
Waktu terus berlalu, tidak terasa sudah lima bulan pernikahan Chelsea dan Alex. Tapi sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda kehamilan Chelsea. Chelsea merasa sangat takut, takut dia tidak akan pernah bisa hamil.
Chelsea pun menceritakan keluh kesahnya kepada Kania, “apa kamu dulu juga merasakan seperti yang aku rasakan saat ini?”
Kania menggelengkan kepalanya, “aku bahkan tidak menyangka aku akan hamil. Apalagi saat itu hubungan aku sama kakak kamu tidak seperti sekarang ini.”
“Sebenarnya aku takut, aku takut aku tidak akan pernah bisa hamil.”
“Jangan langsung putus asa seperti itu, kalian kan baru tiga bulan melakukan hubungan itu, jadi kamu tidak usah terlalu cemas. Masih banyak pasangan di luar sana yang mendapatkan momongan setelah satu-dua tahun pernikahan mereka.”
“Iya sih, mungkin aku yang terlalu parno, karena aku ingin sekali mengandung. Apalagi Alex, dia sudah tidak sabar ingin mendengar tangisan bayi ada di rumah kita.”
“Kamu berdoa saja, apa kamu juga sudah konsultasi sama dokter kandungan?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “mungkin besok aku akan ke dokter kandungan bersama dengan Alex.”
“Kamu bisa melakukan program kehamilan, jika kamu sudah tidak sabar ingin mempunyai anak,” usul Kania.
Chelsea menganggukkan kepalanya, “coba lihat nanti saja, kalau masih bisa di lakukan secara normal, mungkin aku akan lebih bersabar lagi,” ucapnya dengan senyuman di wajahnya.
Setelah berbincang dengan Kania, Chelsea memilih untuk pergi ke rumah Vika, dia ingin mengobrol dengan sahabat yang sudah lama tidak ditemui.
Ya...sudah dua minggu ini Chelsea tidak bertemu dengan Vika, karena Vika menginap di rumah Papanya. Wanita itu mencoba untuk mengambil hati Papanya agar merestui hubungannya dengan Betrand. Betrand kini sudah menyandang status duda, dia lebih memilih Vika dari pada perusahaan Papanya. Tapi, meskipun begitu, tanpa sepengetahuan Papanya, Betrand diam-diam memberikan investasi ke perusahaan Papanya atas nama Alex.
Alex mau membantu Betrand, karena selama ini Betrand sudah banyak membantunya. Dan hanya itu yang bisa Alex lakukan untuk membalas kebaikan sahabatnya itu selama ini, dan berkat Betrand pula, saat ini dirinya bisa mendapatkan Chelsea kembali, dan menjadikan dia istrinya sepenuhnya.
“Bagaimana kabar kamu?” Chelsea mendudukkan tubuhnya di sofa.
“Aku baik, kamu kok bisa tahu kalau aku sudah kembali ke rumah?”
“Aku hanya menebak saja, karena kamu tidak mungkin akan selamanya tinggal bersama dengan Papa mu yang sama sekali tidak bertanggung jawab itu,” sindirnya.
Vika tertawa, “dasar! Meskipun dia tidak bertanggung jawab, tapi dia tetap Papa ku, kalau tidak ada Papa, mungkin aku tidak akan ada di dunia ini, tidak mungkin kan Mama ku hamil seorang diri,” candanya.
“Tapi aku masih benci sama Papa kamu itu. Lalu bagaimana hasilnya, apa Papa kamu merestui hubungan kamu dengan Betrand? Dan kenapa kamu bisa tinggal di rumah Papa kamu selama itu?” tanya Chelsea penasaran.
“Papa tidak peduli aku menikah dengan siapapun, mau duda ataupun tidak. Aku tinggal disana juga karena permintaan Mama tiriku, dia wanita yang baik, dan bahkan lebih baik dari Mama ku sendiri.”
“Apa Papa kamu mau hadir saat kamu dan Betrand menikah nanti?”
Vika menggelengkan kepalanya, “aku juga tidak tahu, tapi Mama Siva bilang, dia akan berusaha untuk membujuk Papa,” ucapnya.
“Semoga saja Papamu mau hadir menjadi wali nikah kamu, walaupun tidak, kamu bisa memakai wali hakim. Tapi, kapan kamu dan Betrand akan menikah? Ini sudah satu bulan semenjak Betrand resmi bercerai.”
“Aku yang meminta Betrand untuk menundanya, karena aku masih membutuhkan waktu, aku sebenarnya takut.”
__ADS_1
Chelsea mengernyitkan dahinya, “takut? Apa yang kamu takutkan?”
“Aku takut pernikahan aku akan berakhir seperti pernikahan kedua orang tuaku, karena perselingkuhan Papa, Mama berubah menjadi seperti sekarang ini. Mama menghancurkan hidupnya sendiri, dan memilih untuk menjadi wanita murahan.”
Chelsea menepuk bahu Vika, “aku yakin, Betrand bukan orang yang seperti itu, dia sangat mencintai kamu dan berjuang keras untuk bisa mendapatkan kamu lagi. Dia bahkan rela di benci oleh kedua orang tuanya hanya demi kamu.”
Vika menganggukkan kepalanya, “lalu, kamu sendiri ada apa kesini, apa kamu ada masalah dengan Alex?”
“Bukan itu, tapi masalah lain, sampai sekarang aku belum juga hamil, padahal sejak aku dan Alex melakukan hubungan itu, sudah sekitar 3 bulan. Aku takut, aku tidak akan bisa hamil.”
“Apa kamu dan Alex sudah melakukan tes kesuburan?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “apa Alex mau aku ajak untuk melakukan itu?”
“Jika dia menginginkan anak, dia harus mau melakukannya.”
“Tapi...jika hasilnya ternyata aku yang mandul?”
“Jangan berpikiran buruk dulu, aku yakin kamu dan Alex baik-baik saja, mungkin kalian belum diberi kepercayaan untuk memiliki momongan,” ucap Vika mencoba menenangkan Chelsea.
Vika bisa melihat dengan jelas, kesedihan di wajah sahabatnya itu, “ada satu hal yang aku ingin beritahukan sama kamu, ini soal Zaki.”
Chelsea mengernyitkan dahinya, “Zaki? Memangnya ada dengan Zaki?”
“Kemarin aku melihat dia jalan dengan seorang gadis muda, kira-kira dia masih 18 atau 19 tahun gitu, mereka masuk ke dalam sebuah restoran.”
“Apa kamu belum pernah bertemu dengan gadis itu?”
Chelsea menggelengkan kepalanya, “katanya dia tidak tinggal di Jakarta, gadis itu datang ke Jakarta hanya di saat weekend saja.”
“Jadi Zaki menjalani hubungan jarak jauh dong, ada juga ya yang mau melakukan hubungan jarak jauh seperti itu?”
“Memangnya kamu sama Betrand dulu, sehari sudah tidak ketemu saja, sekalipun bertemu langsung deh pesan hotel,” sindirnya.
Vika mengernyitkan dahinya, “kamu tahu darimana? Kayaknya aku tidak pernah menceritakan itu sama kamu?”
“Aku tahu semua tentang kamu dan Betrand, dan karena itu juga kamu sakit hati saat Betrand tiba-tiba memutuskan kamu, iya kan?”
Vika melipat kedua lengannya di dada, “pasti Betrand cerita sama Alex, dasar!”
Chelsea tertawa, “dari pada kita pusing memikirkan masalah kita, bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan, kita sudah lama tidak hangout bareng.”
Vika menganggukkan kepalanya, “kalau begitu aku ganti baju dulu, kamu tunggu disini sebentar ya.”
“Jangan lama-lama.”
__ADS_1
“Iya.”
**
Vika dan Chelsea saat ini sedang berada di sebuah Mall terbesar di Jakarta, mereka ingin berbelanja sepuasnya. Saat mereka keluar dari salah satu toko di mall itu, Chelsea melihat sebuah toko yang menjual perlengkapan bayi.
“Vik, kita kesana dulu yuk,” ajak Chelsea sambil menarik tangan Vika dan membawanya masuk ke dalam baby shop itu.
“Chel, untuk apa kita kesini? kamu kan belum hamil, lalu untuk apa kita kesini?”
Chelsea melangkahkan kakinya menuju rak tempat berbagai macam perlengkapan bayi tertata rapi di rak itu. Wanita itu menyentuh satu persatu baju bayi itu, tak terasa air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya.
“Chel, kamu tidak apa-apa kan?” tanya Vika cemas.
Chelsea menggelengkan kepalanya, “maafkan aku, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menangis,” ucapnya dengan menepiskan senyumannya.
“Sekarang lebih baik kita pergi dari sini, bisa-bisa kamu nanti semakin tidak bisa mengendalikan emosi kamu lagi.” Vika lalu menarik tangan Chelsea untuk keluar dari Baby Shop itu, “aku lapar, lebih baik sekarang kita cari makan,” ajaknya dan langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Chelsea.
Vika terlihat sedang melihat-lihat buku menu, sesekali dia melirik ke arah Chelsea yang tampak tengah melamun, “kamu mau pesan apa, Chel?” tanyanya.
“Terserah kamu saja.”
Vika pun memanggil pelayan dan memesan makanan dan minuman untuk dirinya dan juga Chelsea. Setelah mencatat pesanan, pelayan itu pun pergi menjauh.
“Chel, jangan terlalu dipikirkan, bila sudah saatnya kamu juga akan hamil.”
Chelsea menganggukkan kepalanya, tapi dia tiba-tiba membulatkan kedua matanya saat melihat Zaki bersama dengan seorang gadis muda sedang berada di restoran itu juga, ‘apa itu cewek barunya Zaki? Gadis itu cantik juga, ternyata selera Zaki tinggi juga, Eca saja kalah cantik dengan gadis itu,’ gumamnya dalam hati.
Tak berselang lama makanan yang mereka pesan datang, mereka pun mulai menyantap makanan yang tertata rapi di atas meja. Chelsea dan Vika tidak menyadari, jika sejak tadi diam-diam Zaki memperhatikan mereka.
Zaki sudah menyadari jika ada Chelsea juga di restoran itu, setelah sekian lama dia tidak bertemu dengan Chelsea, akhirnya dia bisa melihat wanita itu lagi. Zaki memang sengaja menghindari Chelsea, agar dia bisa melupakan wanita itu. Dia bahkan berusaha untuk dekat dengan gadis yang saat ini sedang bersama dengannya.
Gadis itu adalah anak dari salah satu kolega Veon. Saat Zaki dan Veon menerima undangan makan malam di rumah koleganya itu, ternyata kolega Veon untuk mempunyai anak gadi, dan anak gadis itu tertarik dengan Zaki.
Veon meminta Zaki untuk tidak mengecewakan gadis itu, akhirnya Zaki mau menjalani hubungan itu, itu pun karena mereka tidak selalu bertemu, karena gadis itu sedang menempuh pendidikan S1 nya di Bandung. Demi bisa melupakan Chelsea sepenuhnya, Zaki sampai rela menerima perasaan gadis itu, meskipun dia sendiri belum yakin dengan perasaannya terhadap gadis itu.
“Kak, apa yang sedang kakak lihat?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “bukan apa-apa, lebih baik kamu lanjutin makan kamu, setelah itu aku akan mengantarkan kamu pulang, aku juga harus kembali ke kantor.”
“Tapi Kak Veon mengizinkan kakak untuk menemaniku seharian ini.”
“Ren, meskipun begitu, aku tidak bisa mengabaikan pekerjaan aku begitu saja.”
Rena mengerucutkan bibirnya, ‘bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hati Kak Zaki sepenuhnya?’ gumamnya dalam hati.
__ADS_1
~oOo~