
“Zak, jangan bilang padanya kalau aku berada di rumah Papa aku.”
“Apa yang ingin kamu lakukan?”
Kania membuka pintu mobil itu, “aku butuh waktu untuk sendiri,” ucapnya.
“Tapi jika Tuan Veon mencari kamu, apa yang harus aku katakan?”
“Dia tidak mungkin mencariku, karena wanita yang sangat dia cintai saat ini sedang bersamanya, jadi untuk apa dia mencariku. Aku bukan siapa-siapa dia, Zak,” ucap Kania dengan menepiskan senyumannya.
“Tapi dia suami kamu, kalian terikat dalam tali pernikahan, ikatan janji suci!”
Kania tersenyum getir, “ikatan dan janji pernikahan palsu, apa itu yang kamu maksud? Bukankah sejak awal pernikahan ini sama sekali tidak berarti apa-apa?” tanyanya.
“Tapi kalian kan sudah...”
“Zak, jangan kamu katakan apapun padanya tentang apa yang terjadi tadi, anggap saja aku belum pernah bertemu dengan Bella.” Kania lalu keluar dari mobil itu, dia lalu memasuki gerbang rumahnya.
“Tuan, apa yang sudah anda lakukan, apa anda benar-benar akan melepaskan wanita sebaik Kania?” Zaki lalu melajukan mobilnya menjauh dari rumah Kania.
Kania masuk ke dalam rumahnya, “bik, dimana Papa?” tanyanya.
“Tuan besar ada di dalam kamarnya Nona, beliau baru saja minum obat.”
Kania lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Papa nya, dia lalu membuka pintu kamar itu. Wanita itu melihat Papa nya sedang terbaring lemah di atas ranjangnya.
“Pa,” panggil Kania saat dirinya sudah berada di samping ranjang itu.
Kedua mata pria paruh baya itu mulai terbuka dengan perlahan, “sayang, kamu disini?” tanyanya. Pria paruh baya itu lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersandar di sandaran ranjang, “apa bibik yang memberitahu kamu keadaan Papa?” tanyanya kemudian.
Kania memeluk Papa nya lalu melepaskannya lagi, “kenapa Papa tidak memberitahu Kania kalau Papa sakit? Apa Papa sudah tidak sayang lagi sama Kania?” tanyanya sedih.
“Sayang, Papa hanya tidak ingin membuat kamu khawatir. Papa hanya kecapean saja, istirahat sebentar pasti juga sembuh,” ucapnya sambil mengulas senyumannya.
“Kania akan menemani Papa disini.”
Pak Zaiz menatap ke arah pintu kamarnya yang tertutup, “kamu datang dengan siapa sayang? Apa suami kamu juga ikut kesini?” tanyanya.
__ADS_1
Kania menganggukkan kepalanya, “tadi suami Kania yang mengantar Kania kemari, tapi dia tidak ikut masuk, karena ada dia harus menghadiri meeting penting dengan client,” ucapnya berbohong.
“Suami kamu itu memang seorang pekerja keras, pengusaha sukses, Papa bahagia kamu bisa menikah dengannya sayang. Kamu pasti akan bahagia jika bersamanya.”
Kania tersenyum getir, ‘tapi sebentar lagi kebahagiaan itu akan segera lenyap, Pa. karena mungkin setelah ini anak Papa ini akan segera menjadi janda di usia muda,’ gumamnya dalam hati.
***
Setelah selesai makan siang bersama dengan Bella, Veon menyuruh Zaki untuk mengantar Bella ke rumah pribadinya.
“Sayang, kenapa bukan kamu saja yang mengantar aku ke rumah kamu? Apa kamu tidak tau betapa aku sangat merindukan kamu?” Bella merangkul lengan Veon dengan manja.
“Bella, bukan aku yang meninggalkan kamu, tapi kamu yang pergi meninggalkan aku.” Veon berbicara dengan nada dingin.
“Aku tau aku salah, aku minta maaf. Aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi.” Bella kini mengubah posisinya menjadi menghadap Veon, wanita itu lalu melingkarkan kedua lengannya di leher pria itu, “aku datang kesini untuk menagih janji kamu, kamu tidak lupa kan dengan janji kamu waktu itu?” tanyanya memastikan.
Veon menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya, “sekarang lebih baik kamu ikut Zaki, aku tau kamu sangat capek setelah perjalanan jauh,” ucapnya sambil menyingkirkan kedua lengan Bella dari lehernya.
“Zak, antarkan dia sampai di rumah pribadi aku, setelah itu kamu kembali ke kantor,” perintah Veon.
Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, Tuan. Mari Nona Bella,” ajaknya kemudian. Mereka lalu keluar dari restoran itu.
Veon mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi tepat dia berdiri saat itu, dia lalu melihat jam di pergelangan tangannya, “apa Kania datang ke kantor untuk mengantarkan bekal makan siang ya, aku harus segera kembali ke kantor.” Pria itu lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya.
Sesampainya di kantor Veon bergegas menuju ruangannya, tapi dia sama sekali tidak melihat Kania di dalam ruangannya saat dia membuka pintu ruangannya. Veon lalu melangkahkan kakinya mendekati meja kerja sekretarisnya, “apa tadi istri saya datang ke sini?” tanyanya saat dirinya sudah berdiri di depan meja kerja sekretarisnya itu.
Wanita itu sangat terkejut, dia lalu beranjak dari duduknya, “iya, Tuan. Tadi Nona Kania memang datang kesini, tapi sekarang dia sudah pulang,” ucapnya.
Veon hanya diam, dia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangannya, setelah itu dia membuka pintu itu dan masuk ke dalam ruangannya itu.
“Kenapa dia tidak menungguku?” Veon menyandarkan tubuhnya ke sadaran kursi kerjanya, dia lalu menatap bingkai foto yang berada di atas meja kerjanya, dia lalu mengambil bingkai foto itu, “kenapa kamu kembali lagi setelah sekian lama? Apa kamu memang sengaja ingin mempermainkan perasaan aku?”
Pria itu lalu meraup wajahnya gusar, “apa yang harus aku lakukan? Kania...apa yang harus aku katakan padanya?” tanyanya bingung.
Veon lalu mengambil ponselnya dari saku celananya, dia ingin menghubungi Kania dan menanyakan kenapa dia tidak menunggunya dan langsung pergi begitu saja. Setelah beberapa menit, panggilan itu belum juga tersambung. Pria itu pun kembali menghubungi wanita itu, tapi dia tetap tidak menjawab panggilan pria itu.
__ADS_1
“Sedang apa sih dia? Apa begitu susahnya mengangkat telfon dari ku?” Veon mengepalkan kedua telapak tangannya, “lihat saja nanti, aku tidak akan melepaskannya. Dia harus mendapatkan hukuman karena berani mengabaikan aku!” serunya kesal.
Zaki yang sudah kembali ke kantor pun langsung memasuki ruangan Veon, dia sebenarnya ingin mengatakan apa yang terjadi hari ini kepada Veon, tapi dia mengurungkan niatnya saat mengingat kembali permintaan Kania yang melarangnya untuk mengatakan semua itu kepada Veon.
“Apa kamu sudah mengantarkan dia sampai di rumah?”
Zaki menganggukkan kepalanya, “Tuan, apa yang akan anda lakukan setelah ini? Apa anda akan tetap merahasiakan ini pada istri anda?” tanyanya.
Veon menghela nafas panjang, “aku akan mengatakan semuanya jika saatnya sudah tepat, tapi tidak untuk saat ini,” ucapnya.
“Tapi Tuan, Nona Kania pasti akan sangat sakit hati melihat semua itu nantinya.”
“Kamu urus saja Bella, jangan biarkan dia untuk ke kantor ini lagi, bilang padanya kalau aku yang akan menemuinya di rumah!”
Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, tuan,” ucapnya.
“Zak, apa Kania menghubungi kamu? Karena sejak tadi aku menelfonnya tapi sama sekali tidak diangkat oleh dia?”
Zaki menggelengkan kepalanya, “Nona Kania sama sekali tidak menghubungi saya,” ucapnya. Tapi dia mengunjungi anda dan melihat apa yang seharusnya tidak dia ketahui, pikirnya.
“Tadi aku tanya sama Veni, katanya Kania datang kesini, tapi dia langsung pulang dan tidak menungguku.”
Kedua mata Zaki membulat dengan sempurna, ‘apa yang sudah Veni katakan sama Tuan Veon? Apa dia menceritakan semuanya?” tanyanya dalam hati.
“Em..Tuan, memangnya apa yang Veni katakan pada anda?” Zaki berharap Veni tidak mengatakan apa-apa pada Veon.
“Dia tidak bilang apa-apa.” Veon lalu meminta Zaki untuk keluar dari ruangannya, “tunggu Zak!” teriaknya saat melihat Zaki sudah berada di depan pintu.
“Ada apa Tuan?” tanya Zaki sambil menghadap Veon.
“Aku akan memberi tugas baru untuk kamu, selain memata-matai Alex, kamu harus menjaga Bella agar tetap aman. Kamu tau kan kalau dia itu model ternama?”
Zaki menganggukkan kepalanya, “baik, Tuan,” ucapnya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.
Veon menyandarkan tubuhnya ke sandaran ranjang, “kenapa aku sangat ingin memakan masakan Kania? Padahal aku tadi sudah makan di restoran, tapi kenapa perut aku masih merasa lapar?” tanyanya sambil mengusap perutnya yang kembali merasa lapar.
~oOo~
__ADS_1