiri hanya untuk seorang pria yang bahkan tidak ada hubungan darah dengannya.
“Mama memaki ku di depan pria itu, aku menangis, aku mencoba membela diriku, tapi pria itu berkelit dan mengatakan kebohongan di depan Mamaku. Aku memang tidak dekat dengan Mama, tapi bagaimana bisa Mama menuduhku seperti itu? aku ini putrinya, bagaimana Mama bisa mengatakan jika aku ini wanita murahan...” Vika sudah tidak bisa menahan isak tangisnya, hatinya begitu hancur saat wanita yang telah melahirkannya menghinanya sedemikian rupa, bahkan di depan orang asing.
Chelsea memeluk Vika, dia mencoba untuk menenangkan sahabatnya itu. Chelsea memilih untuk diam, walaupun sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Tapi melihat kondisi Vika, dia pun mengurungkan niatnya. Chelsea membiarkan Vika menangis di dalam dekapannya, dia bahkan bisa merasakan baju yang dia pakai mulai basah karena terkena air mata yang mengalir dari kedua sudut mata sahabatnya itu.
__ADS_1
**
“Terima kasih, Bi.” Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri setelah meletakkan minuman dan camilan ke atas meja.
Chelsea lalu mengambil segelas jus jeruk lalu dia berikan kepada Vika yang sudah tampak tenang, “minumlah.”
Vika mengambil jus jeruk itu dari tangan Chelsea dan mulai meneguknya, setelah itu dia meletakkan kembali gelas itu ke atas meja, “maafin aku, aku tahu kamu juga sedang memiliki masalah, tapi aku malah menceritakan masalah aku sama kamu.”
Chelsea melipat kedua lengannya di dada, “aku tidak akan memaafkan kamu, kamu harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah kamu lakukan!” wanita itu berpura-pura marah.
Vika mengernyitkan dahinya, “bertanggung jawab? Memang apa yang sudah aku lakukan?”
Chelsea menunjuk bajunya yang basah karena terkena air mata Vika. Vika tertawa saat melihat baju Chelsea yang basah karena ulahnya, “iya-iya, aku akan bertanggung jawab, maaf...maaf...” wanita itu mencoba menahan tawanya.
Chelsea tersenyum, dia senang melihat Vika kembali tertawa, “Vik, aku tahu masalah kamu itu sangat berat, jika aku jadi kamu, mungkin aku tidak akan kuat. Tapi aku salut sama kamu, sampai sekarang kamu masih bisa bertahan atas sikap Mama kamu selama ini.”
Vika menepiskan senyumannya, “aku sebenarnya juga tidak sanggup melalui semua ini, tapi aku mencoba untuk terus bertahan. Aku selama ini hidup tanpa Mama dan Papa, aku bisa hidup mandiri, aku tidak butuh mereka berdua!”
Vika mengernyitkan dahinya, “serius? Kamu ingin membuatkan makan siang untuk Alex?” tanyanya tidak percaya.
Chelsea menganggukkan kepalanya, “mulai sekarang, aku akan membuatkan bekal makan siang untuk Alex, aku ingin mencoba dari awal lagi.”
“Tapi, bukankah kamu tadi bilang, Alex mengabaikanmu? Tapi kenapa sekarang kamu malah peduli padanya? Seharusnya kamu juga mengabaikan dia, agar dia merasakan bagaimana rasanya diabaikan.”
“Alex sudah merasakan bagaimana rasanya diabaikan, selama dua bulan ini, aku selalu mengabaikannya, tapi dia malah memberikan perhatian lebih ke aku, jadi aku ingin melakukan hal yang sama. Jika Alex mengabaikan aku, maka aku akan menunjukkan perhatian aku padanya.”
Vika tertawa, “Chel, jangan bilang kamu sudah mulai bucin sama Alex?”
“Mungkin.” Chelsea lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Vika yang masih sangat shock mendengar jawaban yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
“Chel, tunggu!” Vika lalu beranjak dari duduknya dan bergegas mengejar Chelsea, “kamu serius dengan ucapan kamu tadi?” mereka kini berjalan beriringan menuju dapur.
“Aku tidak tahu dengan apa yang aku rasakan saat ini, yang aku tahu, aku tidak terima Alex mengabaikan aku, aku ingin mendapatkan perhatian Alex lagi, aku ingin hanya aku yang dia pedulikan, bukan orang lain.”
__ADS_1
Sesampainya di dapur, Chelsea meminta asisten rumah tangganya untuk membantunya menyiapkan bahan-bahan yang akan dia pakai untuk membuat makanan kesukaan Alex. Mungkin hasil masakan Chelsea tidak seenak makanan buatan Alex, tapi dia tidak akan putus asa untuk terus mencoba.
“Apa yang bisa aku bantu?” Vika memakai apron yang senada dengan Chelsea.
“Kamu bantu aku memotong sayuran saja, biar aku yang menumbuk bumbu-bumbunya.” Vika menganggukkan kepalanya.
“Apa yang bisa Bibi bantu, Nyonya?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “terima kasih karena Bibi sudah membantu saya untuk menyiapkan semua bahan-bahan ini, selanjutnya biar saya yang kerjakan.” Wanita paruh baya itu menganggukkan kepalanya, dia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya.
“Chel, kamu yakin ingin memasaknya sendiri? Bukannya kamu tidak bisa memasak? Aku takutnya makanannya nanti malah tidak layak untuk dimakan, dan kamu malah mempermalukan diri kamu di depan Alex.”
“Walaupun nanti masakan aku rasanya tidak enak, Alex akan memakannya sampai habis.”
Vika mengedikkan kedua bahunya, “terserah kamu sajalah, orang yang sudah menjadi bucin, tidak akan mau mendengar ucapan orang lain.”
Chelsea hanya tertawa, dia pun mulai memasukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke dalam penggorengan. Wanita itu bisa mencium bau harum dari tumisan bumbu itu, “Vik, mana sayuran yang sudah kamu cuci tadi?”
Vika mengambil baskom yang penuh dengan berbagai macam sayuran yang sudah dia potong dan cuci, dia lalu menyerahkan baskom itu kepada Chelsea, “baunya enak juga,” pujinya.
“Siapa dulu dong kokinya,” ucap Chelsea membanggakan dirinya. Tidak menyesal juga dirinya belajar memasak kilat dengan Kania sebelum dia memutuskan untuk kembali ke rumah Alex.
Setelah satu jam, akhirnya makanan itu sudah siap untuk dihidangkan. Chelsea mengambil kotak bekal makan siang, lalu memasukkan makanan yang dibuatnya. Tidak lupa dia juga memasukkan nasi dan lauk ke dalam kotak bekal makan itu.
“Vik, kamu mau makan siang di sini atau di kantor Alex sekalian?” Chelsea memasukkan dua kotak bekal makan siang ke dalam paper bag.
“Aku nanti saja, aku belum lapar, aku nanti bisa makan di restoran atau di kantin.” Vika lalu melepas apron yang melekat di tubuhnya, “kita berangkat sekarang saja, nanti keburu jam makan siang lewat.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, dia melepas apron yang melekat di tubuhnya, “tunggu aku sebentar, aku mau ganti baju dulu. tidak mungkin kan aku ke kantor Alex dengan pakaian lusuh seperti ini?”
Vika menyengir kuda, dia lalu menganggukkan kepalanya, “kalau begitu aku tunggu di depan.” Wanita itu lalu mengambil paper bag dari atas meja dan membawanya keluar dari dapur.
~oOo~
__ADS_1