Cinta Yang Menyakitkan

Cinta Yang Menyakitkan
Tujuh bulanan..


__ADS_3

Usia kandungan Vera sudah menginjak bulan ketujuh, secara medis ketika bayi dalam kandungan menginjak tujuh bulan. Saat itulah sebenarnya bayi tersebut sudah lengkap dan sudah siap untuk lahir walaupun belum sempurna.


Vera dan segenap keluarga berencana untuk mengadakan acara tujuh bulanan, walau ini bukan anak pertama bagi Dion tapi bagi Vera ini adalah anak pertamanya. Karena Vera dan Dion berasal dari Betawi maka mereka akan menggunakan adat Betawi. Secara garis besar sih hampir sama antara adat Betawi dan Jawa.


Vera menggunakan baju muslim untuk mengikuti ritual pengajian.


"Kamu sangat cantik sayang ketika memakai kerudung." Sanjung Dion.


"Terimakasih sayang." Ucap Vera tersipu malu.


Acara pengajian dimulai dengan membaca surah Yasiin, tahlil dan arwah setelah itu lanjut membaca surah Yusuf (1-10) yang dibaca oleh Vera dan pembacaan surah Maulid dan asyrokol yang dibaca oleh Dion dan Vera menyalami para tamu undangan.


Setelah acara pengajian selesai kini lanjut keacara siraman. Vera bergantian pakaian dengan menggenakan kain batik yang kemudian dipasangi karet dibagian dada.


Vera dan Dion melakukan sungkeman kepada orangtua dan mertua .Setelah itu Dion mencampurkan air dari tujuh mata air yang berbeda dan mencampur bunga setaman dalam air.


Siraman dilakukan oleh tujuh orang yaitu Dion, Mila, Serly, Santo, Nenek Vera dan perwakilan dari keluarga Dion. Acara siramanpun selesai.


Vera dan Dion memecah kendi dimana dari bentuk pecahan kendi bisa memprediksi jenis kelamin sijabang bayi. Dion membelah kelapa yang mana kalau air kelapanya muncrat berarti bayinya laki laki dan kalau air kelapanya merembes berarti bayinya perempuan.


Vera pun berganti pakaian. Sembari menunggu Vera berganti pakaian Dion mencicipi ubo rampe, setelah acara selesai ubo rampe ini bisa dicicipi bahkan dibawa pulang oleh para tamu yang pengen ketularan punya anak.


Vera berganti pakaian sebanyak tujuh kali sampai " pantes " ini bagian yang paling seru hehehe..


Dengan pakaian paling " pantes " nya itu, perut Vera dililitkan janur kuning dan tugas Dion untuk memutuskan janur tersebut lalu lari sekencang-kencangnya supaya memudahkan jalan lahir katanya hehehe.


Setelah itu dua buah kelapa diluncurkan dari atas melalui tubuh Vera, jadi " melodos " gitu deh. Masing-masing ditangkap oleh para calon nenek yaitu Serly dan Mila, kemudian Serly dan Mila mengendong dua buah kelapa itu dan diletakkan di tempat tidur Vera dan Dion.


Vera dan Dion duduk diatas tumpukan baju yang " kurang pantas " itu seolah-olah seperti ayam yang sedang mengerami telur sambil memakan pisang yang rasanya manis.


Sekarang memasuki acara penutup,


Dion mengucapkan ucapan terimakasih kepada para tamu undangan yang telah hadir setelah itu membaca tausiyah dan do'a penutup.


Setelah acara selesai Vera dan Dion berganti pakaian, setelah berganti pakaian Vera dan Dion berjalan menghampiri Tantri, Sam dan Neti yang sudah menyempatkan waktu mereka untuk datang keacara tujuh bulanan mereka.


"Terimakasih karena kalian sudah menyempatkan waktu untuk datang keacara tujuh bulanan aku." Ucap Vera sambil duduk di sofa.


"Sama-sama Ver, aku kesini selain untuk menghadiri acara tujuh bulanan kamu aku juga sudah kangen sama anak aku Veon." Ucap Tantri yang kini sedang memangku Veon.


"Kalau aku, karena aku kangen sama kakak." Goda Sam.


"Berani kamu merindukan istri aku!" Seru Dion kesal.

__ADS_1


"Ternyata disini ada saingan Dion ya." Sindir Tantri.


"Siapa yang jadi saingan aku? bocah tengil ini! no..no..no." Ucap Dion sambil mengoyangkan jari telunjuknya.


Pria itu tidak rela jika dirinya dibanding-bandingin sama Sam si bocah tengil. Semua tertawa mendengar kata-kata Dion.


"Sam, kamu tau dari mana kalau aku akan mengadakan acara tujuh bulanan?" Tanya Vera penasaran.


Setalah kejadian yang Vera alami, Vera dan Sam sudah jarang berhubungan via telfon. Vera ingin pelan-pelan menjauh dari Sam.


"Dari kak Neti, kebetulan waktu itu aku mengantar Mama ke butik dan aku mengobrol sama kak Neti, lalu aku menanyakan kabar kakak dan disitulah kak Neti memberitahu aku." Ucap Sam.


"Maaf ya Ver, aku waktu itu keceplosan." Ucap Neti.


"Nggak apa-apa kok Net, aku juga senang Sam bisa hadir disini." Ucap Vera sambil menepiskan senyumannya.


"Dasar Neti mulutnya ember." Gerutu Dion.


"Sayang sudah dong, mau sampai kapan kamu membenci Sam?" Tanya Vera sambil menatap Dion.


"Sampai dia melupakan kamu!" Seru Dion sambil cemberut.


"Maaf ya Om, sampai kapanpun aku nggak akan pernah melupakan kak Vera, tapi Om tenang saja aku sudah mengikhlaskan kak Vera untuk Om dan sekarang aku hanya menganggap kak Vera seperti kakak aku sendiri." Ucap Sam.


"He emm." Jawab Dion dengan datar.


"Ver, kalau aku jadi kamu mendingan aku pilih si brondong Sam yang masih muda, kece dan tampan lagi." Sindir Tantri dengan melirik kearah Dion.


"Maksud kamu apa Tan? kamu pikir aku ini udah tua gitu." Ucap Dion kesal.


"Memang kamu udah tua, buktinya Sam memanggil kamu Om." Goda Tantri.


"Sudah-sudah kok malah jadi pada ribut sih." Ucap Vera.


Tantri, Sam dan Neti berniat untuk pamit pulang.


"Sayang, Mama pulang dulu ya, Veon harus jadi anak yang baik, jaga Mama Vera dan adik Veon, dengarkan kata-kata Mama Vera dan Papa. Mama sayang Veon." Ucap Tantri sambil mencium kening Veon.


"Baik Mama Tantri." Ucap Veon.


"Aku pulang dulu ya Ver, sekali lagi selamat atas kehamilan kamu semoga persalinannya berjalan lancar kamu dan anak kamu sehat." Ucap Tantri sambil memeluk Vera.


"Terimakasih ya Tan." Ucap Vera.

__ADS_1


"Dion, aku titip Veon, jaga dia baik-baik." Ucap Tantri.


"Tenang saja, aku akan jagain Veon." Ucap Dion.


"Kak Vera aku pulang dulu ya, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku." Ucap Sam.


"Iya Sam makasih sudah mau datang." Ucap Vera.


"Om, aku titip kak Vera jangan kamu sakiti kak Vera lagi." Ucap Sam.


"Nggak perlu kamu suruh! udah sana pulang!" Seru Dion.


"Sayang..jangan gitu dong!" Ucap Vera.


"Aku pulang dulu ya Ver, pak Dion." Ucap Neti sambil menjabat tangan Vera dan Dion.


"Makasih ya Net, udah mau datang." Ucap Vera.


Tantri, Sam dan Neti berpamitan kepada Mila, Serly dan Santo. Setelah itu mereka berjalan keluar.


Vera dan Dion masuk ke dalam kamar untuk beristirahat..


"Sayang, jangan kamu membenci Sam, dia itu kan sudah berubah, dia sudah bisa menghormati hubungan kita, dia juga sudah nggak bersikap manja sama aku." Ucap Vera.


"Aku tau sayang, tapi entah mengapa aku masih cemburu sama Sam." Ucap Dion.


"Ya aku tau itu wajar, karena kamu takut kehilangan aku tapi apa kamu nggak percaya sama aku?" Tanya Vera.


"Aku percaya sama kamu sayang." Ucap Dion sambil mengecup kening Vera.


Rasa sayang Dion ke Vera sangat besar, ia takut kehilangan Vera lagi, cukup sekali ia kehilangan Vera.


"Ayo kita tidur sayang, badan aku rasanya capek banget." Ucap Vera.


Dion menganggukan kepalanya dan merebahkan tubuh Vera dengan sangat hati-hati. Dion mengusap lembut perut Vera yang semakin hari semakin membesar.


"Anak Papa sayang, jangan nakal ya di perut Mama, kasian Mama nanti kesakitan." Ucap Dion kepada anaknya yang belum lahir.


Dion mencium lembut perut Vera. Vera mengusap lembut rambut Dion.


"Makasih ya sayang, kamu sudah setia menemani dan mendampingi aku." Ucap Vera.


"Aku akan selalu menjaga dan menemanimu dan anak-anak kita sayang." Ucap Dion lalu mengecup kening Vera.

__ADS_1


🌟🌟🌟🌟


__ADS_2